Goodreads helps you follow your favorite authors. Be the first to learn about new releases!
Start by following Sukarno.
Showing 1-28 of 28
“Kami menggoyangkan langit, menggempakan darat, dan menggelorakan samudera agar tidak jadi bangsa yang hidup hanya dari 2 ½ sen sehari. Bangsa yang kerja keras, bukan bangsa tempe, bukan bangsa kuli. Bangsa yang rela menderita demi pembelian cita-cita”
―
―
“This country, the Republic of Indonesia, does not belong to any group, nor to any religion, nor to any ethnic group, nor to any group with customs and traditions, but the property of all of us from Sabang to Merauke!”
―
―
“Bebek berjalan berbondong-bondong, akan tetapi burung elang terbang sendirian.”
― Indonesia Menggugat: Pidato Pembelaan Bung Karno di Muka Hakim Kolonial
― Indonesia Menggugat: Pidato Pembelaan Bung Karno di Muka Hakim Kolonial
“I hate imperialism. I detest colonialism. And I fear the consequences of their last bitter struggle for life. We are determined, that our nation, and the world as a whole, shall not be the play thing of one small corner of the world”
―
―
“ Learning without thinking is useless, but thinking without learning is very dangerous! ”
― Dibawah Bendera Revolusi : Jilid 1
― Dibawah Bendera Revolusi : Jilid 1
“Apa yang sudah disepakati secara politik, jangan pernah diperdebatkan secara estetis.”
―
―
“Apabila dalam diri seseorang masih ada rasa malu dan takut untuk berbuat suatu kebaikan, maka jaminan bagi orang tersebut adalah tidak akan bertemunya ia dengan kemajuan selangkah pun”
―
―
“Insinyur (Sarjana) yang bekerja pada orang lain itu (masuk dalam golongan) proletar. Karena ia menjual tenaganya (kepada orang lain) dan alat alat produksi yang dia gunakan untuk bekerja bukan menjadi hak miliknya.”
― Dibawah Bendera Revolusi : Jilid 1
― Dibawah Bendera Revolusi : Jilid 1
“Nasionalis yang sedjati, jang nasionalismenya itu bukan timbul semata-mata suatu copie atau tiruan dari nasionalisme barat akan tetapi timbul dari rasa tjinta akan manusia dan kemanusiaan”
― Dibawah Bendera Revolusi : Jilid 1
― Dibawah Bendera Revolusi : Jilid 1
“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya.”
―
―
“l'exploitation de l'home par 'ihomme”
―
―
“Kalau perempuan itu baik, maka jayalah negara. Tetapi kalau perempuan itu buruk, maka runtuhlah negara”
―
―
“Dalam tahun 1882 Ernest Renan telah membuka pendapatnja tentang faham "bangsa" itu. "Bangsa" itu menurut pudjangga ini ada suatu njawa, suatu azas-akal, jang terdjadi dari dua hal: pertama-tama rakjat itu dulunja harus bersama-sama mendjalani suatu riwayat; kedua rakjat itu sekarang harus mempunjai kemauan, keinginan hidup mendjadi satu. Bukannja djenis (ras), bukannja pula batas-batas negeri jang mendjadikan "bangsa" itu.”
― Dibawah Bendera Revolusi : Jilid 1
― Dibawah Bendera Revolusi : Jilid 1
“Jang mendatangkan pemberontakan-pemberontakan itu biasanja bagian-bagian jang terketjil, dan bagian-bagian jang terketjil sekali.”
― Dibawah Bendera Revolusi : Jilid 1
― Dibawah Bendera Revolusi : Jilid 1
“Bangsa itu adalah suatu persatuan perangai jang terdjadi dari persatuan hal-ichwal jang telah didjalani oleh rakjat itu.”
― Dibawah Bendera Revolusi : Jilid 1
― Dibawah Bendera Revolusi : Jilid 1
“Nasionalisme itu jalah suatu itikad; suatu keinsyafan rakjat bahwa rakjat itu ada satu golongan, satu "bangsa"!”
― Dibawah Bendera Revolusi : Jilid 1
― Dibawah Bendera Revolusi : Jilid 1
“Jang pertama-tama menjebabkan kolonisasi jalah selamanja kekurangan bekal-hidup dalam tanah-airnja sendiri, begitulah Dietrich Schafer berkata. Kekurangan rezeki, itulah jang mendjadi sebab rakjat-rakjat itu mendjajag negeri-negeri, dimana mereka bisa mendapat rezeki itu. Itulah pula jang membikin "ontvoogding"-nja negeri-negeri djadjahan oleh negeri-negeri jang mendjadjahnja itu, sebagai suatu barang jang sukar dipertjajainja. Orang tak akan gampang-gampang melepaskan bakul-nasinja, djika pelepasan bakul itu mendatangkan matinja!”
― Dibawah Bendera Revolusi : Jilid 1
― Dibawah Bendera Revolusi : Jilid 1
“...orang Bali mempunjai kepertjajaan... kalau gunung Agung meletus ini berarti bahwa rakjat telah melakukan maksiat.”
― Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia
― Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia
“Bahwa jang menjebabkan kolonisasi itu bukanlah keinginan pada kemasjhuran, bukan keinginan melihat dunia-asing, bukan keinginan merdeka, dan bukan pula oleh karena negeri rakjat jang mendjalankan kolonisasi itu ada terlampau sesak oleh banjaknja penduduk, sebagai jang telah diadjarkan oleh Gustav Klemm, akan tetapi asalnja kolonisasi ijalah teristimewa soal rezeki.”
― Dibawah Bendera Revolusi : Jilid 1
― Dibawah Bendera Revolusi : Jilid 1
“Aku telah memperhatikan, kalau engkau membelah dada seseorang (laki-laki) termasuk aku sendiri maka akan terbatja dalam dadanja itu bahwa kebahagiaan dalam perkawinan baru akan tertjapai apabila si isteri merupakan perpaduan dari pada seorang ibu, kekasih dan seorang kawan. Aku ingin di ibui oleh teman hidupku. Kalau aku pilek, aku ingin dipidjitnja. Kalau aku lapar, aku ingin memakan makanan jang dimasaknja sendiri. Manakala badjuku kojak, aku ingin isteriku menambalnja.”
― Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia
― Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia
“We must have a blueprint not only for a guided economy but for a social order based on justice and ensuring the well-being of the people.”
―
―
“Saya membuka topi kepada musuh yang dinamis, dan menganggap tempe kepada kawan yang tidak dinamis.”
― Islam Sontoloyo: Pemikiran-Pemikiran Sekitar Pembaruan Pemikiran Islam
― Islam Sontoloyo: Pemikiran-Pemikiran Sekitar Pembaruan Pemikiran Islam
“The motion picture industry has provided a window on the world, and the colonized nations have looked through that window and have seen the things of which they have been deprived. It is perhaps not generally realized that a refrigerator can be a revolutionary symbol—to a people who have no refrigerators. A motorcar owned by a worker in one country can be a symbol of revolt to a people deprived of even the necessities of life… [Hollywood] helped to build up the sense of deprivation of man’s birthright, and that sense of deprivation has played a large part in the national revolutions of postwar Asia”
―
―
“Dan kamu, kaum wanita Indonesia,-akhirnya nasibmu adalah di tangan kamu sendiri. Saya memberi peringatan kepada kaum laku-laki itu untuk memberi keyakinan kepada mereka tentang hargamu dalam perjuangan, tetapi kamu sendiri harus menjadi sadar, kamu sendiri harus terjun mutlak dalam perjuangan" Halaman 326 Naskah sarinah”
― Sarinah: Kewajiban Wanita Dalam Perjuangan Republik Indonesia
― Sarinah: Kewajiban Wanita Dalam Perjuangan Republik Indonesia
“Wanita Indonesia, kewajibanmu telah terang! Sekarang, ikutilah serta mutlak dalam usaha menyelamatkan Republik, dan nanti jika Republik telah selamat, ikutilah serta mutlak dalam usaha menyusun Negara Nasional. Jangan ketinggalan didalam Revolusi Nasional ini dai awal sampai akhirnya, dan jangan ketinggalan pula nanti di dalam usaha menyusun masyarakat keadilan sosial dan kesejahteraan sosial. Didalam masyarakat keadilan sosial dan kesejahteraan sosial telah engkau nanti menjadi wanita yang bahagia, wanita yang Merdeka!" Halaman 335 naskah sarinah”
― Sarinah: Kewajiban Wanita Dalam Perjuangan Republik Indonesia
― Sarinah: Kewajiban Wanita Dalam Perjuangan Republik Indonesia
“Di mana genius dirantai, di mana akal pikiran diterungku, di situlah datang kematian.”
― Islam Sontoloyo: Pemikiran-Pemikiran Sekitar Pembaruan Pemikiran Islam
― Islam Sontoloyo: Pemikiran-Pemikiran Sekitar Pembaruan Pemikiran Islam
“Siapa yang memasang bendungan di sungai zaman, ia adalah orang yang sangat dungu. Orang bijaksana tidak membendung, orang bijaksana menerima dan mengatur.”
― Islam Sontoloyo: Pemikiran-Pemikiran Sekitar Pembaruan Pemikiran Islam
― Islam Sontoloyo: Pemikiran-Pemikiran Sekitar Pembaruan Pemikiran Islam
“Juga diatas pundak wanitalah terletak kewajiban untuk tidak ketinggalan di dalam perjuangan ini, dalam mana diperjuangkan kemerdekaan mereka dan pembebasan mereka. Mereka sendirilah harus membuktikan, bahwa mereka mengerti benar-benar tempat mereka dalam perjuangan sekarang yang mengejar masa depan yang lebih baik itu" Halaman 332 Naskah sarinah”
― Sarinah: Kewajiban Wanita Dalam Perjuangan Republik Indonesia
― Sarinah: Kewajiban Wanita Dalam Perjuangan Republik Indonesia




