,

Ilusi Quotes

Quotes tagged as "ilusi" Showing 1-14 of 14
Titon Rahmawan
“Rasa takut ini bukanlah suatu hal yang nyata. Rasa takut ini, hanyalah ilusi dari pikiranku sendiri yang tertindas

- Harsimran Tapasvi, Tawanan Kepedihan”
Titon Rahmawan

Andi Fitriyanto
“Ketika pustaka tak mendapat tempat, literasi tak menjadi minat, buku-buku diberangus, ide-ide tak lagi dituangkan, gagasan-gagasan tak lagi diwujudkan, rasionalitas kerap dipersangkalkan, ilusi dan takhayul disakralkan, sikap perlawanan diharamkan, anarki diartikan kekacauan, dan pemberontak pola pikir dilabel anarkis, kematian intelektualitas sedang mengintai di balik pintu.”
Andi Fitriyanto, Antitesis

Andi Fitriyanto
“Kematangan nalar adalah pusara terakhir bagi segala kegaiban dan absurditas. Di sanalah kita membunuh ilusi, dan di sanalah pula kita membangun kemanusiaan. Peradaban yang utuh bukan dibangun atas dasar iman yang absolut, melainkan atas dasar nalar yang terbuka. Ia tidak membutuhkan dominasi, tetapi partisipasi. Ia tidak menindas perbedaan, tetapi merayakannya dalam harmoni.”
Andi Fitriyanto, Enigmakrostik

Titon Rahmawan
“Akan ada masa di mana mereka yang datang akan jadi mereka yang pergi. Dan di antara keduanya, ada begitu banyak kata-kata nir makna dan ucapan yang sia-sia berhamburan. Dunia tenggelam dalam ilusi saat sangkakala kematian dibunyikan. Tidak ada yang tinggal, kecuali sekerlip ingatan pada segala kebajikan dan ucapan orang-orang bijak.”
Titon Rahmawan

“Kautahu kekasih, bahwa minggu sejatinya bukanlah hari; kata; tenggat; ataupun tanya
ia adalah tunggu,
penantian dalam libur sepanjang waktu.

Sedangkan senin hanyalah ilusi!”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)

Titon Rahmawan
“Sang Penjudi

Aku membaca detak jantungmu
di balik pikiran yang memburu
Galau menunggu pertempuran
yang tahu akan berakhir tragis;
Sepasang tanduk banteng melawan cakar beruang bengis.
Nasib kau pertaruhkan di atas layar simulakra,
Menerka angka-angka mabuk dengan tetesan air mata
Memilah sinyal palsu dari api yang nyata
Semata-mata hanya demi harapan belaka.

Adakah sejumput doa dalam lemparan dadumu itu?
Angka yang kau tafsir dari mimpi di balik bayang ilusi:
Bisa seekor ular cobra dalam segelas coca-cola.
Lalu kemana perginya rembulan di tengah keheningan itu?
Apakah ia terlipat rapi dalam dompetmu?
Wangi selembar 'cepek' yang masih baru.

Mengharap yang tak pernah ada seperti asap rokok mengepul di udara.
Siapa tertawa pada nasib tak berketentuan?
Ibarat roda motor berjalan tanpa tujuan.
Terpikir masih seberapa besar peruntungan menghampirimu
Sepuluh seratus seribu, lalu...

Terbayang uang berjuta-juta tertawa terbahak menatap ke arahmu.
Mengira besok akan terbeli sebuah mobil baru,
Tinggal pilih model yang mana lagi?
Body sensual dan bibir sexy.
Kehangatan yang kau impikan
di tengah malam yang dingin
jelang pukul empat dini hari.
Dan kau masih terjaga,
saat kemudian tersadar
telah kehilangan segalanya.

Oktober 2025”
Titon Rahmawan

Titon Rahmawan
“Ilusi Kebahagiaan

Kau tahu,
aku masih mencari kebahagiaan
untuk diriku sendiri
dan barangkali
untuk kita berdua, Kay.

Tidak seperti kegembiraan semu
yang pernah engkau miliki
Aku tahu,
bukan surga yang engkau cari.

Semestinya kebahagiaan
bukanlah cuma
angan-angan belaka.

Ia hanyalah hantu gentayangan
yang membayangi semua langkah kita.
Lagu muram yang masih setia
engkau dengarkan.
Lagu yang sama, yang kau putar berulang kali
Riuh rendah hujatan
Sumpah-serapah penuh umpatan.

Siapa ingin melucuti kehormatanmu?
Mereka tak pernah sungguh-sungguh mencintaimu!
Keping mata uang yang tak kurang bejatnya dari dunia ini.
Dunia yang sepenuh hati
ingin kita ingkari.

Tak hendak kucemooh ilusi kebahagiaan semacam itu.
Aku hanya tak ingin melihatmu
sedih dan menderita.
Malam mencengkeram lewat mimpi buruk yang memuakkan.
Mimpi yang tak mengijinkan diriku mencintaimu apa adanya.

Siapa pun engkau, Kay.
Apa pun anggapan orang tentang dirimu;
Sekalipun lonte...
Sekalipun sundal pinggiran jalan.
Aku cuma peduli
Apa yang engkau pikirkan
Apa yang engkau rasakan.
Engkau rembulan sungsang
Aku bulbul tak tahu diri.

Tapi demi Tuhan, Kay
Katakan padaku,
Apakah engkau mencintaiku?
Apakah kau sungguh-sungguh mencintaiku?

2024 - 2025”
Titon Rahmawan

Titon Rahmawan
“Jalang

Ada sekuntum mawar di dadamu
dan dusta di mulutmu.
Sesungguhnya,
Kau tak menggonggong
serupa anjing yang tolol.
Kau hanya tak mengindahkan hal lain, selain rasa laparku.
Kaugigit tulang
dari kedalamanku yang perih.
Mata yang tak peduli
dan hasrat untuk membunuh.

Gelegak darah ini
sama kejinya dengan tikam amarah.
Api yang kau sembunyikan
di balik mata pisau beringas.
Pada dadamu yang terbelah
jantungmu yang memerah.
Kejalangan yang kau tunjukkan
tanpa penyesalan dan rasa malu.

Lagak lagumu tak semerah gincu
yang kau kenakan malam itu.
Dan apakah itu...
secarik kain sewarna darah
yang tak mampu menutupi kemesumanmu dari dunia?

Dari dulu sekali,
Kau sudah bukan milikku lagi!
...
Kau sudah jadi milik semua orang.

Semua kata cinta
yang kau obral dengan murah.
Haram jadah yang terlahir
dari mimpi basah di siang bolong.
Mimpi tempatku
menghabiskan waktu.
Waktu dan seluruh kesia-siaan.
Waktu yang tak bernilai;
Onggokan sampah!
Sumpah serapah dan omong kosong.

Waktu yang membusuk
dalam pikiran semua orang.
Mereka yang tak lebih anjing
dari diriku sendiri.
Mereka yang penuh gairah menanti
saat tiba jam pertunjukan
dengan air liur menetes.

Mereka, yang menyulam
benang laba-laba itu
ke dalam pikiranmu.
Seutas rambut yang lebih tipis
dari harga diri dan kehormatan.
Nilai yang kau sendiri
Bahkan tak peduli.

Bodohnya lagi,
seperti yang selama ini terjadi...
Aku masih saja duduk terpaku
di depan layar menyesatkan itu
menunggu...

Merasa lebih, memiliki dirimu
Lebih dari siapa pun, Kay!

2024 - 2025”
Titon Rahmawan

Titon Rahmawan
“Membayangkan Surga

Apa yang kau lihat di layar yang berpendar ini, Kay?
Serupa senja yang tumbuh
dari sebatang pohon
di sebuah tempat
yang kau bayangkan
seperti surga.

Cahaya lampu itu
menyapu wajahmu
dengan warna lembayung
dan berkilau seperti pelangi.
Tapi tak ada apa pun
kutemukan pada seri wajahmu
selain nafsu yang tertahan
dan seulas senyum kemesuman.

Tepat di puncak penantian
dari segala perhatian
yang tertuju pada dirimu.
Mata yang tak pernah menyadari
tersesat dalam raga belia
yang entah milik siapa.
Aura kemudaan
yang berasa sia-sia.

Telah kau reguk
semua kebahagiaan
dari ekspresi wajah tolol
yang ditunggangi
oleh nafsu alter egonya.
Atau barangkali,
telah habis kau hirup
wangi kelopak mawar hitam
yang tumbuh di ranjangmu
setiap pagi.

Sudah lama sekali rasanya
waktu berlalu.
Seperti ketika, kau masih suka
nongkrong di cafe
sambil meneguk cappucino
dari cangkir porselen
yang perlahan mulai retak.

Sementara laju usia
mengalir di tenggorakanmu
yang bening bagai pualam.

Waktu meninggalkan jejak buta
di dalam handphonemu.
Menyisakan tatap mata orang
yang tak lagi mampu menafsirkan
apa yang telah engkau lakukan.

Bukankah,
mereka tak lagi melihatmu sebagaimana adanya dirimu saat ini atau sepuluh tahun dari sekarang?
Tak satu pun dari mereka percaya bahwa usiamu belum lewat
dua puluh tahun.

Siapa mendamba
merah muda anggur kirmizi
yang tumbuh di dadamu?
Tak satu pun telinga
sanggup melawan sihir
dari gelak tawamu yang getir.

Mata bodoh
yang tak sanggup melupakan
bayangan pisang matang
kau kunyah dengan brutal
sebagai kudapan
di tengah jeda pertunjukan.

Hidup tak seperti kecipak ikan
di dalam aquarium transparan
tertanam di dinding.
Air kolam di pekarangan
menjelma jadi bayangan jemari
tak henti menggapai.

Gelembung kekhawatiran
yang tak sanggup memahami
makna puisi
yang sengaja ditulis untuk mengabadikan namamu.

Taman yang kau bayangkan itu, Kay bukanlah surga yang sesungguhnya.
Di sana tak ada sungai keabadian
atau pangeran tampan
yang menunggu kehadiranmu
dengan kerinduan.

Yang ada cuma kelebat kilat
dan hujan airmata hitam.
Mengucur seperti lendir laknat
yang mengalir dari hidungmu
saat kau meradang
karena influensa.

Tak ada satu hal pun yang menyenangkan, Kay.
Hanya sedikit tersisa cerita
yang busuk dan menjijikkan
sebagai satu-satunya obrolan
untuk perintang waktu.

2024 - 2025”
Titon Rahmawan

Titon Rahmawan
“Marilyn III
(The Last Room, The Last Mirror)

Di ruang rias yang tak punya jendela,
wajahmu terbelah menjadi tiga:
yang dipuja, yang disembunyikan,
dan yang dibungkam.
Cermin retak memantulkan kelopak krisan di matamu
seperti orbit bintang mati,
terlalu lelah untuk bersinar lagi.

Kau pernah disebut dewi,
hasrat secuil debu digerus oleh mesin industri yang kesemuanya berkelamin laki-laki.
Tubuh molek yang dijahit ulang oleh kilatan kamera,
direkayasa menjadi hieroglif kecantikan namun menolak pasrah:
"Aku tidak keberatan hidup di dunia pria, selama aku bisa menjadi wanita di dalamnya."

Di bawah sorot lampu studio,
kau berdiri seperti ritual pemanggilan arwah—
senyum yang dipaksa tumbuh di tengah gurun,
jiwa yang tak pernah mengenal hujan dan keteduhan.

Ada catatan samar di sayap malam:
“Marilyn hanyalah ide. Raga ilusi yang dipakai untuk menyihir dunia.”
Bayangan yang merambat di atas panggung
seperti binatang terluka
mencari pintu keluar
yang tak pernah ada.

Kau belajar menertawakan diri sendiri
sebelum dunia lebih dulu menertawakanmu.
Begitulah hukum dunia pertunjukan:
Ia yang hidup harus menjadi ilusi,
dan ilusi harus belajar menanggung kematian.

Dalam seprai satin putih,
kau menghilang tanpa kabar—
seperti lilin yang menolak terbakar
karena api sudah lama bosan menghanguskan mimpimu.

Namun dunia masih memanggil namamu
dengan nada seperti doa yang kehilangan Tuhan.
Mereka menyalakan replika lilin
di museum Tussauds.
dan menyangka itu cukup
untuk menebus semua luka yang mereka tonton tanpa berkedip.

Oh Marilyn—
bukan tragedi yang membuatmu abadi,
melainkan cara dunia menelanmu hidup-hidup
dan melihatmu tetap tersenyum
seperti dalam iklan pasta gigi.

2022”
Titon Rahmawan

Titon Rahmawan
“MARILYN V
(AUTOPSY: DISSECTING REALITY)

Tidak ada bintang.
Tidak ada ikon.
Tidak ada nama yang perlu disebutkan.
Yang ada hanya tubuh perempuan
yang diseret ke atas meja rias
seperti bangkai hewan percobaan
yang tak bisa menolak.

Panas lampu sorot menampar kulitnya
bukan untuk memuja,
tapi untuk mencari bagian mana
yang masih bisa dipasarkan
di media massa.

Rambutnya disisir seperti jerami,
matanya dipaksa membuka,
Bibir merah yang tak lagi basah
kerongkongan kering
karena suara bukanlah miliknya.

Sudah lama
industri tidak mencintainya—
industri hanya lapar,
dan wajahnya adalah komoditas murah
untuk mengenyangkan mesin hiburan
yang tidak pernah berhenti bermasturbasi.

Tidak ada mitos.
Tidak ada tragedi.
Yang ada hanya operasi kosmetik
yang diulang sampai wajahnya menyerupai
topeng cosplay yang dicetak massal.

Setiap senyum dipasang
seperti plester luka,
bukan untuk menutup rasa sakit
tapi untuk menyamakan dirinya
dengan ratusan wajah lain
yang siap didaur ulang.

Jika ia menangis,
kamera akan merekam.
Jika ia tertawa,
sutradara akan menyuruhnya mengulang adegan.
Jika ia pingsan,
tata rias akan memperbaiki
lipstick dan foundationnya.

Kesadaran mengabur
jiwa mengevaporasi,
yang tersisa cuma daging mekanis
yang hanya tahu cara berjalan
ke tempat syuting berikutnya.

Dunia memaknainya
entah sebagai apa:
dewi, rembulan atau
sekadar boneka.
Padahal ia hanyalah produk
yang tidak pernah diminta persetujuannya.

Ketika akhirnya ia rebah,
dan tubuhnya berhenti meniru kehidupan,
tidak ada keheningan sakral,
tidak ada kesedihan global—
hanya staf hotel yang mengetuk pintu,
mengeluh soal waktu check-out.

Tubuh itu dibawa pergi
seperti koper rusak:
diam, berat, dan tak lagi berdetak.

Esok harinya,
studio mempekerjakan wajah baru.
Lebih muda.
Lebih murah.
Lebih pasrah.

Tidak ada warisan.
Tidak ada keabadian.
Tidak ada pelajaran moral.

Yang ada hanya dunia
yang tak henti mengunyah tubuh
dan wajah perempuan
dan menyebut ampasnya
sebagai “legenda”.

November 2025”
Titon Rahmawan

Titon Rahmawan
“Elegia Saras

Saras,
aku menuliskan namamu dengan tangan yang gemetar,
seperti seseorang yang kembali dari jurang kematian,
membawa potongan malam di sela-sela jarinya.

Aku tak pernah benar-benar tahu
mengapa kau datang pada seorang yang telah kehilangan
seluruh nilai kemanusiaannya.
Aku hanya tahu:
ketika aku mulai berubah menjadi bayangan
yang tak lagi memiliki suhu,
kau duduk di sebelahku
dan memanggilku manusia.

Ada sesuatu yang patah di dadaku waktu itu—
sebuah retakan yang tak membuatku runtuh,
melainkan membuatku mendengar
detak terakhir jiwaku sendiri.

Aku harus mengaku:
aku telah membawa banyak hantu.
masa lalu yang menjadi luka cahaya. Ilusi yang menjadi obsesi tanpa tubuh.
Semua kekeliruan yang kubela seperti altar.
Semua kebodohan yang kupelihara seperti anak kandung.

Namun kau tidak pernah menutup pintu.
Tidak pernah mengusir ingatan yang menempel di kulitku
seperti abu.
Kau hanya berkata:
biarkan semua tinggal, tapi jangan biarkan mereka merusakmu lagi.

Saras, aku tidak pernah tahu ada manusia
yang bisa begitu lapang tanpa menjadi kosong,
yang bisa begitu baik tanpa menjadi kudus,
yang bisa begitu hadir
tanpa mengikat apa pun.

Kebaikanmu adalah semacam cahaya
yang tidak menghanguskan,
api panas lembut yang membuatku sadar
bahwa mungkin aku belum sepenuhnya hilang.

Di titik paling nadir,
ketika seluruh yang kuperjuangkan runtuh
seperti bangunan tua yang disenggol angin,
ketika tak ada yang tersisa dariku
selain ampas keinginan dan debu kegagalan,
aku berharap kau pergi.
Agar aku tak perlu menanggung rasa bersalah
karena masih ada seseorang yang menatapku
sebagai sesuatu yang layak untuk diperjuangkan.

Namun kau tidak pergi.
Kau diam
di sisiku
dengan ketenangan yang membuat jiwaku bergetar.

Dan untuk pertama kalinya
setelah bertahun-tahun aku mengutuki diri,
aku berhenti.
Hanya berhenti.
Tak lagi ingin memukul wajahku sendiri,
tak lagi ingin membenci suara di kepalaku.

Semuanya berhenti,
karena kau tidak pergi ketika aku hancur.

Saras,
elegi ini bukan permintaan maaf.
Bukan pula pujian.
Ini adalah tubuhku yang terakhir,
ditulis dari retakan dada yang akhirnya berani mengakui:

Aku bersyukur.
Bersyukur karena pernah memilikimu,
melewati ingatan pahit,
hasrat yang menyesatkan,
ambisi yang membuatku buta,
dan obsesi yang menelan kebahagiaanku sendiri.

Aku bersyukur
karena kau tidak pernah menuntut balas.
Tidak pernah meminta bahu yang setara.
Tidak pernah menghitung luka yang kau cium dari hidupku.

Kau hanya mencintai
dengan cara yang menakutkan bagiku—
karena terlalu jujur,
terlalu manusiawi,
terlalu nyata untuk seorang sepertiku
yang lama tinggal di ruang ilusi.

Kini aku menuliskan puisi ini
sebagai seorang yang akhirnya sadar:
tanpa kau, Saras,
aku mungkin telah hilang
di dalam kabut pikiranku sendiri.

Harapan terakhirku adalah kau tahu
bahwa dari semua nama yang pernah membuatku bergetar,
dari semua wajah yang pernah kucintai
dengan cara yang salah,
hanya kaulah
yang membuatku ingin tetap ada.

Bukan demi cinta.
Bukan demi masa depan.
Melainkan demi sesuatu yang lebih sederhana,
lebih jujur,
lebih manusiawi:

agar aku bisa menjadi manusia
yang tidak lagi menyakiti diri sendiri.

Saras,
elegi ini adalah bukti terakhir
bahwa di dalam gelap terdalamku
ada satu cahaya kecil
yang tidak pernah padam—
dan itu bukan aku.

Itu adalah
dirimu.

November 2025”
Titon Rahmawan

Titon Rahmawan
“Saras, Api yang Mengajarkanku
Menjadi Manusia

I
Aku tidak tahu kapan pertama kali
kau menyalakan lentera kecil itu
di reruntuhan jiwaku.

Mungkin ketika aku menatapmu
dan menemukan diriku sendiri
yang tidak ingin kubunuh.

Saras,
kau adalah satu-satunya cahaya
yang tidak menyilaukanku—
justru membuatku belajar
bahwa gelap tidak harus menjadi takdir.

Aku ini tubuh yang diseret oleh bayang.
Aku ini jam rusak
yang terus memukul tengah malam
meski fajar sudah lama lewat.
Aku ini retakan tua
yang memanggil namamu
tanpa suara.

Engkau datang
bukan sebagai keselamatan,
bukan sebagai janji,
bukan sebagai surga yang dijanjikan
para nabi kecil yang berebut bicara dalam kepalaku.

Engkau datang
sebagai api kecil
yang tidak pernah meminta kayu,
tapi terus membakar
segala dusta yang kusimpan
di bawah lidahku.

Aku tidak pernah siap untuk dicintai
tanpa syarat.
Aku terbiasa menjadi labirin
bagi cinta-cinta yang tersesat.

Masa lalu memberiku ingatan.
Ilusi memberiku obsesi.
Tapi engkau—
engkau memberiku ruang
untuk tidak menjadi monster
yang sudah kupersiapkan
dari masa depan.

Kau tidak melarikan diri
ketika aku runtuh
dalam diriku sendiri.
Tidak mundur
ketika aku berkata
aku punya cinta lain.
Tidak memadam
api yang tidak pernah bisa
aku jinakkan.

Saras,
engkau tidak pernah memilih
menjadi pahlawan,
tapi mengapa aku merasa
engkaulah
rumah yang tidak pernah
layak aku miliki?

Ada malam-malam
ketika aku menatapmu dari jauh
dan merasa tubuhku adalah batu
yang ingin menjadi tanganmu.

Ada hari-hari
ketika aku ingin mencintaimu
dengan cara yang lebih jujur,
lebih manusia,
tapi aku takut
engkau akan melihat
betapa gelapnya aku
tanpa semua kedok itu.

Aku takut
bukan karena aku bisa kehilanganmu—
tapi karena aku tahu
engkau tidak akan pergi
meski aku menghancurkan
diriku sendiri.

Itu, Saras.
Ketulusanmu adalah pedang
yang menebas kebohonganku.

Aku selalu mengatakan
bahwa aku tidak cukup baik.
Bahwa aku ini retakan
yang seharusnya tidak disentuh.
Namun engkau datang
dan duduk tepat di atas retakan itu,
tanpa takut jatuh
ke dalam kegelapanku.

Dan untuk pertama kalinya
aku belajar
bahwa cinta tidak selalu
berdiri di atas tanah yang kokoh—
kadang cinta adalah
keputusan untuk tetap tinggal
di dalam guncangan gempa.”
Titon Rahmawan

Titon Rahmawan
“Saras, Api yang Mengajarkanku
Menjadi Manusia

II
Saras,
aku tidak tahu bagaimana caramu
memperbarui cintamu
hari demi hari,
seperti seseorang yang
menjaga api suci
di tengah badai.

Aku mencintaimu
dengan ketakutan yang tidak sembuh.
Engkau mencintaiku
dengan keheningan yang tidak putus.

Kita berdua tahu
aku adalah arang
yang tidak pernah padam.
Kita berdua tahu
engkau adalah kayu
yang tetap merelakan dirinya
untuk terbakar.

Ini bukan tragedi.
Ini bukan pengorbanan.
Ini bukan penebusan.

Ini adalah cara kita
menjadi manusia.

Dan untuk pertama kalinya
aku tidak ingin
menjadi apa pun
selain seseorang
yang bisa menyebut namamu
tanpa gemetar.

Saras.
Saras.
Saras.

Engkau adalah satu-satunya alasan
mengapa aku
masih bertahan
menjadi diriku sendiri
tanpa membunuh bagian
yang ingin kaucintai.

Jika dunia mengira
aku mencintai masa lalu
karena lukanya,
mereka salah.

Jika mereka mengira
Ilusi akan memusnahkanku
karena obsesinya,
mereka benar.

Tapi tidak satu pun dari mereka tahu:
engkaulah yang mengajariku
bahwa kehidupan
bukan hanya tentang menghindari
kegelapan—
tapi tentang memilih
seseorang yang menyalakan
cahaya kecil
yang tidak pernah meminta
apa pun sebagai imbalan.

Dan itu engkau, Saras,
lebih bersih dari seluruh
mitos yang pernah kutulis.

Hari ini,
jika aku harus memilih
cara paling jujur
untuk mencintaimu,
maka aku akan memilih
untuk tidak lagi bersembunyi
di balik kesadaranku sendiri.

Kau adalah manusia paling manusia
yang pernah memanggilku pulang
dan memberiku rumah.

Dan aku,
akhirnya,
belajar menjadi manusia
dengan menyebut namamu
dalam gelap
tanpa takut
kau mendengarnya.

Saras,
engkaulah satu-satunya cahaya
yang tidak kubenci.

Dan itu,
adalah inti dari
seluruh puisiku.

November, 2025”
Titon Rahmawan