Amongkarta > Amongkarta's Quotes

Showing 1-30 of 62
« previous 1 3
sort by

  • #1
    Roem Topatimasang
    “Setiap tempat adalah sekolah
    Setiap orang adalah guru
    Setiap buku adalah ilmu”
    Roem Topatimasang, Sekolah itu Candu
    tags: buku

  • #2
    Roem Topatimasang
    “Paling sedikit duabelas tahun waktu dihabiskan untuk bersekolah. Masa yang lama dan menjemukan jika sekedar mengisinya dengan duduk, mencatat, mendengarkan guru berceramah di depan kelas, dan sesekali bermain. Sekolah memang bisa mencetak seseorang menjadi pejabat, tetapi juga penjahat.

    Masihkah pantas sekolah mengakui diri sebagai pemeran tunggal yang mencerdaskan dan memanusiakan seseorang?

    Pertanyaan sederhana ini dikedepankan kepada mereka yang terutama masih sangat percaya pada keampuhan satu lembaga yang bernama SEKOLAH!”
    Roem Topatimasang, Sekolah itu Candu

  • #3
    “Sekilas buku ini sekedar berkisah tentang bagaimana sebuah keluarga menghadapi suka-duka kehidupan sehari-hari di sebuah dusun di bagian barat Jawa Tengah. Jika kita menyimaknya dengan lebih teliti (termasuk mencermati catatan-catatan kaki yang ada), apa yang dikisahkan di dalamnya merupakan gambaran nyata mengenai bagaimana tragedi kemanusiaan tahun 1965-1966 memiliki dampak yang begitu jauh dan mendalam terhadap anak-anak bangsa yang menjadi korban langsung maupun anggota keluarga mereka…
    Sebuah kisah yang sangat layak untuk di simak bersama.”
    Baskara T. Wardaya, Berpijak di Dunia Retak: Catatan Keluarga Penyintas Tragedi 1965

  • #4
    “Sering kita menundukkan kepala karena sedih dan malu atas tragedi kemanusiaan sebagai akibat pertarungan (elit) politik 1965. Jutaan orang telah menjadi korban pembunuhan, penyiksaan, pemenjaraan, dan peminggiran. Karen alasan politik pula mereka tidak diakui, apalagi dipulihkan kemanusiaannya. Menuliskan kesaksian tragedi itu menjadi repertoar adalah untuk melawan penumpulan nurani bangsa ini.”
    M. Imam Aziz, Berpijak di Dunia Retak: Catatan Keluarga Penyintas Tragedi 1965

  • #5
    Paulo Freire
    “language is never neutral”
    Paulo Freire

  • #6
    “Peran penting buku ini adalah untuk membuka mata bahwa kita semua tersandera kejahatan kemanusiaan masa lalu yang belum terselesaikan. Stigmasi tidak berhenti pada korban langsung yang sdudah uzur, tetapi juga terhadap keluarga termasuk perempuan dan anak-anak. Selain pemerintah belum menghapus 30 peraturan yang diskrimitatif terhadap mereka, Negara juga belum memberikan keadilan kepada korban langsung.”
    Eva Kusuma Sundari, Berpijak di Dunia Retak: Catatan Keluarga Penyintas Tragedi 1965

  • #7
    “Pluralisme dan kebhinnekaan sudah kita pahami bersama bahwa engkau dan aku berbeda dia dan saya tidak sama mereka dan kita tidak serupa. Itu sudah selesai. Semua orang sudah tahu. Yang belum selesai itu adalah bagaimana engkau dan aku yang tidak sama itu dia dan kita yang tidak serupa itu kamu dan kami yang tidak sebangun itu mempunyai hak yang sama peluang yang sama kedudukan yang sama harkat yang sama marwah yang sama dalam kehidupan bernegara” - Mukhlis PaEni”
    Mukhlis Paeni

  • #8
    Pramoedya Ananta Toer
    “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”
    Pramoedya Ananta Toer

  • #9
    Roem Topatimasang
    “Suatu bahan belajar yang sangat berharga bagi para pegiat gerakan sosial, khususnya para pegiat muda, para penentu arah sejarah dan tatanan sosial negeri ini di masa depan”
    Roem Topatimasang, Tindakan-tindakan Kecil Perlawanan: Bagaimana Keberanian, Ketegaran dan Kecerdikan Dapat Mengubah Dunia

  • #10
    Roem Topatimasang
    “Dalam konteks Indonesia, kajian-kajian oleh Profesor Sartono Kartodirdjo tentang pemberontakan-pemberontakan petani dan pembangkangan warga jelata di berbagai tempat di negeri ini pada masa lalu memperlihatkan bahwa banyak dari gerakan sosial tersebut memang dimulai dari tindakantindakan kecil yang semula ‘tidak diperhitungkan’.

    Bahkan, hingga kini, masyarakat Sedulur Sikep, para petani Samin di kawasan hutan jati di Blora, perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur, menjadi legenda hidup yang melahirkan satu kosakata baru tentang pembangkangan sipil: ‘saminisme’!”
    Roem Topatimasang, Tindakan-tindakan Kecil Perlawanan: Bagaimana Keberanian, Ketegaran dan Kecerdikan Dapat Mengubah Dunia

  • #11
    Roem Topatimasang
    “Cerita-cerita ringan dalam buku ini boleh dijadikan bahan dasar penting untuk memulai langkah terobosan: menjadikan gejala keberagaman unik orang-orang di Indonesia Timur sebagai acuan baru!”
    Roem Topatimasang, Melawat Ke Timur: Menyusuri Semenanjung Raja-Raja
    tags: social

  • #12
    “Adat Berdaulat. Saya kira adat berdaulat harus terus digemakan. Dan bukan hanya di Aceh, adat sebagai peradaban dikenal di seluruh tanah Melayu Asia Tenggara. Kalau Yunani yang kecil bisa memenuhi kepala setiap orang di dunia dengan demokrasi, mestinya wilayah tanah Melayu yang luas juga bisa diseminasikan gagasan-gasasan khas adat kepada dunia.”
    Affan Ramli, Adat Berdaulat: Melawan Serbuan Kapitalisme di Aceh

  • #13
    “Pluralisme agama tidak sama dengan mengatakan bahwa “semua agama adalah sama”; juga berbeda sama sekali dengan yang dimaksud merelatifkan agama. Dalam pluralisme agama, setiap orang diberi kebebasan untuk percaya kepada dan menjalankan tradisi keagamaannya yang menjadi sumber kebaikan, keadilan, kesejahteraan dan perdamaian, bukan sebaliknya. Dalam pluralisme agama, orang diajak tidak saja untuk menghormati agama lain atau orang yang beragama lain, tetapi juga kesediaan untuk berlaku adil kepada orang lain, menciptakan perdamaian dan saling menghormati.”
    Elga Sarapung, Prospek Pluralisme Beragama di Indonesia

  • #14
    Roem Topatimasang
    “Buku ini mengungkapkan fakta-fakta yang sering dilupakan itu, kisah-kisah perlawanan yang dilakukan oleh rakyat awam, yang sering disepelekan sebagai ‘bukan siapa-siapa’ dan, karena itu, sering pula diabaikan dalam penulisan sejarah resmi atau dalam pemberitaan media arus utama. Pengabaian peran kaum jelata dalam penentuan arah sejarah inilah yang sering membuat kita keliru atau luput memahami fa’al (anatomi) yang sesungguhnya dari suatu proses perubahan.”
    Roem Topatimasang, Tindakan-tindakan Kecil Perlawanan: Bagaimana Keberanian, Ketegaran dan Kecerdikan Dapat Mengubah Dunia

  • #15
    “Salah satu anggapan dasar buku ini adalah bahwa adat memiliki kaidah dan nilai-nilai yang lebih adil dan berkelanjutan dibanding janji-janji kemajuan yang diusung oleh kapitalisme.”
    Marsen Sinaga, Adat Berdaulat: Melawan Serbuan Kapitalisme di Aceh

  • #16
    Ahmad Tohari
    “Kebanyakan buku tentang penderitaan keluarga orang yang dianggap terlibat G-30-S tahun 1965 ditulis dengan kemarahan. Buku ini malah mengalir dengan nuansa ketabahan dan keuletan menempuh ujian sejarah. Dan muaranya adalah pencerahan hidup dan kesyukuran”
    Ahmad Tohari, Berpijak di Dunia Retak: Catatan Keluarga Penyintas Tragedi 1965

  • #17
    Toto Rahardjo
    “Harap maklum, sekali lagi, terutama dalam rangka membuat orang tersenyum dan tertawa itulah maksud utama buku kecil ini disajikan ke hadapan anda semua. Kalau ada banyak di antara pembaca nanti yang menyelewengkan, sengaja atau tidak sengaja, maksud utama itu –misalnya saja anda lantas berkerut dahi sambil mengangguk-angguk dan berkhayal bahwa memang ada sesuatu yang tidak beres dengan dunia pendidikan kita, lantas anda berencana melakukan sesuatu untuk merombaknya habis-habisan– maka itu menjadi tanggungjawab anda sendiri.”
    Toto Rahardjo, Sekolah itu Candu

  • #18
    Hedar Laudjeng
    “Siapa yang menguasai tanah, maka dia akan menguasai ekonomi. Siapa yang menguasai ekonomi, maka dia akan menguasai politik. Siapa yang menguasai politik, maka dia akan menguasai negara.”
    Hedar Laudjeng, Dunia Orang Tompu

  • #19
    “Dalam cerpen-cerpennya ini, Puthut harus bergelut imajinasi kolektif dimana keadilan telah dilumpuhkan. Demi pembangunan, demi kedewasaan berbangsa. Demi Peradapan. Imaji kolektif yang tidak lagi mampu membedakan antara yang bohong dan benar, dimana keadilan dibiarkan bergandengan dengan kembar-palsunya, ketidakadilan, mengambang dalam ambiguitas berbahaya. Kalaupun publik masih mampu membedakan, perbedaan itu harus cepat-cepat dipendam di alam bawah sadar. Bingkai “aku” Puthut di samping memberi suara kepada kemurnian pertanyaan belia__yang terlalu sering dianggap gangguan__ menambahkan sesuatu yang barangkali belum tampil dalam penuturan Paramoedya pada awal berdirinya nasion Indonesia, yaitu pergantian generasi dan efek pengaburan konseptual yang telah berlangsung lebih dari 40 tahun.”
    Sylvia Tiwon, Seekor Bebek yang Mati di Pinggir Kali: kumpulan cerpen

  • #20
    Roem Topatimasang
    “Ini bukan sekadar kumpulan cerita. Ini sejarah, penggalan sejarah dari negara-bangsa yang__setelah hampir satu abad__ belum saja selesai dengan diri mereka sendiri. Apapun yang dikatakan oleh pejabat resmi pemerintah, kalangan cendekiawan dan kaum terpelajar, juga para politisi dan aktivis sosial, semuanya terlalu sering berbeda dengan apa sebenarnya yang dialami nyata dan dirasakan oleh jelata awam, warga terbanyak di negeri ini. Mereka punya nalar dan pandangan hidup sendiri terhadap setiap kejadian, termasuk yang menjadi bagian langsung maupu tak langsung dari peristiwa-peristiwa besar nasional atau bahkan global. Seperti kumpulan cerpen ini, karya-karya sastra-lah yang terbukti selama ini paling mampu mengungkapkan kembali ‘sejarah orang kebanyakan’ itu dengan penuh nuansa dan kedalaman yang sulit ditemukan dalam karya-kaya ‘ilmiah akademis”
    Roem Topatimasang, Seekor Bebek yang Mati di Pinggir Kali: kumpulan cerpen

  • #21
    “Buku kecil (tegasnya: pamflet) Roem ini memang dapat digolongkan sebagai bacaan subversif, karena jelas-jelas menggugat kemapanan sistem pendidikan yang berlangsung di republik ini sejak lebih dari dua dasawarsa lalu. Krisis beruntun yang sedang melanda negeri ini melahirkan momentum untuk merefleksi dan melakukan dekonstruksi atas kemapanan dunia pendidikan kita yang selama ini menikmati bagian besar kue pembangunan nasional.”
    Roy Tjiong, Sekolah itu Candu

  • #22
    Heather Curnow
    “These stories have a dark side. Outsiders and eccentrics are regarded with suspicion, tortured, even killed. The major theme that emerges is of families diminished by conflict; almost a generation of adult males appears to be missing. Their absence is balanced by a number of strong female presences. This also reflects the dominance of women in the Acehnese household.

    Azhari is a master of suspense. He wastes no words; his narration is sparse. The overall atmosphere of the stories in Nutmeg Woman is tense and anxious. If there is a message, it is a plea for peace and tolerance and an end to bloodshed and oppression.”
    Heather Curnow, Nutmeg Woman

  • #23
    Roem Topatimasang
    “Analisis sosial adalah cara untuk memulai sebuah penyelesaian masalah. Analisis sosial yang harus diutamakan adalah nalar dalam menganalisis sesuatu melalui data yang akurat, kekuatan argumentasi, pengetahuan, epistemologi, dan hal-hal mendasarnya. Hal itu semua membutuhkan dialog dengan berbagai kalangan yang menjadi pemangku kepentingan masalah tersebut untuk menemukan akar masalahnya.”
    Roem Topatimasang, Mengubah Kebijakan Publik

  • #24
    Roem Topatimasang
    “Sesunggunyalah, perjuangan para anggota Serikat PEKKA untuk mendapatkan pengakuan sebagai “kepala keluarga”, itu sendiri sudah merupakan suatu keganjilan tersendiri. Karena, pada dasarnya perjuangan mereka itu adalah upaya “melawan keganjilan” dari sistem kemasyarakatan kita selama ini.”
    Roem Topatimasang, Melawan Keganjilan: Perjalanan Panjang Serikat perempuan Kepala Keluarga di Indonesia

  • #25
    Noer Fauzi Rachman
    “Petani Badega: Mengapa para petani di desa-desa dirampas tanahnya dan tidak dilindungi oleh pemerintah? Sebaliknya, petani yang mengambil kembali tanah kepunyaannya justru dipenjarakan?”
    Noer Fauzi Rachman, Bersaksi Untuk Pembaruan Agraria: dari Tuntutan Lokal Hingga Kecenderungan Global

  • #26
    Roem Topatimasang
    “Resistence can start and happen everywhere and whenever you want.”
    Roem Topatimasang, Tindakan-tindakan Kecil Perlawanan: Bagaimana Keberanian, Ketegaran dan Kecerdikan Dapat Mengubah Dunia

  • #27
    Butet Manurung
    “Pendidikan bukanlah proses alienasi seseorang dari lingkungannya, atau dari potensi alamiah dan bakat bawaannya, melainkan proses pemberdayaan potensi dasar yang alamiah bawaan untuk menjadi benar-benar aktual secara positif bagi dirinya dan sesamanya.”
    Butet Manurung, Sokola Rimba: Pengalaman Belajar Bersama Orang Rimba

  • #28
    Noer Fauzi Rachman
    “Inilah drama kehidupan petani, penuh tragedi bersama para penguasa, yang berubah dari babak demi babak.”
    Noer Fauzi Rachman, Petani & Penguasa: Dinamika Perjalanan Politik Agraria Indonesia

  • #29
    Roem Topatimasang
    “Perselisihan yang dipicu oleh masalah agama kini mengancam kehidupan kita. Sejarah peradaban dan kemanusiaan hancur ketika kobaran kebencian merasuki perasaan masing-masing pemeluk agama. Padahal, ada persoalan mendasar yang terus-menerus disemai dan dipelihara: agama selalu saja diperalat oleh kekuasaan politik dan kekuatan ekonomi sebagai dasar teologis pembenaran bagi kepentingan mereka sendiri. Maka, tampillah gerakan Teologi Pembebasan menantang ketertaklukan lembaga-lembaga agama oleh hegemoni kekuasaan politik dan kekuatan ekonomi yang serakah itu. Gerakan keagamaan radikal dan revolusioner ini, terutama di Amerika Latin, membuktikan bahwa agama bisa dan seharusnya menjadi “bara api” melawan kezaliman, ketidakadilan, dan ketidakmanusiawian.”
    Roem Topatimasang, Teologi Pembebasan

  • #30
    “Laskar Pemimpi, bukan semata-mata mengkritik habis karya Andrea. Tetapi berusaha menyodorkan hasil analisa yang tajam, dari sesuatu yang telah lama tidak disentuh dalam dunia sastra. Menurut hemat saya, Nurhady hanya meminjam novel-novel Andrea untuk menjelaskan apa yang merisaukan hatinya. Nurhady berusaha membersihkan kacamata kita yang telah buram karena terlewat asyik menyimak pandangan-pandangan yang homogen.”
    Puthut E.A., Laskar Pemimpi: Andrea Hirata, Pembacanya dan Modernisasi Indonesia



Rss
« previous 1 3