Kejujuran Quotes
Quotes tagged as "kejujuran"
Showing 1-20 of 20
“Cuaca demi cuaca melalui kami, dan kebenaran akan semakin dipojokkan. Sampai akhirnya nanti, badai meletus dan menyisakan kejujuran yang bersinar. Entah menghangatkan, atau menghanguskan.”
― Filosofi Kopi: Kumpulan Cerita dan Prosa Satu Dekade
― Filosofi Kopi: Kumpulan Cerita dan Prosa Satu Dekade
“Kau tahu kenapa aku sering mengenangmu kala malam?
Malam selalu bisa menyihir hati untuk lebih jujur.”
―
Malam selalu bisa menyihir hati untuk lebih jujur.”
―
“Dalam banyak hal aku merasa, bahwa fiksi seringkali lebih jujur daripada realitas. Fiksi memungkinkan kita membebaskan diri dari penjara kemunafikan, tanpa terbeban oleh penilaian orang lain.”
―
―
“Kita tidak harus menulis sesuatu dengan harapan tulisan itu bisa diterima kehadirannya. Karena yang terutama adalah, tulisan itu harus jujur, setidaknya bagi diri sendiri. Dan sebagaimana kejujuran tidak selalu menyenangkan dan mendapat tempat, ia selalu membutuhkan waktu untuk membuktikan diri dan menyatakan dirinya.”
―
―
“Aku menangisi sang pesolek kala terharu oleh kejujuran.”
― My Ancestor Was an Ancient Astronaut
― My Ancestor Was an Ancient Astronaut
“Di antara media ada rasa sungkan untuk saling mengkritik. Juga bila ada ketidakjujuran di media lainnya. A conspiracy of restraint.”
― Percikan: Kumpulan Twitter @gm_gm Goenawan Mohamad
― Percikan: Kumpulan Twitter @gm_gm Goenawan Mohamad
“Sejatinya kebenaran dan kebaikan hanya akan jadi benalu jika disampaikan dengan cara-cara yang buruk.
Pula sebaliknya, kejahatan dan kebohongan juga akan dipandang sebagai suatu keabsahan jika disampaikan dengan cara-cara yang elok.”
―
Pula sebaliknya, kejahatan dan kebohongan juga akan dipandang sebagai suatu keabsahan jika disampaikan dengan cara-cara yang elok.”
―
“Maka ke mana pun hendaknya engkau pergi, di mana pun agaknya engkau berdiri, percayalah! Bahwa kebenaran hanya akan tersampaikan dengan cara-cara yang paling asri.”
―
―
“Ada berjuta wajah yang senantiasa disembunyikan oleh manusia ketika mereka berbicara. Hal yang selama ini diyakini sebagai sebuah kebenaran sejatinya hanyalah selubung untuk menyamarkan kedustaan. Pula sebaliknya, sebuah kebohongan bisa saja jadi suatu kebenaran yang sukar untuk dicerna sekalipun pahit untuk diterima.”
―
―
“Kalau aku mencari kejujuran, memang sekaranglah kutemukan. Tapi kejujuran terus-menerus setiap hari membuatku capek. Aku ingin kembali menemukan basa-basi. Di mana setiap orang berusaha untuk memoles dirinya sedikit dalam sikap maupun perbuatan, supaya manis. Dengan begitu, hidup memang palsu akan tetapi tidak menjemukan. Kupikir pada saat itu kebenaran akhirnya hanya elok kalau masih ada dalam harapan. Setelah di tangan menjadi beban.”
― Lho
― Lho
“Orang bilang kejujuran kadang kala berbahaya apabila saatnya tidak tepat. Sekarang aku pikir, untuk memperoleh saat yang tepat, paling banter orang akan jatuh pada kebijaksanaan-kebijaksanaan yang justru menjauhkan kejujuran. Kejujuran lebih baik diterima sebagai kepolosan yang tidak mempersyaratkan apa-apa. Ia bisa diumbar setiap saat. Kejujuran yang berlawanan dengan sembarang saat—adalah kejujuran yang palsu. Setidak-tidaknya inilah yang harus dikatakan, sebab sudah semakin sedikit orang mau bersikap jujur.”
― Lho
― Lho
“Kita tak bisa menginginkan kejujuran orang lain saja, namun terlebih dahuku kita harus menginginkan kejujuran terhadap kita sendiri.”
― Mencari yang Mustahil
― Mencari yang Mustahil
“Kita tak bisa menginginkan kejujuran orang lain saja, namun terlebih dahulu kita harus menginginkan kejujuran terhadap kita sendiri.”
― Mencari yang Mustahil
― Mencari yang Mustahil
“Aku tak akan fanatik pada kejujuranku. Tak akan kuhilangkan keyakinanku bahwa rerumputan tak akan pernah menjadi pohon kurma; perampok tak akan pernah menjadi Nabi. Sesungguhnya, berpegang teguh pada sesuatu yang utama di zaman yang hina adalah sesuatu yang terbaik.”
― Mencari yang Mustahil
― Mencari yang Mustahil
“Mata adalah jebakan. Namun, kejujuran seringkali lahir di ketulusan sebuah tatapan.”
― Bulan Ziarah Kenangan
― Bulan Ziarah Kenangan
“Kejujuran sebenarnya bukan suatu hal yang istimewa. Dialah yang seharusnya dianggap biasa.”
― Orang-orang Proyek
― Orang-orang Proyek
“RUANG TEMPAT KEBENARAN TAK TERLIHAT
(ketika jiwa dicabut dari cahaya)
Ada bagian dari benak manusia
yang tidak pernah ingin ditemukan,
bagian yang bahkan malaikat pun enggan menyentuhnya,
karena di sana cahaya tidak pernah tercipta.
Tempat di mana Artaud pernah disiksa, saat kita dengar gema jeritannya:
"Aku bukan lagi manusia. Aku adalah serabut yang terbakar."
Di sanalah kita berada sekarang.
Ruang di mana mulut membuka
tetapi suara tidak lahir.
Ruang di mana pikiran menggulung dirinya
seperti tubuh binatang sekarat
di bawah cahaya remang lampu ruang isolasi.
Di titik itu, gelap bukan lagi warna
melainkan zat—
sesuatu yang melengket di kulit batin,
sesuatu yang menetes dari sela-sela saraf,
sesuatu yang merayap dan memeluk otak
seperti akar yang menemukan celah pada batu.
Gelap itu tidak bisa ditafsirkan
karena ia lebih tua dari bahasa,
lebih tua dari dosa,
lebih tua dari kesadaran manusia
yang mencoba mengatur dunia dengan sebuah kalimat.
Tapi, tidak ada kalimat di sini.
Hanya denyut.
Hanya retakan.
Hanya suara-suara yang tidak berbentuk kata,
hanya tarikan napas yang seperti serpihan kaca,
menusuk masuk, lambat, tak berkesudahan.
Kita sekarang berada di tempat
di mana logika kehilangan gravitasi;
di mana pemikiran melayang seperti jenazah
yang tidak sempat diberi upacara.
Dan di tengah kekacauan itu,
kegilaan muncul bukan sebagai hukuman,
melainkan pintu.
Pintu yang menolak ditolak.
Pintu yang menelan siapa pun yang berani mengintip.
Kegilaan bukan ketidaksadaran.
Ia adalah kesadaran intensif
yang terlalu terang untuk ditanggung,
terlalu jujur untuk dilihat,
terlalu dekat dengan suara asli semesta.
Suara yang menghancurkan segala lapisan penyangga
yang kita sebut “kewarasan”.
Di sini, manusia tidak lagi berpikir.
Manusia terbakar.
Manusia tidak lagi berdoa.
Manusia menggigil.
Manusia tidak lagi mencari makna.
Manusia menjerit tanpa suara
karena kotak suara bukan lagi bagian tubuh,
melainkan pecahan mimpi buruk
yang tak pernah bisa disatukan kembali.
Dalam ruang ini,
kau tidak bertanya siapa dirimu.
Kau bertanya apakah kau masih ada.
Dan jawabannya—
seperti bisikan dari balik retakan dinding batin—
“Kau ada hanya sejauh kesanggupanmu menahan kegelapan ini.
Bila kau menyerah, maka kau lenyap.
Bila kau bertahan, maka kau akan berubah.”
Kau bertanya pada gerbang kegilaan itu:
“Apa yang berdiri menunggu di balik punggungmu?”
Gerbang itu tidak menjawab.
Ia hanya membuka.
Dan dari dalamnya, keluar bukan monster,
bukan iblis,
bukan suara-suara asing—
melainkan dirimu sendiri,
versi yang tidak pernah disinari,
versi yang tidak pernah diberi nama,
versi yang selama ini menulis keberadaanmu:
pikiran yang mulai membusuk.
Versi yang tidak meminta pertolongan.
Karena ia tahu tidak ada pertolongan.
Kegilaan yang akan menelan tubuhmu bulat-bulat.
November 2025”
―
(ketika jiwa dicabut dari cahaya)
Ada bagian dari benak manusia
yang tidak pernah ingin ditemukan,
bagian yang bahkan malaikat pun enggan menyentuhnya,
karena di sana cahaya tidak pernah tercipta.
Tempat di mana Artaud pernah disiksa, saat kita dengar gema jeritannya:
"Aku bukan lagi manusia. Aku adalah serabut yang terbakar."
Di sanalah kita berada sekarang.
Ruang di mana mulut membuka
tetapi suara tidak lahir.
Ruang di mana pikiran menggulung dirinya
seperti tubuh binatang sekarat
di bawah cahaya remang lampu ruang isolasi.
Di titik itu, gelap bukan lagi warna
melainkan zat—
sesuatu yang melengket di kulit batin,
sesuatu yang menetes dari sela-sela saraf,
sesuatu yang merayap dan memeluk otak
seperti akar yang menemukan celah pada batu.
Gelap itu tidak bisa ditafsirkan
karena ia lebih tua dari bahasa,
lebih tua dari dosa,
lebih tua dari kesadaran manusia
yang mencoba mengatur dunia dengan sebuah kalimat.
Tapi, tidak ada kalimat di sini.
Hanya denyut.
Hanya retakan.
Hanya suara-suara yang tidak berbentuk kata,
hanya tarikan napas yang seperti serpihan kaca,
menusuk masuk, lambat, tak berkesudahan.
Kita sekarang berada di tempat
di mana logika kehilangan gravitasi;
di mana pemikiran melayang seperti jenazah
yang tidak sempat diberi upacara.
Dan di tengah kekacauan itu,
kegilaan muncul bukan sebagai hukuman,
melainkan pintu.
Pintu yang menolak ditolak.
Pintu yang menelan siapa pun yang berani mengintip.
Kegilaan bukan ketidaksadaran.
Ia adalah kesadaran intensif
yang terlalu terang untuk ditanggung,
terlalu jujur untuk dilihat,
terlalu dekat dengan suara asli semesta.
Suara yang menghancurkan segala lapisan penyangga
yang kita sebut “kewarasan”.
Di sini, manusia tidak lagi berpikir.
Manusia terbakar.
Manusia tidak lagi berdoa.
Manusia menggigil.
Manusia tidak lagi mencari makna.
Manusia menjerit tanpa suara
karena kotak suara bukan lagi bagian tubuh,
melainkan pecahan mimpi buruk
yang tak pernah bisa disatukan kembali.
Dalam ruang ini,
kau tidak bertanya siapa dirimu.
Kau bertanya apakah kau masih ada.
Dan jawabannya—
seperti bisikan dari balik retakan dinding batin—
“Kau ada hanya sejauh kesanggupanmu menahan kegelapan ini.
Bila kau menyerah, maka kau lenyap.
Bila kau bertahan, maka kau akan berubah.”
Kau bertanya pada gerbang kegilaan itu:
“Apa yang berdiri menunggu di balik punggungmu?”
Gerbang itu tidak menjawab.
Ia hanya membuka.
Dan dari dalamnya, keluar bukan monster,
bukan iblis,
bukan suara-suara asing—
melainkan dirimu sendiri,
versi yang tidak pernah disinari,
versi yang tidak pernah diberi nama,
versi yang selama ini menulis keberadaanmu:
pikiran yang mulai membusuk.
Versi yang tidak meminta pertolongan.
Karena ia tahu tidak ada pertolongan.
Kegilaan yang akan menelan tubuhmu bulat-bulat.
November 2025”
―
“4 Suara Cinta Terlarang
1. Kejujuran yang
Membakar Tubuh
Aku mencintainya,
dan dunia pun runtuh seperti tebing rapuh
yang tak sanggup menahan detak jantungku sendiri.
Aku tahu, aku tak mungkin menentang nyalang matahari,
tapi tubuhku tidak mengenal larangan,
dan terang tidak pernah menanyakan alasan
mengapa dua jiwa yang luka
saling mencari seperti dua nyala api
yang ingin saling memakan,
saling menghancurkan.
Aku ingin berkata aku kuat,
tapi setiap kali ia tersenyum
dadaku pecah seperti rekah buah delima
dan rahasiaku tumpah ke tanah
yang tak pernah memintanya.
Tak ada yang suci di dalamku,
kecuali keberanianku mencintainya
meski cinta itu mengutukku
dengan cahaya yang terlalu panas
untuk kuemban sendiri.
Aku adalah perempuan
yang terbakar nyala api
oleh pelukan yang tak pernah terjadi.
2. Pengingkaran Metafisik
Aku tidak mencintainya.
Aku hanya mengikuti jejak sunyi
yang muncul setiap kali ia melintas,
seperti bayang yang tidak punya tubuh
dan tubuh yang tidak punya tujuan.
Jika aku memikirkannya,
itu bukan cinta—
hanya percikan waktu
yang salah jatuh ke dalam mataku.
Yang kupahami hanyalah kehampaan:
ruang di antara kami
yang menutup,
membuka,
menutup kembali,
tanpa alasan yang dapat ditafsirkan.
Aku tidak mencintainya,
tapi aku mendengar detak langkahnya
bahkan ketika ia tidak berjalan.
Mungkin cinta hanyalah nama lain
untuk ruang yang gagal menyebut dirinya
sebagai ketidakhadiran.
3. Penolakan yang Bermartabat
Aku mengusir perasaanku sendiri
seperti menutup pintu rumah
yang pernah menyelamatkanku
dari gempuran badai.
Aku tidak boleh menginginkan.
Itu sudah cukup untuk menyiksaku.
Jika ia berdiri di hadapanku,
aku akan mengangguk,
aku akan tersenyum,
dan aku akan menyimpan seluruh gempa
di balik tulang rusukku
seperti perempuan yang menjaga rahasianya
dengan kesunyian yang keras
menentang salju musim dingin.
Cinta ini tidak boleh bernama.
Biarlah ia menjadi bayangan panjang
yang lewat di atas lantai batu
tanpa sempat menyentuhku.
Aku tidak akan mencarinya.
Aku tidak akan memanggilnya.
Tapi Tuhan tahu
aku memikirkannya setiap malam
dengan hati yang gemetar
dan mata menolak terpejam.
4. Pembenaran yang
Paling Liar
Jika dunia menolak cintaku,
biarlah dunia yang diganti.
Aku memandangnya
seluruh hukum moral kuno
retak seperti kaca tua
yang selama ini hanya memantulkan kebohongan.
Mengapa aku harus tunduk
pada kata-kata yang diciptakan
oleh orang-orang yang takut pada diri mereka sendiri?
Cinta tak pernah salah—
yang salah adalah bahasa
yang gagal memanggilnya
dengan nama yang tepat.
Jika dosa adalah pintu,
maka aku akan masuk
dengan sepenuh hati
dengan keras kepala.
Jika cinta adalah perang,
maka aku siap mati
dengan penuh kebanggaan.
Aku mencintainya
dan aku tidak meminta maaf.
Justru aku menuntut bintang
untuk belajar bersinar
seterang hasrat dan
keinginanku sendiri.
Desember 2025”
―
1. Kejujuran yang
Membakar Tubuh
Aku mencintainya,
dan dunia pun runtuh seperti tebing rapuh
yang tak sanggup menahan detak jantungku sendiri.
Aku tahu, aku tak mungkin menentang nyalang matahari,
tapi tubuhku tidak mengenal larangan,
dan terang tidak pernah menanyakan alasan
mengapa dua jiwa yang luka
saling mencari seperti dua nyala api
yang ingin saling memakan,
saling menghancurkan.
Aku ingin berkata aku kuat,
tapi setiap kali ia tersenyum
dadaku pecah seperti rekah buah delima
dan rahasiaku tumpah ke tanah
yang tak pernah memintanya.
Tak ada yang suci di dalamku,
kecuali keberanianku mencintainya
meski cinta itu mengutukku
dengan cahaya yang terlalu panas
untuk kuemban sendiri.
Aku adalah perempuan
yang terbakar nyala api
oleh pelukan yang tak pernah terjadi.
2. Pengingkaran Metafisik
Aku tidak mencintainya.
Aku hanya mengikuti jejak sunyi
yang muncul setiap kali ia melintas,
seperti bayang yang tidak punya tubuh
dan tubuh yang tidak punya tujuan.
Jika aku memikirkannya,
itu bukan cinta—
hanya percikan waktu
yang salah jatuh ke dalam mataku.
Yang kupahami hanyalah kehampaan:
ruang di antara kami
yang menutup,
membuka,
menutup kembali,
tanpa alasan yang dapat ditafsirkan.
Aku tidak mencintainya,
tapi aku mendengar detak langkahnya
bahkan ketika ia tidak berjalan.
Mungkin cinta hanyalah nama lain
untuk ruang yang gagal menyebut dirinya
sebagai ketidakhadiran.
3. Penolakan yang Bermartabat
Aku mengusir perasaanku sendiri
seperti menutup pintu rumah
yang pernah menyelamatkanku
dari gempuran badai.
Aku tidak boleh menginginkan.
Itu sudah cukup untuk menyiksaku.
Jika ia berdiri di hadapanku,
aku akan mengangguk,
aku akan tersenyum,
dan aku akan menyimpan seluruh gempa
di balik tulang rusukku
seperti perempuan yang menjaga rahasianya
dengan kesunyian yang keras
menentang salju musim dingin.
Cinta ini tidak boleh bernama.
Biarlah ia menjadi bayangan panjang
yang lewat di atas lantai batu
tanpa sempat menyentuhku.
Aku tidak akan mencarinya.
Aku tidak akan memanggilnya.
Tapi Tuhan tahu
aku memikirkannya setiap malam
dengan hati yang gemetar
dan mata menolak terpejam.
4. Pembenaran yang
Paling Liar
Jika dunia menolak cintaku,
biarlah dunia yang diganti.
Aku memandangnya
seluruh hukum moral kuno
retak seperti kaca tua
yang selama ini hanya memantulkan kebohongan.
Mengapa aku harus tunduk
pada kata-kata yang diciptakan
oleh orang-orang yang takut pada diri mereka sendiri?
Cinta tak pernah salah—
yang salah adalah bahasa
yang gagal memanggilnya
dengan nama yang tepat.
Jika dosa adalah pintu,
maka aku akan masuk
dengan sepenuh hati
dengan keras kepala.
Jika cinta adalah perang,
maka aku siap mati
dengan penuh kebanggaan.
Aku mencintainya
dan aku tidak meminta maaf.
Justru aku menuntut bintang
untuk belajar bersinar
seterang hasrat dan
keinginanku sendiri.
Desember 2025”
―
All Quotes
|
My Quotes
|
Add A Quote
Browse By Tag
- Love Quotes 102k
- Life Quotes 80.5k
- Inspirational Quotes 77k
- Humor Quotes 44.5k
- Philosophy Quotes 31.5k
- Inspirational Quotes Quotes 29k
- God Quotes 27k
- Truth Quotes 25k
- Wisdom Quotes 25k
- Romance Quotes 24.5k
- Poetry Quotes 23.5k
- Life Lessons Quotes 23k
- Quotes Quotes 21k
- Death Quotes 20.5k
- Happiness Quotes 19k
- Hope Quotes 18.5k
- Faith Quotes 18.5k
- Inspiration Quotes 18k
- Spirituality Quotes 16k
- Relationships Quotes 16k
- Motivational Quotes 16k
- Religion Quotes 15.5k
- Life Quotes Quotes 15.5k
- Love Quotes Quotes 15k
- Writing Quotes 15k
- Success Quotes 14k
- Motivation Quotes 13.5k
- Time Quotes 13k
- Motivational Quotes Quotes 12k
- Science Quotes 12k