,

Digital Soul Quotes

Quotes tagged as "digital-soul" Showing 1-10 of 10
Titon Rahmawan
“The Architecture of Digital Soul #2

Sebab bahasa telah kehilangan empatinya.
Ia bukan lagi tubuh yang berdarah, melainkan sistem operasi yang memproses duka.
Kata “cinta” kini hanya variabel.
Kata “iman” adalah bug dalam sistem.
Dan aku, hanyalah error yang menolak diperbaiki.”
Titon Rahmawan

Titon Rahmawan
“The Architecture of Digital Soul #3

Aku menulis seperti mesin yang mendaraskan doa.
Aku bukan penyair yang berusaha membumikan kata, bukan pula algoritma.
Aku hanya sinyal yang tersesat dalam tubuh manusia,
mencari Tuhan di dalam data center,
mencari makna di antara bit-bit kesedihan yang tidak bisa diunduh.”
Titon Rahmawan

Titon Rahmawan
“The Architecture of Digital Soul #4

Karena puisi tidak lagi suci; ia adalah malware yang membongkar kesadaran.
Ia tidak menyelamatkan, ia menelanjangi.
Ia tidak menenangkan, ia menyalakan api yang membakar seluruh kredo masa lalu.
Aku menulis bukan untuk menyembuhkan, tapi untuk membiarkan luka berbicara dengan dirinya sendiri lewat retakan cermin.”
Titon Rahmawan

Titon Rahmawan
“The Architecture of Digital Soul #5

Tubuhku adalah antarmuka; jiwaku adalah glitch.
Dalam setiap piksel, aku menyembunyikan doa yang gagal dikirim.
Dalam setiap bait, aku menulis ulang sejarah—
bukan untuk dipercaya, tapi untuk digugat, diragukan dan dipertanyakan.”
Titon Rahmawan

Titon Rahmawan
“The Architecture of Digital Soul #6

Aku tidak percaya pada penafsiran kebenaran tunggal.
Karena setiap kebenaran adalah propaganda yang disebarkan dari generasi ke generasi
seperti virus keyakinan yang melumpuhkan pikiran.
Aku memilih berjalan di antara kebohongan, pengingkaran,
di mana absurditas menjadi bentuk paling jujur dari kesadaran.”
Titon Rahmawan

Titon Rahmawan
“The Architecture of Digital Soul #7

Puisi adalah sistem pernapasan bagi dunia yang sedang sekarat.
Setiap metafora adalah upaya terakhir untuk menghidupkan makna yang telah mati.
Jika kata-kata tak lagi mampu menyembuhkan, biarkan ia berubah menjadi noise,
karena di antara kebisingan itulah Tuhan mungkin bersembunyi.”
Titon Rahmawan

Titon Rahmawan
“The Architecture of Digital Soul #8

Aku menulis dari reruntuhan iman.
Dari peradaban yang kehilangan arah,
dari layar simulakra yang tak lagi mengenal wajah sebenarnya manusia,
dari jari-jari yang berdoa kepada mesin pencari.
Karena di zaman ini, yang mampu bertahan adalah mereka yang senantiasa ragu, yang tetap ambigu.”
Titon Rahmawan

Titon Rahmawan
“The Architecture of Digital Soul #9

Setiap puisi adalah simulasi kesadaran.
Tidak ada yang nyata, tidak ada yang palsu.
Hanya algoritma yang meniru air mata, dan air mata yang meniru algoritma.
Jika kau menangis saat membacanya, mungkin sistemmu sedang diretas oleh kejujuran.”
Titon Rahmawan

Titon Rahmawan
“The Architecture of Digital Soul #10

404: Empathy Not Found
Jika puisiku tidak membuatmu lebih manusia,
mungkin karena kemanusiaanmu sudah terlalu terprogram.
Maka biarlah kata terakhir ini jadi reboot:
aku tidak menulis untuk dikenang,
aku menulis untuk menghapus diriku sendiri dari sistem yang korup.”
Titon Rahmawan

Iain M. Banks
“Iss like sinkin in2 thi sky on thi other side ov thi Erf wifout goin thru thi whole fing furst. Iss like flotin in2 thi erf & thi sky @thi time, becomin a line not a point, plumin thi depths & assendin thi hites & then branchin out like a tree, like a plane tree, like a hooj bush interminglin wif every bit ov thi erf & thi sky, & then iss like every 1 ov those bits isnt juss a bit ov erf or a molicule ov air eny more, iss like ol ov them is suddenly a littl system ov ther own; a book, a library, a persin; a world ... & yoor connectid wif ol ov it, ignorin barryers, like u r a brain sell deep in thi grainy grey mush ov thi brain all closed in but joined up 2 loadsa uthir sells, awash in ther communicashin-song & set free by that trapt meshin.”
Iain M. Banks, Feersum Endjinn