Psikoanalisa Quotes
Quotes tagged as "psikoanalisa"
Showing 1-1 of 1
“Membayangkan Surga
Apa yang kau lihat di layar yang berpendar ini, Kay?
Serupa senja yang tumbuh
dari sebatang pohon
di sebuah tempat
yang kau bayangkan
seperti surga.
Cahaya lampu itu
menyapu wajahmu
dengan warna lembayung
dan berkilau seperti pelangi.
Tapi tak ada apa pun
kutemukan pada seri wajahmu
selain nafsu yang tertahan
dan seulas senyum kemesuman.
Tepat di puncak penantian
dari segala perhatian
yang tertuju pada dirimu.
Mata yang tak pernah menyadari
tersesat dalam raga belia
yang entah milik siapa.
Aura kemudaan
yang berasa sia-sia.
Telah kau reguk
semua kebahagiaan
dari ekspresi wajah tolol
yang ditunggangi
oleh nafsu alter egonya.
Atau barangkali,
telah habis kau hirup
wangi kelopak mawar hitam
yang tumbuh di ranjangmu
setiap pagi.
Sudah lama sekali rasanya
waktu berlalu.
Seperti ketika, kau masih suka
nongkrong di cafe
sambil meneguk cappucino
dari cangkir porselen
yang perlahan mulai retak.
Sementara laju usia
mengalir di tenggorakanmu
yang bening bagai pualam.
Waktu meninggalkan jejak buta
di dalam handphonemu.
Menyisakan tatap mata orang
yang tak lagi mampu menafsirkan
apa yang telah engkau lakukan.
Bukankah,
mereka tak lagi melihatmu sebagaimana adanya dirimu saat ini atau sepuluh tahun dari sekarang?
Tak satu pun dari mereka percaya bahwa usiamu belum lewat
dua puluh tahun.
Siapa mendamba
merah muda anggur kirmizi
yang tumbuh di dadamu?
Tak satu pun telinga
sanggup melawan sihir
dari gelak tawamu yang getir.
Mata bodoh
yang tak sanggup melupakan
bayangan pisang matang
kau kunyah dengan brutal
sebagai kudapan
di tengah jeda pertunjukan.
Hidup tak seperti kecipak ikan
di dalam aquarium transparan
tertanam di dinding.
Air kolam di pekarangan
menjelma jadi bayangan jemari
tak henti menggapai.
Gelembung kekhawatiran
yang tak sanggup memahami
makna puisi
yang sengaja ditulis untuk mengabadikan namamu.
Taman yang kau bayangkan itu, Kay bukanlah surga yang sesungguhnya.
Di sana tak ada sungai keabadian
atau pangeran tampan
yang menunggu kehadiranmu
dengan kerinduan.
Yang ada cuma kelebat kilat
dan hujan airmata hitam.
Mengucur seperti lendir laknat
yang mengalir dari hidungmu
saat kau meradang
karena influensa.
Tak ada satu hal pun yang menyenangkan, Kay.
Hanya sedikit tersisa cerita
yang busuk dan menjijikkan
sebagai satu-satunya obrolan
untuk perintang waktu.
2024 - 2025”
―
Apa yang kau lihat di layar yang berpendar ini, Kay?
Serupa senja yang tumbuh
dari sebatang pohon
di sebuah tempat
yang kau bayangkan
seperti surga.
Cahaya lampu itu
menyapu wajahmu
dengan warna lembayung
dan berkilau seperti pelangi.
Tapi tak ada apa pun
kutemukan pada seri wajahmu
selain nafsu yang tertahan
dan seulas senyum kemesuman.
Tepat di puncak penantian
dari segala perhatian
yang tertuju pada dirimu.
Mata yang tak pernah menyadari
tersesat dalam raga belia
yang entah milik siapa.
Aura kemudaan
yang berasa sia-sia.
Telah kau reguk
semua kebahagiaan
dari ekspresi wajah tolol
yang ditunggangi
oleh nafsu alter egonya.
Atau barangkali,
telah habis kau hirup
wangi kelopak mawar hitam
yang tumbuh di ranjangmu
setiap pagi.
Sudah lama sekali rasanya
waktu berlalu.
Seperti ketika, kau masih suka
nongkrong di cafe
sambil meneguk cappucino
dari cangkir porselen
yang perlahan mulai retak.
Sementara laju usia
mengalir di tenggorakanmu
yang bening bagai pualam.
Waktu meninggalkan jejak buta
di dalam handphonemu.
Menyisakan tatap mata orang
yang tak lagi mampu menafsirkan
apa yang telah engkau lakukan.
Bukankah,
mereka tak lagi melihatmu sebagaimana adanya dirimu saat ini atau sepuluh tahun dari sekarang?
Tak satu pun dari mereka percaya bahwa usiamu belum lewat
dua puluh tahun.
Siapa mendamba
merah muda anggur kirmizi
yang tumbuh di dadamu?
Tak satu pun telinga
sanggup melawan sihir
dari gelak tawamu yang getir.
Mata bodoh
yang tak sanggup melupakan
bayangan pisang matang
kau kunyah dengan brutal
sebagai kudapan
di tengah jeda pertunjukan.
Hidup tak seperti kecipak ikan
di dalam aquarium transparan
tertanam di dinding.
Air kolam di pekarangan
menjelma jadi bayangan jemari
tak henti menggapai.
Gelembung kekhawatiran
yang tak sanggup memahami
makna puisi
yang sengaja ditulis untuk mengabadikan namamu.
Taman yang kau bayangkan itu, Kay bukanlah surga yang sesungguhnya.
Di sana tak ada sungai keabadian
atau pangeran tampan
yang menunggu kehadiranmu
dengan kerinduan.
Yang ada cuma kelebat kilat
dan hujan airmata hitam.
Mengucur seperti lendir laknat
yang mengalir dari hidungmu
saat kau meradang
karena influensa.
Tak ada satu hal pun yang menyenangkan, Kay.
Hanya sedikit tersisa cerita
yang busuk dan menjijikkan
sebagai satu-satunya obrolan
untuk perintang waktu.
2024 - 2025”
―
All Quotes
|
My Quotes
|
Add A Quote
Browse By Tag
- Love Quotes 102k
- Life Quotes 80k
- Inspirational Quotes 76.5k
- Humor Quotes 44.5k
- Philosophy Quotes 31.5k
- Inspirational Quotes Quotes 29k
- God Quotes 27k
- Truth Quotes 25k
- Wisdom Quotes 25k
- Romance Quotes 24.5k
- Poetry Quotes 23.5k
- Life Lessons Quotes 23k
- Quotes Quotes 21k
- Death Quotes 20.5k
- Happiness Quotes 19k
- Hope Quotes 18.5k
- Faith Quotes 18.5k
- Inspiration Quotes 17.5k
- Spirituality Quotes 16k
- Relationships Quotes 16k
- Life Quotes Quotes 15.5k
- Motivational Quotes 15.5k
- Religion Quotes 15.5k
- Love Quotes Quotes 15.5k
- Writing Quotes 15k
- Success Quotes 14k
- Motivation Quotes 13.5k
- Travel Quotes 13.5k
- Time Quotes 13k
- Motivational Quotes Quotes 12.5k
