Markaban Anwar > Markaban's Quotes

Showing 1-30 of 41
« previous 1
sort by

  • #1
    “Sering kita menundukkan kepala karena sedih dan malu atas tragedi kemanusiaan sebagai akibat pertarungan (elit) politik 1965. Jutaan orang telah menjadi korban pembunuhan, penyiksaan, pemenjaraan, dan peminggiran. Karen alasan politik pula mereka tidak diakui, apalagi dipulihkan kemanusiaannya. Menuliskan kesaksian tragedi itu menjadi repertoar adalah untuk melawan penumpulan nurani bangsa ini.”
    M. Imam Aziz, Berpijak di Dunia Retak: Catatan Keluarga Penyintas Tragedi 1965

  • #2
    “Sekilas buku ini sekedar berkisah tentang bagaimana sebuah keluarga menghadapi suka-duka kehidupan sehari-hari di sebuah dusun di bagian barat Jawa Tengah. Jika kita menyimaknya dengan lebih teliti (termasuk mencermati catatan-catatan kaki yang ada), apa yang dikisahkan di dalamnya merupakan gambaran nyata mengenai bagaimana tragedi kemanusiaan tahun 1965-1966 memiliki dampak yang begitu jauh dan mendalam terhadap anak-anak bangsa yang menjadi korban langsung maupun anggota keluarga mereka…
    Sebuah kisah yang sangat layak untuk di simak bersama.”
    Baskara T. Wardaya, Berpijak di Dunia Retak: Catatan Keluarga Penyintas Tragedi 1965

  • #3
    “Mengapa kamu beri aku imbalan yang sangat besar untuk kerjaku yang sangat sederhana ini? Sementara aku tahu orang-orang di sekitarmu kamu peras keringat dan pikirannya, kamu lucuti mental hidupnya.”
    Puthut EA, Cinta Tak Pernah Tepat Waktu

  • #4
    Roem Topatimasang
    “Setiap tempat adalah sekolah
    Setiap orang adalah guru
    Setiap buku adalah ilmu”
    Roem Topatimasang, Sekolah itu Candu
    tags: buku

  • #5
    Roem Topatimasang
    “Dalam konteks Indonesia, kajian-kajian oleh Profesor Sartono Kartodirdjo tentang pemberontakan-pemberontakan petani dan pembangkangan warga jelata di berbagai tempat di negeri ini pada masa lalu memperlihatkan bahwa banyak dari gerakan sosial tersebut memang dimulai dari tindakantindakan kecil yang semula ‘tidak diperhitungkan’.

    Bahkan, hingga kini, masyarakat Sedulur Sikep, para petani Samin di kawasan hutan jati di Blora, perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur, menjadi legenda hidup yang melahirkan satu kosakata baru tentang pembangkangan sipil: ‘saminisme’!”
    Roem Topatimasang, Tindakan-tindakan Kecil Perlawanan: Bagaimana Keberanian, Ketegaran dan Kecerdikan Dapat Mengubah Dunia

  • #6
    Roem Topatimasang
    “Suatu bahan belajar yang sangat berharga bagi para pegiat gerakan sosial, khususnya para pegiat muda, para penentu arah sejarah dan tatanan sosial negeri ini di masa depan”
    Roem Topatimasang, Tindakan-tindakan Kecil Perlawanan: Bagaimana Keberanian, Ketegaran dan Kecerdikan Dapat Mengubah Dunia

  • #7
    Roem Topatimasang
    “Cerita-cerita ringan dalam buku ini boleh dijadikan bahan dasar penting untuk memulai langkah terobosan: menjadikan gejala keberagaman unik orang-orang di Indonesia Timur sebagai acuan baru!”
    Roem Topatimasang, Melawat Ke Timur: Menyusuri Semenanjung Raja-Raja
    tags: social

  • #8
    “Buku ini merupakan catatan dari seorang petualang dan pengabdi lingkungan yang disajikan secara ’apa adanya’, nyata, hidup, penuh dengan pengalaman langsung tangan pertama. Lewat proses pengalaman langsung ini, Butet tidak saja berhasil mendidik Orang Rimba, tapi juga belajar dari dan diajari oleh Orang Rimba tentang cara pandang, budaya, perilaku dan kehidupan Orang Rimba dengan segala kekayaannya. Sungguh merupakan pengalaman luar biasa, yang tidak akan didapat kalau Butet tetap berada di luar komunitas Orang Rimba.

    Sesungguhnya pendidikan harus dilakukan melalui dan berdasarkan budaya mereka agar mereka tidak tercabut dari alam dan budayanya. Pendidikan bukanlah proses alienasi seseorang dari lingkungannya, atau dari potensi alamiah dan bakat bawaannya, melainkan proses pemberdayaan potensi dasar yang alamiah bawaan untuk menjadi benar-benar aktual secara positif bagi dirinya dan sesamanya.

    Saya sangat menghargai dengan tulus kegigihan dan kerja ’gila’ si Butet yang telah menjadi ’Orang Rimba’ tanpa harus kehilangan identitasnya sebagai orang Batak, yang melalui itu berhasil mendampingi Orang Rimba menjadi terdidik tanpa kehilangan identitasnya sebagai Orang Rimba.”
    Sony Keraf, Sokola Rimba: Pengalaman Belajar Bersama Orang Rimba

  • #9
    Butet Manurung
    “Pendidikan bukanlah proses alienasi seseorang dari lingkungannya, atau dari potensi alamiah dan bakat bawaannya, melainkan proses pemberdayaan potensi dasar yang alamiah bawaan untuk menjadi benar-benar aktual secara positif bagi dirinya dan sesamanya.”
    Butet Manurung, Sokola Rimba: Pengalaman Belajar Bersama Orang Rimba

  • #10
    Roem Topatimasang
    “Paling sedikit duabelas tahun waktu dihabiskan untuk bersekolah. Masa yang lama dan menjemukan jika sekedar mengisinya dengan duduk, mencatat, mendengarkan guru berceramah di depan kelas, dan sesekali bermain. Sekolah memang bisa mencetak seseorang menjadi pejabat, tetapi juga penjahat.

    Masihkah pantas sekolah mengakui diri sebagai pemeran tunggal yang mencerdaskan dan memanusiakan seseorang?

    Pertanyaan sederhana ini dikedepankan kepada mereka yang terutama masih sangat percaya pada keampuhan satu lembaga yang bernama SEKOLAH!”
    Roem Topatimasang, Sekolah itu Candu

  • #11
    Toto Rahardjo
    “Harap maklum, sekali lagi, terutama dalam rangka membuat orang tersenyum dan tertawa itulah maksud utama buku kecil ini disajikan ke hadapan anda semua. Kalau ada banyak di antara pembaca nanti yang menyelewengkan, sengaja atau tidak sengaja, maksud utama itu –misalnya saja anda lantas berkerut dahi sambil mengangguk-angguk dan berkhayal bahwa memang ada sesuatu yang tidak beres dengan dunia pendidikan kita, lantas anda berencana melakukan sesuatu untuk merombaknya habis-habisan– maka itu menjadi tanggungjawab anda sendiri.”
    Toto Rahardjo, Sekolah itu Candu

  • #12
    “Adat Berdaulat. Saya kira adat berdaulat harus terus digemakan. Dan bukan hanya di Aceh, adat sebagai peradaban dikenal di seluruh tanah Melayu Asia Tenggara. Kalau Yunani yang kecil bisa memenuhi kepala setiap orang di dunia dengan demokrasi, mestinya wilayah tanah Melayu yang luas juga bisa diseminasikan gagasan-gasasan khas adat kepada dunia.”
    Affan Ramli, Adat Berdaulat: Melawan Serbuan Kapitalisme di Aceh

  • #13
    “Salah satu anggapan dasar buku ini adalah bahwa adat memiliki kaidah dan nilai-nilai yang lebih adil dan berkelanjutan dibanding janji-janji kemajuan yang diusung oleh kapitalisme.”
    Marsen Sinaga, Adat Berdaulat: Melawan Serbuan Kapitalisme di Aceh

  • #14
    Roem Topatimasang
    “Buku ini mengungkapkan fakta-fakta yang sering dilupakan itu, kisah-kisah perlawanan yang dilakukan oleh rakyat awam, yang sering disepelekan sebagai ‘bukan siapa-siapa’ dan, karena itu, sering pula diabaikan dalam penulisan sejarah resmi atau dalam pemberitaan media arus utama. Pengabaian peran kaum jelata dalam penentuan arah sejarah inilah yang sering membuat kita keliru atau luput memahami fa’al (anatomi) yang sesungguhnya dari suatu proses perubahan.”
    Roem Topatimasang, Tindakan-tindakan Kecil Perlawanan: Bagaimana Keberanian, Ketegaran dan Kecerdikan Dapat Mengubah Dunia

  • #15
    Ahmad Tohari
    “Kebanyakan buku tentang penderitaan keluarga orang yang dianggap terlibat G-30-S tahun 1965 ditulis dengan kemarahan. Buku ini malah mengalir dengan nuansa ketabahan dan keuletan menempuh ujian sejarah. Dan muaranya adalah pencerahan hidup dan kesyukuran”
    Ahmad Tohari, Berpijak di Dunia Retak: Catatan Keluarga Penyintas Tragedi 1965

  • #16
    “Membaca tulisan Butet saya merasa menjadi Orang Rimba. Sungguh, saya merasa tercerahkan. Selamat atas tulisan ini. Semoga Orang Rimba dan lingkungannya menjadi lebih baik lagi. Amin.”
    Iwan Fals, Sokola Rimba: Pengalaman Belajar Bersama Orang Rimba

  • #17
    Roem Topatimasang
    “Analisis sosial adalah cara untuk memulai sebuah penyelesaian masalah. Analisis sosial yang harus diutamakan adalah nalar dalam menganalisis sesuatu melalui data yang akurat, kekuatan argumentasi, pengetahuan, epistemologi, dan hal-hal mendasarnya. Hal itu semua membutuhkan dialog dengan berbagai kalangan yang menjadi pemangku kepentingan masalah tersebut untuk menemukan akar masalahnya.”
    Roem Topatimasang, Mengubah Kebijakan Publik

  • #18
    “Buku kecil (tegasnya: pamflet) Roem ini memang dapat digolongkan sebagai bacaan subversif, karena jelas-jelas menggugat kemapanan sistem pendidikan yang berlangsung di republik ini sejak lebih dari dua dasawarsa lalu. Krisis beruntun yang sedang melanda negeri ini melahirkan momentum untuk merefleksi dan melakukan dekonstruksi atas kemapanan dunia pendidikan kita yang selama ini menikmati bagian besar kue pembangunan nasional.”
    Roy Tjiong, Sekolah itu Candu

  • #19
    “Di SALAM, pendidikan anak menjadi salah satu simpul dalam jaringan kehidupan komunitas: simpul yang teramat penting karena menjadi tempat belajar bagi anak-anak, bagi orangtua mereka, bagi orang-orang dewasa yang menjadi fasilitator dan menyelenggarakan administrasi, dan juga bagi orang seperti saya, pemerhati dan praktisi pendidikan dari berbagai penjuru.”
    Sylvia Tiwon

  • #20
    “Pelukis Goenito melengkapi catatan yang telah ditorehkan Pram, Hersri, dan Gumelar tentang apa yang terjadi di Pulau Buru. Jika Anda membaca catatan dan menyimak sketsa di dalam lembaran-lembaran buku ini, lalu Anda merasa dunia seperti bergetar dan gelap, kuatkan hati dan pikiran. Buru dan semua cerita di dalamnya itu nyata. Pertanyaannya kini, bukan lagi soal apakah semua itu nyata dan fakta, tapi apakah dengan semua kita mau menundukkan kepala, mengakui ada yang salah dari masa lalu kita, dan menghaturkan maaf…”
    Hairus Salim, Tiada Jalan Bertabur Bunga: Memoar Pulau Buru dalam Sketsa

  • #21
    Toto Rahardjo
    “Membangun ekosistem belajar jauh lebih penting daripada sibuk dengan teknik-teknik belajar yang kini marak sebagai komoditi sekolah bagi para siswa dan orang tua yang keblinger pada dorongan 'kesuksesan'.”
    Toto Rahardjo, Sekolah Biasa Saja: Catatan Pengalaman Sanggar Anak Alam

  • #22
    Butet Manurung
    “Buku ini diperlukan oleh siapa saja yang pernah sekolah, agar bisa mengkoreksi daya nalar, karena sejatinya proses sekolah pada setiap manusia berlangsung sepanjang hidup, tinggal bagaimana proses belajar tersebut bisa bermakna positif bagi kehidupan kita dan sekitar kita, bukan untuk menjadi budak yang memenuhi industri semata.”
    Butet Manurung, Sekolah Biasa Saja: Catatan Pengalaman Sanggar Anak Alam

  • #23
    Paulo Freire
    “language is never neutral”
    Paulo Freire

  • #24
    “Peran penting buku ini adalah untuk membuka mata bahwa kita semua tersandera kejahatan kemanusiaan masa lalu yang belum terselesaikan. Stigmasi tidak berhenti pada korban langsung yang sdudah uzur, tetapi juga terhadap keluarga termasuk perempuan dan anak-anak. Selain pemerintah belum menghapus 30 peraturan yang diskrimitatif terhadap mereka, Negara juga belum memberikan keadilan kepada korban langsung.”
    Eva Kusuma Sundari, Berpijak di Dunia Retak: Catatan Keluarga Penyintas Tragedi 1965

  • #25
    “Pluralisme dan kebhinnekaan sudah kita pahami bersama bahwa engkau dan aku berbeda dia dan saya tidak sama mereka dan kita tidak serupa. Itu sudah selesai. Semua orang sudah tahu. Yang belum selesai itu adalah bagaimana engkau dan aku yang tidak sama itu dia dan kita yang tidak serupa itu kamu dan kami yang tidak sebangun itu mempunyai hak yang sama peluang yang sama kedudukan yang sama harkat yang sama marwah yang sama dalam kehidupan bernegara” - Mukhlis PaEni”
    Mukhlis Paeni

  • #26
    Pramoedya Ananta Toer
    “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”
    Pramoedya Ananta Toer

  • #27
    “Pluralisme agama tidak sama dengan mengatakan bahwa “semua agama adalah sama”; juga berbeda sama sekali dengan yang dimaksud merelatifkan agama. Dalam pluralisme agama, setiap orang diberi kebebasan untuk percaya kepada dan menjalankan tradisi keagamaannya yang menjadi sumber kebaikan, keadilan, kesejahteraan dan perdamaian, bukan sebaliknya. Dalam pluralisme agama, orang diajak tidak saja untuk menghormati agama lain atau orang yang beragama lain, tetapi juga kesediaan untuk berlaku adil kepada orang lain, menciptakan perdamaian dan saling menghormati.”
    Elga Sarapung, Prospek Pluralisme Beragama di Indonesia

  • #28
    “Dalam cerpen-cerpennya ini, Puthut harus bergelut imajinasi kolektif dimana keadilan telah dilumpuhkan. Demi pembangunan, demi kedewasaan berbangsa. Demi Peradapan. Imaji kolektif yang tidak lagi mampu membedakan antara yang bohong dan benar, dimana keadilan dibiarkan bergandengan dengan kembar-palsunya, ketidakadilan, mengambang dalam ambiguitas berbahaya. Kalaupun publik masih mampu membedakan, perbedaan itu harus cepat-cepat dipendam di alam bawah sadar. Bingkai “aku” Puthut di samping memberi suara kepada kemurnian pertanyaan belia__yang terlalu sering dianggap gangguan__ menambahkan sesuatu yang barangkali belum tampil dalam penuturan Paramoedya pada awal berdirinya nasion Indonesia, yaitu pergantian generasi dan efek pengaburan konseptual yang telah berlangsung lebih dari 40 tahun.”
    Sylvia Tiwon, Seekor Bebek yang Mati di Pinggir Kali: kumpulan cerpen

  • #29
    Roem Topatimasang
    “Ini bukan sekadar kumpulan cerita. Ini sejarah, penggalan sejarah dari negara-bangsa yang__setelah hampir satu abad__ belum saja selesai dengan diri mereka sendiri. Apapun yang dikatakan oleh pejabat resmi pemerintah, kalangan cendekiawan dan kaum terpelajar, juga para politisi dan aktivis sosial, semuanya terlalu sering berbeda dengan apa sebenarnya yang dialami nyata dan dirasakan oleh jelata awam, warga terbanyak di negeri ini. Mereka punya nalar dan pandangan hidup sendiri terhadap setiap kejadian, termasuk yang menjadi bagian langsung maupu tak langsung dari peristiwa-peristiwa besar nasional atau bahkan global. Seperti kumpulan cerpen ini, karya-karya sastra-lah yang terbukti selama ini paling mampu mengungkapkan kembali ‘sejarah orang kebanyakan’ itu dengan penuh nuansa dan kedalaman yang sulit ditemukan dalam karya-kaya ‘ilmiah akademis”
    Roem Topatimasang, Seekor Bebek yang Mati di Pinggir Kali: kumpulan cerpen

  • #30
    Heather Curnow
    “These stories have a dark side. Outsiders and eccentrics are regarded with suspicion, tortured, even killed. The major theme that emerges is of families diminished by conflict; almost a generation of adult males appears to be missing. Their absence is balanced by a number of strong female presences. This also reflects the dominance of women in the Acehnese household.

    Azhari is a master of suspense. He wastes no words; his narration is sparse. The overall atmosphere of the stories in Nutmeg Woman is tense and anxious. If there is a message, it is a plea for peace and tolerance and an end to bloodshed and oppression.”
    Heather Curnow, Nutmeg Woman



Rss
« previous 1