Penderitaan Quotes

Quotes tagged as "penderitaan" Showing 1-17 of 17
Pramoedya Ananta Toer
“Kehidupan ini seimbang, Tuan. Barangsiapa hanya memandang pada keceriaannya saja, dia orang gila. Barangsiapa memandang pada penderitaannya saja, dia sakit.”
Pramoedya Ananta Toer, Child of All Nations

Helvy Tiana Rosa
“Penderitaan yang sesungguhnya adalah ketika kamu kehilangan kepercayaan diri dan harapan. Ketika Allah tak ada dalam tujuan hidupmu ”
Helvy Tiana Rosa, Tanah Perempuan

Pramoedya Ananta Toer
“Selama penderitaan datang dari manusia, dia bukan bencana alam, dia pun pasti bisa dilawan oleh manusia.”
Pramoedya Ananta Toer, Child of All Nations

Pramoedya Ananta Toer
“Revolusi Perancis, mendudukkan harga manusia pada tempatnya yang tepat. Dengan hanya memandang manusia pada satu sisi, sisi penderitaan semata, orang akan kehilangan sisinya yang lain. Dari sisi penderitaan saja, yang datang pada kita hanya dendam, dendam semata...”
Pramoedya Ananta Toer, Child of All Nations

“Dikehendakinya manusia untuk hidup, diberikannya kesenangan sekaligus penderitaan yang mendampingi ia sampai mati. Kerinduan akan kebahagian serta membenci diri sendiri menjadi hal yang indah sekaligus mengerikan.”
Randy Juliansyah Nuvus

Titon Rahmawan
“Penderitaanku yang paling utama adalah kemelekatanku pada dunia ini. Namun bukan dunia yang menjadi sumber penderitaan itu melainkan kelemahan jiwaku sendiri.”
Titon Rahmawan

M. Aan Mansyur
“& apabila di sana kautemukan
cinta, di antara seluruh penderitaan
yang menimpa hidupmu, berbahagialah
akhirnya ada satu penderitaan

yang bisa kaupilih sendiri.”
M. Aan Mansyur, Mengapa Luka Tidak Memaafkan Pisau

“Kadang ia merasa sangat lucu, pekerjaan kakeknya sebagai tukang kuburan membuat pria tua itu selalu berseri mendengar kabar jika akan ada orang yang pergi. Inilah ironisnya hidup, akan selalu ada orang yang berbahagia di atas penderitaan orang lain.”
Devania Annesya, Elipsis

“Ares bilang itu yang namanya kata hati. Sesuatu yang muncul ketika kau mengasah hatimu. Sesuatu yang dimiliki semua orang namun tidak semua orang sadar memilikinya. Hatimu perlu diasah oleh rasa sakit, pengalaman hidup, dan penderitaan. Jadi apa hatiku juga telah terasah?”
Devania Annesya, Queen: Ingin Sekali Aku Berkata Tidak

Dian Nafi
“Mereka tidak berdiri di atas penderitaan siapapun. Mereka bersama tidak untuk melukai siapapun.”
Dian Nafi, Gus

“Mengapa kita harus menuliskan hal-hal semacam bahagia, bila hanya kesedihan yang kerap kita derita?”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)

“Penderitaan itu penting, agar manusia lebih siap menghadapi kematian.”
Syarif Maulana, Kumpulan Kalimat Demotivasi II: Panduan Hidup Bahagia Untuk Medioker

Seno Gumira Ajidarma
“Entahlah, tapi kurasa kalau engkau menginginkan kebahagiaan, anakku, engkau harus mencarinya, tapi dalam pencarian itu mungkin kamu akan menderita. Dalam penderitaan itulah engkau akan menjadi matang, dan seorang yang matang akan mudah bahagia.”
Seno Gumira Ajidarma, Kitab Omong Kosong

Titon Rahmawan
“*Potret*

Hujan menyanyi lirih
Tempias menembus terpal
Sepasang mata berkubang perih
Menatap mendung kelam
Tangan letih memeluk
tubuh sang bayi
Angin merintih semalaman
Detak tak teraba
menahan gemuruh
perut yang lapar. Dingin ubin emperan toko.

Pucat bibir mungil
terlepas puting kempis
dada bunda.

November 2025”
Titon Rahmawan

Titon Rahmawan
“CORPUS CRUENTUM
(Detak Nadi Ibu di Bawah Kayu Salib)

Aku menahan duka dunia di telapak tanganku,
tangan yang gemetar, tetapi tetap menahan,
tangan yang berusaha memeluk apa yang tak bisa kugenggam.

Di sini, darahnya mengalir sebagai nadi yang bersatu dengan nadiku.
Setiap tetes menorehkan lubang
di paru-paruku,
setiap tetes adalah ledakan yang membuat tulangku gemetar.
membuat jantungku bergetar hingga
ke inti yang paling sunyi.

Aku mendengar keheningan yang lebih keras dari jeritan.
Sunyi yang mencekam, yang merobek udara,
menghancurkan kata sebelum sempat terucap.
Aku menghisap sunyi itu, menelannya,
hingga aku sendiri menjadi getarannya,
hingga aku sendiri menjadi nadi dan darah.

Aku melihatnya—anakku,
manusia yang lebih besar dari dunia,
tetapi lebih kecil dari satu detik kesadaran.
Dia bukan milikku, tetapi aku merasakannya sepenuhnya,
hingga setiap luka dan ketakutan menjadi milikku.
Cinta ini bukan cinta biasa.
Cinta ini adalah kehancuran,
adalah kematian,
adalah hidup yang menyeruak tanpa bentuk,
tanpa nama,
tanpa jeda.

Sesuatu yang tak bisa
aku nyatakan dalam kata-kata.

Aku menolak berpaling.
Aku menolak menutup mata.
Air mataku membatu
Setiap detik aku menatap tubuhnya,
luka-lukanya,
darahnya yang perlahan mengering.
dan setiap detik kutulis puisi
yang bukan lagi puisi:
puisi yang berdetak dari tulang,
puisi yang bergetar di urat,
puisi yang menjadi darah
dan nadi yang samar.

Ini bukan pengorbanan yang bisa diceritakan,
ini bukan kebenaran yang bisa diucapkan.
Ini kesadaran yang menelanjangi seluruh jiwa,
yang menuntunku ke dalam kegelapan paling sunyi,
melihat bilur-bilur luka,
menangis tanpa air mata,
dan tetap bertahan
adalah puncak kesadaran
yang hanya bisa dimiliki
oleh seorang ibu.

November 2025”
Titon Rahmawan

Titon Rahmawan
“LITANI DARI KAYU SALIB

Aku mendengar getar nadi yang berdenyut dari tangannya,
menjadi aliran yang memaksa paru-paruku berdetak dalam ritme kematian yang menyesakkan,
setiap tetes darahnya adalah tarian bisu yang membakar sarafku,
menembus semua ruang
yang sebelumnya
tak ada.

Di bawah kayu itu, ia tidak menjerit.
menahan segala sakit
yang tak terlukiskan,
mengalirkan dera itu ke setiap urat,
ke setiap tulang,
hingga aku sendiri menjadi daging
dan darahnya,
hingga aku sendiri menjadi luka
dan air mata yang tak berbentuk.

Aku melihat dan merasakan:
kehidupan dan kematian menyatu dalam batas yang bukan jurang.
Manusia tidak lagi berdiri di luar kesadaran selain kebebalan dan kedegilan jiwanya sendiri.
Dia menatapku dari mata yang remuk,
tetapi menatap dengan kornea yang seterang matahari
dengan sunyi yang lebih menyengat
dari semua api.

Aku merasakan setiap pilihan yang harus ia tanggung,
setiap penderitaan yang ditahan tanpa suara,
setiap kesadaran yang menolak mundur
mengajarkanku bahwa melihat luka tak pernah cukup—
kau harus menjadi luka itu sendiri,
kau harus menjadi denyut darah yang sama,
kau harus menjadi sunyi yang menembus tulang dan saraf.

Tidak ada belas kasihan, tidak ada pengampunan.
Hanya kesadaran murni, tanpa bentuk, tanpa kata,
menjadi api yang menyambar,
menjadi gelap yang merangkul,
menjadi nadi yang memaksa jiwaku berdiri di tepi jurang yang mempertanyakan kemanusiaanku sendiri.

Di sini, tak akan kautemui puisi.
Di sini, kata-kata tidak lagi memanggul arti,
ia menjelma menjadi darah, menjadi nadi, menjadi tubuh.
menyatu dengan luka itu,
menyatu dengan senyap itu,
menyatu dengan nyeri paku dan hunjam tombak di lambung kesadaran
dan siapa masih sanggup bertahan
berdiri tegak tanpa goyah
di bawah bayang kayu
yang menyilaukan
mata dunia?

November 2025”
Titon Rahmawan

Titon Rahmawan
“JENAWI

I. Kincah Belanga

Di antara gemeretak lentik kayu api                                                                                                                             gamang tualang di atas tempaan besi                                                                                                                         gabak mata di balik tungku pembakaran                                                                                                                          dan bayang kuasi samudra air mata                                                                                                              teraduk sempurna dalam kincah belanga.                                                                                          Adakah sebuah perasaan lain yang mungkin,                                                                                     selain cinta? Jerih sebatang besi atau mungkin                                                                                            perih kersani yang niscaya beradu di antara hati                                                                          dan jantung maut, saat keduanya bertaut?

Duhai pemutus rantap, jangan sekali-kali mata                                                                                   ditentang nyata, sebab kena tuahnya mati Belanda                                                                                                           Duhai engkau penetak leher lembu betina.                                                                                       Akankah kaubawa keping secuil hatiku                                                                                                     ke mana pun engkau pergi berkelana? Seperti                                                                                         kerat jangat dalam bungkus selampai putih                                                                                             Pada tajam mulut atau garit luka dingin parasmu                                                                            yang hadir dalam ruap mimpi dan balau igauanku.                                                                         Engkau mungkin saja sekadar fatamorgana                                                                                     di mana aku mengada dalam tiap tetes                                                                                            bening air mata rembulan, tempat di mana                                                                                   dulu aku melabuhkan segala kerinduan.”
Titon Rahmawan