Goodreads helps you follow your favorite authors. Be the first to learn about new releases!
Start by following Navida Suryadilaga.
Showing 1-20 of 20
“Pada suatu hari ketika puisi pergi, tertatih mengeja huruf di langit. Tidak ada lagi ruang yang tersisa kecuali kehampaan kata. Semua kosong seperti sepi, meski tidak ada malam hari.”
― Cawan Aksara
― Cawan Aksara
“Di ujung petir yang berkedip, desir resah tersalip. Kasih, tak ada yg lebih aman selain do'a. Sebab keringat di tubuhmu, secinta gerimis di kemarau.”
―
―
“Di ratusan anak gerimis menyiram tanah, yang perlu kamu tahu, bahwa ada rindu serta do'a bahagia menghiasi sepasang mata basah.”
―
―
“Berkaca dan mempelajari atas kekurangan yang dimiliki, supaya membuat sadar diri. Menjaga agar tidak semena-mena atas kelebihan yang dimiliki, supaya membuat tahu diri. Semua hanya sedikit cara bentuk penerimaan diri sebagai manusia. Selebihnya, kesempurnaan hanyalah milik Dia.”
―
―
“Membidik busur langit, cakrawala yang berkarat. Seluas angkasa akan ku taklukkan. Karena Aku, Putri Ayahku....”
―
―
“Tidak ada lagi yang kau inginkan dariku, selain kepergianku. Sampai bertemu diperbatasan senja, saat sesal menikam intravena.”
―
―
“Aku bukan bidadari dari ufuk timur yang duduk di bangku taman, bercerita cita dan mengukir masa. Jadi senyumku, bukan yang kau tunggu.”
―
―
“Waktu adalah rahasia yang ingin ku bidik dari sudut busur panahku. Waktu adalah kata tanpa aksara, bisu.”
―
―
“Aku hanya bersandar pada kenangan, dan kau ludahi aku dengan sikap yang menjelaskan.”
―
―
“Aku mewarna mu pada binar kelopak mata”
―
―
“Pasanglah sepasang hak, karena kamu berhak. Gugur kelopak bunga, pecah kelopak air mata.”
―
―
“Jangan panggil aku Srikandi, jika aku tidak mampu membidik busur di atas medan perang, melawan mati!”
―
―
“Oranye yang bias oleh lebam awan-awan, merangkum gerimis pada binar mesin tik usang. Juga jendela pada setiap lembarnya, menghapus keringat dahi yang diperas saat memasak bakmi.”
―
―
“Jahitan aksara mesra, menyulam bait cinta. Rintihan pena menari seiring antrian do'a saling bercinta di antara gerimis yang semerbak.”
―
―
“Siapa yang menebar abu-abu, akan menuai mendung. Basah kelopak mataku semakin deras menderai, dan itu adalah hujanmu.”
―
―
“Aku mewarnamu pada binar kelopak mata”
―
―
“Lebam air mata mendidih kental, bukan sesiapa yang paling benar melainkan Dia. Percayalah rasa yang kekal adalah yang paling setia.”
―
―
“Air mata adalah bicara tanpa kata melukis tanpa warna dan menulis tanpa aksara.”
―
―
“Rasa yang bergetar adalah cinta yang tak perlu menggugat pertemuan.”
―
―
“Basah kelopak mataku deras menderai, adalah hujanmu. Singgahlah diperteduhan yang kau pilih. Entah itu usang atau lusuh.”
―
―

