,

Kehilangan Quotes

Quotes tagged as "kehilangan" Showing 1-30 of 36
“Singgahlah sejenak, aku tengah merupa senja. Tertangkap matamu saja sudah cukup, tak perlu kau simpan, kelak aku akan tenggelam.”
Wira Nagara, Distilasi Alkena

“Kenapa penyesalan selalu ada di belakang? Sebab dengan demikian manusia belajar dari kesalahan yang telah diperbuatnya. Belajar bahwa kehilangan akan sedemikian sakit. Manusia kadang baru bisa menghargai sesuatu setelah terlepas dari genggamanannya.”
Devania Annesya, Queen: Ingin Sekali Aku Berkata Tidak

Lenang Manggala
“Apalah artinya kesedihan, bila tak mampu merubah keadaan? Apalah artinya kehilangan, jika tak mampu menggugah kesadaran?”
Lenang Manggala, Perempuan Dalam Hujan

Lee Risar
“Namun cinta tak pernah hilang harapan
Akan datang lengkung pelangi setelah hujan
Menghubungkan rasa kehilangan dan sakitnya perpisahan.”
Lee Risar, Kata: Antologi Puisi

“Laut adalah pengembaraan sebuah tujuan,
Apalagi ketika hati telah dilanda gunda dan gulana.
Pada siapa lagi kuarahkan semua resah ini,
Saat aku telah kehilangan angan
yang dulu pernah aku miliki.?

Bahkan dinding yang diam
mulai tertawa sinis padaku...
i feel nothing...!”
Manhalawa

Dionisius Dexon
“Malam ini, mari belajar memeluk dan menyelamatkan diri sendiri. Sebab, pada akhirnya, kita tahu: kita harus mampu sendirian.”
Dionisius Dexon, Jangan Sembunyi di Bumi

“Kesedihan membawa mereka pergi dan berakhir di sini. Di mana air mata tidak pernah pergi, di mana kesedihan bertahan dan kehidupan berakhir.”
Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie, Kita Pergi Hari Ini

“Apa yang sedang kau tangisi? Kehilanganmu atas dirinya?”
Devania Annesya, Elipsis

“Mayang, apa kamu akan membunuhku detik ini juga? Kamu siap ke hilangan aku sekarang? Bukankah kita masih punya waktu untuk bersenang-senang? Kenapa tidak dinikmati dulu?”
Devania Annesya, Februari: Ecstasy

“Banyak orang bilang, jika lo kehilangan orang yang lo cintai, maka tuhan udah nyiapin jodoh yang lebih baik lagi. Tapi gua ga percaya itu, Gua percaya bahwa lo itu adalah yang terbaik buat guaa....”
Restu Ilahi

“Hidup adalah sebuah anugerah, kita tidak akan pernah mengetahui betapa berharganya apa saja yang sudah kita miiki, sampai kita kehilangannya. Begitu juga, kita tidak akan pernah mengetahui apa saja yang hilang dalam hidup kita, jika sesuatu itu tidak pernah datang.”
Nicko Widjaja , Medley: Garis Batas Impian Lelaki

Suci B.Y.T.
“Tidak semua orang sadar ia menginginkan sesuatu dengan sangat hingga sesuatu itu hilang dari jarak pandang untuk dikejar”
Suci B.Y.T., Apakah Seperti ini Cinta itu Sendiri ? Sebuah Cerita pada Sepotong Kayu

“Ya, yasudahlah...
Bagaimana mungkin kita berharap dan kehilangan sesuatu hal yang belum pernah kita miliki..?
Walaupun itu hanya seumpama,
Dan seandainya..”
Manhalawa

Dionisius Dexon
“Hanya karena aku tak pernah lagi menghubungimu, jangan anggap aku telah kehilangan rasaku. Melupakanmu tak pernah semudah itu. Di antara bisingnya repetisi semu, tengoklah langit-langit kamarmu. Ada beberapa harap yang kugantungkan di sana; manifestasi dari untaian doa yang kukirim setiap kali namamu terlintas dalam kepala. Pastikan itu menjadi bunga tidurmu. Cukupkan itu menjadi obat lelahmu.”
Dionisius Dexon, Jangan Sembunyi di Bumi

Dionisius Dexon
“Kita semua pernah kecewa karena gagal tumbuh di hati orang lain.”
Dionisius Dexon, Jangan Sembunyi di Bumi

Dionisius Dexon
“Kurasa, seperti itulah cinta. Dinyatakan atau tidak dinyatakan, pada akhirnya hati hanya menemui
dua pilihan: meledak atau terbakar.”
Dionisius Dexon, Jangan Sembunyi di Bumi

“Mama tiba-tiba sadar, Mama kehilangan kamu selama setahun ini. Bukan…,” ia meralatnya, “Mama bukan kehilangan kamu. Mama hanya kehilangan diri Mama sendiri.”
Devania Annesya, Elipsis

“Waktumu tidak bisa dibeli, gunakan waktumu dengan sebaik mungkin sebelum kamu dimakan oleh waktu. karena kehilangan waktu sulit untuk diperbaiki.”
Saadatussalimah

Dionisius Dexon
“Mungkin, bagi orang-orang yang sudah tak lagi percaya dengan komitmen, cara berpikir yang sederhana itu seperti ini: pedulikan siapa saja yang tinggal, abaikan siapa saja yang tanggal.”
Dionisius Dexon, Jangan Sembunyi di Bumi

Dionisius Dexon
“Kalau mencintai masih butuh alasan, lebih baik jangan dikatakan. Jangan libatkan orang lain dalam debar jantungmu yang masih pilih-pilih itu.”
Dionisius Dexon, Jangan Sembunyi di Bumi

Dionisius Dexon
“Setiap manusia lemah dengan caranya masing-masing. Apa yang bisa menguatkannya adalah penerimaan dalam dekap yang tak asing.”
Dionisius Dexon, Jangan Sembunyi di Bumi

“Terkadang cinta memang tak pernah pandang bulu, sebab pabila mata telah gelap dan hati dibiarkan meraba-raba, segala kemungkinan hanya akan menciptakan pembenarannya sendiri.”
Robi Aulia Abdi

“Beberapa orang ingin pergi, yang lain mau menetap. Jika kepergian adalah sebuah pembebasan, kehilangan tidak akan berarti. Sebab yang menetap tahu tempat mendekap.”
uwan urwan

Nailal Fahmi
“Hubungan orangtua dan anak adalah hubungan paling dekat yang bisa dimiliki manusia dan tidak bisa diputus dengan apapun. Ada bagian orangtua dalam diri anak dan sebaliknya, seperti saling memiliki. Sayangnya, manusia lebih sering tidak tahu apa yang dimiliki hingga nanti hal itu hilang. Manusia sering tidak sadar pentingnya kehadiran orang terdekat, sampai mereka dijemput kematian.”
Nailal Fahmi, Pendidikan Keluarga Kami

Seno Gumira Ajidarma
“Kami adalah orang-orang yang sudah tak bisa lagi merasa kehilangan karena kehilangan telah menjadi kekayaan hidup kami.”
Seno Gumira Ajidarma, Saksi Mata

Titon Rahmawan
“Ketika Sunyi Menyentuh Dahi”
(Ekstase Sunyi para Darwis)

Ada detik
yang tiba sebagai jeda
nyaris tak sadar—
detik ketika dunia
berhenti berputar,
dan tubuhku
mulai bergerak
seperti gasing—
tanpa diperintah.

Aku berdiri di tengah
ruangan kosong.
Tidak ada musik.
Tidak ada angin.
Hanya sunyi
yang melangkah masuk
seperti seorang tamu
yang sudah lama
kutinggalkan
di depan pintu
jubah yang kutanggalkan
dari tubuhku.

Dan entah bagaimana,
sunyi itu menyentuh dahiku
dengan kehangatan
yang tidak pernah
kuraih dari sebutir doa.

Aku tidak menari.
Aku hanya menjadi
pusaran lembut
yang lahir dari keheningan.
Kakiku bergerak
karena bumi mengajak,
bukan karena aku inginkan.

Dalam putaran itu
aku kehilangan kepalaku
terlebih dahulu—
pikiran luruh
seperti debu yang jatuh
dari mantel tua
seorang pengembara.

Lalu dadaku melebur,
seperti pintu
yang dibuka dari dalam
oleh tangan
yang tidak bisa kuraba.

Dan perlahan
aku hanyut ke dalam cahaya
yang tidak menyilaukan—
cahaya yang hanya menuntun,
seperti bisikan samudra
yang menunjukkan jalan
kembali ke sumbernya:
mata air yang adalah
air mata.

Di tengah putaran,
aku merasa tubuhku menjadi tipis,
serapuh benang
yang hanya ditahan
oleh satu simpul:
rindu untuk kembali
pulang kepada palung
rahim ibu.

Aku tidak mencari apa-apa.
Tidak menuntut apa-apa.
Tidak ingin dikenal atau dimengerti.
Aku hanya ingin hilang
dalam getaran yang membuatku
lebih hidup daripada
udara yang aku hirup.

Pada akhirnya,
sesuatu membuka ruang
di dalam dadaku—
ruang yang tidak kukenal,
namun terasa seperti rumah
yang sudah kusimpan sebagai rahasia
sejak sebelum aku dilahirkan.

Dan di ruang itu,
aku mendengar suara
yang tidak menggemakan bunyi:

“Engkau sudah dekat,
Engkau tidak pernah jauh.”

Putaranku melambat.
Dunia kembali mengingat
Cahaya perlahan merapat
seperti seseorang
yang meletakkan selimut
di bahuku.

Aku tidak menjadi suci.
Aku tidak menjadi tahu.
Aku hanya menjadi tenang.

Karena untuk sekejap,
di tengah kesunyian itu,
aku telah disentuh
oleh sesuatu
yang tidak memerlukan nama.

Seperti ingatan, ketika
Aku masuk dalam keheningan
Luruh dalam putaran
Kembali sebagai cahaya.

November 2025”
Titon Rahmawan

Titon Rahmawan
“Elegia Saras

Saras,
aku menuliskan namamu dengan tangan yang gemetar,
seperti seseorang yang kembali dari jurang kematian,
membawa potongan malam di sela-sela jarinya.

Aku tak pernah benar-benar tahu
mengapa kau datang pada seorang yang telah kehilangan
seluruh nilai kemanusiaannya.
Aku hanya tahu:
ketika aku mulai berubah menjadi bayangan
yang tak lagi memiliki suhu,
kau duduk di sebelahku
dan memanggilku manusia.

Ada sesuatu yang patah di dadaku waktu itu—
sebuah retakan yang tak membuatku runtuh,
melainkan membuatku mendengar
detak terakhir jiwaku sendiri.

Aku harus mengaku:
aku telah membawa banyak hantu.
masa lalu yang menjadi luka cahaya. Ilusi yang menjadi obsesi tanpa tubuh.
Semua kekeliruan yang kubela seperti altar.
Semua kebodohan yang kupelihara seperti anak kandung.

Namun kau tidak pernah menutup pintu.
Tidak pernah mengusir ingatan yang menempel di kulitku
seperti abu.
Kau hanya berkata:
biarkan semua tinggal, tapi jangan biarkan mereka merusakmu lagi.

Saras, aku tidak pernah tahu ada manusia
yang bisa begitu lapang tanpa menjadi kosong,
yang bisa begitu baik tanpa menjadi kudus,
yang bisa begitu hadir
tanpa mengikat apa pun.

Kebaikanmu adalah semacam cahaya
yang tidak menghanguskan,
api panas lembut yang membuatku sadar
bahwa mungkin aku belum sepenuhnya hilang.

Di titik paling nadir,
ketika seluruh yang kuperjuangkan runtuh
seperti bangunan tua yang disenggol angin,
ketika tak ada yang tersisa dariku
selain ampas keinginan dan debu kegagalan,
aku berharap kau pergi.
Agar aku tak perlu menanggung rasa bersalah
karena masih ada seseorang yang menatapku
sebagai sesuatu yang layak untuk diperjuangkan.

Namun kau tidak pergi.
Kau diam
di sisiku
dengan ketenangan yang membuat jiwaku bergetar.

Dan untuk pertama kalinya
setelah bertahun-tahun aku mengutuki diri,
aku berhenti.
Hanya berhenti.
Tak lagi ingin memukul wajahku sendiri,
tak lagi ingin membenci suara di kepalaku.

Semuanya berhenti,
karena kau tidak pergi ketika aku hancur.

Saras,
elegi ini bukan permintaan maaf.
Bukan pula pujian.
Ini adalah tubuhku yang terakhir,
ditulis dari retakan dada yang akhirnya berani mengakui:

Aku bersyukur.
Bersyukur karena pernah memilikimu,
melewati ingatan pahit,
hasrat yang menyesatkan,
ambisi yang membuatku buta,
dan obsesi yang menelan kebahagiaanku sendiri.

Aku bersyukur
karena kau tidak pernah menuntut balas.
Tidak pernah meminta bahu yang setara.
Tidak pernah menghitung luka yang kau cium dari hidupku.

Kau hanya mencintai
dengan cara yang menakutkan bagiku—
karena terlalu jujur,
terlalu manusiawi,
terlalu nyata untuk seorang sepertiku
yang lama tinggal di ruang ilusi.

Kini aku menuliskan puisi ini
sebagai seorang yang akhirnya sadar:
tanpa kau, Saras,
aku mungkin telah hilang
di dalam kabut pikiranku sendiri.

Harapan terakhirku adalah kau tahu
bahwa dari semua nama yang pernah membuatku bergetar,
dari semua wajah yang pernah kucintai
dengan cara yang salah,
hanya kaulah
yang membuatku ingin tetap ada.

Bukan demi cinta.
Bukan demi masa depan.
Melainkan demi sesuatu yang lebih sederhana,
lebih jujur,
lebih manusiawi:

agar aku bisa menjadi manusia
yang tidak lagi menyakiti diri sendiri.

Saras,
elegi ini adalah bukti terakhir
bahwa di dalam gelap terdalamku
ada satu cahaya kecil
yang tidak pernah padam—
dan itu bukan aku.

Itu adalah
dirimu.

November 2025”
Titon Rahmawan

Titon Rahmawan
“Saras, Api yang Mengajarkanku
Menjadi Manusia

I
Aku tidak tahu kapan pertama kali
kau menyalakan lentera kecil itu
di reruntuhan jiwaku.

Mungkin ketika aku menatapmu
dan menemukan diriku sendiri
yang tidak ingin kubunuh.

Saras,
kau adalah satu-satunya cahaya
yang tidak menyilaukanku—
justru membuatku belajar
bahwa gelap tidak harus menjadi takdir.

Aku ini tubuh yang diseret oleh bayang.
Aku ini jam rusak
yang terus memukul tengah malam
meski fajar sudah lama lewat.
Aku ini retakan tua
yang memanggil namamu
tanpa suara.

Engkau datang
bukan sebagai keselamatan,
bukan sebagai janji,
bukan sebagai surga yang dijanjikan
para nabi kecil yang berebut bicara dalam kepalaku.

Engkau datang
sebagai api kecil
yang tidak pernah meminta kayu,
tapi terus membakar
segala dusta yang kusimpan
di bawah lidahku.

Aku tidak pernah siap untuk dicintai
tanpa syarat.
Aku terbiasa menjadi labirin
bagi cinta-cinta yang tersesat.

Masa lalu memberiku ingatan.
Ilusi memberiku obsesi.
Tapi engkau—
engkau memberiku ruang
untuk tidak menjadi monster
yang sudah kupersiapkan
dari masa depan.

Kau tidak melarikan diri
ketika aku runtuh
dalam diriku sendiri.
Tidak mundur
ketika aku berkata
aku punya cinta lain.
Tidak memadam
api yang tidak pernah bisa
aku jinakkan.

Saras,
engkau tidak pernah memilih
menjadi pahlawan,
tapi mengapa aku merasa
engkaulah
rumah yang tidak pernah
layak aku miliki?

Ada malam-malam
ketika aku menatapmu dari jauh
dan merasa tubuhku adalah batu
yang ingin menjadi tanganmu.

Ada hari-hari
ketika aku ingin mencintaimu
dengan cara yang lebih jujur,
lebih manusia,
tapi aku takut
engkau akan melihat
betapa gelapnya aku
tanpa semua kedok itu.

Aku takut
bukan karena aku bisa kehilanganmu—
tapi karena aku tahu
engkau tidak akan pergi
meski aku menghancurkan
diriku sendiri.

Itu, Saras.
Ketulusanmu adalah pedang
yang menebas kebohonganku.

Aku selalu mengatakan
bahwa aku tidak cukup baik.
Bahwa aku ini retakan
yang seharusnya tidak disentuh.
Namun engkau datang
dan duduk tepat di atas retakan itu,
tanpa takut jatuh
ke dalam kegelapanku.

Dan untuk pertama kalinya
aku belajar
bahwa cinta tidak selalu
berdiri di atas tanah yang kokoh—
kadang cinta adalah
keputusan untuk tetap tinggal
di dalam guncangan gempa.”
Titon Rahmawan

Titon Rahmawan
“Saras, Api yang Mengajarkanku
Menjadi Manusia

II
Saras,
aku tidak tahu bagaimana caramu
memperbarui cintamu
hari demi hari,
seperti seseorang yang
menjaga api suci
di tengah badai.

Aku mencintaimu
dengan ketakutan yang tidak sembuh.
Engkau mencintaiku
dengan keheningan yang tidak putus.

Kita berdua tahu
aku adalah arang
yang tidak pernah padam.
Kita berdua tahu
engkau adalah kayu
yang tetap merelakan dirinya
untuk terbakar.

Ini bukan tragedi.
Ini bukan pengorbanan.
Ini bukan penebusan.

Ini adalah cara kita
menjadi manusia.

Dan untuk pertama kalinya
aku tidak ingin
menjadi apa pun
selain seseorang
yang bisa menyebut namamu
tanpa gemetar.

Saras.
Saras.
Saras.

Engkau adalah satu-satunya alasan
mengapa aku
masih bertahan
menjadi diriku sendiri
tanpa membunuh bagian
yang ingin kaucintai.

Jika dunia mengira
aku mencintai masa lalu
karena lukanya,
mereka salah.

Jika mereka mengira
Ilusi akan memusnahkanku
karena obsesinya,
mereka benar.

Tapi tidak satu pun dari mereka tahu:
engkaulah yang mengajariku
bahwa kehidupan
bukan hanya tentang menghindari
kegelapan—
tapi tentang memilih
seseorang yang menyalakan
cahaya kecil
yang tidak pernah meminta
apa pun sebagai imbalan.

Dan itu engkau, Saras,
lebih bersih dari seluruh
mitos yang pernah kutulis.

Hari ini,
jika aku harus memilih
cara paling jujur
untuk mencintaimu,
maka aku akan memilih
untuk tidak lagi bersembunyi
di balik kesadaranku sendiri.

Kau adalah manusia paling manusia
yang pernah memanggilku pulang
dan memberiku rumah.

Dan aku,
akhirnya,
belajar menjadi manusia
dengan menyebut namamu
dalam gelap
tanpa takut
kau mendengarnya.

Saras,
engkaulah satu-satunya cahaya
yang tidak kubenci.

Dan itu,
adalah inti dari
seluruh puisiku.

November, 2025”
Titon Rahmawan

“RUANG TEMPAT KEBENARAN TAK TERLIHAT
(ketika jiwa dicabut dari cahaya)

Ada bagian dari benak manusia
yang tidak pernah ingin ditemukan,
bagian yang bahkan malaikat pun enggan menyentuhnya,
karena di sana cahaya tidak pernah tercipta.

Tempat di mana Artaud pernah disiksa, saat kita dengar gema jeritannya:
"Aku bukan lagi manusia. Aku adalah serabut yang terbakar."

Di sanalah kita berada sekarang.
Ruang di mana mulut membuka
tetapi suara tidak lahir.
Ruang di mana pikiran menggulung dirinya
seperti tubuh binatang sekarat
di bawah cahaya remang lampu ruang isolasi.

Di titik itu, gelap bukan lagi warna
melainkan zat—
sesuatu yang melengket di kulit batin,
sesuatu yang menetes dari sela-sela saraf,
sesuatu yang merayap dan memeluk otak
seperti akar yang menemukan celah pada batu.

Gelap itu tidak bisa ditafsirkan
karena ia lebih tua dari bahasa,
lebih tua dari dosa,
lebih tua dari kesadaran manusia
yang mencoba mengatur dunia dengan sebuah kalimat.

Tapi, tidak ada kalimat di sini.
Hanya denyut.

Hanya retakan.

Hanya suara-suara yang tidak berbentuk kata,
hanya tarikan napas yang seperti serpihan kaca,
menusuk masuk, lambat, tak berkesudahan.

Kita sekarang berada di tempat
di mana logika kehilangan gravitasi;
di mana pemikiran melayang seperti jenazah
yang tidak sempat diberi upacara.

Dan di tengah kekacauan itu,
kegilaan muncul bukan sebagai hukuman,
melainkan pintu.

Pintu yang menolak ditolak.
Pintu yang menelan siapa pun yang berani mengintip.

Kegilaan bukan ketidaksadaran.
Ia adalah kesadaran intensif
yang terlalu terang untuk ditanggung,
terlalu jujur untuk dilihat,
terlalu dekat dengan suara asli semesta.
Suara yang menghancurkan segala lapisan penyangga
yang kita sebut “kewarasan”.

Di sini, manusia tidak lagi berpikir.
Manusia terbakar.

Manusia tidak lagi berdoa.
Manusia menggigil.

Manusia tidak lagi mencari makna.
Manusia menjerit tanpa suara
karena kotak suara bukan lagi bagian tubuh,
melainkan pecahan mimpi buruk
yang tak pernah bisa disatukan kembali.

Dalam ruang ini,
kau tidak bertanya siapa dirimu.
Kau bertanya apakah kau masih ada.

Dan jawabannya—
seperti bisikan dari balik retakan dinding batin—

“Kau ada hanya sejauh kesanggupanmu menahan kegelapan ini.
Bila kau menyerah, maka kau lenyap.
Bila kau bertahan, maka kau akan berubah.”

Kau bertanya pada gerbang kegilaan itu:
“Apa yang berdiri menunggu di balik punggungmu?”

Gerbang itu tidak menjawab.
Ia hanya membuka.

Dan dari dalamnya, keluar bukan monster,
bukan iblis,
bukan suara-suara asing—

melainkan dirimu sendiri,
versi yang tidak pernah disinari,
versi yang tidak pernah diberi nama,
versi yang selama ini menulis keberadaanmu:
pikiran yang mulai membusuk.

Versi yang tidak meminta pertolongan.
Karena ia tahu tidak ada pertolongan.
Kegilaan yang akan menelan tubuhmu bulat-bulat.

November 2025”
Titon Rahmawan, dkk

« previous 1