,

Larasati Quotes

Quotes tagged as "larasati" Showing 1-30 of 38
Pramoedya Ananta Toer
“Ada yang membunuh. Ada yang dibunuh. Ada peraturan. Ada undang-undang. Ada pembesar, polisi, dan militer. Hanya satu yang tidak ada: keadilan.”
Pramoedya Ananta Toer, Larasati

Pramoedya Ananta Toer
“Apa gunanya memaki? Mereka memang anjing. Mereka memang binatang. Dulu bisa mengadu, dulu ada pengadilan. Dulu ada polisi, kalau duit kita dicolong tetangga kita. Apa sekarang? Hakim-hakim, jaksa-jaksa yang sekarang juga nyolong kita punya. Siapa mesti mengadili kalau hakim dan jaksanya sendiri pencuri?”
Pramoedya Ananta Toer, Larasati

Pramoedya Ananta Toer
“Indahnya dunia ini jika pemuda masih tahu perjuangan!”
Pramoedya Ananta Toer, Larasati

Pramoedya Ananta Toer
“Dia seniman, hidup hanya di alam perasaan - Mardjohan”
Pramoedya Ananta Toer, Larasati

Pramoedya Ananta Toer
“Sia-sianya dunia ini kalau untuk meningkatkan satu orang yang lain mesti diinjak.”
Pramoedya Ananta Toer, Larasati

Pramoedya Ananta Toer
“Rupanya di bumi jajahan ini setiap orang hidup atas dasar hancur menghancurkan.”
Pramoedya Ananta Toer, Larasati

Pramoedya Ananta Toer
“Ibuku tinggal di sarang. Ini bukan rumah. Di negeri matahari ini, bahkan sinar matahari dia tidak kebagian!”
Pramoedya Ananta Toer, Larasati

Pramoedya Ananta Toer
“Kalau mati, dengan berani. Kalau hidup, dengan berani. Kalau keberanian tidak ada, itulah sebabnya bangsa asing bisa jajah kita.”
Pramoedya Ananta Toer, Larasati

Pramoedya Ananta Toer
“Mereka berjabat tangan, seperti gunung berjabatan dengan samudera. Mereka hanya dua gumpal daging kecil, tetapi jiwanya lebih besar dari gunung, lebih luas dari laut, karena kereka ikut melahirkan sesuatu yang nenek-moyangnya dan bangsa-bangsa lain tidak atau belum melahirkannya: kemerdekaan.”
Pramoedya Ananta Toer, Larasati

Pramoedya Ananta Toer
“Berkhianat pada revolusi ini berarti berkhianat pada diri sendiri, pada publik yang membayarnya.”
Pramoedya Ananta Toer, Larasati

Pramoedya Ananta Toer
“Secacat itu tapi masih berjuang! Mestinya perjuanganku lebih dari dia. Aku tidak cacat. Lebih, mesti! Lebih!”
Pramoedya Ananta Toer, Larasati

Pramoedya Ananta Toer
“Kalau kita menang perang, semua kita dapat rumah baik. Tapi sekarang negara lebih butuh uang dari pada kita semua.”
Pramoedya Ananta Toer, Larasati

Pramoedya Ananta Toer
“Apakah kesejahteraan hidup sama dengan kebusukan buat orang lain?”
Pramoedya Ananta Toer, Larasati

Pramoedya Ananta Toer
“Semuanya binatang nona, semuanya, juga aku - Sopir”
Pramoedya Ananta Toer, Larasati

Pramoedya Ananta Toer
“Revolusi, dia adalah guru. Dia adalah penderitaan. Tetapi dia pun adalah harapan. Jangan khianati revolusi! Kembali ia pandangi dua orang tua itu, yang mungkin beberapa tahun lagi tewas digulung maut. Namun mereka meletakkan harapannya pada revolusi. Betapa mereka mengagumi lembaran uang, perwujudan revolusi.”
Pramoedya Ananta Toer, Larasati

Pramoedya Ananta Toer
“Anjing-anjing ini baik selama bisa diambil manfaatnya, salah-salah dia menggigit dalam keadaan gila.”
Pramoedya Ananta Toer, Larasati

Pramoedya Ananta Toer
“Kadang-kadang memang terasa olehnya bahwa heroisme dan patriotisme wanita di jaman revolusi ini terletak pada kepalangmerahan saja! Tapi ia tak akan meninggalkan kejujurannya. Ia cintai kejujurannya. Dan ia yakin melalui kejujurannya ia pun dapat berbakti kepada revolusi. Ia merasa dirinya pejuang, berjuang dengan caranya sendiri.”
Pramoedya Ananta Toer, Larasati

Pramoedya Ananta Toer
“Di dunia ini, Ara, hanya sedikit saja orang yang penting - Mardjohan.”
Pramoedya Ananta Toer, Larasati

Pramoedya Ananta Toer
“Bangun dari bumi penjajahan: hancur menghancurkan! Sedang mereka yang tidak dihancurkan, mereka yang tidak menghancurkan adalah landasan hidup binatang ini.”
Pramoedya Ananta Toer, Larasati

Pramoedya Ananta Toer
“Apa yan pernah diberikan Belanda kepada rakyat? Mereka datang ke sini bukan untuk memberi, tetapi untuk meminta! Rakyat mendapat apa yang dicarinya sendiri, sejak dulu si Belanda lah yan malahan mendapat sebagian besar dari nasi yang dicari oleh rakyat. Apa yang diberikan Belanda kepada rakyat?”
Pramoedya Ananta Toer, Larasati

Pramoedya Ananta Toer
“Pada waktu itulah ia mulai mengerti sedikit tentang kehormatan: dia sama nilainya dengan uang.”
Pramoedya Ananta Toer, Larasati

Pramoedya Ananta Toer
“Dan sejak itu pula ia praktekan tafsiran bahwa kehormatan berarti uang.”
Pramoedya Ananta Toer, Larasati

Pramoedya Ananta Toer
“Dia tidak beranak, tidak berbini. Kalau perjuangannya menang, mungkin dia telah tewas, dan kemenangannya itu tidak dinikmati apapun di antara keluarganya sendiri, tetapi buat orang-orang lain.”
Pramoedya Ananta Toer, Larasati

Pramoedya Ananta Toer
“Kalau aku tak memiliki tubuh indah dan wajah cantik mungkin aku jadi sebagian dari mereka yang dibunuh pelan-pelan itu.”
Pramoedya Ananta Toer, Larasati

Pramoedya Ananta Toer
“Tak bakal mampu orang Indonesia punya babu dalam keadaan begitu sulit beras.”
Pramoedya Ananta Toer, Larasati

Pramoedya Ananta Toer
“Uang Jaya! Jaya! Seratus Jepang, satu republik, uang jaya - Kakek Mo”
Pramoedya Ananta Toer, Larasati

Pramoedya Ananta Toer
“betapa beruntungnya jadi bintang film terkenal! Lawan dan kawan sama-sama membutuhkan.”
Pramoedya Ananta Toer, Larasati

Pramoedya Ananta Toer
“Dia sangat cinta pada republik, revolusi, dia mencintai kampung halamannya, biarpun busuk-busuk membumbungkan gas lumpur dan kotorannya sendiri.”
Pramoedya Ananta Toer, Larasati

Pramoedya Ananta Toer
“Apa yang ditakuti bu? Kita semua hidup terus menerus dalam ketakutan. Apa kalian biasanya ketakutan? Tidak ada. Kalau revolusi menang, tidak seorang pun perlu takut lagi.”
Pramoedya Ananta Toer, Larasati

Pramoedya Ananta Toer
“Revolusi ini tidak memberi sesuatu pun, dia minta kepada setiap orang, segala-galanya.”
Pramoedya Ananta Toer, Larasati

« previous 1