,

Gadis Pantai Quotes

Quotes tagged as "gadis-pantai" Showing 1-18 of 18
Pramoedya Ananta Toer
“Laut tetap kaya takkan kurang, cuma hati dan budi manusia semakin dangkal dan miskin.”
Pramoedya Ananta Toer, Gadis Pantai

Pramoedya Ananta Toer
“Bagi orang atasan ingat-ingatlah itu Mas Nganten, tambah tinggi tempatnya tambah sakit jatuhnya. Orang rendahan ini boleh jatuh seribu kali, tapi ia selalu berdiri lagi. Dia ditakdirkan untuk sekian kali berdiri setiap hari.”
Pramoedya Ananta Toer, Gadis Pantai

Pramoedya Ananta Toer
“Kalau tidak ada orang-orang rendahan, tentu tidak ada orang atasan.”
Pramoedya Ananta Toer, Gadis Pantai

Pramoedya Ananta Toer
“Kurang hati-hati sama juga tidak jujur.”
Pramoedya Ananta Toer, Gadis Pantai

Pramoedya Ananta Toer
“Kau tidak mengabdi padaku man, tidak, man. Kalau kau cuma mengabdi padaku, kalau aku tewas kau tinggal hidup, kau mengabdi kepada siapa lagi? kau cari Bendoro baru, kalau dia juga tewas? Kau mengabdi pada tanah ini, tanah yang memberimu nasi dan air. Tapi para raja dan para pangeran dan para bupati sudah jual tanah keramat ini pada Belanda. Kau hanya baru sampai melawan para raja, para pangeran, dan para bupati. Satu keturunan tidak bakal selesai, man. Kalau para raja, pangeran, dan bupati sudah dikalahkan, baru kau bisa berhadapan pada Belanda. Entah berapa turunan lagi. Tapi kerja itu mesti dimulai.”
Pramoedya Ananta Toer, Gadis Pantai

Pramoedya Ananta Toer
“Di sana, di kampung nelayan tetesan deras keringat membuat orang tak sempat membuat kehormatan, bahkan tak sempat mendapatkan nasi dalam hidupnya terkecuali jagung tumbuk yang kuning. Betapa mahalnya kehormatan dan nasi.”
Pramoedya Ananta Toer, Gadis Pantai

Pramoedya Ananta Toer
“Seganas-ganasnya laut dia lebih pemurah dari hati priayi.”
Pramoedya Ananta Toer, Gadis Pantai

Pramoedya Ananta Toer
“Aku tak jadi kaya karena pemberiannya. Mereka pun tak jadi kaya karena pemberianku. Itulah kebijaksanaan.”
Pramoedya Ananta Toer, Gadis Pantai

Pramoedya Ananta Toer
“Mbok, kau mau lawan kejahatan nini dengantanganmu, tapi kau tak mampu. Maka itu kau lawan dengan lidahmu. Kaupun tak mampu. Kemudian kau cuma lawan dengan hatimu. Setidak-tidaknya kau melawan.”
Pramoedya Ananta Toer, Gadis Pantai

Pramoedya Ananta Toer
“Di sini tak ada rumah yang terkunci pintunya, siang ataupun malam. Di sini pintu bukanlah dibuat untuk menolak manusia, tapi menahan angin. Di sini semua orang tidur di ambin pada malam atau siang hari, termasuk para tamu yang tak pernah dipedulikan dari mana datangnya. Ia mendengar sekali lagi. Di kota setiap orang baru selalu ditetak dengan tanya: Siapa nama? Dari mana? Di sini orang tak peduli Mak Pin datang dari mana. Tak peduli Mak Pin gagu. Tak peduli sekalipun dia kelahiran neraka.”
Pramoedya Ananta Toer, Gadis Pantai

Pramoedya Ananta Toer
“Orang tak bisa berhati-hati setiap saat buat seumur hidupnya.”
Pramoedya Ananta Toer, Gadis Pantai

Pramoedya Ananta Toer
“Bagi wanita muda, Mas Nganten, sebenarnya tak ada kesulitan hidup di dunia, apalagi kalau ia canti, dan rodi sudah tak ada lagi.”
Pramoedya Ananta Toer, Gadis Pantai

Pramoedya Ananta Toer
“Di sini ada hukum. Kalau hukum tidak ditaati lagi, mari, mari kita panggil hakim.”
Pramoedya Ananta Toer, Gadis Pantai

Pramoedya Ananta Toer
“Orang kampung seperti sahaya ini, bendoro muda, kelahirannya sendiri sudah suatu kecelakaan. Tak ada sesuatu yang lebih celaka dari nasib orang kampung.”
Pramoedya Ananta Toer, Gadis Pantai

Pramoedya Ananta Toer
“Sejak jaman Nabi memang sudah ada hamba-hamba iblis. Maling. Siapa heran ada maling selama iblis ada? Tapi malingpun butuh kehormatan, semakin dia tidak punya kehormatan diri.”
Pramoedya Ananta Toer, Gadis Pantai

Pramoedya Ananta Toer
“Hanya orang dan binatang bodoh saja yang kena cambuk.”
Pramoedya Ananta Toer, Gadis Pantai

Pramoedya Ananta Toer
“Aku tak suka pada priayi. Gedung-gedung berdinding batu itu neraka. Neraka. Neraka tanpa perasaan. Tak ada orang mau dengarkan tangisnya. Kalau anak itu besar kelak, dia pun takkan dengarkan keluh-kesah ibunya. Dia akan perintah dan perlakukan aku seperti orang dusun, seperti abdi. Dia perlakukan aku seperti bapaknya memperlakukan aku kini dan selama ini. Tapi lindungilah dia. Dia anakku yang tak mengenal emaknya, tak kenal lagi air susu emaknya.”
Pramoedya Ananta Toer, Gadis Pantai

Pramoedya Ananta Toer
“Kita ini biar hidup dua belas kali di dunia, tidak bisa kumpulkan duit buat beli barang-barang yang terdapat dalam hanya satu kamar orang-orang kota.”
Pramoedya Ananta Toer, Gadis Pantai