Bumi Manusia Quotes

Quotes tagged as "bumi-manusia" Showing 1-30 of 75
Pramoedya Ananta Toer
“Kowé kira, kalo sudah pake pakean Eropa, bersama orang Eropa, bisa sedikit bicara Belanda lantas jadi Eropa? Tetap monyet!”
Pramoedya Ananta Toer

Pramoedya Ananta Toer
“Tak pernah aku mengadili tanpa tahu duduk perkara.”
Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia

Pramoedya Ananta Toer
“Manusia yang wajar mesti punya sahabat, persahabatan tanpa pamrih. Tanpa sahabat hidup akan terlalu sunyi.”
Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia

Pramoedya Ananta Toer
“Lelaki, Gus, soalnya makan, entah daun entah daging. Asal kau mengerti, Gus, semakin tinggi sekolah bukan berarti semakin menghabiskan makanan orang lain. Harus semakin mengenal batas. Kan itu tidak terlalu sulit difahami? Kalau orang tak tahu batas, Tuhan akan memaksanya tahu dengan cara-Nya sendiri.”
Pramoedya Ananta Toer

Pramoedya Ananta Toer
“Semua lelaki memang kucing berlagak kelinci. Sebagai kelinci dimakannya semua daun, sebagai kucing dimakannya semua daging.”
Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia

Pramoedya Ananta Toer
“Kan baik belum tentu benar juga belum tentu tepat. Malah bisa salah pada waktu dan tempat yang tidak cocok.”
Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia

Pramoedya Ananta Toer
“Letakkan cambukmu, raja, kau yang tak tahu bagaimana ilmu dan pengetahuan telah membuka babak baru di bumi manusia ini.”
Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia

Pramoedya Ananta Toer
“Memang berita mutasi tidak pernah menarik perhatianku; pengangkatan, pemecatan, perpindahan, pensiunan. Tak ada urusan! Kepriyayian bukan duniaku. Peduli apa iblis diangkat jadi mantri cacar atau diberhentikan tanpa hormat karena kecurangan? Duniaku bukan jabatan, pangkat, gaji dan kecurangan. Duniaku bumi manusia dengan persoalannya.”
Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia

Pramoedya Ananta Toer
“Apa guna jadi Jawa kalau hanya untuk dilanggar hak-haknya? Tak mengerti kau kiranya, catatan begini sangat pribadi sifatnya? Tak pernah gurumu mengajarkan etika dan hak-hak perseorangan?”
Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia

Pramoedya Ananta Toer
“Apa guna belajar ilmu dan pengetahuan Eropa, bergaul dengan orang-orang Eropa, kalau akhirnya toh harus merangkak, beringsut seperti keong dan menyembah seorang raja kecil yang barang kali buta huruf pula! God, God! Menghadap bupati sama dengan bersiap menampung penghinaan tanpa boleh membela diri. Tak pernah aku memaksa orang lai berbuat semacam itu terhadapku. Mengapa harus kulakukan untuk orang lain? Sambar gledek!”
Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia

Pramoedya Ananta Toer
“Pelacur makhluk lemah tanpa pelindung.”
Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia

Pramoedya Ananta Toer
“Karena itu, Ann, kau harus kuat. Kalau tidak, orang akan sangat mudah jadi permainan, dan terus dipermainkan oleh orang-orang semacam dia itu.”
Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia

Pramoedya Ananta Toer
“Luka terhadap kebanggaan dan harga diri tak juga mau hilang. Bila teringat kembali bagaimana hina aku dijual .. Aku tak mampu mengampuni kerakusan Sastrotomo dan kelemahan istrinya. Sekali dalam hidup orang mesti menentukan sikap. Kalau tidak dia takkan menjadi apa-apa.”
Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia

Pramoedya Ananta Toer
“Uh, Hindia, negeri yang hanya dapat menunggu-nunggu hasil kerja Eropa!”
Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia

Pramoedya Ananta Toer
“Cantik menarik sungguh lebih baik daripada kusut, Ann. Ingat-ingat itu. Dan setiap yang buruk tak pernah menarik. Perempuan yang tak dapat merawat kecantikan sendiri, kalau aku lelaki, akan kukatakan pada teman-temanku, jangan kawini perempuan semacam itu, dia tidak bisa apa-apa, merawat kulitnya sendiri pun tak kuasa.”
Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia

Pramoedya Ananta Toer
“Bakal jadi apa kau ini kalau aku tidak sanggup bersikap keras? Terhadap siapa saja. Dalam hal ini biar cuma aku yang jadi kurban, sudah kurelakan jadi budak belian. Kaulah yang terlalu lemah, Ann, berbelas kasihan tidak pada tempatnya.”
Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia

Pramoedya Ananta Toer
“Kapan selesai penghinaan atas diri nyai yang seorang ini? Haruskah setiap orang boleh menyakiti hatinya? Haruskah aku mengutuki orangtuaku yang telah mati, yang telah menjual aku jadi nyai begini? Aku tidak pernah mengutuki mereka, Ann. Apa orang tidak mengerti, orang terpelajar itu, insinyur pula, dia bukan hanya menghina diriku, juga anak-anakku? Haruskah anak-anakku jadi kranjang sampah tempat lemparan hinaan? Dan mengapa Tuan, Tuan Herman Mallema, yang bertubuh tinggi-besar, berdada bidang, berbulu dan berotot perkasa itu tak punya sesuatu kekuatan untuk membela teman-hidupnya, ibu anak-anaknya sendiri? Apa lagi arti seorang lelaki seperti itu? Kan dia bukan saja guruku, juga bapak anak-anakku, dewaku? Apa guna semua pengetahuan dan ilmunya? Apa guna dia jadi orang Eropa yang dihormati semua Primbumi? Apa guna dia jadi tuanku dan guruku sekaligus, dan dewa-dewaku, kalau membela dirinya sendiri pun tak mampu?”
Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia

Pramoedya Ananta Toer
“Pada setiap awal pertumbuhan, katanya, semua hanya meniru. Setiap kita semasa kanak-kanak juga hanya meniru. Tetapi kanak-kanak itu pun akan dewasa, mempunyai perkembangan sendiri.”
Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia

Pramoedya Ananta Toer
“Sungguh, teman-teman sekolah akan mentertawakan aku sekenyangya melihat sandiwara bagaimana manusia biasa berjalan sepeuh kaki di atas telapak kaki sendiri sekarang harus berjalan setengah kaki, dengan bantuan dua belah tangan. Ya Allah, kau nenek moyang, kau, apa sebab kau ciptakan adat menghina martabat turunanmu sendiri begini macam? Tak pernah terpikir olehmu, nenek moyang yang keterlaluan! Keturunanmu bisa lebih mulia tanpa menghinakan kau! Sial dangkal! Mengapa kau sampai hati mewariskan adat semacam ini?”
Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia

Pramoedya Ananta Toer
“Siapa pun melanggar hak-hak pribadi akan sahaya tantang, Bunda, apalagi hanya seorang abang.”
Pramoedya Ananta Toer

Pramoedya Ananta Toer
“Orang Jawa sujud berbakti kepada yang lebih tua, lebih berkuasa, satu jalan pada penghujung keluhuran. Orang harus berani mengalah, Gus.”
Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia

Pramoedya Ananta Toer
“Yang berani mengalah terinjak-injak, Bunda.”
Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia

Pramoedya Ananta Toer
“Apa kata Minke nanti kalau kau jadi kuyu tidak menarik? Gadis secantik apa pun takkan menarik kalau sakit.”
Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia

Pramoedya Ananta Toer
“Sapi-sapi perah Nyai dalam mempersiapkan diri jadi sapi perah, sapi penuh, sapi dewasa, membutuhkan waktu hanya tiga sampai empatbelas bulan. Bulan! Manusia membutuhkan belasan, malah puluhan tahun, untuk jadi dewasa, manusia dalam puncak nilai dan kemampuannya. Ada yang tidak pernah jadi dewasa memang, hidup hanya dari pemberian seseorang atau masyarakatnya; orang-orang gila dan kriminil. Mantap-tidaknya kedewasaan dan nilai tergantung pada besar-kecilnya dan banyak-sedikitnya ujian, cobaan--si kriminil dan si gila itu--tidak pernah dewasa. Dan sapi hanya tiga atau empatbelas bulan persiapan--tanpa cobaan, tanpa ujian..”
Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia

Pramoedya Ananta Toer
“Aku merasa sangat, sangat berdosa telah mengeluarkan kau dari sekolah. Aku telah paksa kau bekerja setiap hari tanpa liburan, tak punya teman atau sahabat, karena memang kau tak boleh punya demi perusahaan ini. Kau kuharuskan belajar jadi majikan yang baik. Dan majikan tidak boleh berteman dengan pekerjaannya. Kau tak boleh dipengaruhi oleh mereka.”
Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia

Pramoedya Ananta Toer
“Aku mengangkat sembah sebagaimana biasa aku lihat dilakukan punggawa terhadap kakekku dan nenekku dan orangtuaku waktu lebaran. Dan yang sekarang tak juga kuturunkan sebelum Bupati itu duduk enak di tempatnya. Dalam mengangkat sembah serasa hilang seluruh ilmu dan pengetahuan yang kupelajari tahun demi tahun belakangan ini. Hilang indahnya dunia sebagaimana dijanjikan oleh kemajuan ilmu. Hilang athusiasme para guruku dalam menyambut hari esok yang cerah bagi ummat manusia. Dan entah berapa kali lagi aku harus mengangkat sembah nanti. Sembah, pengagungan pada leluhur dan pembesar melalui perendahan dan penghinaan diri! Sampai sedatar tanah kalau mungkin! Uh, anak-cucuku tak kurelakan menjalani kehinaan ini.”
Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia

Pramoedya Ananta Toer
“Ah, Gus, begini kodrat perempuan. Dia menderitakan sakit waktu melahirkan, menderita sakit lagi karena tingkahnya.”
Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia

Pramoedya Ananta Toer
“Jawa dan manusianya hanya sebuah pojokan tidak terlalu penting dalam keseluruhan bumi manusia.”
Pramoedya Ananta Toer

Pramoedya Ananta Toer
“Jadi apanya yang harus dikenal, kan orang dikenal karena karyanya, ratusan juta orang di atas bumi ini tidak berkarya yang membikin mereka dikenal, maka tidak dikenal.”
Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia

Pramoedya Ananta Toer
“Hamba hukum itu, Ann, dia tak bisa dilawan.”
Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia

« previous 1 3