Ironi Quotes

Quotes tagged as "ironi" Showing 1-15 of 15
Seno Gumira Ajidarma
“…Dunia ini penuh dengan keajaiban karena hal-hal yang tidak masuk akal masih terus berlangsung. Seorang fotografer ingin membagi duka dunia di balik hal-hal yang kasat mata….para fotografer membagi pandangan, tetapi yang memandang fotonya ternyata buta meskipun mempunyai mata. Keajaiban dunia adalah suatu ironi, di depan kemanusiaan yang terluka, manusia tertawa-tawa.”
Seno Gumira Ajidarma, Kisah Mata: Fotografi antara Dua Subyek : Perbincangan tentang Ada

Goenawan Mohamad
“Pada masa ini sebuah teori sering terdengar seperti sebuah omong besar yang melalaikan kenyataan bahwa selalu ada hal kecil yang tak tercakup. Pada masa ini kita tak bisa sepenuhnya berharap ada hal yang universal yang akan disetujui semua orang, sebagai dasar dan tujuan bersama yang menyebabkan teori itu sah. Sebab itu ada yang menganjurkan: mari kita hidup dengan ironi. Kita tak perlu ngotot dengan satu premis. Selalu harus ada jarak dengan kesimpulan dan dugaan kita sendiri. Kita hanya perlu berpegang prinsip, "Jangan kejam kepada yang lain" .”
Goenawan Mohamad, Catatan Pinggir 7

Goenawan Mohamad
“Syahdan, Presiden Sarkozy menghadiahkan komik Asterix kepada anak Presiden Obama. Saya tak tahu apa pesannya. Tapi mungkin ini: di dunia ini, nak, humor dan ironi lebih menyelamatkan kita ketimbang impian tentang kekuasaan dan keagungan…

~Majalah Tempo Edisi Senin, 18 Oktober 2010”
Goenawan Mohamad

Laksmi Pamuntjak
“Nggak ada yang lebih menyedihkan di dunia ini, daripada permintaan maaf yang nggak pada tempatnya.”
Laksmi Pamuntjak, Amba

Titon Rahmawan
“Aku kira inilah yang disebut ironi kehidupan. Ketika aku merasa pintar, aku tidak dihargai dan aku tidak mendapatkan apa-apa. Namun ketika aku merasa bodoh, aku bisa belajar sesuatu dan kemudian menjadi bijak.”
Titon Rahmawan

Ivan Turgenev
“[…] Ja, jeg undte mig ikke en Gang den Forestilling, at jeg hengav mig til Ironiens bittersøde Følelse… nej, for vil De sige mig - hvad har en Solo-Ironi at betyde?”
Ivan Turgenjev, Sketches from a Hunter's Album
tags: ironi

Witold Gombrowicz
“Çünkü lezzetli olan hiçbir şey, (“lezzetli” sözünün kendisinin de işaret ettiği şekilde) korkunç olamaz, sadece lezzetsiz olan yenilemez olandır. Şiirde ve düzyazıdaki o güzel, o romantik ya da klasik suçu, tecavüzleri, göz oymayı hasetle anımsıyorum – reçelli yağın korkunç olduğunu, Şekspir’deki gibisinden şahane ve güzel bir suç olmadığını biliyorum. Yo, bana o istiridye gibi kolaycacık yutu yutuverdiğiniz uyaklanmış acılarınızdan söz etmeyin, söz etmeyin ayıbın şekerlemelerinden, dehşetin çikolatalı kreminden, sefaletin kurabiyelerinden, acının bonbonlarından ve yılgının doyumsuz lezzetlerinden. Ve korkusuz parmağıyla toplumsal yaraların en karanlıklarını, misal altı kişilik bir isçi ailesinin açlıktan ölmesini kaşıyan bir hanım kızımız, toplumun karşısında aynı parmakla kulağını karıştırmaya niye cesaret edemeyecektir, niye diye soruyorum. Bu, çok daha korkunç bir şey olurdu da ondan. ... Tat almaksa bizim en birinci işimiz olduğundan tat almak zorundayız, tat, varsın olsun koca, karı, çocuklar, lime lime olsun yürek, ama yeter ki leziz olsun, enfes olsun!”
Witold Gombrowicz

Terry Pratchett
“Gagadan başka bir şeyiniz yokken alayla sırıtmak imkânsız olmalıydı ama papağan bunu yine de başardı. "Hani geceleyin gelirler ve seninle tutkulu bir şekilde şey..." "Duymuştum," dedi Rincewind. "Acayip tehlikeli şeylermiş." Papağan başını yana yatırdı. "Ama hiç başaramadı. Çağırabildiği tek şey, bir migrener oldu." "O ne?" "Her gece gelip 'başım ağrıyor' diyen bir iblis.”
Terry Pratchett, Eric

Karl Ove Knausgård
“Vi lever i nullvisjonens tid. Det betyr også at vi har null visjoner.”
Karl Ove Knausgård, Min kamp 6

“Tentang humanity yang dimonetisasi. Menebar empati, mempergendut rekening pribadi.
Menjadi pemuka agama, ceramah dimana-mana.
Ceraikan istri pertama, cari yg lebih muda.”
nom de plume

Maxim Gorky
“... kenyataannya, orang yang paling sering bercanda adalah orang yang paling sering menderita.”
Maxim Gorky, Mother

Titon Rahmawan
“*Potret*

Hujan menyanyi lirih
Tempias menembus terpal
Sepasang mata berkubang perih
Menatap mendung kelam
Tangan letih memeluk
tubuh sang bayi
Angin merintih semalaman
Detak tak teraba
menahan gemuruh
perut yang lapar. Dingin ubin emperan toko.

Pucat bibir mungil
terlepas puting kempis
dada bunda.

November 2025”
Titon Rahmawan

Titon Rahmawan
“Marilyn III
(The Last Room, The Last Mirror)

Di ruang rias yang tak punya jendela,
wajahmu terbelah menjadi tiga:
yang dipuja, yang disembunyikan,
dan yang dibungkam.
Cermin retak memantulkan kelopak krisan di matamu
seperti orbit bintang mati,
terlalu lelah untuk bersinar lagi.

Kau pernah disebut dewi,
hasrat secuil debu digerus oleh mesin industri yang kesemuanya berkelamin laki-laki.
Tubuh molek yang dijahit ulang oleh kilatan kamera,
direkayasa menjadi hieroglif kecantikan namun menolak pasrah:
"Aku tidak keberatan hidup di dunia pria, selama aku bisa menjadi wanita di dalamnya."

Di bawah sorot lampu studio,
kau berdiri seperti ritual pemanggilan arwah—
senyum yang dipaksa tumbuh di tengah gurun,
jiwa yang tak pernah mengenal hujan dan keteduhan.

Ada catatan samar di sayap malam:
“Marilyn hanyalah ide. Raga ilusi yang dipakai untuk menyihir dunia.”
Bayangan yang merambat di atas panggung
seperti binatang terluka
mencari pintu keluar
yang tak pernah ada.

Kau belajar menertawakan diri sendiri
sebelum dunia lebih dulu menertawakanmu.
Begitulah hukum dunia pertunjukan:
Ia yang hidup harus menjadi ilusi,
dan ilusi harus belajar menanggung kematian.

Dalam seprai satin putih,
kau menghilang tanpa kabar—
seperti lilin yang menolak terbakar
karena api sudah lama bosan menghanguskan mimpimu.

Namun dunia masih memanggil namamu
dengan nada seperti doa yang kehilangan Tuhan.
Mereka menyalakan replika lilin
di museum Tussauds.
dan menyangka itu cukup
untuk menebus semua luka yang mereka tonton tanpa berkedip.

Oh Marilyn—
bukan tragedi yang membuatmu abadi,
melainkan cara dunia menelanmu hidup-hidup
dan melihatmu tetap tersenyum
seperti dalam iklan pasta gigi.

2022”
Titon Rahmawan

Titon Rahmawan
“MARILYN V
(AUTOPSY: DISSECTING REALITY)

Tidak ada bintang.
Tidak ada ikon.
Tidak ada nama yang perlu disebutkan.
Yang ada hanya tubuh perempuan
yang diseret ke atas meja rias
seperti bangkai hewan percobaan
yang tak bisa menolak.

Panas lampu sorot menampar kulitnya
bukan untuk memuja,
tapi untuk mencari bagian mana
yang masih bisa dipasarkan
di media massa.

Rambutnya disisir seperti jerami,
matanya dipaksa membuka,
Bibir merah yang tak lagi basah
kerongkongan kering
karena suara bukanlah miliknya.

Sudah lama
industri tidak mencintainya—
industri hanya lapar,
dan wajahnya adalah komoditas murah
untuk mengenyangkan mesin hiburan
yang tidak pernah berhenti bermasturbasi.

Tidak ada mitos.
Tidak ada tragedi.
Yang ada hanya operasi kosmetik
yang diulang sampai wajahnya menyerupai
topeng cosplay yang dicetak massal.

Setiap senyum dipasang
seperti plester luka,
bukan untuk menutup rasa sakit
tapi untuk menyamakan dirinya
dengan ratusan wajah lain
yang siap didaur ulang.

Jika ia menangis,
kamera akan merekam.
Jika ia tertawa,
sutradara akan menyuruhnya mengulang adegan.
Jika ia pingsan,
tata rias akan memperbaiki
lipstick dan foundationnya.

Kesadaran mengabur
jiwa mengevaporasi,
yang tersisa cuma daging mekanis
yang hanya tahu cara berjalan
ke tempat syuting berikutnya.

Dunia memaknainya
entah sebagai apa:
dewi, rembulan atau
sekadar boneka.
Padahal ia hanyalah produk
yang tidak pernah diminta persetujuannya.

Ketika akhirnya ia rebah,
dan tubuhnya berhenti meniru kehidupan,
tidak ada keheningan sakral,
tidak ada kesedihan global—
hanya staf hotel yang mengetuk pintu,
mengeluh soal waktu check-out.

Tubuh itu dibawa pergi
seperti koper rusak:
diam, berat, dan tak lagi berdetak.

Esok harinya,
studio mempekerjakan wajah baru.
Lebih muda.
Lebih murah.
Lebih pasrah.

Tidak ada warisan.
Tidak ada keabadian.
Tidak ada pelajaran moral.

Yang ada hanya dunia
yang tak henti mengunyah tubuh
dan wajah perempuan
dan menyebut ampasnya
sebagai “legenda”.

November 2025”
Titon Rahmawan

Titon Rahmawan
“Kay Dalam Bayangan Absurditas (Bayang Psikis Gelap, Titik Nol)

Kay tidak pernah berbicara.
Bahkan tidak pernah menoleh.
Ia berjalan di dalam kepalaku
seperti angin yang lupa bahwa ia adalah angin.

Ia tidak tahu aku ada.
Ia tidak pernah tahu.
Dan mungkin itu cara alam
melindungiku dari keruntuhan
yang lebih dalam.

Aku minum dari dirinya
seperti haus yang mencari sumur
di tengah gurun yang bahkan tidak tahu
bahwa ia adalah gurun.

Ia menjadi mata airku
tanpa pernah mengalir dengan sengaja,
menjadi cahaya yang jatuh
tanpa pernah berniat menerangi.

Ironinya:
aku hidup dari sesuatu
yang tidak pernah hidup untukku.

Dan mungkin di situlah
aku menemukan makna
yang bahkan Tuhan pun
enggan untuk menjelaskan.

2023”
Titon Rahmawan