Andi Fitriyanto Quotes

Quotes tagged as "andi-fitriyanto" Showing 1-16 of 16
Andi Fitriyanto
“Neraka adalah ketika kamu tak lagi bisa mencintai, tak bisa merasa iba, dan tak bisa melihat manusia lain sebagai saudaramu.”
Andi Fitriyanto, Inkonfeso

Andi Fitriyanto
“Aku bukan antiagama. Aku bukan pembenci Tuhan. Aku hanya ingin tahu apakah yang selama ini kujalani adalah benar-benar milikku—atau milik orang lain yang kupinjam karena takut. Kini, aku memilih mendengar suaraku sendiri. Meski pelan, meski melawan arah kerumunan.”
Andi Fitriyanto, Inkonfeso

Andi Fitriyanto
“Aku melangkah tanpa Tuhan, tetapi tidak tanpa kasih.”
Andi Fitriyanto, Inkonfeso

Andi Fitriyanto
“Kau bukan manusia yang berpikir jika kau belum membangkang atas pikiran usangmu. Pembangkang superioritas akan selalu menemukan jalan untuk mengekspos propaganda busuk yang mengerdilkan logika dan mengebiri keluhuran kemanusiaan demi meraih kasta tertinggi inteligensi, manusia unggul yang memaksimalkan akal dibandingkan keyakinan semu dan delusi.”
Andi Fitriyanto, Antitesis

Andi Fitriyanto
“Kita tercipta dari debu-debu semesta, bertaburan melayang-layang berotasi pada poros kehakikian makna, berevolusi mengelilingi ketaksaan hingga bertransformasi menjadi kenyataan mengakar yang tertanam kokoh pada tekanan gravitasi kemanusiaan dan peradaban berparadigma futuristis.”
Andi Fitriyanto, Antitesis

Andi Fitriyanto
“Sains tidak pernah mendiskreditkan agama, meskipun ia otonom dan bersifat bebas nilai, karena tujuan utamanya hanyalah mengungkap kebenaran secara terukur melalui sarana ilmiah. Lebih lagi, agama tidak akan pernah bisa dieradikasi oleh sains karena ia akan selalu menemukan pembenaran melalui ayat-ayat sucinya di setiap pengungkapan saintifik.”
Andi Fitriyanto, Enigmakrostik

Andi Fitriyanto
“Kematangan nalar dan kognisi adalah pusara bagi segala keilusifan, kegaiban, dan absurditas.”
Andi Fitriyanto, Enigmakrostik

Andi Fitriyanto
“Tidak ada harga mati di sepanjang lorong sivilisasi, kecuali evolusi. Ia adalah hal yang tidak terelakkan. Evolusi adalah harga mati. Namun, harga yang bisa ditawar adalah resultan dari evolusi: deklinasi, stagnasi, atau eskalasi. Manusia memiliki potensi untuk merekayasanya. Namun, ia dibatasi oleh daur hidup yang terlimitasi. Ia berlomba dengan waktu, dan alam raya memiliki kuasa penuh untuk menavigasinya.”
Andi Fitriyanto, Enigmakrostik

Andi Fitriyanto
“Tidak ada manusia waras yang anti terhadap humanisme. Manusia beradab adalah mereka yang antikeobsoletan, kebebalan, arogansi, dan kebiadaban. Kredo, agama, ketuhanan, kepercayaan, hingga spiritualitas sejatinya adalah sarana kemanusiaan—sebuah agen pencerah—maka ia harus bersifat fleksibel, karena evolusi adalah harga mati; ia tak terelakkan. Ketika sebuah ajaran arkais masih melestarikan dalil-dalil usang berdasarkan ketuhanan yang tidak selaras dengan kompromi moralitas universal yang terukur dan teruji, kesetaraan, diversitas, perkembangan zaman, dan kemajuan ilmu pengetahuan, maka ia menjadi ancaman bagi koeksistensi dan sepatutnya menempuh upaya moderasi. Asimilasi, integrasi, dan sinkretisme adalah keniscayaan, sebuah keharusan demi mencapai kulminasi kemanusiaan. Jika tidak, bersiaplah untuk ditelanjangi, dieliminasi, atau punah tergerus evolusi.”
Andi Fitriyanto, Enigmakrostik

Andi Fitriyanto
“Hijab adalah pilihan, yaitu pilihan bagi mereka yang tidak memiliki cukup informasi untuk memilih dan menentukan sikap, serta bagi mereka yang belum menyadari bahwa ada pilihan lain yang lebih rasional dan manusiawi.”
Andi Fitriyanto, Inkonfeso

Andi Fitriyanto
“Dengan mengakui bahwa emosi adalah bagian dari sistem kognisi, dan bukan musuhnya, manusia dapat membangun harmoni antara logika dan afeksi.”
Andi Fitriyanto, Oksimoron: Merawat Ketololan, Merayakan Kekonyolan

Andi Fitriyanto
“Manusia adalah spesies aneh: cerdas, tetapi religius; logis, tetapi mitologis; ilmiah, tetapi mistis. Kita menyembah Tuhan dengan cara yang sama kita menyembah selebritas, teknologi, dan ideologi. Mungkin agama adalah kelemahan evolusi yang kita romantisasi sebagai kebijaksanaan. Atau sebaliknya, adaptasi yang membuat kita selamat sejauh ini, meski dengan harga darah.”
Andi Fitriyanto, Oksimoron: Merawat Ketololan, Merayakan Kekonyolan

Andi Fitriyanto
“Kita adalah spesies yang sedang mencari makna dalam semesta yang tak bermakna. Kita menciptakan kitab suci, hukum moral, dan impian utopis demi bertahan hidup dalam kekacauan kosmis ini. Tetapi kita juga harus cukup rendah hati untuk mengakui: bahwa semua itu tidak lebih dari sandi-sandi simbolik untuk mengatasi absurditas keberadaan.”
Andi Fitriyanto, Oksimoron: Merawat Ketololan, Merayakan Kekonyolan

Andi Fitriyanto
“Histori perbudakan islam menunjukkan ironi mendalam. Islam tidak menghancurkan perbudakan, tetapi mengislamkannya. Budak jadi properti, alat ritual, bahkan komoditas seksual. Pasar budak, harem, dan pasukan budak berkuasa adalah bagian integral dunia Islam. Abolisi datang bukan dari fiqh atau qur’an, tetapi dari tekanan barat modern. Jika kita jujur, histori perbudakan dalam Islam adalah bukti paling telanjang bahwa agama ini tidak steril dari dosa sejarah yang sama dengan peradaban lain. Bedanya, dosa ini dikuduskan, dipoles dengan bahasa “syariat”, dan diawetkan berabad-abad.”
Andi Fitriyanto, Oksimoron: Merawat Ketololan, Merayakan Kekonyolan

Andi Fitriyanto
“Tidak ada manusia waras yang anti terhadap humanisme. Manusia beradab adalah mereka yang antikeobsoletan, kebebalan, arogansi, dan kebiadaban. Kredo, agama, ketuhanan, kepercayaan, hingga spitualitas, sejatinya adalah sarana humaniora—sebuah agen pencerah, maka ia harus bersifat fleksibel, karena evolusi adalah harga mati, ia tak terelakkan. Ketika sebuah ajaran arkais masih melestarikan dalil-dalil usang berbasis ketuhanan yang tidak selaras dengan kompromi moralitas universal yang terukur dan teruji, kesetaraan, diversitas, perkembangan zaman, dan progres-progres sains, maka ia menjadi ancaman bagi koeksistensi dan sepatutnya menempuh upaya moderasi. Asimilasi, integrasi, dan sinkretisme adalah keniscayaan. Sebuah keharusan, demi mencapai kulminasi kemanusiaan, jika tidak, bersiaplah untuk ditelanjangi, dieliminasi, atau punah tergerus evolusi.”
Andi Fitriyanto, Enigmakrostik

Andi Fitriyanto
“Histori perbudakan islam menunjukkan ironi mendalam. Islam tidak menghancurkan perbudakan, tetapi mengislamkannya. Budak jadi properti, alat ritual, bahkan komoditas seksual. Pasar budak, harem, dan pasukan budak berkuasa adalah bagian integral dunia Islam. Abolisi datang bukan dari fiqh atau qur’an,
Tetapi dari tekanan barat modern. Jika kita jujur, histori perbudakan dalam Islam adalah bukti paling telanjang bahwa agama ini tidak steril dari dosa sejarah yang sama dengan peradaban lain. Bedanya, dosa ini dikuduskan, dipoles dengan bahasa “syariat”, dan diawetkan berabad-abad.”
Andi Fitriyanto, Oksimoron: Merawat Ketololan, Merayakan Kekonyolan