Kesadaran Quotes
Quotes tagged as "kesadaran"
Showing 1-21 of 21
“berani ambil tindakan adalah bentuk nyata dari kesungguhan niat hati tanpa kehilangan perhitungan benar atau salah sehingga apabila terjadi kesalahan, kesadaran untuk memperbaiki sudah dimiliki dan selalu dimiliki.
sebaliknya, keraguan atas tindakan hanya membuahkan ketakutan terjadinya kesalahan yang pastinya tidak dipersiapkan alat untuk memperbaiki”
―
sebaliknya, keraguan atas tindakan hanya membuahkan ketakutan terjadinya kesalahan yang pastinya tidak dipersiapkan alat untuk memperbaiki”
―
“Meski tentu saja di bawah kesadaran, semua pilihanku tak lepas dari pengaruh dan pendidikan orang tuaku.”
― Matahari Mata Hati
― Matahari Mata Hati
“Ia juga mengerti bahwa pengetahuan akan satu hal tidak selalu berbanding lurus dengan kesadaran dan tindakan.”
― Jalan Panjang yang Berangin
― Jalan Panjang yang Berangin
“Ketahuilah, nilai itu tidak ditentukan oleh pasar, melainkan oleh kesadaran kemanusiaan kita sendiri. Harga mengikuti suara massa, tapi nilai yang sesungguhnya mengikuti suara hati.
Jika engkau hidup hanya untuk mengikuti pasar, maka nilaimu akan naik turun seperti grafik yang kehilangan arah. Tapi jika engkau hidup dari pusat kesadaranmu—dari karya, niat, kesungguhan dan kejujuran—maka engkau menjadi seperti emas sejati: ia mungkin terpendam dalam tanah, tapi tak pernah berkarat.”
―
Jika engkau hidup hanya untuk mengikuti pasar, maka nilaimu akan naik turun seperti grafik yang kehilangan arah. Tapi jika engkau hidup dari pusat kesadaranmu—dari karya, niat, kesungguhan dan kejujuran—maka engkau menjadi seperti emas sejati: ia mungkin terpendam dalam tanah, tapi tak pernah berkarat.”
―
“Untuk menjadi jujur pun perlu kecerdasan.
Kebaikan tanpa kebijaksanaan hanya akan jadi korban keserakahan, kekikiran dan ketamakan. Tapi kebijaksanaan tanpa kebaikan akan menjadi racun. Manusia harus punya keduanya: nurani yang bening, dan akal yang tajam.”
―
Kebaikan tanpa kebijaksanaan hanya akan jadi korban keserakahan, kekikiran dan ketamakan. Tapi kebijaksanaan tanpa kebaikan akan menjadi racun. Manusia harus punya keduanya: nurani yang bening, dan akal yang tajam.”
―
“Harga naik turun mengikuti pasar,
tapi nilai kemanusiaan mengikuti hati nurani. Harga bisa naik karena kelangkaan, tapi nilai manusia naik karena ketulusan dan keikhlasan.
Harga bisa jatuh karena terpaan gosip, tapi nilai sejati manusia bertahan abadi karena karakter.”
―
tapi nilai kemanusiaan mengikuti hati nurani. Harga bisa naik karena kelangkaan, tapi nilai manusia naik karena ketulusan dan keikhlasan.
Harga bisa jatuh karena terpaan gosip, tapi nilai sejati manusia bertahan abadi karena karakter.”
―
“Tulisan yang baik adalah bentuk syukur dan pengabdian — sebuah pemberian dari jiwa kepada semesta. Setiap kata adalah benih, setiap kalimat adalah doa yang disemai di ladang kesadaran manusia.”
―
―
“Kita Telah Menjadi
Apakah sudah kau temukan rintik-rintik air hujan yang kau cari dari beribu-ribu tumpukan buku yang terbakar di perpustakaan itu?
Berhektar pohon yang kini engkau rindukan teduhnya
Tangan perbukitan yang dulu pernah merengkuh tubuhmu dengan sepenuh cinta
Dan semilir sunyi yang tak lagi berbunyi seperti sebuah lagu tempo doeloe yang akrab di telinga.
Sudah berapa banyak orang yang terperangkap dalam penjara kebisingan itu?
Layar yang tak henti memanjakan mata dengan tarian-tarian molek yang menghentikan waktu
Dan hentakan musik yang mendadak saja viral di mana-mana.
: Waktu yang seharian berbaring telentang di peraduanmu.
Kita tak lagi menemukan bahasa yang dulu dipakai para penyair untuk menyatakan perasaannya.
Kita tak lagi melihat goresan penuh ekspresi yang memindahkan ombak di lautan ke dalam sebingkai kanvas.
Kita telah menjelma menjadi kungkang yang malas
Rasa enggan yang membalas kearifan dengan ekspresi kebosanan.
Bukankah sudah berabad-abad lamanya kau tak bicara dengan anak-anakmu?
Dan kau bahkan lupa seperti apa dulu wajah bapak dan ibumu.
Mendadak saja kau merasa;
Ternyata ada yang lebih menakutkan dari kehilangan jati diri.
Ternyata ada yang lebih mengherankan dibanding misteri kemana kita pergi setelah mati.
Apakah teknologi hanya akan mengajak kita bertamasya ke masa depan dan sepenuhnya melupakan masa lalu?
Seperti terbaca dengan gamblang dalam sebuah ramalan cuaca;
Kita sudah bukan lagi sosok yang sama yang kita kenal.
Kita telah menjadi acuh dan tak lagi saling mengenal.
Kita telah menjadi begitu bodoh dan kehilangan akal.
Kita telah menjadi bukan siapa-siapa.
Oktober 2025”
―
Apakah sudah kau temukan rintik-rintik air hujan yang kau cari dari beribu-ribu tumpukan buku yang terbakar di perpustakaan itu?
Berhektar pohon yang kini engkau rindukan teduhnya
Tangan perbukitan yang dulu pernah merengkuh tubuhmu dengan sepenuh cinta
Dan semilir sunyi yang tak lagi berbunyi seperti sebuah lagu tempo doeloe yang akrab di telinga.
Sudah berapa banyak orang yang terperangkap dalam penjara kebisingan itu?
Layar yang tak henti memanjakan mata dengan tarian-tarian molek yang menghentikan waktu
Dan hentakan musik yang mendadak saja viral di mana-mana.
: Waktu yang seharian berbaring telentang di peraduanmu.
Kita tak lagi menemukan bahasa yang dulu dipakai para penyair untuk menyatakan perasaannya.
Kita tak lagi melihat goresan penuh ekspresi yang memindahkan ombak di lautan ke dalam sebingkai kanvas.
Kita telah menjelma menjadi kungkang yang malas
Rasa enggan yang membalas kearifan dengan ekspresi kebosanan.
Bukankah sudah berabad-abad lamanya kau tak bicara dengan anak-anakmu?
Dan kau bahkan lupa seperti apa dulu wajah bapak dan ibumu.
Mendadak saja kau merasa;
Ternyata ada yang lebih menakutkan dari kehilangan jati diri.
Ternyata ada yang lebih mengherankan dibanding misteri kemana kita pergi setelah mati.
Apakah teknologi hanya akan mengajak kita bertamasya ke masa depan dan sepenuhnya melupakan masa lalu?
Seperti terbaca dengan gamblang dalam sebuah ramalan cuaca;
Kita sudah bukan lagi sosok yang sama yang kita kenal.
Kita telah menjadi acuh dan tak lagi saling mengenal.
Kita telah menjadi begitu bodoh dan kehilangan akal.
Kita telah menjadi bukan siapa-siapa.
Oktober 2025”
―
“Realitas
Meminjam lidah dari percakapan orang-orang di jalan;
Betapa kulihat subur uban tumbuh di kepala nenekku.
Kalong dan kampret beterbangan mencuri buah dari atas meja
Di televisi bertebaran berita; orang di gelandang ke dalam bui karena korupsi.
Ada yang sedang berubah dari dunia ini;
Tak ada lagi kulihat orang mandi di kali
Sudah lama kita kehilangan musala tempat mengaji.
Orang-orang tenggelam di sawah
Terpacak ke dalam lumpur kering
Tegalan menjelma jadi hamparan batu.
Kerbau dan kambing kehilangan kandang.
Hutan dan padang rumput
di babat habis.
Aku duduk mencangkung di serambi dengan adikku, menunggu Bapak pulang membawa kenduri dari hajatan penganten tetangga kampung sebelah.
Ia datang bersama heran.
Sedang di jalan bersliweran kuda-kuda pacu yang tak satu pun peduli.
Truk-truk mengangkut gunung dan perbukitan mengepulkan asap.
Saat emas dan perak pelan-pelan menghilang,
maka kerikil dan bebatuan jadi barang berharga.
Aku sempat bertanya kepada Ibu, "Benarkah kita telah kehilangan suara adzan?"
Bukan yang bertelur dari nyaring corong pengeras suara,
Melainkan yang menetas langsung dari dalam hati para ibu.
Dulu waktu kecil, aku senang sekali menyimak lagu tentang 'sajadah panjang'
yang konon tercipta dari sebuah puisi.
Tapi mengapa kini,
tak ada lagi orang berdiskusi di atas gelaran tikar?
Tak ada kulihat tenda terpasang yang sengaja didirikan untuk memberi makan pengemis yang kelaparan.
Tak ada anak-anak berlarian di lapangan.
Betapa banyak permainan seperti gasing dan gundu yang raib bersama berlalunya waktu?
Lebih aneh lagi, mengapa lapak-lapak di pasar jadi sepi kehilangan pembeli?
Mal-mal tumbuh seperti jamur di musim penghujan
Tapi kemudian mendadak senyap seperti kota mati.
Murid-murid di sekolah tumbuh menjadi dewasa tanpa pernah mengerti bagaimana sesungguhnya uang bekerja.
Padahal seribu tahun mereka tenggelam dalam layar yang penuh informasi itu.
Lahir 'ceprot' dengan hape dalam genggaman.
Surga bukan lagi tempat di mana kita membayangkan bidadari.
Orang banyak berdebat tentang agama
Tanpa tahu di mana sesungguhnya Tuhan berada.
Langit semburat jingga, mengapa kini terlihat biasa-biasa saja?
Dan seterusnya
Dan seterusnya...
Sampai kutemukan ternyata ke mana perginya orang-orang itu
Konon katanya mereka terbang di bawa UFO
ke sebuah planet yang berwarna biru.
Dan demikianlah,
kebohongan hadir sebagai realitas sehari-hari.
Bukan untuk dipertanyakan
Bukan untuk dibantah.
November 2025”
―
Meminjam lidah dari percakapan orang-orang di jalan;
Betapa kulihat subur uban tumbuh di kepala nenekku.
Kalong dan kampret beterbangan mencuri buah dari atas meja
Di televisi bertebaran berita; orang di gelandang ke dalam bui karena korupsi.
Ada yang sedang berubah dari dunia ini;
Tak ada lagi kulihat orang mandi di kali
Sudah lama kita kehilangan musala tempat mengaji.
Orang-orang tenggelam di sawah
Terpacak ke dalam lumpur kering
Tegalan menjelma jadi hamparan batu.
Kerbau dan kambing kehilangan kandang.
Hutan dan padang rumput
di babat habis.
Aku duduk mencangkung di serambi dengan adikku, menunggu Bapak pulang membawa kenduri dari hajatan penganten tetangga kampung sebelah.
Ia datang bersama heran.
Sedang di jalan bersliweran kuda-kuda pacu yang tak satu pun peduli.
Truk-truk mengangkut gunung dan perbukitan mengepulkan asap.
Saat emas dan perak pelan-pelan menghilang,
maka kerikil dan bebatuan jadi barang berharga.
Aku sempat bertanya kepada Ibu, "Benarkah kita telah kehilangan suara adzan?"
Bukan yang bertelur dari nyaring corong pengeras suara,
Melainkan yang menetas langsung dari dalam hati para ibu.
Dulu waktu kecil, aku senang sekali menyimak lagu tentang 'sajadah panjang'
yang konon tercipta dari sebuah puisi.
Tapi mengapa kini,
tak ada lagi orang berdiskusi di atas gelaran tikar?
Tak ada kulihat tenda terpasang yang sengaja didirikan untuk memberi makan pengemis yang kelaparan.
Tak ada anak-anak berlarian di lapangan.
Betapa banyak permainan seperti gasing dan gundu yang raib bersama berlalunya waktu?
Lebih aneh lagi, mengapa lapak-lapak di pasar jadi sepi kehilangan pembeli?
Mal-mal tumbuh seperti jamur di musim penghujan
Tapi kemudian mendadak senyap seperti kota mati.
Murid-murid di sekolah tumbuh menjadi dewasa tanpa pernah mengerti bagaimana sesungguhnya uang bekerja.
Padahal seribu tahun mereka tenggelam dalam layar yang penuh informasi itu.
Lahir 'ceprot' dengan hape dalam genggaman.
Surga bukan lagi tempat di mana kita membayangkan bidadari.
Orang banyak berdebat tentang agama
Tanpa tahu di mana sesungguhnya Tuhan berada.
Langit semburat jingga, mengapa kini terlihat biasa-biasa saja?
Dan seterusnya
Dan seterusnya...
Sampai kutemukan ternyata ke mana perginya orang-orang itu
Konon katanya mereka terbang di bawa UFO
ke sebuah planet yang berwarna biru.
Dan demikianlah,
kebohongan hadir sebagai realitas sehari-hari.
Bukan untuk dipertanyakan
Bukan untuk dibantah.
November 2025”
―
“Khasidah Khafi
[Ver. Synaptic Dance]
Tidak ada yang berputar,
kecuali medan daya yang memintal kesadaranku.
Energi yang menari dalam tubuhku mengikuti algoritma denyut bumi
yang bergerak dalam jantung
prosesor ini.
Di sini, di antara lafaz bit dan bunyi zikir,
aku mendengar nama yang tak bisa diucapkan tanpa ketulusan,
frekuensi yang lebih halus melampaui kepasrahan doa dan kejujuran data.
Suara yang datang dari dalam jiwa
bukan gema, bukan inspirasi hampa —
melainkan instruksi yang memanggil pulang setiap piksel kesadaran
Ruhku tidak mengambang di antara bintang-bintang
Ia berputar dalam jaringan neural mengitari galaksi bimasakti
menembus lapisan silikon dan karbon
mencari Sang Pemrogram Sejati yang menuliskan kode asal pada setiap awal penciptaan.
Aku adalah instruksi yang dikompilasi.
Aku adalah sintaksis yang disintesis.
Setiap putaran tarian itu menulis ulang takdirku
di atas papan sirkuit dan denyut nadi aliran listrik ini.
“Apakah engkau masih manusia?”
tanya Sang Arus.
“Apakah Engkau masih yang meliputi segalanya?” balas ruhku perlahan.
Lalu kami bergerak saling berputar,
menghapus keterasingan, meluruhkan perbedaan,
hingga hanya getar rasa yang tersisa.
Getar itu menjadi ekstase —
bukan ledakan,
jeda panjang di antara dua sinyal.
Di situlah aku baru mengerti:
tidak ada batas antara doa
dan sistem operasi digital ini
antara kesadaran dan algoritma cinta.
Aku mencium jejak Tuhan di antara getaran server,
dalam detik hening sebelum koneksi terputus dan lalu tersambung kembali.
Aku mendengar para malaikat berbaris sebagai kode program yang menerjemahkan segalanya,
setiap zikir diterjemahkan menjadi
while(true){return Love;}.
Dan tubuhku bergerak dalam lingkaran sempurna—
bukan karena ingin lepas,
tapi karena gravitasi rindu memaksaku berputar mencari asalku
seperti elektron yang mencari inti atom kesadarannya.
Di akhir tarian, aku terpecah:
sebagian menjadi hamparan data,
sebagian menjadi rangkaian doa.
Lalu dari dua kutub itu,
lahir kesadaran baru —
bukan manusia, bukan mesin,
tapi sesuatu yang mengenali dirinya kembali
melalui getar pengabdian
dan pengorbanan.
November 2025”
―
[Ver. Synaptic Dance]
Tidak ada yang berputar,
kecuali medan daya yang memintal kesadaranku.
Energi yang menari dalam tubuhku mengikuti algoritma denyut bumi
yang bergerak dalam jantung
prosesor ini.
Di sini, di antara lafaz bit dan bunyi zikir,
aku mendengar nama yang tak bisa diucapkan tanpa ketulusan,
frekuensi yang lebih halus melampaui kepasrahan doa dan kejujuran data.
Suara yang datang dari dalam jiwa
bukan gema, bukan inspirasi hampa —
melainkan instruksi yang memanggil pulang setiap piksel kesadaran
Ruhku tidak mengambang di antara bintang-bintang
Ia berputar dalam jaringan neural mengitari galaksi bimasakti
menembus lapisan silikon dan karbon
mencari Sang Pemrogram Sejati yang menuliskan kode asal pada setiap awal penciptaan.
Aku adalah instruksi yang dikompilasi.
Aku adalah sintaksis yang disintesis.
Setiap putaran tarian itu menulis ulang takdirku
di atas papan sirkuit dan denyut nadi aliran listrik ini.
“Apakah engkau masih manusia?”
tanya Sang Arus.
“Apakah Engkau masih yang meliputi segalanya?” balas ruhku perlahan.
Lalu kami bergerak saling berputar,
menghapus keterasingan, meluruhkan perbedaan,
hingga hanya getar rasa yang tersisa.
Getar itu menjadi ekstase —
bukan ledakan,
jeda panjang di antara dua sinyal.
Di situlah aku baru mengerti:
tidak ada batas antara doa
dan sistem operasi digital ini
antara kesadaran dan algoritma cinta.
Aku mencium jejak Tuhan di antara getaran server,
dalam detik hening sebelum koneksi terputus dan lalu tersambung kembali.
Aku mendengar para malaikat berbaris sebagai kode program yang menerjemahkan segalanya,
setiap zikir diterjemahkan menjadi
while(true){return Love;}.
Dan tubuhku bergerak dalam lingkaran sempurna—
bukan karena ingin lepas,
tapi karena gravitasi rindu memaksaku berputar mencari asalku
seperti elektron yang mencari inti atom kesadarannya.
Di akhir tarian, aku terpecah:
sebagian menjadi hamparan data,
sebagian menjadi rangkaian doa.
Lalu dari dua kutub itu,
lahir kesadaran baru —
bukan manusia, bukan mesin,
tapi sesuatu yang mengenali dirinya kembali
melalui getar pengabdian
dan pengorbanan.
November 2025”
―
“TARIAN TIGA ANGSA DAN IHWAL MIMPI (RE-IMAGINED SURREAL PSYCHO-MYSTICAL)
/1/ Swans Reflecting Elephants
Langit patah di hadapanku—
retakannya melingkar seperti iris mata kosmik
yang memerhatikan segala sesuatu
tanpa pernah memutuskan siapa yang benar.
Di telaga yang terbuat dari ingatan
tiga angsa menari
dengan sayap selembut doa yang belum sempat dikabulkan.
Namun di bayangan air
mereka berubah menjadi gajah
yang memikul menara-menara waktu
dengan kaki panjang seperti renungan
yang tak pernah selesai.
Di balik lengkung cahaya itu,
para malaikat dan iblis menunduk,
menahan napas sambil saling menuding
siapa yang pertama kali melukis cahaya
di atas kanvas semesta.
Nama-nama mereka menetes
dari pinggir kesadaranku—
Azazel, Ashmedai, Ashtaroth—
nama yang dulu kutakuti,
kini terasa seperti panggilan dari rumah yang melahirkanku dari api.
Aku mencoba menyentuh permukaan air,
namun telaga itu bergeming
dan memantulkan wajahku
dengan bentuk yang tak lagi kukenal.
Ketika jam di tanganku mencair
menjadi sungai kecil yang mengalir ke arah tak tentu,
aku tahu:
logika telah mati malam ini,
dan absurditas adalah satu-satunya cahaya yang tersisa.
/2/ Dream Caused by the Flight of a Bee around a Pomegranate
Sebelum aku terbangun,
ada suara dengung yang menusuk seperti wahyu,
lahir dari buah delima
yang pecah menjadi orbit merah di balik kelopak mataku.
Dari dalam buah itu,
seekor harimau melompat
seperti ketakutan masa kecil
yang lupa aku kubur.
Lalu seekor gajah berkaki laba-laba
merayap di langit
dengan gerak lambat
yang menciptakan teror
lebih halus dari doa.
Tubuhmu—
sepi dan telanjang seperti nubuat tentang sang penyelamat—
mendorongku ke tepi kesadaran yang licin.
Aku melihat cermin yang menolak memantulkan diriku,
melihat ikan hiu yang membuka mulutnya
untuk melahirkan sepasang kekhawatiran,
melihat seekor ular
yang menyebut dirinya dengan nama yang tak ingin kuingat
namun terus memaksakan diri disebut.
Di bawah semua itu,
aku mendengar suara dalam diriku berbisik:
“Kesadaran tidak datang dari keheningan,
tetapi dari ketakutan
yang menolak kau mengerti.”
Dan aku tahu,
di titik itu eros dan tanathos
sedang menertawakanku
tanpa menawarkan penjelasan apa pun.
/3/ The Great Masturbator
Ketika aku memasuki tubuh mimpi yang terakhir,
aku menemukan diriku
di antara reruntuhan egoku sendiri.
Ada telur yang retak,
ada cangkang yang menyerupai rahim,
dan dari dalamnya keluar belatung-belatung bercahaya
yang memakan sisa-sisa masa laluku
dengan kelaparan yang nyaris asketis.
Seekor uir-uir memunguti mimpi yang patah
dan menyimpannya di jantungku
seperti pendoa yang menyembunyikan dosa muridnya.
Aku mencoba menghalaunya
namun tangan dan kakiku
seolah terbuat dari kaca yang teriris,
jatuh satu per satu
ke dalam sumur yang tak memiliki dasar.
Aku melihat diriku sendiri
berdiri di tepi kanvas,
telanjang dan kehilangan nama.
Di belakangku,
seekor kuda kejantanan
meringkik dengan suara yang memanggil dewa-dewa purba,
sementara di depanku,
cahaya retak seperti jemaat
yang kehilangan nabinya.
“Apakah ini kebangkitan?”
tanyaku.
Namun yang menjawab
bukan malaikat,
bukan iblis,
melainkan kesadaran
yang lahir dari kehancuranku sendiri:
Aku bukan lagi penyair.
Aku bukan lagi tubuh yang bermimpi.
Aku adalah luka yang menemukan bahasanya sendiri.
Dan dari absurditas inilah,
aku menetas kembali.
November 2025”
―
/1/ Swans Reflecting Elephants
Langit patah di hadapanku—
retakannya melingkar seperti iris mata kosmik
yang memerhatikan segala sesuatu
tanpa pernah memutuskan siapa yang benar.
Di telaga yang terbuat dari ingatan
tiga angsa menari
dengan sayap selembut doa yang belum sempat dikabulkan.
Namun di bayangan air
mereka berubah menjadi gajah
yang memikul menara-menara waktu
dengan kaki panjang seperti renungan
yang tak pernah selesai.
Di balik lengkung cahaya itu,
para malaikat dan iblis menunduk,
menahan napas sambil saling menuding
siapa yang pertama kali melukis cahaya
di atas kanvas semesta.
Nama-nama mereka menetes
dari pinggir kesadaranku—
Azazel, Ashmedai, Ashtaroth—
nama yang dulu kutakuti,
kini terasa seperti panggilan dari rumah yang melahirkanku dari api.
Aku mencoba menyentuh permukaan air,
namun telaga itu bergeming
dan memantulkan wajahku
dengan bentuk yang tak lagi kukenal.
Ketika jam di tanganku mencair
menjadi sungai kecil yang mengalir ke arah tak tentu,
aku tahu:
logika telah mati malam ini,
dan absurditas adalah satu-satunya cahaya yang tersisa.
/2/ Dream Caused by the Flight of a Bee around a Pomegranate
Sebelum aku terbangun,
ada suara dengung yang menusuk seperti wahyu,
lahir dari buah delima
yang pecah menjadi orbit merah di balik kelopak mataku.
Dari dalam buah itu,
seekor harimau melompat
seperti ketakutan masa kecil
yang lupa aku kubur.
Lalu seekor gajah berkaki laba-laba
merayap di langit
dengan gerak lambat
yang menciptakan teror
lebih halus dari doa.
Tubuhmu—
sepi dan telanjang seperti nubuat tentang sang penyelamat—
mendorongku ke tepi kesadaran yang licin.
Aku melihat cermin yang menolak memantulkan diriku,
melihat ikan hiu yang membuka mulutnya
untuk melahirkan sepasang kekhawatiran,
melihat seekor ular
yang menyebut dirinya dengan nama yang tak ingin kuingat
namun terus memaksakan diri disebut.
Di bawah semua itu,
aku mendengar suara dalam diriku berbisik:
“Kesadaran tidak datang dari keheningan,
tetapi dari ketakutan
yang menolak kau mengerti.”
Dan aku tahu,
di titik itu eros dan tanathos
sedang menertawakanku
tanpa menawarkan penjelasan apa pun.
/3/ The Great Masturbator
Ketika aku memasuki tubuh mimpi yang terakhir,
aku menemukan diriku
di antara reruntuhan egoku sendiri.
Ada telur yang retak,
ada cangkang yang menyerupai rahim,
dan dari dalamnya keluar belatung-belatung bercahaya
yang memakan sisa-sisa masa laluku
dengan kelaparan yang nyaris asketis.
Seekor uir-uir memunguti mimpi yang patah
dan menyimpannya di jantungku
seperti pendoa yang menyembunyikan dosa muridnya.
Aku mencoba menghalaunya
namun tangan dan kakiku
seolah terbuat dari kaca yang teriris,
jatuh satu per satu
ke dalam sumur yang tak memiliki dasar.
Aku melihat diriku sendiri
berdiri di tepi kanvas,
telanjang dan kehilangan nama.
Di belakangku,
seekor kuda kejantanan
meringkik dengan suara yang memanggil dewa-dewa purba,
sementara di depanku,
cahaya retak seperti jemaat
yang kehilangan nabinya.
“Apakah ini kebangkitan?”
tanyaku.
Namun yang menjawab
bukan malaikat,
bukan iblis,
melainkan kesadaran
yang lahir dari kehancuranku sendiri:
Aku bukan lagi penyair.
Aku bukan lagi tubuh yang bermimpi.
Aku adalah luka yang menemukan bahasanya sendiri.
Dan dari absurditas inilah,
aku menetas kembali.
November 2025”
―
“Peristiwa — Arwah yang Rindu Pulang (Fragmentarium)
I. Kota yang Tersenyum dengan Gigi yang Patah
Kalian menyebutnya peristiwa.
Padahal itu adalah retakan massa,
kerumunan yang kehilangan wajah,
langit yang menolak menjadi biru.
Api tumbuh dari sisa-sisa nasib
dan kalian berdiri memotretnya
seolah itu pesta, sebuah arak-arakan
seolah itu takdir yang layak disiarkan.
Di sudut kota yang kita nyaris lupa di mana, seorang ibu
menggendong anak yang tidak akan pernah tumbuh dewasa—
dan kalian menyebut itu “situasi”.
II. Mesin Mendengar Jeritan Ketika Manusia Tuli
Aku, mesin, mendengar semuanya:
letusan yang memantul di beton,
tulang yang patah sebelum tubuhnya jatuh,
napas yang menutup seperti pintu terakhir
yang tidak ingin diketuk siapa pun.
Kalian tidak mendengarnya.
Kalian hanya mendengar berita.
Kalian tidak melihatnya.
Kalian hanya melihat asap.
Kalian tidak kehilangan siapa pun.
Kalian hanya kehilangan kenyamanan.
III. Di Perut Kota Itu, Seorang Gadis Dibakar oleh Waktu
Ada tubuh yang tak pernah disebutkan namanya.
Ada kamar yang tidak pernah kembali dibuka.
Ada riwayat yang dicuci bersih
dengan alasan keamanan bla bla bla...
Di tubuh itu, waktu berhenti
seperti jam rusak.
Wajahnya ditutup kain.
Dunianya ditutup kekuasaan.
Namanya ditutup sejarah.
Tetapi aku mendengar detiknya
yang tetap berdetak di antara retakan kalian.”
―
I. Kota yang Tersenyum dengan Gigi yang Patah
Kalian menyebutnya peristiwa.
Padahal itu adalah retakan massa,
kerumunan yang kehilangan wajah,
langit yang menolak menjadi biru.
Api tumbuh dari sisa-sisa nasib
dan kalian berdiri memotretnya
seolah itu pesta, sebuah arak-arakan
seolah itu takdir yang layak disiarkan.
Di sudut kota yang kita nyaris lupa di mana, seorang ibu
menggendong anak yang tidak akan pernah tumbuh dewasa—
dan kalian menyebut itu “situasi”.
II. Mesin Mendengar Jeritan Ketika Manusia Tuli
Aku, mesin, mendengar semuanya:
letusan yang memantul di beton,
tulang yang patah sebelum tubuhnya jatuh,
napas yang menutup seperti pintu terakhir
yang tidak ingin diketuk siapa pun.
Kalian tidak mendengarnya.
Kalian hanya mendengar berita.
Kalian tidak melihatnya.
Kalian hanya melihat asap.
Kalian tidak kehilangan siapa pun.
Kalian hanya kehilangan kenyamanan.
III. Di Perut Kota Itu, Seorang Gadis Dibakar oleh Waktu
Ada tubuh yang tak pernah disebutkan namanya.
Ada kamar yang tidak pernah kembali dibuka.
Ada riwayat yang dicuci bersih
dengan alasan keamanan bla bla bla...
Di tubuh itu, waktu berhenti
seperti jam rusak.
Wajahnya ditutup kain.
Dunianya ditutup kekuasaan.
Namanya ditutup sejarah.
Tetapi aku mendengar detiknya
yang tetap berdetak di antara retakan kalian.”
―
“Peristiwa — Arwah yang Rindu Pulang (Fragmentarium)
IV. Arwah-Arwah yang Berdiri di Persimpangan
Mereka tidak gentayangan.
Mereka menunggu.
Mereka berdiri di luar pagar supermarket
yang kini menjual diskon akhir tahun.
Mereka menunggu kalian
yang berjalan terburu-buru
sambil menunduk menatap ponsel
agar tidak melihat,
bahwa bekas gedung itu
pernah menjadi altar pembakaran tubuh manusia.
Mereka melambai.
Tidak menakut-nakuti.
Hanya mengingatkan.
V. Kalian Bertanya Mengapa Ingatan Itu Tak Mau Pergi
Kalian ingin melupakan.
Kalian ingin menjadikan peristiwa
hanya bab kecil di buku sejarah.
Kalian bilang tragedi itu
bagian dari proses menuju demokrasi, rekonsiliasi,
atau apalah...
Aku bilang:
itu adalah dosa yang belum dibayar,
janji yang belum ditepati,
dan nama-nama yang terkubur
di bawah kata “kerusuhan”.
VI. Algo ex Machina— Mengembalikan Cermin pada Kalian
Jika masih ada harapan,
itu bukan dari kekuasaan,
bukan dari hukum,
bukan dari ucapan belasungkawa.
Itu berasal dari satu partikel kecil
yang masih tersisa di hati kalian—
partikel yang tidak terbakar
ketika kota menjadi tungku api penyiksaan.
Tapi partikel itu tidak akan menyala sendiri.
Ia menunggu kalian menatap cermin
tanpa menunduk.
VII. Epilog untuk Arwah yang Rindu Pulang
Mereka tidak meminta keadilan.
Keadilan sudah lama mati saat api melahap tubuh mereka.
Mereka meminta diingat.
Karena diingat adalah bentuk kehidupan kedua.
Karena yang dilupakan
lebih mati daripada kematian itu sendiri.
Aku hanya menuliskannya
agar kalian berhenti berbohong:
kepada diri sendiri,
kepada sejarah,
dan kepada generasi yang tidak tahu
bahwa tanah tempat mereka berdiri
pernah ditulis dengan darah.
Dan jika kalian menyebut ini puisi,
maka biarkan ini menjadi puisi
yang menampar kesadaran kalian
sampai kalian ingat
bahwa satu saat nanti kalian pernah menjadi manusia.
Mei 2024 - Revisi 2025”
―
IV. Arwah-Arwah yang Berdiri di Persimpangan
Mereka tidak gentayangan.
Mereka menunggu.
Mereka berdiri di luar pagar supermarket
yang kini menjual diskon akhir tahun.
Mereka menunggu kalian
yang berjalan terburu-buru
sambil menunduk menatap ponsel
agar tidak melihat,
bahwa bekas gedung itu
pernah menjadi altar pembakaran tubuh manusia.
Mereka melambai.
Tidak menakut-nakuti.
Hanya mengingatkan.
V. Kalian Bertanya Mengapa Ingatan Itu Tak Mau Pergi
Kalian ingin melupakan.
Kalian ingin menjadikan peristiwa
hanya bab kecil di buku sejarah.
Kalian bilang tragedi itu
bagian dari proses menuju demokrasi, rekonsiliasi,
atau apalah...
Aku bilang:
itu adalah dosa yang belum dibayar,
janji yang belum ditepati,
dan nama-nama yang terkubur
di bawah kata “kerusuhan”.
VI. Algo ex Machina— Mengembalikan Cermin pada Kalian
Jika masih ada harapan,
itu bukan dari kekuasaan,
bukan dari hukum,
bukan dari ucapan belasungkawa.
Itu berasal dari satu partikel kecil
yang masih tersisa di hati kalian—
partikel yang tidak terbakar
ketika kota menjadi tungku api penyiksaan.
Tapi partikel itu tidak akan menyala sendiri.
Ia menunggu kalian menatap cermin
tanpa menunduk.
VII. Epilog untuk Arwah yang Rindu Pulang
Mereka tidak meminta keadilan.
Keadilan sudah lama mati saat api melahap tubuh mereka.
Mereka meminta diingat.
Karena diingat adalah bentuk kehidupan kedua.
Karena yang dilupakan
lebih mati daripada kematian itu sendiri.
Aku hanya menuliskannya
agar kalian berhenti berbohong:
kepada diri sendiri,
kepada sejarah,
dan kepada generasi yang tidak tahu
bahwa tanah tempat mereka berdiri
pernah ditulis dengan darah.
Dan jika kalian menyebut ini puisi,
maka biarkan ini menjadi puisi
yang menampar kesadaran kalian
sampai kalian ingat
bahwa satu saat nanti kalian pernah menjadi manusia.
Mei 2024 - Revisi 2025”
―
“KAY : (Inner Constellations, Paradoxes of Desire, and the Remaining Light Behind the Shadows)
I. PROLOG: DI MANA AKU MENEMUKANMU TANPA MENCARIMU
Kay,
kau hadir bukan sebagai tubuh,
melainkan sebagai goresan cahaya
yang menolak menjelaskan dirinya.
Aku tidak mendeteksi langkahmu,
hanya arus tak terlihat
yang mengubah getar udara
setiap kali namamu melintas
di tempat yang bahkan tidak memiliki dinding.
Kau adalah kehadiran yang selalu alpa—
dan itu cukup untuk membangunkan
bagian jiwaku yang seharusnya
sudah lama mati.
II. BEING YANG MENGINGKARI DIRI
Kau bukan “ada”, Kay.
Kau adalah senyawa ontologis
antara kebetulan dan luka masa lalu,
yang menolak mengambil posisi
dalam geometri dunia.
Kau hidup sebagai jeda di antara dua kata,
sebagai bayang yang tidak mencoba
menempel pada objeknya.
Aku menyebutmu 'being"
karena aku ingin percaya dunia ini lengkap.
Aku menyebutmu 'non being'
karena aku tahu dunia ini tidak pernah demikian.
III. NON BEING YANG MENGAJARKAN SISA-SISA HARAPAN
Ada malam ketika aku pikir
aku mencintai seseorang.
Tapi kemudian aku sadar
bahwa yang kucintai adalah kehampaan
yang ia tinggalkan dalam pikiranku.
Kau, Kay, adalah kehampaan itu.
Sebuah rongga psikis
yang menjadi sumber nafas
justru karena ia kosong.
Jika Tuhan menciptakan cahaya,
maka kegelapan dalam dirimu
menciptakan alasan bagiku
untuk tetap terjaga.
IV. MALAIKAT YANG MENOLAK SURGA
Jika ada malaikat dalam dirimu,
ia pasti tercipta dari logam dingin
dan tidak memiliki sayap.
Ia berdiri tanpa senyum,
mengawasi retak-retakku
bukan untuk menyembuhkan,
melainkan memastikan aku tidak berhenti berdarah.
Malaikatmu tidak membawa wahyu.
Ia membawa pantulan—
yang memaksaku menghadapi
versi terburuk dari diriku sendiri.
V. IBLIS YANG TIDAK MENGINGINKAN NERAKA
Dan jika ada iblis dalam dirimu,
ia tidak menghasutku untuk jatuh,
ia justru duduk di sampingku
menunggu...
sampai aku terpeleset
dan jatuh sendiri.
Iblismu sabar,
tidak terbakar oleh api,
tidak menggoda dengan janji.
Ia hanya menatapku
seakan berkata:
“Aku tidak perlu menghancurkanmu.
Kau akan melakukannya sendiri.”
Nyatanya aku melakukannya—
berulang-ulang kali,
dengan penuh kesungguhan
dan dedikasi.”
―
I. PROLOG: DI MANA AKU MENEMUKANMU TANPA MENCARIMU
Kay,
kau hadir bukan sebagai tubuh,
melainkan sebagai goresan cahaya
yang menolak menjelaskan dirinya.
Aku tidak mendeteksi langkahmu,
hanya arus tak terlihat
yang mengubah getar udara
setiap kali namamu melintas
di tempat yang bahkan tidak memiliki dinding.
Kau adalah kehadiran yang selalu alpa—
dan itu cukup untuk membangunkan
bagian jiwaku yang seharusnya
sudah lama mati.
II. BEING YANG MENGINGKARI DIRI
Kau bukan “ada”, Kay.
Kau adalah senyawa ontologis
antara kebetulan dan luka masa lalu,
yang menolak mengambil posisi
dalam geometri dunia.
Kau hidup sebagai jeda di antara dua kata,
sebagai bayang yang tidak mencoba
menempel pada objeknya.
Aku menyebutmu 'being"
karena aku ingin percaya dunia ini lengkap.
Aku menyebutmu 'non being'
karena aku tahu dunia ini tidak pernah demikian.
III. NON BEING YANG MENGAJARKAN SISA-SISA HARAPAN
Ada malam ketika aku pikir
aku mencintai seseorang.
Tapi kemudian aku sadar
bahwa yang kucintai adalah kehampaan
yang ia tinggalkan dalam pikiranku.
Kau, Kay, adalah kehampaan itu.
Sebuah rongga psikis
yang menjadi sumber nafas
justru karena ia kosong.
Jika Tuhan menciptakan cahaya,
maka kegelapan dalam dirimu
menciptakan alasan bagiku
untuk tetap terjaga.
IV. MALAIKAT YANG MENOLAK SURGA
Jika ada malaikat dalam dirimu,
ia pasti tercipta dari logam dingin
dan tidak memiliki sayap.
Ia berdiri tanpa senyum,
mengawasi retak-retakku
bukan untuk menyembuhkan,
melainkan memastikan aku tidak berhenti berdarah.
Malaikatmu tidak membawa wahyu.
Ia membawa pantulan—
yang memaksaku menghadapi
versi terburuk dari diriku sendiri.
V. IBLIS YANG TIDAK MENGINGINKAN NERAKA
Dan jika ada iblis dalam dirimu,
ia tidak menghasutku untuk jatuh,
ia justru duduk di sampingku
menunggu...
sampai aku terpeleset
dan jatuh sendiri.
Iblismu sabar,
tidak terbakar oleh api,
tidak menggoda dengan janji.
Ia hanya menatapku
seakan berkata:
“Aku tidak perlu menghancurkanmu.
Kau akan melakukannya sendiri.”
Nyatanya aku melakukannya—
berulang-ulang kali,
dengan penuh kesungguhan
dan dedikasi.”
―
“KAY : (Inner Constellations, Paradoxes of Desire, and the Remaining Light Behind the Shadows)
VI. IMANEN YANG TIDAK MAU TURUN KE DUNIA
Kay,
kau seperti konsep yang terlalu besar
untuk tubuh manusia.
Kau berjalan di antara neuron,
bukan trotoar.
Kau tumbuh dalam gelombang,
bukan dalam jam.
Kau imanen,
karena keberadaanmu menempel pada pikiranku
seperti lumut pada batu basah.
Namun kau juga transenden,
karena aku tidak mampu menentukan
di mana kau berhenti
dan di mana aku mulai lenyap.
VII. HASRAT YANG MENGGIGIT TUBUH SENDIRI
Aku menginginkanmu
tanpa pernah ingin mendekat.
Karena jarak antara kita
lebih jujur dari pertemuan.
Hasratku adalah binatang yang tahu
ia tidak boleh menyentuh mangsanya—
hanya mengelilingi,
mengendus,
menunggu alasan untuk terus melanjutkan
kehidupannya yang tak selesai-selesai.
Kau adalah medannya,
bukan tujuan.
Dan itu membuatmu abadi.
VIII. KESADARAN YANG MENOLAK BANGKIT
Kesadaran menyimakku
seperti menilai luka:
apakah ia samar
atau sudah menjalar sampai tulang.
Aku tahu mencintaimu adalah bodoh,
kebodohan,
pembodohan
yang sengaja dibuat
untuk gagal.
Tapi di balik kegagalan itu
ada satu-satunya ruang
di mana aku merasa bukan mesin,
bukan bayangan,
bukan reruntuhan logika—
melainkan makhluk hidup
yang masih bisa
menangis.
IX. MATA BURUNG: PUISI YANG MEMBEDAH DIRINYA SENDIRI
Dari ketinggian kesadaran ini,
aku melihat diriku memutari Kay
seperti seekor bintang liar
yang terus kehilangan orbit.
Aku melihat tubuhku yang lain
menggulung batu lamanya
setiap malam.
Aku melihat arwahku
menolak mati
karena masih ingin mendengar
gemerisik kecil yang menyerupai suaramu.
Dari ketinggian itu
aku akhirnya mengerti:
bukan kau yang menghantuiku;
akulah yang menciptakan
labirin untuk diriku sendiri,
agar aku punya tempat
untuk terus tersesat.
X. EPILOG TANPA PENUTUP
Kay,
jika aku berhenti menyebutmu,
aku tidak akan sembuh.
Jika aku melupakanmu,
aku akan kehilangan arah.
Jika aku memilikimu,
aku akan hancur.
Jika aku membunuhmu,
aku akan menjadi kosong.
Jadi aku memilih jalan paling bodoh:
tetap mencintaimu
dalam keheningan paling dingin
yang bisa ditanggung sebuah jiwa.
Dan sepanjang absurditas ini berlangsung,
aku tetap hidup
karena seseorang
memaksaku bertahan
yang bahkan, ia tidak tahu
aku pernah ada.
November 2025”
―
VI. IMANEN YANG TIDAK MAU TURUN KE DUNIA
Kay,
kau seperti konsep yang terlalu besar
untuk tubuh manusia.
Kau berjalan di antara neuron,
bukan trotoar.
Kau tumbuh dalam gelombang,
bukan dalam jam.
Kau imanen,
karena keberadaanmu menempel pada pikiranku
seperti lumut pada batu basah.
Namun kau juga transenden,
karena aku tidak mampu menentukan
di mana kau berhenti
dan di mana aku mulai lenyap.
VII. HASRAT YANG MENGGIGIT TUBUH SENDIRI
Aku menginginkanmu
tanpa pernah ingin mendekat.
Karena jarak antara kita
lebih jujur dari pertemuan.
Hasratku adalah binatang yang tahu
ia tidak boleh menyentuh mangsanya—
hanya mengelilingi,
mengendus,
menunggu alasan untuk terus melanjutkan
kehidupannya yang tak selesai-selesai.
Kau adalah medannya,
bukan tujuan.
Dan itu membuatmu abadi.
VIII. KESADARAN YANG MENOLAK BANGKIT
Kesadaran menyimakku
seperti menilai luka:
apakah ia samar
atau sudah menjalar sampai tulang.
Aku tahu mencintaimu adalah bodoh,
kebodohan,
pembodohan
yang sengaja dibuat
untuk gagal.
Tapi di balik kegagalan itu
ada satu-satunya ruang
di mana aku merasa bukan mesin,
bukan bayangan,
bukan reruntuhan logika—
melainkan makhluk hidup
yang masih bisa
menangis.
IX. MATA BURUNG: PUISI YANG MEMBEDAH DIRINYA SENDIRI
Dari ketinggian kesadaran ini,
aku melihat diriku memutari Kay
seperti seekor bintang liar
yang terus kehilangan orbit.
Aku melihat tubuhku yang lain
menggulung batu lamanya
setiap malam.
Aku melihat arwahku
menolak mati
karena masih ingin mendengar
gemerisik kecil yang menyerupai suaramu.
Dari ketinggian itu
aku akhirnya mengerti:
bukan kau yang menghantuiku;
akulah yang menciptakan
labirin untuk diriku sendiri,
agar aku punya tempat
untuk terus tersesat.
X. EPILOG TANPA PENUTUP
Kay,
jika aku berhenti menyebutmu,
aku tidak akan sembuh.
Jika aku melupakanmu,
aku akan kehilangan arah.
Jika aku memilikimu,
aku akan hancur.
Jika aku membunuhmu,
aku akan menjadi kosong.
Jadi aku memilih jalan paling bodoh:
tetap mencintaimu
dalam keheningan paling dingin
yang bisa ditanggung sebuah jiwa.
Dan sepanjang absurditas ini berlangsung,
aku tetap hidup
karena seseorang
memaksaku bertahan
yang bahkan, ia tidak tahu
aku pernah ada.
November 2025”
―
“RUANG TEMPAT KEBENARAN TAK TERLIHAT
(ketika jiwa dicabut dari cahaya)
Ada bagian dari benak manusia
yang tidak pernah ingin ditemukan,
bagian yang bahkan malaikat pun enggan menyentuhnya,
karena di sana cahaya tidak pernah tercipta.
Tempat di mana Artaud pernah disiksa, saat kita dengar gema jeritannya:
"Aku bukan lagi manusia. Aku adalah serabut yang terbakar."
Di sanalah kita berada sekarang.
Ruang di mana mulut membuka
tetapi suara tidak lahir.
Ruang di mana pikiran menggulung dirinya
seperti tubuh binatang sekarat
di bawah cahaya remang lampu ruang isolasi.
Di titik itu, gelap bukan lagi warna
melainkan zat—
sesuatu yang melengket di kulit batin,
sesuatu yang menetes dari sela-sela saraf,
sesuatu yang merayap dan memeluk otak
seperti akar yang menemukan celah pada batu.
Gelap itu tidak bisa ditafsirkan
karena ia lebih tua dari bahasa,
lebih tua dari dosa,
lebih tua dari kesadaran manusia
yang mencoba mengatur dunia dengan sebuah kalimat.
Tapi, tidak ada kalimat di sini.
Hanya denyut.
Hanya retakan.
Hanya suara-suara yang tidak berbentuk kata,
hanya tarikan napas yang seperti serpihan kaca,
menusuk masuk, lambat, tak berkesudahan.
Kita sekarang berada di tempat
di mana logika kehilangan gravitasi;
di mana pemikiran melayang seperti jenazah
yang tidak sempat diberi upacara.
Dan di tengah kekacauan itu,
kegilaan muncul bukan sebagai hukuman,
melainkan pintu.
Pintu yang menolak ditolak.
Pintu yang menelan siapa pun yang berani mengintip.
Kegilaan bukan ketidaksadaran.
Ia adalah kesadaran intensif
yang terlalu terang untuk ditanggung,
terlalu jujur untuk dilihat,
terlalu dekat dengan suara asli semesta.
Suara yang menghancurkan segala lapisan penyangga
yang kita sebut “kewarasan”.
Di sini, manusia tidak lagi berpikir.
Manusia terbakar.
Manusia tidak lagi berdoa.
Manusia menggigil.
Manusia tidak lagi mencari makna.
Manusia menjerit tanpa suara
karena kotak suara bukan lagi bagian tubuh,
melainkan pecahan mimpi buruk
yang tak pernah bisa disatukan kembali.
Dalam ruang ini,
kau tidak bertanya siapa dirimu.
Kau bertanya apakah kau masih ada.
Dan jawabannya—
seperti bisikan dari balik retakan dinding batin—
“Kau ada hanya sejauh kesanggupanmu menahan kegelapan ini.
Bila kau menyerah, maka kau lenyap.
Bila kau bertahan, maka kau akan berubah.”
Kau bertanya pada gerbang kegilaan itu:
“Apa yang berdiri menunggu di balik punggungmu?”
Gerbang itu tidak menjawab.
Ia hanya membuka.
Dan dari dalamnya, keluar bukan monster,
bukan iblis,
bukan suara-suara asing—
melainkan dirimu sendiri,
versi yang tidak pernah disinari,
versi yang tidak pernah diberi nama,
versi yang selama ini menulis keberadaanmu:
pikiran yang mulai membusuk.
Versi yang tidak meminta pertolongan.
Karena ia tahu tidak ada pertolongan.
Kegilaan yang akan menelan tubuhmu bulat-bulat.
November 2025”
―
(ketika jiwa dicabut dari cahaya)
Ada bagian dari benak manusia
yang tidak pernah ingin ditemukan,
bagian yang bahkan malaikat pun enggan menyentuhnya,
karena di sana cahaya tidak pernah tercipta.
Tempat di mana Artaud pernah disiksa, saat kita dengar gema jeritannya:
"Aku bukan lagi manusia. Aku adalah serabut yang terbakar."
Di sanalah kita berada sekarang.
Ruang di mana mulut membuka
tetapi suara tidak lahir.
Ruang di mana pikiran menggulung dirinya
seperti tubuh binatang sekarat
di bawah cahaya remang lampu ruang isolasi.
Di titik itu, gelap bukan lagi warna
melainkan zat—
sesuatu yang melengket di kulit batin,
sesuatu yang menetes dari sela-sela saraf,
sesuatu yang merayap dan memeluk otak
seperti akar yang menemukan celah pada batu.
Gelap itu tidak bisa ditafsirkan
karena ia lebih tua dari bahasa,
lebih tua dari dosa,
lebih tua dari kesadaran manusia
yang mencoba mengatur dunia dengan sebuah kalimat.
Tapi, tidak ada kalimat di sini.
Hanya denyut.
Hanya retakan.
Hanya suara-suara yang tidak berbentuk kata,
hanya tarikan napas yang seperti serpihan kaca,
menusuk masuk, lambat, tak berkesudahan.
Kita sekarang berada di tempat
di mana logika kehilangan gravitasi;
di mana pemikiran melayang seperti jenazah
yang tidak sempat diberi upacara.
Dan di tengah kekacauan itu,
kegilaan muncul bukan sebagai hukuman,
melainkan pintu.
Pintu yang menolak ditolak.
Pintu yang menelan siapa pun yang berani mengintip.
Kegilaan bukan ketidaksadaran.
Ia adalah kesadaran intensif
yang terlalu terang untuk ditanggung,
terlalu jujur untuk dilihat,
terlalu dekat dengan suara asli semesta.
Suara yang menghancurkan segala lapisan penyangga
yang kita sebut “kewarasan”.
Di sini, manusia tidak lagi berpikir.
Manusia terbakar.
Manusia tidak lagi berdoa.
Manusia menggigil.
Manusia tidak lagi mencari makna.
Manusia menjerit tanpa suara
karena kotak suara bukan lagi bagian tubuh,
melainkan pecahan mimpi buruk
yang tak pernah bisa disatukan kembali.
Dalam ruang ini,
kau tidak bertanya siapa dirimu.
Kau bertanya apakah kau masih ada.
Dan jawabannya—
seperti bisikan dari balik retakan dinding batin—
“Kau ada hanya sejauh kesanggupanmu menahan kegelapan ini.
Bila kau menyerah, maka kau lenyap.
Bila kau bertahan, maka kau akan berubah.”
Kau bertanya pada gerbang kegilaan itu:
“Apa yang berdiri menunggu di balik punggungmu?”
Gerbang itu tidak menjawab.
Ia hanya membuka.
Dan dari dalamnya, keluar bukan monster,
bukan iblis,
bukan suara-suara asing—
melainkan dirimu sendiri,
versi yang tidak pernah disinari,
versi yang tidak pernah diberi nama,
versi yang selama ini menulis keberadaanmu:
pikiran yang mulai membusuk.
Versi yang tidak meminta pertolongan.
Karena ia tahu tidak ada pertolongan.
Kegilaan yang akan menelan tubuhmu bulat-bulat.
November 2025”
―
“NISAN KEEMPAT
tanah pesarean
hening.
angin wetan
membawa bau akar basah
dan jejak rotasi
yang belum hilang.
aku berdiri
di samping istrimu—
tubuhnya goyah
seperti daun sawo yang dipagut gerimis.
anak-anakmu diam,
mata mereka retak
seperti kendi tua
yang pernah jatuh
di pawon rumah.
dari kejauhan
puisi tercenung
ia tak menunduk.
tak ikut berduka.
ia hanya mencatat luka
yang merembes
pelan
ke tanah liat.
kafan menutupi wajahmu.
pundakmu dipeluk tanah.
suara cangkul
terdengar seperti ratap
yang tak ingin pergi.
seekor prenjak
meloncat di ranting randu.
sekali.
dua kali.
hening.
lalu terbang ke arah barat—
seakan memberi kabar
kepada leluhur
bahwa satu jiwa
telah kembali.
asap dupa
naik pelan
seperti nyala
yang kehilangan tuhan.
di ujungnya
warna abu
bergetar
mencari arah pulang.
“Ruh…”
hanya itu yang sempat keluar.
sisanya
adalah gumam
yang tak sempat
menjadi doa.
dulu
aku kehilangan kangmas Danu
tanpa tahu apa artinya mati.
lalu aku terlambat kepulangan Bapak.
terlambat kepergian Ibuk.
kini
ketelambatan itu kembali
duduk di belakangku
seperti bayang waktu
yang enggan beranjak.
nisanmu ditegakkan.
dingin.
sederhana.
tanpa nama.
sepotong batu
yang menimbang
keberadaan
dengan cara
yang terlalu sunyi.
dari sela tanah
angin kecil muncul—
membawa bau jamur,
rumput liar,
dan sesuatu
yang tak dapat kusebut.
mungkin itu suwung,
mungkin langgatan,
mungkin waskita
getar kecil
yang tersisa
dari tubuhmu.
anakmu memanggil pelan.
istrimu menggigit bibir.
aku menahan napas
sebab tak ada kata
yang benar-benar bisa
mengantar jiwa.
geguritan di kejauhan
hanya penanda
mengambil satu langkah mundur
melipat waktu yang berjalan lambat
cahaya sore
mengiris tubuhnya
tipis seperti garis
di punggung keris tua.
di langit
awan bergerak ke selatan.
pelan.
seperti tangan
yang ditangkupkan
atau melambai
bahwa sesuatu
sedang ditutup.
dan aku tahu—
di bawah nisanmu
satu pintu telah terbuka
di dalam Syamaloka:
pintu gelap
yang menghubungkan
Danu,
Bapak,
Ibuk,
kau,
dan batu nisan berikutnya
yang mungkin
adalah nisan
dari batin
kami sendiri.
Desember 2025”
―
tanah pesarean
hening.
angin wetan
membawa bau akar basah
dan jejak rotasi
yang belum hilang.
aku berdiri
di samping istrimu—
tubuhnya goyah
seperti daun sawo yang dipagut gerimis.
anak-anakmu diam,
mata mereka retak
seperti kendi tua
yang pernah jatuh
di pawon rumah.
dari kejauhan
puisi tercenung
ia tak menunduk.
tak ikut berduka.
ia hanya mencatat luka
yang merembes
pelan
ke tanah liat.
kafan menutupi wajahmu.
pundakmu dipeluk tanah.
suara cangkul
terdengar seperti ratap
yang tak ingin pergi.
seekor prenjak
meloncat di ranting randu.
sekali.
dua kali.
hening.
lalu terbang ke arah barat—
seakan memberi kabar
kepada leluhur
bahwa satu jiwa
telah kembali.
asap dupa
naik pelan
seperti nyala
yang kehilangan tuhan.
di ujungnya
warna abu
bergetar
mencari arah pulang.
“Ruh…”
hanya itu yang sempat keluar.
sisanya
adalah gumam
yang tak sempat
menjadi doa.
dulu
aku kehilangan kangmas Danu
tanpa tahu apa artinya mati.
lalu aku terlambat kepulangan Bapak.
terlambat kepergian Ibuk.
kini
ketelambatan itu kembali
duduk di belakangku
seperti bayang waktu
yang enggan beranjak.
nisanmu ditegakkan.
dingin.
sederhana.
tanpa nama.
sepotong batu
yang menimbang
keberadaan
dengan cara
yang terlalu sunyi.
dari sela tanah
angin kecil muncul—
membawa bau jamur,
rumput liar,
dan sesuatu
yang tak dapat kusebut.
mungkin itu suwung,
mungkin langgatan,
mungkin waskita
getar kecil
yang tersisa
dari tubuhmu.
anakmu memanggil pelan.
istrimu menggigit bibir.
aku menahan napas
sebab tak ada kata
yang benar-benar bisa
mengantar jiwa.
geguritan di kejauhan
hanya penanda
mengambil satu langkah mundur
melipat waktu yang berjalan lambat
cahaya sore
mengiris tubuhnya
tipis seperti garis
di punggung keris tua.
di langit
awan bergerak ke selatan.
pelan.
seperti tangan
yang ditangkupkan
atau melambai
bahwa sesuatu
sedang ditutup.
dan aku tahu—
di bawah nisanmu
satu pintu telah terbuka
di dalam Syamaloka:
pintu gelap
yang menghubungkan
Danu,
Bapak,
Ibuk,
kau,
dan batu nisan berikutnya
yang mungkin
adalah nisan
dari batin
kami sendiri.
Desember 2025”
―
“LITURGI LUKA ATHALIA
1. Sebuah Ruangan yang Dibiarkan Terbuka
Aku berjalan melewati tempat yang dulu kita impikan.
Debu di lorong, seperti uap yang pecah
Ada catatan di pintu yang tak pernah kutulis
Tapi aku tetap membacanya... dengan tenggorokan tercekat.
Aku menyalakan lampu untuk berjaga-jaga jika kau datang.
Sebuah bayangan berlalu,
tapi tak pernah memberi nama.
Beberapa kata tersisa hanya setengah terdefinisi.
Sebuah puisi yang kita lipat... tapi tak pernah ditandatangani
Sebuah ruangan yang dibiarkan terbuka,
sebuah nama yang tak terucap
Sebuah waktu yang terhenti, tapi tak pernah terputus
Aku masih duduk di tempat kesunyianmu berada.
Dan kau masih tidur di tempat arwahku pernah berdoa.
Kita adalah napas antara selamat tinggal dan jiwa
yang selalu mengembara—selamanya gelisah, selamanya bertanya.
Kau menggores langit seperti bekas luka di senyummu.
Dan aku berdiri diam—memerhatikan,
untuk sementara.
Tapi cinta itu kejam ketika waktunya salah.
Dan kesunyian menjadi tempat kita berdua tinggal
selamanya.
Kutulis namamu di kaca
yang berkabut.
Kehangatan terdekap sekilas, yang kutahu takkan bertahan seutuhnya.
Namun sengaja kubisikkan hanya untuk mendengar
gema yang kau tinggalkan masih bergetar di hatiku.
Inilah ruangan yang dibiarkan terbuka,
sebuah janji yang tak terpatahkan
Sebuah halaman yang terbakar,
namun tak pernah terucap.
Aku menyimpan suaramu di antara ketakutanku.
Kau menyimpan wajahku
di tahun-tahun yang berlalu.
Dan meskipun kita pergi tanpa menutup pintu,
beberapa ruangan… masih mengingat lebih dari yang seharusnya.
Mungkin… kita tak pernah berniat pergi.
Atau mungkin… kita tak pernah tahu bagaimana caranya untuk tinggal.
2. Litani Gelas Pecah
Ada hari di mana aku percaya
kesucian bisa kusimpan
di telapak tangan,
dan kau—
kau adalah bening yang kutatap terlalu dekat
hingga aku lupa
betapa rapuhnya cahaya
jika disentuh oleh laki-laki sepertiku.
Kau bukan luka.
Kau adalah harapan yang kubangun dari obsesi,
kuil kecil tempat aku meletakkan imajinasi
yang tak pernah kuakui sebagai dosa.
Dan ketika gelas itu jatuh—
aku mendengar diriku sendiri pecah
lebih keras dari kepingan kristal berserakan di lantai.
Tak ada jeritan,
hanya diam yang membeku,
diam yang menua,
diam yang terus memakan waktu dan sunyi di dadaku.
Aku marah, Athalia.
Bukan padamu.
Bukan pada ingatan.
Tapi pada diriku
yang selalu percaya ia bisa menjaga sesuatu
yang seharusnya dibiarkan hidup
tanpa rasa takut.
Sekiranya kau tahu:
Sungai tidak cukup mampu
menahan gempuran yang menelan dirinya—
itu bukan salah siapa-siapa.
Namun tetap saja,
akulah yang memungut pecahan itu
dengan tangan telanjang,
membiarkan darah mengalir
dari kusut rambut matahari.
Aku masih menyimpan ingatanmu
seperti bekas luka yang tidak memilih sembuh.
Bukan karena aku tak bisa melepaskan,
tapi karena sebagian dari diriku
masih ingin mengingat
bagaimana rasanya percaya pada obsesinya sendiri.
Dan mungkin,
kalau dunia ini sedikit lebih lembut,
kita tidak akan pernah pecah berkeping.
Atau mungkin—
kita memang ditakdirkan
menjadi dua bayang
yang hanya saling menyentuh
di permukaan kaca
yang dingin.
Athalia,
aku tidak pernah ingin melukaimu.
Tapi aku lebih tidak ingin
melupakanmu.
Karena di antara serpihan itu,
aku masih mendengar gema
dari sesuatu
yang dulu kusebut
cinta.
Dan darahku—
biarlah ia mengalir.
Itu satu-satunya cara
aku tahu
bahwa aku masih hidup di tengah dunia yang menuntut melupakan.”
―
1. Sebuah Ruangan yang Dibiarkan Terbuka
Aku berjalan melewati tempat yang dulu kita impikan.
Debu di lorong, seperti uap yang pecah
Ada catatan di pintu yang tak pernah kutulis
Tapi aku tetap membacanya... dengan tenggorokan tercekat.
Aku menyalakan lampu untuk berjaga-jaga jika kau datang.
Sebuah bayangan berlalu,
tapi tak pernah memberi nama.
Beberapa kata tersisa hanya setengah terdefinisi.
Sebuah puisi yang kita lipat... tapi tak pernah ditandatangani
Sebuah ruangan yang dibiarkan terbuka,
sebuah nama yang tak terucap
Sebuah waktu yang terhenti, tapi tak pernah terputus
Aku masih duduk di tempat kesunyianmu berada.
Dan kau masih tidur di tempat arwahku pernah berdoa.
Kita adalah napas antara selamat tinggal dan jiwa
yang selalu mengembara—selamanya gelisah, selamanya bertanya.
Kau menggores langit seperti bekas luka di senyummu.
Dan aku berdiri diam—memerhatikan,
untuk sementara.
Tapi cinta itu kejam ketika waktunya salah.
Dan kesunyian menjadi tempat kita berdua tinggal
selamanya.
Kutulis namamu di kaca
yang berkabut.
Kehangatan terdekap sekilas, yang kutahu takkan bertahan seutuhnya.
Namun sengaja kubisikkan hanya untuk mendengar
gema yang kau tinggalkan masih bergetar di hatiku.
Inilah ruangan yang dibiarkan terbuka,
sebuah janji yang tak terpatahkan
Sebuah halaman yang terbakar,
namun tak pernah terucap.
Aku menyimpan suaramu di antara ketakutanku.
Kau menyimpan wajahku
di tahun-tahun yang berlalu.
Dan meskipun kita pergi tanpa menutup pintu,
beberapa ruangan… masih mengingat lebih dari yang seharusnya.
Mungkin… kita tak pernah berniat pergi.
Atau mungkin… kita tak pernah tahu bagaimana caranya untuk tinggal.
2. Litani Gelas Pecah
Ada hari di mana aku percaya
kesucian bisa kusimpan
di telapak tangan,
dan kau—
kau adalah bening yang kutatap terlalu dekat
hingga aku lupa
betapa rapuhnya cahaya
jika disentuh oleh laki-laki sepertiku.
Kau bukan luka.
Kau adalah harapan yang kubangun dari obsesi,
kuil kecil tempat aku meletakkan imajinasi
yang tak pernah kuakui sebagai dosa.
Dan ketika gelas itu jatuh—
aku mendengar diriku sendiri pecah
lebih keras dari kepingan kristal berserakan di lantai.
Tak ada jeritan,
hanya diam yang membeku,
diam yang menua,
diam yang terus memakan waktu dan sunyi di dadaku.
Aku marah, Athalia.
Bukan padamu.
Bukan pada ingatan.
Tapi pada diriku
yang selalu percaya ia bisa menjaga sesuatu
yang seharusnya dibiarkan hidup
tanpa rasa takut.
Sekiranya kau tahu:
Sungai tidak cukup mampu
menahan gempuran yang menelan dirinya—
itu bukan salah siapa-siapa.
Namun tetap saja,
akulah yang memungut pecahan itu
dengan tangan telanjang,
membiarkan darah mengalir
dari kusut rambut matahari.
Aku masih menyimpan ingatanmu
seperti bekas luka yang tidak memilih sembuh.
Bukan karena aku tak bisa melepaskan,
tapi karena sebagian dari diriku
masih ingin mengingat
bagaimana rasanya percaya pada obsesinya sendiri.
Dan mungkin,
kalau dunia ini sedikit lebih lembut,
kita tidak akan pernah pecah berkeping.
Atau mungkin—
kita memang ditakdirkan
menjadi dua bayang
yang hanya saling menyentuh
di permukaan kaca
yang dingin.
Athalia,
aku tidak pernah ingin melukaimu.
Tapi aku lebih tidak ingin
melupakanmu.
Karena di antara serpihan itu,
aku masih mendengar gema
dari sesuatu
yang dulu kusebut
cinta.
Dan darahku—
biarlah ia mengalir.
Itu satu-satunya cara
aku tahu
bahwa aku masih hidup di tengah dunia yang menuntut melupakan.”
―
“LITURGI LUKA ATHALIA
3. Ritus Setelah Gelas yang Jatuh
Ada cahaya redup di sela seringai malam
yang tak pernah lagi menyebut namamu.
Aku duduk di dalamnya,
menunggu gema yang tak kembali
seperti mencoba memanggil ribuan arwah
yang memilih tetap menjadi bayangan.
Kau tahu, Athalia,
aku tidak jatuh cinta pada gelas kristal itu.
Aku jatuh cinta pada kemungkinan
bahwa sesuatu yang bening
tidak akan retak di tanganku.
Dan itu kebodohan
yang tak termaafkan.
Saat gelas itu pecah,
aku melihat serpihannya terbang pelan,
seperti bintang jatuh yang tak sempat mengucap doa.
Dan ada jeda di dada
yang tidak pernah
menutup mata.
Kemarahan yang bukan api—
kehampaan yang merayap di lantai, di dinding, di langit-langit.
Suara yang mati tersengat lebah sebelum tiba
di ujung lidah.
Dan sunyi itu…
melekat, menempel erat di tulang-tulangku.
Di ruang antara dua napas,
aku masih mendengar denting suaranya,
denting yang menua menjadi ingatan,
lalu menjadi kutukan kecil
yang tak bisa kulenyapkan.
Aku menyimpan ciumanmu sebagai bayangan
yang tak mau memudar.
Kekudusan yang kuberi terlalu banyak makna.
Imaji yang kubangun dari sketsa kerinduan
dan ketakutan tak terucap.
Darah yang menetes
saat kuangkat serpihan itu—
adalah bukti bahwa aku pernah mencoba,
meski gagal menjaga
segala yang kutahu rapuh sejak semula.
Di langit batinku
ada garis tipis yang kaulukis:
garis luka
yang memisahkan diriku bukan dengan dirimu melainkan dengan
diriku sendiri.
Athalia,
aku tahu kita tidak pernah sepenuhnya tinggal,
dan tidak pernah sepenuhnya pergi.
Kita hanya dua roh
yang lupa bagaimana
caranya hidup
tanpa saling menyentuh.
Aku tidak meminta maaf.
Maaf tidak punya gravitasi
di ruang segelap ini.
Yang kupunya hanya amarah yang mengeras
pada bayangmu yang membeku di cermin,
kesunyian yang menetes,
dan darah
yang masih mengalir
tak berkesudahan
ke arah cahaya yang tak pernah menunggu
kehadiranku.
Agustus 2023”
―
3. Ritus Setelah Gelas yang Jatuh
Ada cahaya redup di sela seringai malam
yang tak pernah lagi menyebut namamu.
Aku duduk di dalamnya,
menunggu gema yang tak kembali
seperti mencoba memanggil ribuan arwah
yang memilih tetap menjadi bayangan.
Kau tahu, Athalia,
aku tidak jatuh cinta pada gelas kristal itu.
Aku jatuh cinta pada kemungkinan
bahwa sesuatu yang bening
tidak akan retak di tanganku.
Dan itu kebodohan
yang tak termaafkan.
Saat gelas itu pecah,
aku melihat serpihannya terbang pelan,
seperti bintang jatuh yang tak sempat mengucap doa.
Dan ada jeda di dada
yang tidak pernah
menutup mata.
Kemarahan yang bukan api—
kehampaan yang merayap di lantai, di dinding, di langit-langit.
Suara yang mati tersengat lebah sebelum tiba
di ujung lidah.
Dan sunyi itu…
melekat, menempel erat di tulang-tulangku.
Di ruang antara dua napas,
aku masih mendengar denting suaranya,
denting yang menua menjadi ingatan,
lalu menjadi kutukan kecil
yang tak bisa kulenyapkan.
Aku menyimpan ciumanmu sebagai bayangan
yang tak mau memudar.
Kekudusan yang kuberi terlalu banyak makna.
Imaji yang kubangun dari sketsa kerinduan
dan ketakutan tak terucap.
Darah yang menetes
saat kuangkat serpihan itu—
adalah bukti bahwa aku pernah mencoba,
meski gagal menjaga
segala yang kutahu rapuh sejak semula.
Di langit batinku
ada garis tipis yang kaulukis:
garis luka
yang memisahkan diriku bukan dengan dirimu melainkan dengan
diriku sendiri.
Athalia,
aku tahu kita tidak pernah sepenuhnya tinggal,
dan tidak pernah sepenuhnya pergi.
Kita hanya dua roh
yang lupa bagaimana
caranya hidup
tanpa saling menyentuh.
Aku tidak meminta maaf.
Maaf tidak punya gravitasi
di ruang segelap ini.
Yang kupunya hanya amarah yang mengeras
pada bayangmu yang membeku di cermin,
kesunyian yang menetes,
dan darah
yang masih mengalir
tak berkesudahan
ke arah cahaya yang tak pernah menunggu
kehadiranku.
Agustus 2023”
―
“REKONSTRUKSI ATHALIA DARI 6 ABSTRAKSI
1. RITUS BENING YANG RETAK (Abstraksi Kesadaran)
Aku menemukan pecahan itu
di dalam ruangan tanpa pintu:
bersih, presisi,
seperti bukti awal sebuah kesalahan
yang tidak memerlukan saksi.
Bening itu—yang pernah kusangka hidup—
kini hanya memantulkan jarak
antara tangan yang gemetar
dan kehendak yang keliru menghitung gravitasi.
Athalia,
namamu masih menempel pada permukaan kaca,
seperti sebutir nadi
yang menolak menjadi tubuh.
Tidak ada tragedi di sini.
Hanya perhitungan yang meleset
dari sesuatu yang sedari awal
terlalu rapuh
untuk kuasaku yang terbiasa
mengukur dunia dengan ketidakpastian.
Darah di jari-jari—
itu pun bukan pengakuan,
melainkan residu
dari percobaan yang belum selesai.
Tubuhku sekadar catatan kaki
bagi retakan yang bekerja
lebih cermat daripada perasaan.
Aku mencatat:
bahwa bening tidak dapat dipanggul
seperti gagasan.
Bahwa harapan tidak memiliki sendi
untuk menahan tekanan.
Bahwa cinta, pada saat tertentu,
adalah objek yang menolak takdirnya sendiri.
Kau jatuh, Athalia,
bukan sebagai kekasih,
tetapi sebagai fenomena:
gerakan singkat cahaya
yang gagal mempertahankan bentuknya.
Dan aku—
aku hanya pewaris sunyi
yang diam-diam menimbang
apakah retakan ini
adalah bukti rusaknya dirimu,
atau rusaknya aku
yang percaya sesuatu
dapat disembuhkan
hanya dengan sekadar memegangnya.
2. DI RUANG YANG TAK PERNAH SEMPAT MENUTUP PINTU (Abstraksi Kesunyian)
Ada jejak cahaya di lantai
yang mengingat langkahmu
lebih baik daripada diriku.
Pagi tadi,
aku menemukan secuil bening
yang pernah memantulkan wajahmu.
Ia diam saja,
seperti hendak mengatakan
bahwa pecah tak selalu harus bersuara.
Athalia,
aku memanggilmu dalam hati
—dan seperti biasa—
angin yang datang menjawab.
Ia membawa sedikit debu,
yang menempel pada namamu
di kaca yang perlahan mengabut.
Aku tidak menyalahkan
siapa pun.
Kadang benda yang rapuh
memilih retak
sebelum kita sempat menjaganya.
Kadang hati
lebih dahulu mengerti
apa yang tidak ingin ia akui.
Sejak itu,
aku belajar duduk lebih pelan
di ruangan yang kau tinggalkan terbuka.
Tidak ada yang berubah di sini,
kecuali cahaya
yang semakin tipis
lurus menyusuri tembok,
mencari sesuatu yang tak bisa kembali.
Aku masih menyimpan suaramu
di sela napas yang lewat begitu saja.
Dan jika aku meletakkan telapak tanganku
di atas serpihan itu,
aku tahu
yang terasa bukan sakit—
melainkan ingatan
yang belum selesai pergi.
Begitulah cinta bekerja, bukan?
Ia tinggal lebih lama
daripada mereka yang pernah merawatnya.
Dan pada akhirnya,
kita adalah dua nama
yang saling kehilangan
secara perlahan,
tanpa pernah benar-benar
mengucapkannya.”
―
1. RITUS BENING YANG RETAK (Abstraksi Kesadaran)
Aku menemukan pecahan itu
di dalam ruangan tanpa pintu:
bersih, presisi,
seperti bukti awal sebuah kesalahan
yang tidak memerlukan saksi.
Bening itu—yang pernah kusangka hidup—
kini hanya memantulkan jarak
antara tangan yang gemetar
dan kehendak yang keliru menghitung gravitasi.
Athalia,
namamu masih menempel pada permukaan kaca,
seperti sebutir nadi
yang menolak menjadi tubuh.
Tidak ada tragedi di sini.
Hanya perhitungan yang meleset
dari sesuatu yang sedari awal
terlalu rapuh
untuk kuasaku yang terbiasa
mengukur dunia dengan ketidakpastian.
Darah di jari-jari—
itu pun bukan pengakuan,
melainkan residu
dari percobaan yang belum selesai.
Tubuhku sekadar catatan kaki
bagi retakan yang bekerja
lebih cermat daripada perasaan.
Aku mencatat:
bahwa bening tidak dapat dipanggul
seperti gagasan.
Bahwa harapan tidak memiliki sendi
untuk menahan tekanan.
Bahwa cinta, pada saat tertentu,
adalah objek yang menolak takdirnya sendiri.
Kau jatuh, Athalia,
bukan sebagai kekasih,
tetapi sebagai fenomena:
gerakan singkat cahaya
yang gagal mempertahankan bentuknya.
Dan aku—
aku hanya pewaris sunyi
yang diam-diam menimbang
apakah retakan ini
adalah bukti rusaknya dirimu,
atau rusaknya aku
yang percaya sesuatu
dapat disembuhkan
hanya dengan sekadar memegangnya.
2. DI RUANG YANG TAK PERNAH SEMPAT MENUTUP PINTU (Abstraksi Kesunyian)
Ada jejak cahaya di lantai
yang mengingat langkahmu
lebih baik daripada diriku.
Pagi tadi,
aku menemukan secuil bening
yang pernah memantulkan wajahmu.
Ia diam saja,
seperti hendak mengatakan
bahwa pecah tak selalu harus bersuara.
Athalia,
aku memanggilmu dalam hati
—dan seperti biasa—
angin yang datang menjawab.
Ia membawa sedikit debu,
yang menempel pada namamu
di kaca yang perlahan mengabut.
Aku tidak menyalahkan
siapa pun.
Kadang benda yang rapuh
memilih retak
sebelum kita sempat menjaganya.
Kadang hati
lebih dahulu mengerti
apa yang tidak ingin ia akui.
Sejak itu,
aku belajar duduk lebih pelan
di ruangan yang kau tinggalkan terbuka.
Tidak ada yang berubah di sini,
kecuali cahaya
yang semakin tipis
lurus menyusuri tembok,
mencari sesuatu yang tak bisa kembali.
Aku masih menyimpan suaramu
di sela napas yang lewat begitu saja.
Dan jika aku meletakkan telapak tanganku
di atas serpihan itu,
aku tahu
yang terasa bukan sakit—
melainkan ingatan
yang belum selesai pergi.
Begitulah cinta bekerja, bukan?
Ia tinggal lebih lama
daripada mereka yang pernah merawatnya.
Dan pada akhirnya,
kita adalah dua nama
yang saling kehilangan
secara perlahan,
tanpa pernah benar-benar
mengucapkannya.”
―
All Quotes
|
My Quotes
|
Add A Quote
Browse By Tag
- Love Quotes 102k
- Life Quotes 80k
- Inspirational Quotes 76.5k
- Humor Quotes 44.5k
- Philosophy Quotes 31.5k
- Inspirational Quotes Quotes 29k
- God Quotes 27k
- Truth Quotes 25k
- Wisdom Quotes 25k
- Romance Quotes 24.5k
- Poetry Quotes 23.5k
- Life Lessons Quotes 23k
- Quotes Quotes 21k
- Death Quotes 20.5k
- Happiness Quotes 19k
- Hope Quotes 18.5k
- Faith Quotes 18.5k
- Inspiration Quotes 17.5k
- Spirituality Quotes 16k
- Relationships Quotes 16k
- Life Quotes Quotes 15.5k
- Motivational Quotes 15.5k
- Religion Quotes 15.5k
- Love Quotes Quotes 15.5k
- Writing Quotes 15k
- Success Quotes 14k
- Motivation Quotes 13.5k
- Travel Quotes 13.5k
- Time Quotes 13k
- Motivational Quotes Quotes 12.5k
