Peleburan Quotes

Quotes tagged as "peleburan" Showing 1-2 of 2
Titon Rahmawan
“Ketika Sunyi Menyentuh Dahi”
(Ekstase Sunyi para Darwis)

Ada detik
yang tiba sebagai jeda
nyaris tak sadar—
detik ketika dunia
berhenti berputar,
dan tubuhku
mulai bergerak
seperti gasing—
tanpa diperintah.

Aku berdiri di tengah
ruangan kosong.
Tidak ada musik.
Tidak ada angin.
Hanya sunyi
yang melangkah masuk
seperti seorang tamu
yang sudah lama
kutinggalkan
di depan pintu
jubah yang kutanggalkan
dari tubuhku.

Dan entah bagaimana,
sunyi itu menyentuh dahiku
dengan kehangatan
yang tidak pernah
kuraih dari sebutir doa.

Aku tidak menari.
Aku hanya menjadi
pusaran lembut
yang lahir dari keheningan.
Kakiku bergerak
karena bumi mengajak,
bukan karena aku inginkan.

Dalam putaran itu
aku kehilangan kepalaku
terlebih dahulu—
pikiran luruh
seperti debu yang jatuh
dari mantel tua
seorang pengembara.

Lalu dadaku melebur,
seperti pintu
yang dibuka dari dalam
oleh tangan
yang tidak bisa kuraba.

Dan perlahan
aku hanyut ke dalam cahaya
yang tidak menyilaukan—
cahaya yang hanya menuntun,
seperti bisikan samudra
yang menunjukkan jalan
kembali ke sumbernya:
mata air yang adalah
air mata.

Di tengah putaran,
aku merasa tubuhku menjadi tipis,
serapuh benang
yang hanya ditahan
oleh satu simpul:
rindu untuk kembali
pulang kepada palung
rahim ibu.

Aku tidak mencari apa-apa.
Tidak menuntut apa-apa.
Tidak ingin dikenal atau dimengerti.
Aku hanya ingin hilang
dalam getaran yang membuatku
lebih hidup daripada
udara yang aku hirup.

Pada akhirnya,
sesuatu membuka ruang
di dalam dadaku—
ruang yang tidak kukenal,
namun terasa seperti rumah
yang sudah kusimpan sebagai rahasia
sejak sebelum aku dilahirkan.

Dan di ruang itu,
aku mendengar suara
yang tidak menggemakan bunyi:

“Engkau sudah dekat,
Engkau tidak pernah jauh.”

Putaranku melambat.
Dunia kembali mengingat
Cahaya perlahan merapat
seperti seseorang
yang meletakkan selimut
di bahuku.

Aku tidak menjadi suci.
Aku tidak menjadi tahu.
Aku hanya menjadi tenang.

Karena untuk sekejap,
di tengah kesunyian itu,
aku telah disentuh
oleh sesuatu
yang tidak memerlukan nama.

Seperti ingatan, ketika
Aku masuk dalam keheningan
Luruh dalam putaran
Kembali sebagai cahaya.

November 2025”
Titon Rahmawan

Titon Rahmawan
“LITANI DARI KAYU SALIB

Aku mendengar getar nadi yang berdenyut dari tangannya,
menjadi aliran yang memaksa paru-paruku berdetak dalam ritme kematian yang menyesakkan,
setiap tetes darahnya adalah tarian bisu yang membakar sarafku,
menembus semua ruang
yang sebelumnya
tak ada.

Di bawah kayu itu, ia tidak menjerit.
menahan segala sakit
yang tak terlukiskan,
mengalirkan dera itu ke setiap urat,
ke setiap tulang,
hingga aku sendiri menjadi daging
dan darahnya,
hingga aku sendiri menjadi luka
dan air mata yang tak berbentuk.

Aku melihat dan merasakan:
kehidupan dan kematian menyatu dalam batas yang bukan jurang.
Manusia tidak lagi berdiri di luar kesadaran selain kebebalan dan kedegilan jiwanya sendiri.
Dia menatapku dari mata yang remuk,
tetapi menatap dengan kornea yang seterang matahari
dengan sunyi yang lebih menyengat
dari semua api.

Aku merasakan setiap pilihan yang harus ia tanggung,
setiap penderitaan yang ditahan tanpa suara,
setiap kesadaran yang menolak mundur
mengajarkanku bahwa melihat luka tak pernah cukup—
kau harus menjadi luka itu sendiri,
kau harus menjadi denyut darah yang sama,
kau harus menjadi sunyi yang menembus tulang dan saraf.

Tidak ada belas kasihan, tidak ada pengampunan.
Hanya kesadaran murni, tanpa bentuk, tanpa kata,
menjadi api yang menyambar,
menjadi gelap yang merangkul,
menjadi nadi yang memaksa jiwaku berdiri di tepi jurang yang mempertanyakan kemanusiaanku sendiri.

Di sini, tak akan kautemui puisi.
Di sini, kata-kata tidak lagi memanggul arti,
ia menjelma menjadi darah, menjadi nadi, menjadi tubuh.
menyatu dengan luka itu,
menyatu dengan senyap itu,
menyatu dengan nyeri paku dan hunjam tombak di lambung kesadaran
dan siapa masih sanggup bertahan
berdiri tegak tanpa goyah
di bawah bayang kayu
yang menyilaukan
mata dunia?

November 2025”
Titon Rahmawan