Kekuasaan Quotes

Quotes tagged as "kekuasaan" Showing 1-19 of 19
Milan Kundera
“The struggle of man against power is the struggle of memory against forgetting”
Milan Kundera, The Book of Laughter and Forgetting

Tan Malaka
“Kalau suatu negara seperti Amerika mau menguasai samudra dan dunia, dia mesti rebut Indonesia lebih dahulu buat sendi kekuasaan. (Pendahuluan - Melihat ke muka page 35-36)”
Tan Malaka, Madilog

Seno Gumira Ajidarma
“Manusia bertarung memperebutkan kekuasaan atas nama agama dan bukan sebaliknya. Agama apa pun tidak membenarkan pertarungan antar agama dan tidak akan pernah ada kecuali manusia yang begitu bodoh sehingga menafsirkan yang sebaliknya.”
Seno Gumira Ajidarma, Nagabumi I: Jurus Tanpa Bentuk

Pramoedya Ananta Toer
“Sejak jaman nabi sampai kini, tak ada manusia yang bisa terbebas dari kekuasaan sesamanya, kecuali mereka yang tersisihkan karena gila. Bahkan pertama-tama mereka yang membuang diri, seorang diri di tengah-tengah hutan atau samudera masih membawa padanya sisa-sisa kekuasaan sesamanya. Dan selama ada yang diperintah dan memerintah, dikuasai dan menguasai, orang berpolitik.”
Pramoedya Ananta Toer, House of Glass

Goenawan Mohamad
“Kekuasaan manusia adalah kekuasaan menghadapi diri sendiri yang tak sepenuhnya dipahaminya sendiri, manusia lain yang tak selamanya dapat dimengerti, masyarakat yang tak pernah selesai terbentuk, semesta hidup yang tak kunjung tertangkap oleh dalil.”
Goenawan Mohamad, Catatan Pinggir 7

Goenawan Mohamad
“Mereka yang terbiasa dengan kekuasaan dan aturan memang umumnya sulit memahami puisi.”
Goenawan Mohamad, CATATAN PINGGIR 3

Goenawan Mohamad
“Syahdan, Presiden Sarkozy menghadiahkan komik Asterix kepada anak Presiden Obama. Saya tak tahu apa pesannya. Tapi mungkin ini: di dunia ini, nak, humor dan ironi lebih menyelamatkan kita ketimbang impian tentang kekuasaan dan keagungan…

~Majalah Tempo Edisi Senin, 18 Oktober 2010”
Goenawan Mohamad

Goenawan Mohamad
“Korupsi bukanlah tanda bahwa Negara kuat dan serakah. Korupsi adalah sebuah privatisasi-- tapi yang selingkuh. Kekuasaan sebagai amanat publik telah diperdagangkan sebagai milik pribadi, dan akibatnya ia hanya merepotkan, tapi tanpa kewibawaan.”
Goenawan Mohamad, Catatan Pinggir 7

Ahmad Tohari
“Adalah semua orang Dukuh Paruk–termasuk Srintil–mereka tidak tahu apa-apa tentang sistem atau jalinan birokrasi kekuasaan. Dalam wawasan mereka semua priayi adalah sama, yakni tangan kekuasaan. Setiap priayi boleh datang atas nama kekuasaan, tak peduli mereka adalah hansip, mantri pasar, opas kacamatan, atau seorang pejabat dinas perkebunan negara esperti Marsusi. Dan ketika kekuasaan, menjadi aspek yang paling dominan dalam kehidupan masyarakat, orang Dukuh Paruk seperti Srintil tidak mungkin mengerti perbedaan antara polisi, tentara, dan pejabat perkebunan. Semuanya adalah tangan kekuasaan dan Srintil tidak mungkin bersikap lain kecuali tunduk dan pasrah.”
Ahmad Tohari, Ronggeng Dukuh Paruk

Goenawan Mohamad
“Untuk berkuasa hanya diperlukan tindakan, sedang untuk menjadi baik diperlukan kebiasaan -- proses yang tak putus-putusnya.”
Goenawan Mohamad, Catatan Pinggir 1

Zen RS
“Dan di hadapan kekuasaan, hal paling mudah yang mesti dilakukan, adalah merawat baik-baik ingatan.”
Zen RS

“Namun selalu ada hal-hal yang di luar kekuasaannya. Andra adalah salah satu yang berada di luar kekuasaannya.”
Devania Annesya, X: Kenangan yang Berpulang

“Baik dan buruk berada dalam satu garis lurus. Terkadang garis itu memudar dan hanya menyisakan sekelebat rona abu-abu. Membuat manusai yang hendak berpegangan padanya hilang arah seketika.”
Wenny Artha Lugina , The Blackside: Konspirasi Dua Sisi

“Baik dan buruk berada dalam satu garis lurus. Terkadang garis itu memudar dan hanya menyisakan sekelebat rona abu-abu. Membuat manusia yang hendak berpegangan padanya hilang arah seketika.”
Wenny Artha Lugina, The Blackside: Konspirasi Dua Sisi

Tere Liye
“Di negara-negara berkembang, partai politik, jabatan, dan kekuasaan tidak lebih adalah mata pencaharian kelompok tertentu. Politisi hanyalah serigala rakus yang memakai topeng seolah baik—mereka bukan patriot, juga jauh dari idealis, uang adalah segalanya bagi mereka.”
Tere Liye, Pergi

“Filsafat Cina, Tao Teh Ching, dalam The Book of Change mengajarkan, 'Dia yang mengenal orang lain adalah seorang bijak. Dia yang mengenal dirinya sendiri adalah orang yang tercerahkan. Dia yang menguasai orang lain memiliki kekuatan. Dia yang menguasai dirinya sendiri memiliki kekuasaan.' Menguasai diri sendiri membuat kita terus seimbang.”
Maisie Junardy, Man's Defender

“Jabatan bukanlah sekedar kekuasaan, tetapi sebuah pengabdian. Ketika jabatan telah berakhir, bukan berarti pengabdianmu harus berhenti.
Mengabdilah dimanapun kamu berada.”
Ulilamrir Rahman

Titon Rahmawan
“SEBUAH FRAGMENTARIUM: MAYAT PEREMPUAN DI PINGGIR HUTAN JATI

I. Waktu yang Menggeser Kursi dan Menutup Pintu

Setiap sejarah dimulai dari bunyi lirih yang nyaris tak terdengar:
jarum jam yang disentuh tangan perempuan muda
yang tidak pernah meminta apa pun dari dunia, kecuali
keadilan yang tidak dijual per kilo di pasar
dan kerja yang tidak dicurangi dengan sekadar angka.

Ia bekerja dengan mata yang teduh,
menyusun presisi untuk dunia
yang tak pernah peduli menjaga ketepatan untuk dirinya.

Di bawah kuku-kukunya,
waktu bernafas.
Di atas kepalanya,
kekuasaan menunggu
kesempatan.

II. Mesin Kekuasaan yang Selalu Menuntut Korban

Kalian bertanya: bagaimana melawan kekerasan?
Aku jawab: dengan menyebut namanya satu per satu,
dengan menuliskannya tanpa sensor,
dengan menahan dirinya agar tidak tenggelam
dalam statistik yang ingin melenyapkannya.

Mayat perempuan itu bukan korban.
Ia bukti, jelas dan kasat mata!

Ia menunjukkan bahwa kekuasaan bukanlah rumah:
ia adalah mesin
yang berjalan tanpa oli nurani,
yang selalu mencari tubuh lunak
untuk mengganti bagian yang aus.

Dan di tahun yang naas itu,
yang mereka temukan adalah dia.

III. Adegan yang Tidak Pernah Disiarkan Televisi

Mereka menjemputnya—
dengan tangan yang tidak gemetar,
dengan doa yang tidak pernah mereka ucapkan,
dengan wajah yang disetrika licin
oleh perintah atasan.

Ia, sendirian.
Mereka, berjamaah.

Di sebuah gubuk terbuka,
yang bahkan Tuhan menolak menoleh,
tali menahan tubuh kecilnya
seperti huruf-huruf yang dipaksa berhenti bergerak.

Pentungan menghantam kepalanya
berulang kali
sampai suara itu tidak lagi terdengar
sebagai pukulan,
melainkan sebagai
ritual kuno yang diwariskan dari satu kekuasaan
ke kekuasaan berikutnya.

Itu bukan kekejaman.
Itu metode.”
Titon Rahmawan

Titon Rahmawan
“SEBUAH FRAGMENTARIUM: MAYAT PEREMPUAN DI PINGGIR HUTAN JATI

IV. Perempuan yang Dikirim Pulang Tanpa Suara

Ketika tubuhnya ditemukan,
waktu tidak berani mencatat jam kematiannya.

Jarum-jarum yang dulu ia rawat
menolak bergerak,
seolah-olah mereka pun tahu
bahwa tidak pantas
mengukur detik akhir seorang manusia
yang kepalanya dipecahkan
karena mengatakan kebenaran.

V. Puisi yang Berbicara

Aku tidak menuliskan ini
untuk membesarkan trauma,
atau menghidupkan kembali luka
yang sebagian orang ingin lupakan.

Aku menuliskan ini
karena diam berarti bersekutu,
dan kalian sudah terlalu lama
mengolesi bibir kalian
dengan sunyi yang memalukan.

Kalian bertanya:
bagaimana melawan budaya kekerasan yang menjadi komoditas?
Dengarkan jawabanku:

Tidak dengan maaf.
Tidak dengan lembut ampunan.
Tidak dengan doa yang kalian tidak sungguh-sunguh percaya.

Tetapi dengan amarah yang presisi,
amarah yang bukan ledakan tanpa arah,
melainkan amarah
yang tahu siapa yang harus bertanggung jawab
dan siapa yang harus selamanya
menggantikan wajahnya
dengan wajah perempuan muda itu.

VI. Perempuan yang Tidak Berhasil Dibunuh Waktu

Mereka mengira telah mematikan suara perempuan itu.
Waktu mengira ia telah selesai dengan mayatnya.
Kekuasaan mengira ia telah memenangkan pertempuran.

Tapi lihatlah:
bahkan setelah tulangnya membiru,
ia masih menyebut nama kalian satu per satu
seperti saksi yang tidak mau berhenti bicara.

Kalian yang membaca ini,
kalian yang menunduk,
kalian yang menggigil,

kalian sedang berdiri
di depan tubuhnya yang remuk,
dan ia bertanya:

“Apa yang akan kau lakukan agar aku tidak mati lagi besok pagi?”

VII. Algo ex Machina: Harapan dari Segenggam Palu

Dan jika yang kalian sebut harapan
hanya sisa kecil dari keberanian manusia
yang tidak sempat tumbuh
karena dibungkam di dekat hutan jati,

maka biarkan aku, mesin,
mengambil palu yang jatuh dari tangan Tuhan
dan mengangkatnya untuk kalian.

Bukan untuk memukul balik dengan kekerasan,
tetapi untuk memecahkan
topeng-topeng busuk
yang membuat kalian buta
terhadap tubuh yang digelandang
tanpa pulang kembali.

Harapan bukan lilin.
Harapan adalah logam:
pecah, panas,
tak bisa dihancurkan
bahkan oleh negara.

Dan jika dunia ingin tahu
apa yang tersisa dari serpihan tubuhnya

jawab saja:

“Semuanya.”

Ia masih hidup
di setiap ketidakadilan
yang kalian tolak.
Ia masih hidup
di setiap kebenaran
yang tidak berani
kalian ucapkan.
Ia masih hidup
di setiap amarah
yang tidak sempat
kalian kubur.

Mei 2024 - revisi 2025”
Titon Rahmawan