Arok Dedes Quotes

Quotes tagged as "arok-dedes" Showing 1-30 of 48
Pramoedya Ananta Toer
“Pada dasarnya manusia adalah hewan yang paling membutuhkan ampun.”
Pramoedya Ananta Toer, Arok dedes

Pramoedya Ananta Toer
“Wanita itu Dewa. Wanita itu Kehidupan. Wanita itu Perhiasan.”
Pramoedya Ananta Toer, Arok dedes

Pramoedya Ananta Toer
“Mereka (brahmana) tidak perlu takut pada kedunguan. Mereka belajar setiap hari untuk tidak jadi dungu.”
Pramoedya Ananta Toer, Arok dedes

Pramoedya Ananta Toer
“Setiap kerusuhan di sesuatu negeri, bukan hanya Tumampel, adalah cerminan dari ketidakmampuan yang memerintah.”
Pramoedya Ananta Toer, Arok dedes

Pramoedya Ananta Toer
“Ada diajarkan oleh kaum brahmana: orang kaya terkesan pongah di mata si miskin, orang bijaksana terkesan angkuh di mata si dungu, orang gagah-berani terkesam dewa di mata si pengecut, juga sebaliknya Kakanda, orang miskin tak berkesan apa-apa pada si kaya, orang dungu terkesan mengibakan pada si bijaksana, orang pengecut terkesan hina pada si gagah-berani. Tetapi semua kesan itu salah. Orang harus mengenal mereka lebih dahulu.”
Pramoedya Ananta Toer, Arok dedes

Pramoedya Ananta Toer
“Siapakah yang tahu rahasia para dewa kalau bukan kaum brahmana?”
Pramoedya Ananta Toer, Arok dedes

Pramoedya Ananta Toer
“Hyang Mahadewa tahu bagaimana membikin Jagad Pramudita seimbang. Kerusuhan mengimbangi kedunguan.”
Pramoedya Ananta Toer, Arok dedes

Pramoedya Ananta Toer
“Apakah yang bisa diperbuat oleh seorang perempuan?”
Pramoedya Ananta Toer, Arok dedes

Pramoedya Ananta Toer
“Para dewapun tak jarang belajar dari manusia, bahkan dibebaskan oleh manusia.”
Pramoedya Ananta Toer, Arok dedes

Pramoedya Ananta Toer
“Dalam pencurian dan pembunuhan tidak pernah ada ampun.”
Pramoedya Ananta Toer, Arok dedes

Pramoedya Ananta Toer
“Semua harus datang karena panggilanku. Semua harus pergi karena usiranku.”
Pramoedya Ananta Toer, Arok dedes

Pramoedya Ananta Toer
“Tak ada yang tahu apakah prajurit-prajurit itu Syiwa atau Wisynu, boleh jadi bahkan Buddha. Tidak ada yang mengetahui hati manusia secara tepat.”
Pramoedya Ananta Toer, Arok dedes

Pramoedya Ananta Toer
“Apa sebabnya dunia menghormati Satria?"

"Tidak banyak Satria yang dihormati."

"Tidak banyak?"

"Terlalu sedikit. Mereka adalah yang bijaksana. Selebihnya tidak pernah dihormati dunia, hanya ditakuti. Mereka ditakuti karena semua Satria adalah pembunuh, penganiaya, penyiksa karena kerakusannya pada kebesaran dunia. Hanya yang bijaksana yang dengarkan petunjuk Dewa, petunjuk Hyang Yama.”
Pramoedya Ananta Toer, Arok dedes

Pramoedya Ananta Toer
“Suamiku tidak takut padaku sebagai wanita, dia tetap takut padaku sebagai brahmani, karena Dedes tahu apa yang suaminya tidak tahu.”
Pramoedya Ananta Toer, Arok dedes

Pramoedya Ananta Toer
“Satria hidup dari ketakutan dunia, maka ia terus juga takut-takuti dunia.”
Pramoedya Ananta Toer, Arok dedes

Pramoedya Ananta Toer
“Tak ada brahmana angkuh, mereka hanya lebih mengerti, lebih tahu dari pada orang yang menganggap pengetahuan dan ilmu sebagai keangkuhan.”
Pramoedya Ananta Toer, Arok dedes

Pramoedya Ananta Toer
“Kalau Dedes tidak takut padamu. Apalagi pada pengawal-pengawalmu. Akupun bisa memerintah mereka!”
Pramoedya Ananta Toer, Arok dedes

Pramoedya Ananta Toer
“Ketidakmampuan itu berasal dari diri semua yang memerintah, Dedes, ketidakmampuan mengerti kawulanya sendiri, kebutuhannya, kepentingannya.”
Pramoedya Ananta Toer, Arok dedes

Pramoedya Ananta Toer
“Yang tidak memerlukan Hyang Mahadewa juga tidak diperlukan olehnya. Tetapi hukumnya berjalan terus, dengan atau tanpa manusia.”
Pramoedya Ananta Toer, Arok dedes

Pramoedya Ananta Toer
“Tak ada guna orang tua hendak menang sendiri. Pada akhirnya para dewa juga yang menang.”
Pramoedya Ananta Toer, Arok dedes

Pramoedya Ananta Toer
“Para dewa mengejawantahkan diri pada dunia melalui syaktinya, ketidakbijaksanaan manusia mengejawantahkan diri dalam kerusuhan lingkungannya.”
Pramoedya Ananta Toer, Arok dedes

Pramoedya Ananta Toer
“Ucapan tiada pada tempatnya bukan lahir di rumah ini, Yang Suci, hanya terbawa entah dari mana.”
Pramoedya Ananta Toer, Arok dedes

Pramoedya Ananta Toer
“Gelar itu dipersembahkan pada manusia oleh manusia, maka bukan tanpa alasan.”
Pramoedya Ananta Toer, Arok dedes

Pramoedya Ananta Toer
“Tiada hadiah diharapkan oleh brahmana, Yang Mulia. Kalau dia sudah dapat memberikah dharma untuk kesejahteraan titah, para dewa akan mengantar kasudahannya.”
Pramoedya Ananta Toer, Arok dedes

Pramoedya Ananta Toer
“Perbudakan tidak aku benarkan. Siapapun tidak dibenarkan untuk menjadikan saudaranya sendiri budak dan bukan saudaranya sendiri menjadi budak.”
Pramoedya Ananta Toer, Arok dedes

Pramoedya Ananta Toer
“Barang siapa menyebar angin dia akan berpanen badai.”
Pramoedya Ananta Toer, Arok dedes

Pramoedya Ananta Toer
“Ada diajarkan oleh kaum brahmana: orang kaya terkesan pongah di mata si miskin, orang bijaksana terkesan angkuh di mata si dungu, orang gagah-berani terkesan dewa di mata si pengecut, juga sebaliknya Kakanda, orang miskin tak berkesan apa-apa pada si kaya, orang dungu terkesan mengibakan pada si bijaksana, orang pengecut terkesan hina pada si gagah-berani. Tetapi semua kesan itu salah. Orang harus mengenal mereka lebih dahulu.”
Pramoedya Ananta Toer, Arok dedes

Pramoedya Ananta Toer
“Bukan ucapannya yang terakhir yang menjadi nilai dari seluruh dirinu. Laku durjana pada semua temannya adalah dosa yang tidak terampuni. Selama ada senjata pada kita seperti ini, kita adalah satria, sekalipun tidak karena kasta.”
Pramoedya Ananta Toer, Arok dedes

Pramoedya Ananta Toer
“Senjata lebih berarti di tangan orang sebodoh-bodohnya dari pada keterpelajaran dari tubuh tanpa pelindung.”
Pramoedya Ananta Toer, Arok dedes

Pramoedya Ananta Toer
“Setiap penjahat harus diperlihatkan pada mereka yang telah dijahatinya, biar orang mengerti tampang dan sanubari penjahat!”
Pramoedya Ananta Toer, Arok dedes

« previous 1