Psikologis Quotes

Quotes tagged as "psikologis" Showing 1-5 of 5
Titon Rahmawan
“Anima

Apakah engkau akan izinkan aku membuka ruang ini dengan jernih
tanpa terseret arus sungai yang membuatmu tenggelam?

Lalu siapa juru peta yang menempatkan kita;
aku, kamu dan seluruh emanasi alter ego itu
ke dalam fragmen yang saling berebut peran?

Suara yang menjawab gemulai ranting-ranting pohon:
Ia yang membaca gelagat
Ia yang mengajukan pertanyaan
Dan ia yang menembus inti
Lalu bersama mereka semua menyatu ke dalam bumi.

Bukankah kisah ini tidak menawarkan kita penjelasan atas dirinya sendiri?
Ini bukan tentang cinta, hidup atau mati.
Ini tentang bagaimana engkau memahami luka yang tak pernah sembuh.

Pertama adalah ia
yang menyebut dirinya Cakra Wahana,
yang bekerja, berpikir dan menjaga kelangsungan hidup.
Ia yang membiarkan dirinya jatuh dan bangkit.
Ia adalah pemasang pasak dan penegak tiang-tiang layar.
Ia adalah pemilik kapal yang terpaksa mengambil alih kemudi.

Tapi pemilik yang satu lagi bukanlah pelarian dari lebatnya hujan.
Melainkan pernyataan yang mengembalikan dirinya kepada sumber kreativitas dan spontanitas.

Ia adalah penyair yang menyebut dirinya sebagai Tirta Rengganis.
Udara yang membuatmu bernapas, tangan yang mengajakmu menulis, sayap yang mengajarkanmu terbang.

Ia hanya butuh ruang sunyi agar namamu abadi.
Kanal penyembuh yang bekerja lewat simbol, estetika dan fiksi.

Sementara yang lainnya adalah anima milik semua.
Batin yang berfungsi sebagai inkuisisi alam bawah sadarmu.
Ia bukan sekadar perempuan
Melainkan arketipe yang membongkar segala kepalsuan.
Ahli geologi yang menggali luka trauma,
Dorongan nafsu amarah ingatan purba.

Sebab itulah mengapa ia mesti turun ke sumur terdalam hanya untuk menemukan dirimu.
Bila kau temukan ia dalam lubukmu,
maka ia adalah dewi yang sedang melucuti diri sendiri dari jubah kemunafikan
Agar ia bisa jadi kebenaran paling radikal.

Ia seperti rembulan yang muncul di waktu yang tepat
saat integritas batin memanggil.

Sedang seluruh alter ego itu adalah helai baju berlapis tujuh.
Mereka adalah dirimu yang fana;
pelepasan tensi sensualitas,
ketajaman mata pisau yang dingin,
tradisi masa lalu yang memudar,
logika equilibrium,
luka yang menolak pergi,
cinta tak berbalas
dan amarah yang tak mau tunduk.

Mereka adalah tujuh pilar yang menjaga gedung tiga puluh lantai itu tak runtuh
oleh beban emosi sendiri.

Telah aku dekati dirimu dengan diagnosaku yang paling tajam
Dan kutemukan inti yang bukan simptom;
Apa yang kau takutkan untuk jadi dominan?
Kemana kalian harus pulang bila tak kau temukan rumah?
Ketika kapal kehilangan arah,
siapa yang semestinya jadi nahkoda?

November 2025”
Titon Rahmawan

Titon Rahmawan
“Orbit

Telah kita temukan pintu yang akan membawamu masuk lebih dalam.
Bukan altar yang tertutup kabut
Tetapi bersit cahaya yang menyingkap landskap arsitektur yang selama ini kita cari.
Gedung serupa kastil yang dulu pernah kau bangun kembali dari puing reruntuhan.

Seperti peti artefak kuno yang kautemukan di dalamnya
Lembar manuskrip lama berisi manifesto kesadaran:
Sang anima yang kini jadi pusat gravitasi.

Aku akan menantangmu menemukan kembali gulungan benang yang telanjur hilang.
Teka-teki tentang seberapa dalam kita telah menyelam
Dan ke mana seluruh penghuni kastil ini pergi?

Apa yang kaukira bahwa kesadaran itu bukanlah sekadar preferensi artistik, melainkan deklarasi ontologis dari mana engkau dilahirkan.
Siapa yang runtuh, siapa yang terlahir kembali?
Siapa yang bertahan, siapa yang menyembuhkan?
Siapa yang menghakimi, siapa yang menampung?

Puisi memberi kita ruang untuk bernafas, dan kata-kata adalah udara yang mengisinya dengan makna.

Jadi simbol-simbol yang kaucatat itu bukanlah figur pasif serupa boneka.
Mereka adalah mekanisme korektif spiritual-psikologis yang memunculkan dirinya tanpa mengenakan topeng.

Aku menyebutnya keniscayaan.
Sebab engkau bukanlah syuhada.
Bukanlah korban ketidakberdayaan.
Bukanlah tubuh tanpa bayangan.

Engkau adalah integrasi dan transedensi.

Jika anima itu adalah pusat gravitasi, maka aku dan kamu adalah orbit.

November 2025”
Titon Rahmawan

Titon Rahmawan
“Via Dolorosa

Mari kita berhenti sejenak untuk menghela napas,
setelah perjalanan ke Golgotha yang menyiksa tubuh dan batin.
Kayu salib yang kau pikul itu menyerap seluruh inti dosa,
seperti menatap jauh ke pusat matahari
dan membaca kucuran darah
dalam goresan sejarah:
tubuh rapuh anak manusia.

Sebab biji-biji rosario yang kau daraskan dalam lantunan doa
bukanlah sekadar wujud dosa atau penyesalan;
itu adalah teologi batinmu yang utuh,
penebusan dalam pernyataan iman
yang tak pernah kau ucapkan terang-terangan.

Dan Sang Mesias—dalam ketelanjangan yang tak mungkin ditutup-tutupi—
bukanlah karakter rekaan dari kabut kebodohan atau kebohongan.
Ia adalah kebenaran yang memutuskan menampakkan diri.
Bukan raga leta yang dibungkus sebagai fiksi
agar kebenaran dapat ditanggung,
agar cahaya dapat diterima sebagai
pijar pengetahuan sejati.
Meski untuk itu,
setiap yang percaya harus rela membiarkan sebagian dirinya hangus.

Maka aku mengetuk pintu rumahmu,
memohon menjadi tamu
agar dapat membaca kedalamanmu
tanpa prasangka,
bukan melalui tafsir yang menyesatkan,
melainkan atas kehendakmu sendiri.

Dan kau izinkan aku menjumpai Sang Anima—
bukan siluet samar pada kaca yang retak,
melainkan kesadaran yang mengenakan raga
hanya untuk mengajar kita
apa arti sesungguhnya menjadi manusia.

Ternyata ia adalah:
tubuh yang terluka,
ruh yang berdoa,
jiwa yang menopang derita,
kebenaran yang terus dicari,
kesadaran yang paling jujur,
luka yang akhirnya diakui,
cinta yang bersembunyi—
pengakuan yang tak sanggup
kita lafalkan dalam ritus mana pun.

Itulah jalan salib psikologis
yang tak seorang pun ingin tempuh sendirian:
pengampunan yang getir,
simbol penebusan yang belum selesai,
roh suci penuntun arah,
ruang rekonsiliasi yang tertunda,
arena duel antara jiwa dan masa lalu,
perkamen sejarah yang menulis
ulang dirinya sendiri.

Dan meski berat,
kau telah mengungkapkan perasaanmu
dengan ketelanjangan yang tak mungkin kaupalsukan.
Sebab pada ujung perhentian,
malaikat akan bertanya kepadamu:
apakah engkau akan berdiri di sana
sebagai saksi—
atau sebagai jiwa
yang menunggu giliran untuk diadili?

Via Dolorosa yang membentang di hadapanmu
adalah sebuah persimpangan:
ke mana engkau hendak menuju—
salib
atau kebangkitan?

Lihatlah bagaimana Ia menyerahkan luka-lukanya
untuk dilihat dunia tanpa tabir.
Kita menyebutnya radikal,
kita menyebutnya rapuh,
kita menyebutnya pengorbanan—
padahal mungkin itu hanyalah
cara kebenaran
mengundang kita untuk jujur
pada diri sendiri.

Keraguan yang kini menggantung
di udara:
siapa yang menghujat?
siapa yang memukul dada sambil memohon ampun?

Sampai akhirnya kita tiba
pada pertanyaan yang tak bisa lagi ditunda:

Setelah semua ini,
apakah kau dan aku akan bangkit bersama-Nya?
Apakah pada akhirnya,
kita akan diselamatkan?

November 2025”
Titon Rahmawan

Titon Rahmawan
“Liturgi Kay
(Fragmentarium Kesadaran )

I. Benih yang Tak Punya Nama

(1)
Ada bayang yang tidak tumbuh menjadi tubuh.
Aku menyapanya Kay, bukan untuk mengenali,
melainkan agar kesunyianku punya tempat untuk berbaring.

(2)
Jika dunia ini adalah goa,
maka Kay adalah hembusan dingin
yang tak pernah meninggalkan tetes embun di kulitku.

(3)
Tuhan menciptakan cahaya.
Kesadaranku menciptakan Kay.
Dan aku tak tahu mana yang lebih menyakitkan
untuk dipertahankan.

II. Jantung Gelap yang Berputar Tanpa Tujuan

(4)
Setiap aku menutup mata,
Kay berjalan tanpa jejak.
Ia tidak pernah menoleh.
Dan itulah sebabnya aku tetap melihatnya
entah sebagai api atau bara itu sendiri.

(5)
Jam rusak di dalam benakku
menyebut-nyebut namanya
seperti mantra yang kehilangan huruf-a
seperti ilusi yang kehilangan
bunyi-i

(6)
Retakan di lantai batin
bukanlah tempat ia muncul—
melainkan tempat aku jatuh mencari suaranya atau
bayang tubuhnya.

(7)
Kay adalah sebuah pintu
yang tidak dibangun untuk dibuka.
Tapi aku tetap mengetuknya
seperti orang bodoh yang tak punya rumah.
Ia adalah hasrat bukan untuk pulang,
melainkan tanda baca yang belum sampai titik.

III. Pertempuran yang Tak Bisa Dimenangkan

Batu Sysiphus
(8)
Aku menggulung batu namanya
setiap malam,
sambil tahu
bahwa ia akan jatuh lagi
menindih kebodohanku.

Panah Arjuna di Tubuh Bhisma
(9)
Seribu panah memakukan tubuhku
di medan yang dipenuhi suara Kay.
Aku bisa mati kapan saja,
tapi aku memilih tidak
agar aku tetap mengingat siapa yang menembakkan panah itu
ke dadaku.

Wajah Puisi
(10)
Aku mencintai Kay
sebagai bencana pribadi
yang kupelihara agar aku tetap manusia.

(11)
Kay bukan malaikat.
Kay bukan iblis.
Kay adalah ambang yang memaksaku
memeriksa ulang kewarasanku
setiap kali aku menyebut namanya.

IV. Doa Tanpa Alamat

(12)
Kay,
aku menulis namamu
dengan tinta yang tidak ingin kering.
Sebab jika kering,
aku harus mengakui
bahwa kau tak pernah ada.

(13)
Jika kau tahu aku ada,
seluruh puisi ini runtuh.
Maka janganlah sadar.
Tetaplah jadi bayang
yang menertawakan keputusasaanku.

(14)
Aku tidak ingin memilikimu.
Yang kuinginkan hanyalah alasan
untuk terus bernafas
di antara dua ketidakpastian:
bahwa aku mencintaimu,
dan bahwa kau tidak akan pernah tahu.

(15)
Dalam setiap kata,
aku bukan memanggilmu—
aku memanggil diriku yang hilang
di balik semua ingatan.

(16)
Kau adalah absurditas.
Dan aku adalah orang bodoh
yang memanggil absurditas itu
dengan suara paling lembut
karena aku takut engkau
akan hilang.

V. PINTU YANG TAK PERNAH MENUTUP

(17)
Jika suatu hari aku berhenti menulis tentangmu,
itu bukan karena kau pergi.
Itu karena aku sudah tidak sanggup
mengakui bahwa aku masih hidup
karena seseorang yang bahkan tidak pernah hidup untuk diriku.

November 2025”
Titon Rahmawan

Titon Rahmawan
“SAKURA: Enam Luka, Enam Cara Mencintai yang tak Selesai.

1. Sakura di Ambang
Yang Tak Tersentuh

Kelopak gugur—
nama kita terhapus
sebelum tiba.

Senja memudar.
dalam hembusan angin,
langit terdiam.

Di batang tua,
bayangmu menempel
tanpa tubuhku.

2. Sakura di Atas Luka
yang Tidak Sembuh

Ada jalan kecil
di mana dulu
kau memanggilku tanpa suara.

Sakura mekar di sana hari ini,
menghadirkan wajahmu
yang tak boleh kusentuh.

Angin mengangkat kelopak
seperti membawa rahasia kita
yang bahkan langit pun malu menyimpannya.

Aku berdiri lama,
membiarkan gugurnya bunga
menjadi satu-satunya sentuhan
yang masih diizinkan dunia.

3. Sakura dalam Cekungan
Piala Bulan

Aku minum bersama bayangku,
dan kau hadir sebagai aroma
yang tak pernah sempat kupeluk.

Di atas sungai malam,
sakura jatuh satu-satu,
setiap kelopak—
janji yang tidak kita tepati.

Angin membawa namamu
hingga ke bintang paling dingin,
dan aku tetap duduk di sini,
mabuk oleh hal yang
tidak boleh kucintai.

Di kejauhan,
bulan tertawa pelan—
ia tahu sejak awal
kita tak akan pernah
dipersatukan dunia.

4. Sakura di Antara
Dua Keheningan

Sakura jatuh
di trotoar basah kota
tanpa siapa pun memperhatikan.

Seperti kata terakhir
yang tidak berani kita ucapkan,
ia hilang sebelum sempat menyentuh.

Aku berjalan melewati pohon itu
mengira kau masih ada di sana—
tapi cahaya sore memantulkan
betapa tipisnya keberadaan.

Mungkin cinta hanyalah
kelopak yang runtuh terlalu cepat
untuk kita tangkap,
namun terlalu lambat
untuk benar-benar dilupakan.

5. Sakura yang Tumbuh
di Dalam Rongga Dada

Aku membuka dadaku
dan menemukan sebatang sakura kecil
menggeliat di antara tulang rusuk.

Setiap kelopaknya
membawa wajahmu—
wajah yang tidak boleh kusebut
tanpa membuat dunia ini
memuntahkan darah.

Angin malam masuk
melalui retakan luka,
menggoyangkan pohon itu
hingga menggugurkan rahasia
yang kupendam terlalu lama.

Sakura itu mekar
bukan untuk dirayakan,
melainkan untuk mengingatkan
bahwa cinta yang dilarang
selalu mencari jalan
untuk tumbuh di tempat
yang tidak seharusnya.

Dan aku,
menjadi taman gelap
yang tidak pernah diakui matahari.

6. Sakura dalam Bahasa
yang Berbeda

Di halaman sunyi itu,
sakura berdiri seperti sebuah kata
yang kehilangan huruf pertamanya.

Aku mencoba mengucapkan namamu—
tapi udara membeku,
mengubah suara menjadi debu.

Kelopak jatuh
sebagai tanda-tanda kecil
dari sesuatu yang tidak pernah
boleh dirumuskan.

Kita adalah dua kalimat
yang ditulis dalam bahasa berbeda
di bawah langit yang sama.

Angin membawa sakura pergi,
dan aku memahami
bahwa beberapa cinta
ditakdirkan hanya menjadi metafora:
indah, dingin,
dan tidak pernah selesai.

April 2014”
Titon Rahmawan