,

Kemiskinan Quotes

Quotes tagged as "kemiskinan" Showing 1-16 of 16
Goenawan Mohamad
“Memang tak enak untuk mengingat-ingat bahwa kebahagiaan sering perlu uang yang terkadang amis dan tenaga kasar yang keringatnya berbau aneh. Kebahagiaan sering perlu sejumlah tetangga, yang tak jarang lebih miskin.”
Goenawan Mohamad, CATATAN PINGGIR 3

T. Alias Taib
“dengan seberkas kunci di tangan
kubuka seribu liang luka
yang sekian lama tertutup
kubiarkan seribu gabus duka
yang mengapung di dalam dada
berkumpul di depan matamu
agar kau mengerti:
makna makmur di tengah lapar
makna harmoni di tengah inflasi
makna mewah di tengah gundah

(kunci)”
T. Alias Taib, Seberkas Kunci

T. Alias Taib
“umpamanya seorang buruh suatu petang
yang sedang membersihkan longkang
sebagai ganti daun kering dan kotoran
ia menyapu potongan-potongan nasib
serpihan-serpihan masa depan dan
doa rakan-rakannya yang bertaburan

(kunci)”
T. Alias Taib, Seberkas Kunci

“Seakan takada habisnya, ketidakadilan selalu datang
silih berganti di negeri sekecil ini. Berbagai macam
cara dan alasan diberdayakan semaksimal mungkin
dengan tujuan untuk mengotak-atik hukum
supaya bisa berjalan (semau gue).”
Robi Aulia Abdi

“Engkau membawa pulang keruh air
ke jemuran nasibmu yang berlendir
engkau letakannya ke dalam
cawan nestapa keluargamu
yang dibelah petir kesengsaraan.

(Dukamu: Nelayan, Petani dan Penoreh)”
Wadi Leta S.A.

“Engkau membawa pulang hanyir lumpur
ke teratak nasibmu yang bocor
engkau letakkannya ke dalam
tempayan duka keluargamu
yang digegar halilintar penderitaan.

(Dukamu: Nelayan, Petani dan Penoreh)”
Wadi Leta S.A.

T. Alias Taib
“tak ada lagi ruang kosong
di rahim kota ini
kecuali kaki
gedung-gedung yang sombong
kecuali lidah
kita yang terjulur

(sebuah warung)”
T. Alias Taib, Seberkas Kunci

Tere Liye
“Dalam sistem dunia sekarang, pemerintah tidak bisa dipercaya, dipenuhi oleh politisi korup dan jahat. Sistem formal dan legal dunia juga korup, kapitalisme, demokrasi, itu cara jahat yang dilegalisasi. Kemiskinan dan kelaparan tetap ada di mana-mana, peperangan, ketidakadilan. Sistem itu sudah rusak.”
Tere Liye, Pergi

“Sedang kini engkau bertanya,
bagaimana hal seremeh uang
dapat membunuh siapa saja?

Sederhana saja,
jawabannya adalah
dengan tidak memberi.”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)

“Pada bermacam-macam wujud kemiskinan, keserakahan memiliki wajah yang sama.”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)

“Mereka yang berfatwa
bahwa dalam hidup
uang bukanlah segalanya,
barangkali adalah mereka
yang hidupnya serba berkecukupan.

Maka jangan terlalu percaya
dengan omong kosong mereka!
Sebab kita masih hidup
mengais makanan sisa.”
Robi Aulia Abdi

Pramoedya Ananta Toer
“Rakyat sekarang miskin karena dimiskinkan oleh kaum elit. Sebelum kemerdekaan, mereka dirampok oleh penjajah, sekarang mereka dirampok oleh kaum elit kita sendiri.”
Pramoedya Ananta Toer, Saya Terbakar Amarah Sendirian!

Soe Tjen Marching
“Mereka yang makmur cenderung segan mempertanyakan: untuk apa bertanya-tanya kalau hidup mereka sudah nyaman? Sedangkan yang kere dan ditindas juga terlalu takut untuk tanya: mereka sudah terlalu sibuk memikirkan caranya mengisi perut.”
Soe Tjen Marching, Dari Dalam Kubur

Ahmad Tohari
“Bila si primitif adalah orang kampung di sekitar proyek yang miskin dan kurang terdidik, harap maklum. Namun kalau si primitif tadi adalah menteri, dirjen, kakanwil, dan seterusnya? Apa mereka tidak mencak-mencak bila dikatakan primitif?”
Ahmad Tohari, Orang-orang Proyek

Titon Rahmawan
“Ingatlah, uang hanyalah alat ukur. Ia tidak menentukan siapa dirimu.
Kau bisa kaya di mata dunia, tapi miskin di mata jiwamu sendiri.
Dan kau bisa tampak sederhana, namun bisa juga tak ternilai di mata semesta. Karena nilai diri adalah mata uang yang tak pernah mengalami inflasi”
Titon Rahmawan

Titon Rahmawan
“*Potret*

Hujan menyanyi lirih
Tempias menembus terpal
Sepasang mata berkubang perih
Menatap mendung kelam
Tangan letih memeluk
tubuh sang bayi
Angin merintih semalaman
Detak tak teraba
menahan gemuruh
perut yang lapar. Dingin ubin emperan toko.

Pucat bibir mungil
terlepas puting kempis
dada bunda.

November 2025”
Titon Rahmawan