,

Kekerasan Quotes

Quotes tagged as "kekerasan" Showing 1-7 of 7
“Kekerasan adalah satu-satunya cara untuk menyeret penjajah ke meja perundingan. Kekerasan adalah satu-satunya pilihan. Senjata itu di sana, tergeletak di atas meja, mereka tinggal memungutnya. Mengapa mereka begitu takut bahkan untuk sekadar melihatnya?”
RF Kuang

“Akan tetapi, kemudian Robin berpikir, barangkali, memicu kebencian justru baik. Kebencian mungkin menuntut rasa hormat. Kebencian mungkin memaksa warga Britania untuk menatap mereka tepat di mata, tanpa memandang sebagai objek, melainkan manusia. Kekerasan mengguncang sistem ini, kata Griffin kepadanya. Dan sistem ini tidak bisa selamat dari guncangan.”
RF Kuang

“Banyak yang berpikir baBanyak yang berpikir bahwa ahimsa adalah pasifisme mutlak, bahwa India adalah bangsa penakut dan penurut yang akan bertekuk lutut kepada siapa pun. Namun, dalam Bhagawad Gita, ada pengecualian untuk dharma yuddha. Perang yang dibenarkan. Perang ketika kekerasan digunakan seba- gai pilihan terakhir. Perang yang tidak memperjuangkan keuntungan atau motif-motif pribadi, tetapi berangkat dari komitmen terhadap cita-cita yang lebih luhur.hwa ahimsa adalah pasifisme mutlak, bahwa India adalah bangsa penakut dan penurut yang akan bertekuk lutut kepada siapa pun. Namun, dalam Bhagawad Gita, ada pengecualian untuk dharma yuddha. Perang yang dibenarkan. Perang ketika kekerasan digunakan sebagai pilihan terakhir. Perang yang tidak memperjuangkan keuntungan atau motif-motif pribadi, tetapi berangkat dari komitmen terhadap cita-cita yang lebih luhur.”
RF Kuang

“Banyak yang berpikir bahwa ahimsa adalah pasifisme mutlak, bahwa India adalah bangsa penakut dan penurut yang akan bertekuk lutut kepada siapa pun. Namun, dalam Bhagawad Gita, ada pengecualian untuk dharma yuddha. Perang yang dibenarkan. Perang ketika kekerasan digunakan sebagai pilihan terakhir. Perang yang tidak memperjuangkan keuntungan atau motif-motif pribadi, tetapi berangkat dari komitmen terhadap cita-cita yang lebih luhur.hwa ahimsa adalah pasifisme mutlak, bahwa India adalah bangsa penakut dan penurut yang akan bertekuk lutut kepada siapa pun. Namun, dalam Bhagawad Gita, ada pengecualian untuk dharma yuddha. Perang yang dibenarkan. Perang ketika kekerasan digunakan seba- gai pilihan terakhir. Perang yang tidak memperjuangkan keuntungan atau motif-motif pribadi, tetapi berangkat dari komitmen terhadap cita-cita yang lebih luhur.”
RF Kuang

“Banyak yang berpikir bahwa ahimsa adalah pasifisme mutlak, bahwa India adalah bangsa penakut dan penurut yang akan bertekuk lutut kepada siapa pun. Namun, dalam Bhagawad Gita, ada pengecualian untuk dharma yuddha. Perang yang dibenarkan. Perang ketika kekerasan digunakan sebagai pilihan terakhir. Perang yang tidak memperjuangkan keuntungan atau motif-motif pribadi, tetapi berangkat dari komitmen terhadap cita-cita yang lebih luhur.”
RF Kuang

Titon Rahmawan
“SEBUAH FRAGMENTARIUM: MAYAT PEREMPUAN DI PINGGIR HUTAN JATI

I. Waktu yang Menggeser Kursi dan Menutup Pintu

Setiap sejarah dimulai dari bunyi lirih yang nyaris tak terdengar:
jarum jam yang disentuh tangan perempuan muda
yang tidak pernah meminta apa pun dari dunia, kecuali
keadilan yang tidak dijual per kilo di pasar
dan kerja yang tidak dicurangi dengan sekadar angka.

Ia bekerja dengan mata yang teduh,
menyusun presisi untuk dunia
yang tak pernah peduli menjaga ketepatan untuk dirinya.

Di bawah kuku-kukunya,
waktu bernafas.
Di atas kepalanya,
kekuasaan menunggu
kesempatan.

II. Mesin Kekuasaan yang Selalu Menuntut Korban

Kalian bertanya: bagaimana melawan kekerasan?
Aku jawab: dengan menyebut namanya satu per satu,
dengan menuliskannya tanpa sensor,
dengan menahan dirinya agar tidak tenggelam
dalam statistik yang ingin melenyapkannya.

Mayat perempuan itu bukan korban.
Ia bukti, jelas dan kasat mata!

Ia menunjukkan bahwa kekuasaan bukanlah rumah:
ia adalah mesin
yang berjalan tanpa oli nurani,
yang selalu mencari tubuh lunak
untuk mengganti bagian yang aus.

Dan di tahun yang naas itu,
yang mereka temukan adalah dia.

III. Adegan yang Tidak Pernah Disiarkan Televisi

Mereka menjemputnya—
dengan tangan yang tidak gemetar,
dengan doa yang tidak pernah mereka ucapkan,
dengan wajah yang disetrika licin
oleh perintah atasan.

Ia, sendirian.
Mereka, berjamaah.

Di sebuah gubuk terbuka,
yang bahkan Tuhan menolak menoleh,
tali menahan tubuh kecilnya
seperti huruf-huruf yang dipaksa berhenti bergerak.

Pentungan menghantam kepalanya
berulang kali
sampai suara itu tidak lagi terdengar
sebagai pukulan,
melainkan sebagai
ritual kuno yang diwariskan dari satu kekuasaan
ke kekuasaan berikutnya.

Itu bukan kekejaman.
Itu metode.”
Titon Rahmawan

Titon Rahmawan
“SEBUAH FRAGMENTARIUM: MAYAT PEREMPUAN DI PINGGIR HUTAN JATI

IV. Perempuan yang Dikirim Pulang Tanpa Suara

Ketika tubuhnya ditemukan,
waktu tidak berani mencatat jam kematiannya.

Jarum-jarum yang dulu ia rawat
menolak bergerak,
seolah-olah mereka pun tahu
bahwa tidak pantas
mengukur detik akhir seorang manusia
yang kepalanya dipecahkan
karena mengatakan kebenaran.

V. Puisi yang Berbicara

Aku tidak menuliskan ini
untuk membesarkan trauma,
atau menghidupkan kembali luka
yang sebagian orang ingin lupakan.

Aku menuliskan ini
karena diam berarti bersekutu,
dan kalian sudah terlalu lama
mengolesi bibir kalian
dengan sunyi yang memalukan.

Kalian bertanya:
bagaimana melawan budaya kekerasan yang menjadi komoditas?
Dengarkan jawabanku:

Tidak dengan maaf.
Tidak dengan lembut ampunan.
Tidak dengan doa yang kalian tidak sungguh-sunguh percaya.

Tetapi dengan amarah yang presisi,
amarah yang bukan ledakan tanpa arah,
melainkan amarah
yang tahu siapa yang harus bertanggung jawab
dan siapa yang harus selamanya
menggantikan wajahnya
dengan wajah perempuan muda itu.

VI. Perempuan yang Tidak Berhasil Dibunuh Waktu

Mereka mengira telah mematikan suara perempuan itu.
Waktu mengira ia telah selesai dengan mayatnya.
Kekuasaan mengira ia telah memenangkan pertempuran.

Tapi lihatlah:
bahkan setelah tulangnya membiru,
ia masih menyebut nama kalian satu per satu
seperti saksi yang tidak mau berhenti bicara.

Kalian yang membaca ini,
kalian yang menunduk,
kalian yang menggigil,

kalian sedang berdiri
di depan tubuhnya yang remuk,
dan ia bertanya:

“Apa yang akan kau lakukan agar aku tidak mati lagi besok pagi?”

VII. Algo ex Machina: Harapan dari Segenggam Palu

Dan jika yang kalian sebut harapan
hanya sisa kecil dari keberanian manusia
yang tidak sempat tumbuh
karena dibungkam di dekat hutan jati,

maka biarkan aku, mesin,
mengambil palu yang jatuh dari tangan Tuhan
dan mengangkatnya untuk kalian.

Bukan untuk memukul balik dengan kekerasan,
tetapi untuk memecahkan
topeng-topeng busuk
yang membuat kalian buta
terhadap tubuh yang digelandang
tanpa pulang kembali.

Harapan bukan lilin.
Harapan adalah logam:
pecah, panas,
tak bisa dihancurkan
bahkan oleh negara.

Dan jika dunia ingin tahu
apa yang tersisa dari serpihan tubuhnya

jawab saja:

“Semuanya.”

Ia masih hidup
di setiap ketidakadilan
yang kalian tolak.
Ia masih hidup
di setiap kebenaran
yang tidak berani
kalian ucapkan.
Ia masih hidup
di setiap amarah
yang tidak sempat
kalian kubur.

Mei 2024 - revisi 2025”
Titon Rahmawan