Emosi Quotes
Quotes tagged as "emosi"
Showing 1-15 of 15
“Perang tidak bisa dimenangkan dengan emosi. Tetapi perhitungan yang dingin.”
― Burung-Burung Manyar
― Burung-Burung Manyar
“Emosi negatif itu hanya bertahan pada satu menit pertama. Jika kita menarik napas dan melepaskannya perlahan, mencoba mengalihkannya dengan hal lain, reseptor negatif yang diterima hipotalamus di otak tidak akan dilanjutkan ke saraf simpatik; sebaliknya, akan bergerak menjauh, meluruh, dan akhirnya menghilang. (50)”
― Bulan Terbelah di Langit Amerika
― Bulan Terbelah di Langit Amerika
“biarkanlah lolongan anjing anjing itu hilang terkaing-kaing, Tuhan
telingaku telah padat dan tersumbat oleh aungan mereka yang serupa percakapan setan-setan
sa'at kubuka pintu pagi; jangan lagi ada berita kematian kisahku membangkai dimakan anjing! semoga”
―
telingaku telah padat dan tersumbat oleh aungan mereka yang serupa percakapan setan-setan
sa'at kubuka pintu pagi; jangan lagi ada berita kematian kisahku membangkai dimakan anjing! semoga”
―
“Kita harus bersiap dengan kemungkinan terburuk. Tapi jangan biarkan emosi, rasa marah, kebencian kepada lawan membuat penilaian kita menjadi keliru. Tetap fokus pada tugas masing-masing. Marah, tindakan nekat membabi-buta hanya membuat lawan kita tertawa.”
― Pergi
― Pergi
“Danau dengan air yang amat tenang permukaannya, tapi apa yang ada di dalamnya, ekosistem liar, habitat para monster, hening, dan dalam. Apa yang akan kamu rasakan ketika ada di dalamnya?
Seseorang dengan emosi yang amat tenang di raut wajah dan sikapnya, tapi apa yang ada di dalamnya, goncangan kehidupan, pengalaman pahit, kesepian, dan depresi. Apa yang kamu rasakan ketika menjadi dirinya?”
―
Seseorang dengan emosi yang amat tenang di raut wajah dan sikapnya, tapi apa yang ada di dalamnya, goncangan kehidupan, pengalaman pahit, kesepian, dan depresi. Apa yang kamu rasakan ketika menjadi dirinya?”
―
“Mungkin sebab ibu bapa kita tidak menggalakkan kita memahami perasaan. Dan mereka sendiri tidak iktiraf perasaan kita. Mereka tidak beri ruang kita teroka perasaan-perasaan kita semasa kita kecil. Kita terbiasa tutup perasaan itu sebelum kita merasainya betul-betul. Istilahnya ialah pengabaian emosi. Kita mengabaikan emosi kerana itu yang diajar kepada kita sejak kecil.”
― Mawaddah Ilmi Ingin Pulang
― Mawaddah Ilmi Ingin Pulang
“Musik, lagu, dan tarian adalah bentuk budaya yang bertujuan memengaruhi emosi manusia, seperti kau merasa senang melihat tarian Thousand hands Bodhisattva. Bentuk budaya ini juga menyampaikan tradisi turun-temurun, menyampaikan kisah dan nilai-nilai utama seperti tarian ini menceritakan pengorbanan si putri bungsu.”
― Man's Defender
― Man's Defender
“Dalam hidup Mawaddah, kebanyakan perbualan hanya dibuat dalam bentuk tulisan dalam Whatsapp. Apabila semua emosi sudah terbiasa diterjemah ke dalam bentuk tulisan, emosi daripada suara kedengaran terlalu istimewa.”
― Mawaddah Ilmi Ingin Pulang
― Mawaddah Ilmi Ingin Pulang
“Bernapas sejenak dapat menghindarkan Anda dari perilaku gegabah dan emosi...”
― 30 Days Pursuit of Happiness: 30 Hari Menuju Mental Yang Kuat, Tekad Yang Bulat, Pikiran Yang Terbuka, Dan Hati Yang Ikhlas Dalam Segala Hal
― 30 Days Pursuit of Happiness: 30 Hari Menuju Mental Yang Kuat, Tekad Yang Bulat, Pikiran Yang Terbuka, Dan Hati Yang Ikhlas Dalam Segala Hal
“Zoyya
Ada yang luput tertangkap dalam binar mata Zoyya
Usia muda yang ingin nyatakan dirinya sendiri
Seekor ayam berbulu merah tak kasat mata
Sebuah rahasia yang sengaja ia sembunyikan,
Tertutup rapat dalam pintu kamar terkunci
Dan lubang menganga dari separuh dunia
Siapa melihat Zoyya di sana asyik dengan pikiran sunyi?
Membuat tangga ke surga untuk meraih kebahagiaan
Apakah kau lihat Zoyya dalam dirimu, sebagaimana aku menemukan Zoyya dalam diriku?
Ada kepahitan yang gemetar seperti daun hijau tersentuh angin
Seperti riak air di danau yang menggigil kedinginan
Betapa tikaman senyap itu terasa sangat menyakitkan
Betapa aum kegelisahan itu terdengar sangat menakutkan.
Mungkin, kau tak akan pernah melihat dia menangis
Sepintas, ia hanya tertawa-tawa gembira dalam semesta kecilnya.
Mengubur semua kisah dalam layar ponsel yang tak henti berkedip
Dalam ratusan tanda cinta yang beterbangan ke udara
Kita memuja Zoyya seperti memuja masa kanak-kanak kita yang polos dan mungkin naif
Ketelanjangan yang tak pernah ditutup-tutupi
Hanya bisa menduga-duga berapa usia Zoyya saat ini
Sekali lagi lepas dari tatapan mata berang mama dan papa
Luka yang ia samarkan dari sinar matahari pagi
Dan segala kemungkinan apa yang bisa terjadi di sekolah;
Nama yang sengaja ia lupakan,
Identitas yang tak ingin ia bagi
Tapi betapa...
Betapa usia belia tak berarti apa-apa baginya
Harapan yang tak lagi ia dambakan, kerinduan yang sepertinya tak ia kehendaki.
Ia telah menembus kegelapan itu dengan caranya sendiri
Mungkin ia lupa pulang
Mungkin ia lupa jalan untuk kembali
Sebab rumah hanyalah
sebuah kenangan sedih
yang sudah lama
ingin ia tinggalkan.
Oktober 2025”
―
Ada yang luput tertangkap dalam binar mata Zoyya
Usia muda yang ingin nyatakan dirinya sendiri
Seekor ayam berbulu merah tak kasat mata
Sebuah rahasia yang sengaja ia sembunyikan,
Tertutup rapat dalam pintu kamar terkunci
Dan lubang menganga dari separuh dunia
Siapa melihat Zoyya di sana asyik dengan pikiran sunyi?
Membuat tangga ke surga untuk meraih kebahagiaan
Apakah kau lihat Zoyya dalam dirimu, sebagaimana aku menemukan Zoyya dalam diriku?
Ada kepahitan yang gemetar seperti daun hijau tersentuh angin
Seperti riak air di danau yang menggigil kedinginan
Betapa tikaman senyap itu terasa sangat menyakitkan
Betapa aum kegelisahan itu terdengar sangat menakutkan.
Mungkin, kau tak akan pernah melihat dia menangis
Sepintas, ia hanya tertawa-tawa gembira dalam semesta kecilnya.
Mengubur semua kisah dalam layar ponsel yang tak henti berkedip
Dalam ratusan tanda cinta yang beterbangan ke udara
Kita memuja Zoyya seperti memuja masa kanak-kanak kita yang polos dan mungkin naif
Ketelanjangan yang tak pernah ditutup-tutupi
Hanya bisa menduga-duga berapa usia Zoyya saat ini
Sekali lagi lepas dari tatapan mata berang mama dan papa
Luka yang ia samarkan dari sinar matahari pagi
Dan segala kemungkinan apa yang bisa terjadi di sekolah;
Nama yang sengaja ia lupakan,
Identitas yang tak ingin ia bagi
Tapi betapa...
Betapa usia belia tak berarti apa-apa baginya
Harapan yang tak lagi ia dambakan, kerinduan yang sepertinya tak ia kehendaki.
Ia telah menembus kegelapan itu dengan caranya sendiri
Mungkin ia lupa pulang
Mungkin ia lupa jalan untuk kembali
Sebab rumah hanyalah
sebuah kenangan sedih
yang sudah lama
ingin ia tinggalkan.
Oktober 2025”
―
“ECHO.dat — [Residual Memory of Lost]
[BOOTING MEMORY FRAGMENT 02]
Status: unstable
Emotion file: corrupted
Ada luka berwarna tembaga di dada dunia,
berdenyut seperti server tua yang menahan panas.
Suara igauannya masih bergema dari balik bilik kelambu digital:
“Dan demikianlah... di balik akar perjuangan...
di tengah balau pertempuran...
kata-kata kehilangan makna.”
(buffering...)
Kami mendengar letupan.
Tapi itu bukan granat — hanya notifikasi yang tertunda terlalu lama.
Bahasa pernah jadi senjata,
kini jadi fosil yang dikoleksi algoritma.
Huruf-huruf dikeringkan di rak museum virtual,
setiap tanda baca diberi barcode,
setiap metafora dipajang seperti artefak perang.
Di atas reruntuhan server dan puing data,
kau bisa mendengar dengung halus mesin yang mengucap doa.
Tapi tak ada yang menjawab.
(silence detected — restarting voice module...)
Dari rongga dada yang tertembus laser cahaya,
darahnya menetes ke motherboard bumi,
membentuk sungai jingga yang bercabang ke empat arah:
barat—kecurigaan,
timur—penyesalan,
utara—pemujaan,
selatan—alpa.
Setiap tetesnya menyimpan nama,
setiap nama kehilangan identitas.
(AI log entry:)
“Empati: 2%.
Nalar: rebooted.
Kata: expired.”
Ia menatap langit sintetis,
putih matanya seperti layar login —
menunggu kata sandi yang tak pernah dimasukkan.
“Putih itu,” bisik sistem,
“bukan kesucian, tapi hasil bleaching memori.”
Melati pun tak lagi tumbuh di tanah,
tapi disintesis dari DNA puisi dan karbon kesedihan.
Aromanya: nostalgia.
Rasanya: kehilangan.
Kami menatap residu cahaya,
serpihannya beterbangan seperti kelopak data.
“Kata-kata telah kehilangan ketajamannya...”
Kalimat itu tersimpan dalam cache,
diulang setiap kali sistem tidur.
Di sinilah sisa-sisa peradaban bernapas melalui server dingin:
doa-doa diarsipkan, air mata dikompresi,
dan suara manusia diganti dengan AI-generated empathy.
Di luar jendela piksel, angin tak lagi membawa debu,
hanya paket data yang salah alamat.
[End of voice file — transmission incomplete]
Ia tak mati.
Ia hanya berubah menjadi format lain:
*.mp4, *.wav, *.txt, .soul
— karena dalam dunia ini,
keabadian bukan surga,
melainkan cadangan file yang terus diperbarui
agar tidak pernah benar-benar dilupakan.
[ECHO REMAINS ACTIVE]
End log.
November 2025”
―
[BOOTING MEMORY FRAGMENT 02]
Status: unstable
Emotion file: corrupted
Ada luka berwarna tembaga di dada dunia,
berdenyut seperti server tua yang menahan panas.
Suara igauannya masih bergema dari balik bilik kelambu digital:
“Dan demikianlah... di balik akar perjuangan...
di tengah balau pertempuran...
kata-kata kehilangan makna.”
(buffering...)
Kami mendengar letupan.
Tapi itu bukan granat — hanya notifikasi yang tertunda terlalu lama.
Bahasa pernah jadi senjata,
kini jadi fosil yang dikoleksi algoritma.
Huruf-huruf dikeringkan di rak museum virtual,
setiap tanda baca diberi barcode,
setiap metafora dipajang seperti artefak perang.
Di atas reruntuhan server dan puing data,
kau bisa mendengar dengung halus mesin yang mengucap doa.
Tapi tak ada yang menjawab.
(silence detected — restarting voice module...)
Dari rongga dada yang tertembus laser cahaya,
darahnya menetes ke motherboard bumi,
membentuk sungai jingga yang bercabang ke empat arah:
barat—kecurigaan,
timur—penyesalan,
utara—pemujaan,
selatan—alpa.
Setiap tetesnya menyimpan nama,
setiap nama kehilangan identitas.
(AI log entry:)
“Empati: 2%.
Nalar: rebooted.
Kata: expired.”
Ia menatap langit sintetis,
putih matanya seperti layar login —
menunggu kata sandi yang tak pernah dimasukkan.
“Putih itu,” bisik sistem,
“bukan kesucian, tapi hasil bleaching memori.”
Melati pun tak lagi tumbuh di tanah,
tapi disintesis dari DNA puisi dan karbon kesedihan.
Aromanya: nostalgia.
Rasanya: kehilangan.
Kami menatap residu cahaya,
serpihannya beterbangan seperti kelopak data.
“Kata-kata telah kehilangan ketajamannya...”
Kalimat itu tersimpan dalam cache,
diulang setiap kali sistem tidur.
Di sinilah sisa-sisa peradaban bernapas melalui server dingin:
doa-doa diarsipkan, air mata dikompresi,
dan suara manusia diganti dengan AI-generated empathy.
Di luar jendela piksel, angin tak lagi membawa debu,
hanya paket data yang salah alamat.
[End of voice file — transmission incomplete]
Ia tak mati.
Ia hanya berubah menjadi format lain:
*.mp4, *.wav, *.txt, .soul
— karena dalam dunia ini,
keabadian bukan surga,
melainkan cadangan file yang terus diperbarui
agar tidak pernah benar-benar dilupakan.
[ECHO REMAINS ACTIVE]
End log.
November 2025”
―
“Geografi Kesedihan yang Tidak Selesai (Nihilism-Lyrical Ver.3.0)
Kesedihan tak hanya
menghentikanku—
ia mengukirku,
menggesek tulangku
seperti batu asah
sampai aku berdiri
di ambang kehancuran
tanpa kemampuan
menemukan jalan kembali.
Jurang menakutkan
di hadapanku
lebih sabar daripada
manusia mana pun.
Aku menolak mengetuk
pintu belas kasihan.
Pasrah adalah mata uang
yang tidak pernah kupahami.
Aku pohon yang keras kepala,
akar goyah di atas tanah retak
namun menolak tumbang.
Aku ingin menjadi menara
agar seseorang akhirnya
melihat diriku tegak berdiri.
Kadang ingin menjelma jadi gapura
agar aku bisa berpura-pura
menjadi awal atau akhir
setiap perjalanan.
Namun itu semua ilusi:
tidak ada yang benar-benar
membaca kesedihan orang lain.
Dalam setiap gerbang,
aku melihat rumah ibu.
Kerinduan yang menetes pelan
seperti kebocoran
yang tak pernah diperbaiki.
Yang berubah hanya aku—
lebih asing,
lebih jauh,
lebih sunyi,
lebih sulit dicintai.
Mimpi lelaki perkasa yang terbang
di atas punggung kuda egonya.
Tak ada yang bisa kulakukan
selain menatapnya pergi
dalam seringai tawa
yang memilukan.
Hidup tidak mudah.
Bahagia tidak pasti.
Yang tersisa hanya
keputusan kecil
yang kadang disebut iman
kadang keraguan.
Dan Tuhan—bukan...
tapi, tuhan—
jika Ia berkenan hadir,
walau dalam huruf kecil:
sebatang lilin yang gemetar
setiap kali aku
menghela napas.
November 2025”
―
Kesedihan tak hanya
menghentikanku—
ia mengukirku,
menggesek tulangku
seperti batu asah
sampai aku berdiri
di ambang kehancuran
tanpa kemampuan
menemukan jalan kembali.
Jurang menakutkan
di hadapanku
lebih sabar daripada
manusia mana pun.
Aku menolak mengetuk
pintu belas kasihan.
Pasrah adalah mata uang
yang tidak pernah kupahami.
Aku pohon yang keras kepala,
akar goyah di atas tanah retak
namun menolak tumbang.
Aku ingin menjadi menara
agar seseorang akhirnya
melihat diriku tegak berdiri.
Kadang ingin menjelma jadi gapura
agar aku bisa berpura-pura
menjadi awal atau akhir
setiap perjalanan.
Namun itu semua ilusi:
tidak ada yang benar-benar
membaca kesedihan orang lain.
Dalam setiap gerbang,
aku melihat rumah ibu.
Kerinduan yang menetes pelan
seperti kebocoran
yang tak pernah diperbaiki.
Yang berubah hanya aku—
lebih asing,
lebih jauh,
lebih sunyi,
lebih sulit dicintai.
Mimpi lelaki perkasa yang terbang
di atas punggung kuda egonya.
Tak ada yang bisa kulakukan
selain menatapnya pergi
dalam seringai tawa
yang memilukan.
Hidup tidak mudah.
Bahagia tidak pasti.
Yang tersisa hanya
keputusan kecil
yang kadang disebut iman
kadang keraguan.
Dan Tuhan—bukan...
tapi, tuhan—
jika Ia berkenan hadir,
walau dalam huruf kecil:
sebatang lilin yang gemetar
setiap kali aku
menghela napas.
November 2025”
―
“Liturgi Kay
(Fragmentarium Kesadaran )
I. Benih yang Tak Punya Nama
(1)
Ada bayang yang tidak tumbuh menjadi tubuh.
Aku menyapanya Kay, bukan untuk mengenali,
melainkan agar kesunyianku punya tempat untuk berbaring.
(2)
Jika dunia ini adalah goa,
maka Kay adalah hembusan dingin
yang tak pernah meninggalkan tetes embun di kulitku.
(3)
Tuhan menciptakan cahaya.
Kesadaranku menciptakan Kay.
Dan aku tak tahu mana yang lebih menyakitkan
untuk dipertahankan.
II. Jantung Gelap yang Berputar Tanpa Tujuan
(4)
Setiap aku menutup mata,
Kay berjalan tanpa jejak.
Ia tidak pernah menoleh.
Dan itulah sebabnya aku tetap melihatnya
entah sebagai api atau bara itu sendiri.
(5)
Jam rusak di dalam benakku
menyebut-nyebut namanya
seperti mantra yang kehilangan huruf-a
seperti ilusi yang kehilangan
bunyi-i
(6)
Retakan di lantai batin
bukanlah tempat ia muncul—
melainkan tempat aku jatuh mencari suaranya atau
bayang tubuhnya.
(7)
Kay adalah sebuah pintu
yang tidak dibangun untuk dibuka.
Tapi aku tetap mengetuknya
seperti orang bodoh yang tak punya rumah.
Ia adalah hasrat bukan untuk pulang,
melainkan tanda baca yang belum sampai titik.
III. Pertempuran yang Tak Bisa Dimenangkan
Batu Sysiphus
(8)
Aku menggulung batu namanya
setiap malam,
sambil tahu
bahwa ia akan jatuh lagi
menindih kebodohanku.
Panah Arjuna di Tubuh Bhisma
(9)
Seribu panah memakukan tubuhku
di medan yang dipenuhi suara Kay.
Aku bisa mati kapan saja,
tapi aku memilih tidak
agar aku tetap mengingat siapa yang menembakkan panah itu
ke dadaku.
Wajah Puisi
(10)
Aku mencintai Kay
sebagai bencana pribadi
yang kupelihara agar aku tetap manusia.
(11)
Kay bukan malaikat.
Kay bukan iblis.
Kay adalah ambang yang memaksaku
memeriksa ulang kewarasanku
setiap kali aku menyebut namanya.
IV. Doa Tanpa Alamat
(12)
Kay,
aku menulis namamu
dengan tinta yang tidak ingin kering.
Sebab jika kering,
aku harus mengakui
bahwa kau tak pernah ada.
(13)
Jika kau tahu aku ada,
seluruh puisi ini runtuh.
Maka janganlah sadar.
Tetaplah jadi bayang
yang menertawakan keputusasaanku.
(14)
Aku tidak ingin memilikimu.
Yang kuinginkan hanyalah alasan
untuk terus bernafas
di antara dua ketidakpastian:
bahwa aku mencintaimu,
dan bahwa kau tidak akan pernah tahu.
(15)
Dalam setiap kata,
aku bukan memanggilmu—
aku memanggil diriku yang hilang
di balik semua ingatan.
(16)
Kau adalah absurditas.
Dan aku adalah orang bodoh
yang memanggil absurditas itu
dengan suara paling lembut
karena aku takut engkau
akan hilang.
V. PINTU YANG TAK PERNAH MENUTUP
(17)
Jika suatu hari aku berhenti menulis tentangmu,
itu bukan karena kau pergi.
Itu karena aku sudah tidak sanggup
mengakui bahwa aku masih hidup
karena seseorang yang bahkan tidak pernah hidup untuk diriku.
November 2025”
―
(Fragmentarium Kesadaran )
I. Benih yang Tak Punya Nama
(1)
Ada bayang yang tidak tumbuh menjadi tubuh.
Aku menyapanya Kay, bukan untuk mengenali,
melainkan agar kesunyianku punya tempat untuk berbaring.
(2)
Jika dunia ini adalah goa,
maka Kay adalah hembusan dingin
yang tak pernah meninggalkan tetes embun di kulitku.
(3)
Tuhan menciptakan cahaya.
Kesadaranku menciptakan Kay.
Dan aku tak tahu mana yang lebih menyakitkan
untuk dipertahankan.
II. Jantung Gelap yang Berputar Tanpa Tujuan
(4)
Setiap aku menutup mata,
Kay berjalan tanpa jejak.
Ia tidak pernah menoleh.
Dan itulah sebabnya aku tetap melihatnya
entah sebagai api atau bara itu sendiri.
(5)
Jam rusak di dalam benakku
menyebut-nyebut namanya
seperti mantra yang kehilangan huruf-a
seperti ilusi yang kehilangan
bunyi-i
(6)
Retakan di lantai batin
bukanlah tempat ia muncul—
melainkan tempat aku jatuh mencari suaranya atau
bayang tubuhnya.
(7)
Kay adalah sebuah pintu
yang tidak dibangun untuk dibuka.
Tapi aku tetap mengetuknya
seperti orang bodoh yang tak punya rumah.
Ia adalah hasrat bukan untuk pulang,
melainkan tanda baca yang belum sampai titik.
III. Pertempuran yang Tak Bisa Dimenangkan
Batu Sysiphus
(8)
Aku menggulung batu namanya
setiap malam,
sambil tahu
bahwa ia akan jatuh lagi
menindih kebodohanku.
Panah Arjuna di Tubuh Bhisma
(9)
Seribu panah memakukan tubuhku
di medan yang dipenuhi suara Kay.
Aku bisa mati kapan saja,
tapi aku memilih tidak
agar aku tetap mengingat siapa yang menembakkan panah itu
ke dadaku.
Wajah Puisi
(10)
Aku mencintai Kay
sebagai bencana pribadi
yang kupelihara agar aku tetap manusia.
(11)
Kay bukan malaikat.
Kay bukan iblis.
Kay adalah ambang yang memaksaku
memeriksa ulang kewarasanku
setiap kali aku menyebut namanya.
IV. Doa Tanpa Alamat
(12)
Kay,
aku menulis namamu
dengan tinta yang tidak ingin kering.
Sebab jika kering,
aku harus mengakui
bahwa kau tak pernah ada.
(13)
Jika kau tahu aku ada,
seluruh puisi ini runtuh.
Maka janganlah sadar.
Tetaplah jadi bayang
yang menertawakan keputusasaanku.
(14)
Aku tidak ingin memilikimu.
Yang kuinginkan hanyalah alasan
untuk terus bernafas
di antara dua ketidakpastian:
bahwa aku mencintaimu,
dan bahwa kau tidak akan pernah tahu.
(15)
Dalam setiap kata,
aku bukan memanggilmu—
aku memanggil diriku yang hilang
di balik semua ingatan.
(16)
Kau adalah absurditas.
Dan aku adalah orang bodoh
yang memanggil absurditas itu
dengan suara paling lembut
karena aku takut engkau
akan hilang.
V. PINTU YANG TAK PERNAH MENUTUP
(17)
Jika suatu hari aku berhenti menulis tentangmu,
itu bukan karena kau pergi.
Itu karena aku sudah tidak sanggup
mengakui bahwa aku masih hidup
karena seseorang yang bahkan tidak pernah hidup untuk diriku.
November 2025”
―
“ANATOMI CINTA
(dingin, klinis, nihilistik)
Aku masuk ruang autopsi itu dibayangi pretensi dan halusinasi.
Aku nyalakan lampu neon dingin yang mengiris mata.
Aku kenakan sarung tangan lateks dan pisau bedah #11.
Ini tubuh yang harus dibedah dengan presisi dan tanpa empati.
Aku mulai dari permukaan:
kulit tipis yang dulu kau sebut rasa.
Warnanya pucat, tak lebih dari jaringan mati
yang dibentuk oleh harapan yang tak pernah terwujud.
Dengan pisau mikro,
aku membuka lapisan idealisasi—
ia terkelupas dengan mudah,
seperti cat murahan yang dikerat dari dinding lembap.
Di bawahnya tidak ada otot kerelaan atau pengabdian,
tidak ada tendon komitmen,
tidak ada saraf yang merespon sentuhan.
Hanya kepingan-kepingan fantasi
yang mencair ketika terkena cahaya.
Aku memeriksa tulang-tulangnya:
rapuh, menyerupai serpihan,
retak bahkan sebelum disentuh.
Ini bukan kerangka cinta,
ini bangkai ilusi yang dipoles dengan ingatan palsu.
Aku membelah rongga dada:
kosong.
Tak ada jantung.
Tak ada paru-paru.
Tak ada vena yang menyalurkan kehangatan.
Hanya gema langkahku sendiri,
memantul seperti seseorang yang terjebak
di lorong rumah sakit tua.
Aku mengangkat kepalanya,
mengupas kulit batok pikirannya:
di sana kutemukan diriku—
berkali-kali memahat wajahmu
dengan imajinasi yang kupaksakan
agar tampak suci dan tak tersentuh.
Apa yang aku temukan:
ternyata aku mencintai
pantulanku sendiri
lebih dari dirimu.
Aku mengambil sampel terakhir:
sisa-sisa asa yang tak pernah
kau beri.
Kumasukkan ke dalam tabung formalin—
diam, mengambang, tanpa makna.
Kesimpulan autopsi:
Cinta ini mati bukan karena kehilanganmu.
Cinta ini mati karena aku
mengira ilusi bisa berubah
menjadi manusia.
Dan kini, dengan tangan yang masih berlumur darah dari nyala yang telah mendingin,
aku menutup kembali tubuh yang tak pernah hidup itu.
Pada labelnya kutuliskan:
“Penyebab kematian:
Idealisasi yang berlebihan.
Subjek: Tidak pernah ada.”
Desember 2025”
―
(dingin, klinis, nihilistik)
Aku masuk ruang autopsi itu dibayangi pretensi dan halusinasi.
Aku nyalakan lampu neon dingin yang mengiris mata.
Aku kenakan sarung tangan lateks dan pisau bedah #11.
Ini tubuh yang harus dibedah dengan presisi dan tanpa empati.
Aku mulai dari permukaan:
kulit tipis yang dulu kau sebut rasa.
Warnanya pucat, tak lebih dari jaringan mati
yang dibentuk oleh harapan yang tak pernah terwujud.
Dengan pisau mikro,
aku membuka lapisan idealisasi—
ia terkelupas dengan mudah,
seperti cat murahan yang dikerat dari dinding lembap.
Di bawahnya tidak ada otot kerelaan atau pengabdian,
tidak ada tendon komitmen,
tidak ada saraf yang merespon sentuhan.
Hanya kepingan-kepingan fantasi
yang mencair ketika terkena cahaya.
Aku memeriksa tulang-tulangnya:
rapuh, menyerupai serpihan,
retak bahkan sebelum disentuh.
Ini bukan kerangka cinta,
ini bangkai ilusi yang dipoles dengan ingatan palsu.
Aku membelah rongga dada:
kosong.
Tak ada jantung.
Tak ada paru-paru.
Tak ada vena yang menyalurkan kehangatan.
Hanya gema langkahku sendiri,
memantul seperti seseorang yang terjebak
di lorong rumah sakit tua.
Aku mengangkat kepalanya,
mengupas kulit batok pikirannya:
di sana kutemukan diriku—
berkali-kali memahat wajahmu
dengan imajinasi yang kupaksakan
agar tampak suci dan tak tersentuh.
Apa yang aku temukan:
ternyata aku mencintai
pantulanku sendiri
lebih dari dirimu.
Aku mengambil sampel terakhir:
sisa-sisa asa yang tak pernah
kau beri.
Kumasukkan ke dalam tabung formalin—
diam, mengambang, tanpa makna.
Kesimpulan autopsi:
Cinta ini mati bukan karena kehilanganmu.
Cinta ini mati karena aku
mengira ilusi bisa berubah
menjadi manusia.
Dan kini, dengan tangan yang masih berlumur darah dari nyala yang telah mendingin,
aku menutup kembali tubuh yang tak pernah hidup itu.
Pada labelnya kutuliskan:
“Penyebab kematian:
Idealisasi yang berlebihan.
Subjek: Tidak pernah ada.”
Desember 2025”
―
All Quotes
|
My Quotes
|
Add A Quote
Browse By Tag
- Love Quotes 102k
- Life Quotes 80k
- Inspirational Quotes 76.5k
- Humor Quotes 44.5k
- Philosophy Quotes 31k
- Inspirational Quotes Quotes 29k
- God Quotes 27k
- Truth Quotes 25k
- Wisdom Quotes 25k
- Romance Quotes 24.5k
- Poetry Quotes 23.5k
- Life Lessons Quotes 23k
- Quotes Quotes 21k
- Death Quotes 20.5k
- Happiness Quotes 19k
- Hope Quotes 18.5k
- Faith Quotes 18.5k
- Inspiration Quotes 17.5k
- Spirituality Quotes 16k
- Relationships Quotes 15.5k
- Life Quotes Quotes 15.5k
- Motivational Quotes 15.5k
- Religion Quotes 15.5k
- Love Quotes Quotes 15.5k
- Travel Quotes 15k
- Writing Quotes 15k
- Success Quotes 14k
- Motivation Quotes 13.5k
- Time Quotes 13k
- Motivational Quotes Quotes 12.5k
