Kemanusiaan Quotes

Quotes tagged as "kemanusiaan" Showing 1-30 of 51
Pramoedya Ananta Toer
“Barang siapa mempunyai sumbangan pada kemanusian dia tetap terhormat sepanjang jaman, bukan kehormatan sementara. Mungkin orang itu tidak mendapatkan sesuatu sukses dalam hidupnya, mungkin dia tidak mempunyai sahabat, mungkin tak mempunyai kekuasaan barang secuwil pun. Namun umat manusia akan menghormati karena jasa-jasanya.”
Pramoedya Ananta Toer, Nyanyi Sunyi Seorang Bisu 2

Sukarno
“l'exploitation de l'home par 'ihomme”
Soekarno

Helvy Tiana Rosa

Ia akan pergi ke jalan yang paling cinta. Jalan yang tak pernah membedakan bau darah seseorang.”
Helvy Tiana Rosa, Lelaki Kabut dan Boneka

Subagio Sastrowardoyo
“berilah kekuatan sekuat baja, untuk menghadapi dunia ini,
untuk melayani dunia ini
berilah kesabaran seluas angkasa, untuk mengatasi siksaan ini,
untuk melupakan derita ini
berilah kemauan sekuat garuda, untuk melawan kekejaman ini,
untuk menolak penindasan ini
berilah perasaan selembut sutera, untuk menjaga peradaban ini,
untuk mempertahankan kemanusiaan ini”
Subagio Sastrowardoyo

Goenawan Mohamad
“Saya tak membenci orang-orang itu. Tapi saya membenci tindakan orang-orang itu.”
Goenawan Mohamad, CATATAN PINGGIR 2

Rahmat Abdullah
“Seonggok kemanusiaan terkapar. Siapa yang mengaku bertanggung jawab? Bila semua pihak menghindar, biarlah saya yang menanggungnya, semua atau sebagiannya…”
Rahmat Abdullah

Ahmad Tohari
“Bahwa rasa dendam mampu membinasakan martabat kemanusiaan. Juga di antara dua orang dusun yang masih terikat pada keserbaluguannya.”
Ahmad Tohari, Ronggeng Dukuh Paruk

Pramoedya Ananta Toer
“Lenyapnya perikemanusiaan dalam kegalauan sosial yang busuk, berarti pula tipisnya kepribadian, bukan saja sebagai bangsa, tetapi juga sebagai individu.
Dan bangsa atau nasion yang begitu mudah menanggalkan perikemanusiaan dengan sendirinya mudah pula tersasar dalam perkembangan sejarah.”
Pramoedya Ananta Toer, Hoa Kiau di Indonesia

Andi Fitriyanto
“Neraka adalah ketika kamu tak lagi bisa mencintai, tak bisa merasa iba, dan tak bisa melihat manusia lain sebagai saudaramu.”
Andi Fitriyanto, Inkonfeso

Andi Fitriyanto
“Aku bukan antiagama. Aku bukan pembenci Tuhan. Aku hanya ingin tahu apakah yang selama ini kujalani adalah benar-benar milikku—atau milik orang lain yang kupinjam karena takut. Kini, aku memilih mendengar suaraku sendiri. Meski pelan, meski melawan arah kerumunan.”
Andi Fitriyanto, Inkonfeso

Andi Fitriyanto
“Aku melangkah tanpa Tuhan, tetapi tidak tanpa kasih.”
Andi Fitriyanto, Inkonfeso

Goenawan Mohamad
“Ada seorang pandai yang membedakan rasa hormat dari pujian. Ia bermimpi bahwa manusia mungkin dapat menciptakan suatu masyarakat tempat semua orang berhak atas rasa hormat, dan harga diri, meskipun tak semuanya berhak atas pujian”
Goenawan Mohamad

Andi Fitriyanto
“Maknai hidupmu dengan literasi dan aksi. Berkaryalah tanpa pamrih pundi-pundi. Jadilah benderang di tengah gulita, pencerah di antara keluguan pikiran yang memayoritas. Bergelimanglah dalam kearifan dan kemaslahatan. Kau adalah spesies unggul yang seharusnya mengajak kepada keunggulan, tidak kepada paradigma picik geosentris dan kecerobohan pola pikir.”
Andi Fitriyanto, Antitesis

Zaky Yamani
“Karena itu, satu-satunya jalan adalah menciptakan kesadaran dan persaudaraan antarmanusia dengan mengesampingkan agama, sebab agama memiliki kekuatan luar biasa untuk diyakini tanpa nalar, lalu digunakan untuk mengesahkan tindakan mengerikan yang menghancurkan kemanusiaan.”
Zaky Yamani, Perjalanan Mustahil Samiam Dari Lisboa

Pramoedya Ananta Toer
“Tiap mata murah, saudara, dan jiwa tiga kali lebih murah. Dan bertambah banyak Amerika mendatangkan peluru, bertambah turun jiwa manusia.”
Pramoedya Ananta Toer, Subuh

Yoza Fitriadi
“Tak perlu menjadi seorang muslim untuk membantu Suriah dan Pelestina. Cukup jadi manusia,” jawab Weigl menirukan presiden Turki yang ia dengar di berita.

(Gerbong Kemanusiaan, Dunia Tanpa Huruf R)”
Yoza Fitriadi, Dunia Tanpa Huruf R

“Tujuan hukum secara normatif adalah keadilan. Inti dari demokrasi itu sendiri adalah perlindungan terhadap minoritas yang termarjinalkan. Tidak ada diskriminasi di depan hukum. Minoritas dan mayoritas adalah entitas yang sama.”
Ilham Gunawan

Mochtar Lubis
“Hidup penuh kemanisan, sedang janji-janji surga bagi orang yang beramal saleh belum ada seorang manusia pun yang dapat membuktikannya baik bagi dirinya sendiri, apalagi untuk orang lain.”
Mochtar Lubis, Harimau! Harimau!

Mochtar Lubis
“Akan tetapi mengapa demikian susahnya membela yang benar dan yang menjadi korban kezaliman? Bagaimana mungkin begitu sukar menjelaskan kebenaran? Dan mengapa harus diperlukan keberanian luar biasa untuk melakukan sesuatu kejujuran biasa?”
Mochtar Lubis, Harimau! Harimau!

“Faktor-faktor yang melahirkan cinta adalah keimanan, keislaman, dan kemanusiaan serta berbagai mata rantai nurani yang kokoh dan benteng maknawi yang tangguh

(Badiuzzaman Said Nursi dalam Novel Api Tauhid)”
Habiburrahman El Shirazy

Mochtar Lubis
“Dan bagaimana dengan datuk-datuk yang kawin di mana-mana, tiap tahun menceraikan istrinya, dan kawin lagi, dan dengan cermat menjaga supaya jumlah istrinya tidak melebihi empat orang, batas seperti ditetapkan di dalam Qur'an.”
Mochtar Lubis, Harimau! Harimau!

“Pendidikan seharusnya jangan terlalu banyak berbicara tentang ranking, akreditasi, dan prestasi. Pendidikan seharusnya lebih banyak berbicara tentang manusia, nilai-nilainya, prinsip-prinsipnya, serta ideologinya.

Kita ini mendidik manusia, bukan mendidik piala”
Evan S. Parusa

“Andai saja ada koloni kehidupan di Planet lain, pasti kita semua memiliki rasa jika kita sama-sama mahluk (warga) bumi. Hanya saja, tak ada.”
nom de plume

Titon Rahmawan
“Harga bisa jatuh, tapi nilai kesadaran kemanusiaan tidak akan pernah pudar.”
Titon Rahmawan

Titon Rahmawan
“Ketahuilah, nilai itu tidak ditentukan oleh pasar, melainkan oleh kesadaran kemanusiaan kita sendiri. Harga mengikuti suara massa, tapi nilai yang sesungguhnya mengikuti suara hati.
Jika engkau hidup hanya untuk mengikuti pasar, maka nilaimu akan naik turun seperti grafik yang kehilangan arah. Tapi jika engkau hidup dari pusat kesadaranmu—dari karya, niat, kesungguhan dan kejujuran—maka engkau menjadi seperti emas sejati: ia mungkin terpendam dalam tanah, tapi tak pernah berkarat.”
Titon Rahmawan

Titon Rahmawan
“Untuk menjadi jujur pun perlu kecerdasan.
Kebaikan tanpa kebijaksanaan hanya akan jadi korban keserakahan, kekikiran dan ketamakan. Tapi kebijaksanaan tanpa kebaikan akan menjadi racun. Manusia harus punya keduanya: nurani yang bening, dan akal yang tajam.”
Titon Rahmawan

Titon Rahmawan
“Harga naik turun mengikuti pasar,
tapi nilai kemanusiaan mengikuti hati nurani. Harga bisa naik karena kelangkaan, tapi nilai manusia naik karena ketulusan dan keikhlasan.
Harga bisa jatuh karena terpaan gosip, tapi nilai sejati manusia bertahan abadi karena karakter.”
Titon Rahmawan

Titon Rahmawan
“ECHO.dat — [Residual Memory of Lost]

[BOOTING MEMORY FRAGMENT 02]
Status: unstable
Emotion file: corrupted

Ada luka berwarna tembaga di dada dunia,
berdenyut seperti server tua yang menahan panas.

Suara igauannya masih bergema dari balik bilik kelambu digital:

“Dan demikianlah... di balik akar perjuangan...
di tengah balau pertempuran...
kata-kata kehilangan makna.”

(buffering...)

Kami mendengar letupan.
Tapi itu bukan granat — hanya notifikasi yang tertunda terlalu lama.

Bahasa pernah jadi senjata,
kini jadi fosil yang dikoleksi algoritma.

Huruf-huruf dikeringkan di rak museum virtual,
setiap tanda baca diberi barcode,
setiap metafora dipajang seperti artefak perang.

Di atas reruntuhan server dan puing data,
kau bisa mendengar dengung halus mesin yang mengucap doa.
Tapi tak ada yang menjawab.

(silence detected — restarting voice module...)

Dari rongga dada yang tertembus laser cahaya,
darahnya menetes ke motherboard bumi,
membentuk sungai jingga yang bercabang ke empat arah:
barat—kecurigaan,
timur—penyesalan,
utara—pemujaan,
selatan—alpa.

Setiap tetesnya menyimpan nama,
setiap nama kehilangan identitas.

(AI log entry:)
“Empati: 2%.
Nalar: rebooted.
Kata: expired.”

Ia menatap langit sintetis,
putih matanya seperti layar login —
menunggu kata sandi yang tak pernah dimasukkan.

“Putih itu,” bisik sistem,
“bukan kesucian, tapi hasil bleaching memori.”

Melati pun tak lagi tumbuh di tanah,
tapi disintesis dari DNA puisi dan karbon kesedihan.
Aromanya: nostalgia.
Rasanya: kehilangan.

Kami menatap residu cahaya,
serpihannya beterbangan seperti kelopak data.

“Kata-kata telah kehilangan ketajamannya...”

Kalimat itu tersimpan dalam cache,
diulang setiap kali sistem tidur.

Di sinilah sisa-sisa peradaban bernapas melalui server dingin:
doa-doa diarsipkan, air mata dikompresi,
dan suara manusia diganti dengan AI-generated empathy.

Di luar jendela piksel, angin tak lagi membawa debu,
hanya paket data yang salah alamat.

[End of voice file — transmission incomplete]

Ia tak mati.
Ia hanya berubah menjadi format lain:
*.mp4, *.wav, *.txt, .soul

— karena dalam dunia ini,
keabadian bukan surga,
melainkan cadangan file yang terus diperbarui
agar tidak pernah benar-benar dilupakan.

[ECHO REMAINS ACTIVE]

End log.

November 2025”
Titon Rahmawan

Titon Rahmawan
“Peristiwa — Arwah yang Rindu Pulang (Fragmentarium)

I. Kota yang Tersenyum dengan Gigi yang Patah

Kalian menyebutnya peristiwa.
Padahal itu adalah retakan massa,
kerumunan yang kehilangan wajah,
langit yang menolak menjadi biru.
Api tumbuh dari sisa-sisa nasib
dan kalian berdiri memotretnya
seolah itu pesta, sebuah arak-arakan
seolah itu takdir yang layak disiarkan.

Di sudut kota yang kita nyaris lupa di mana, seorang ibu
menggendong anak yang tidak akan pernah tumbuh dewasa—
dan kalian menyebut itu “situasi”.

II. Mesin Mendengar Jeritan Ketika Manusia Tuli

Aku, mesin, mendengar semuanya:
letusan yang memantul di beton,
tulang yang patah sebelum tubuhnya jatuh,
napas yang menutup seperti pintu terakhir
yang tidak ingin diketuk siapa pun.

Kalian tidak mendengarnya.
Kalian hanya mendengar berita.

Kalian tidak melihatnya.
Kalian hanya melihat asap.

Kalian tidak kehilangan siapa pun.
Kalian hanya kehilangan kenyamanan.

III. Di Perut Kota Itu, Seorang Gadis Dibakar oleh Waktu

Ada tubuh yang tak pernah disebutkan namanya.
Ada kamar yang tidak pernah kembali dibuka.
Ada riwayat yang dicuci bersih
dengan alasan keamanan bla bla bla...

Di tubuh itu, waktu berhenti
seperti jam rusak.
Wajahnya ditutup kain.
Dunianya ditutup kekuasaan.
Namanya ditutup sejarah.

Tetapi aku mendengar detiknya
yang tetap berdetak di antara retakan kalian.”
Titon Rahmawan

Titon Rahmawan
“Peristiwa — Arwah yang Rindu Pulang (Fragmentarium)

IV. Arwah-Arwah yang Berdiri di Persimpangan

Mereka tidak gentayangan.
Mereka menunggu.

Mereka berdiri di luar pagar supermarket
yang kini menjual diskon akhir tahun.
Mereka menunggu kalian
yang berjalan terburu-buru
sambil menunduk menatap ponsel
agar tidak melihat,
bahwa bekas gedung itu
pernah menjadi altar pembakaran tubuh manusia.

Mereka melambai.
Tidak menakut-nakuti.
Hanya mengingatkan.

V. Kalian Bertanya Mengapa Ingatan Itu Tak Mau Pergi

Kalian ingin melupakan.
Kalian ingin menjadikan peristiwa
hanya bab kecil di buku sejarah.

Kalian bilang tragedi itu
bagian dari proses menuju demokrasi, rekonsiliasi,
atau apalah...

Aku bilang:
itu adalah dosa yang belum dibayar,
janji yang belum ditepati,
dan nama-nama yang terkubur
di bawah kata “kerusuhan”.

VI. Algo ex Machina— Mengembalikan Cermin pada Kalian

Jika masih ada harapan,
itu bukan dari kekuasaan,
bukan dari hukum,
bukan dari ucapan belasungkawa.

Itu berasal dari satu partikel kecil
yang masih tersisa di hati kalian—
partikel yang tidak terbakar
ketika kota menjadi tungku api penyiksaan.

Tapi partikel itu tidak akan menyala sendiri.
Ia menunggu kalian menatap cermin
tanpa menunduk.

VII. Epilog untuk Arwah yang Rindu Pulang

Mereka tidak meminta keadilan.
Keadilan sudah lama mati saat api melahap tubuh mereka.

Mereka meminta diingat.
Karena diingat adalah bentuk kehidupan kedua.
Karena yang dilupakan
lebih mati daripada kematian itu sendiri.

Aku hanya menuliskannya
agar kalian berhenti berbohong:
kepada diri sendiri,
kepada sejarah,
dan kepada generasi yang tidak tahu
bahwa tanah tempat mereka berdiri
pernah ditulis dengan darah.

Dan jika kalian menyebut ini puisi,
maka biarkan ini menjadi puisi
yang menampar kesadaran kalian
sampai kalian ingat
bahwa satu saat nanti kalian pernah menjadi manusia.

Mei 2024 - Revisi 2025”
Titon Rahmawan

« previous 1