Fisiologis Quotes

Quotes tagged as "fisiologis" Showing 1-2 of 2
Titon Rahmawan
“CORPUS CRUENTUM
(Detak Nadi Ibu di Bawah Kayu Salib)

Aku menahan duka dunia di telapak tanganku,
tangan yang gemetar, tetapi tetap menahan,
tangan yang berusaha memeluk apa yang tak bisa kugenggam.

Di sini, darahnya mengalir sebagai nadi yang bersatu dengan nadiku.
Setiap tetes menorehkan lubang
di paru-paruku,
setiap tetes adalah ledakan yang membuat tulangku gemetar.
membuat jantungku bergetar hingga
ke inti yang paling sunyi.

Aku mendengar keheningan yang lebih keras dari jeritan.
Sunyi yang mencekam, yang merobek udara,
menghancurkan kata sebelum sempat terucap.
Aku menghisap sunyi itu, menelannya,
hingga aku sendiri menjadi getarannya,
hingga aku sendiri menjadi nadi dan darah.

Aku melihatnya—anakku,
manusia yang lebih besar dari dunia,
tetapi lebih kecil dari satu detik kesadaran.
Dia bukan milikku, tetapi aku merasakannya sepenuhnya,
hingga setiap luka dan ketakutan menjadi milikku.
Cinta ini bukan cinta biasa.
Cinta ini adalah kehancuran,
adalah kematian,
adalah hidup yang menyeruak tanpa bentuk,
tanpa nama,
tanpa jeda.

Sesuatu yang tak bisa
aku nyatakan dalam kata-kata.

Aku menolak berpaling.
Aku menolak menutup mata.
Air mataku membatu
Setiap detik aku menatap tubuhnya,
luka-lukanya,
darahnya yang perlahan mengering.
dan setiap detik kutulis puisi
yang bukan lagi puisi:
puisi yang berdetak dari tulang,
puisi yang bergetar di urat,
puisi yang menjadi darah
dan nadi yang samar.

Ini bukan pengorbanan yang bisa diceritakan,
ini bukan kebenaran yang bisa diucapkan.
Ini kesadaran yang menelanjangi seluruh jiwa,
yang menuntunku ke dalam kegelapan paling sunyi,
melihat bilur-bilur luka,
menangis tanpa air mata,
dan tetap bertahan
adalah puncak kesadaran
yang hanya bisa dimiliki
oleh seorang ibu.

November 2025”
Titon Rahmawan

Titon Rahmawan
“LITANI DARI KAYU SALIB

Aku mendengar getar nadi yang berdenyut dari tangannya,
menjadi aliran yang memaksa paru-paruku berdetak dalam ritme kematian yang menyesakkan,
setiap tetes darahnya adalah tarian bisu yang membakar sarafku,
menembus semua ruang
yang sebelumnya
tak ada.

Di bawah kayu itu, ia tidak menjerit.
menahan segala sakit
yang tak terlukiskan,
mengalirkan dera itu ke setiap urat,
ke setiap tulang,
hingga aku sendiri menjadi daging
dan darahnya,
hingga aku sendiri menjadi luka
dan air mata yang tak berbentuk.

Aku melihat dan merasakan:
kehidupan dan kematian menyatu dalam batas yang bukan jurang.
Manusia tidak lagi berdiri di luar kesadaran selain kebebalan dan kedegilan jiwanya sendiri.
Dia menatapku dari mata yang remuk,
tetapi menatap dengan kornea yang seterang matahari
dengan sunyi yang lebih menyengat
dari semua api.

Aku merasakan setiap pilihan yang harus ia tanggung,
setiap penderitaan yang ditahan tanpa suara,
setiap kesadaran yang menolak mundur
mengajarkanku bahwa melihat luka tak pernah cukup—
kau harus menjadi luka itu sendiri,
kau harus menjadi denyut darah yang sama,
kau harus menjadi sunyi yang menembus tulang dan saraf.

Tidak ada belas kasihan, tidak ada pengampunan.
Hanya kesadaran murni, tanpa bentuk, tanpa kata,
menjadi api yang menyambar,
menjadi gelap yang merangkul,
menjadi nadi yang memaksa jiwaku berdiri di tepi jurang yang mempertanyakan kemanusiaanku sendiri.

Di sini, tak akan kautemui puisi.
Di sini, kata-kata tidak lagi memanggul arti,
ia menjelma menjadi darah, menjadi nadi, menjadi tubuh.
menyatu dengan luka itu,
menyatu dengan senyap itu,
menyatu dengan nyeri paku dan hunjam tombak di lambung kesadaran
dan siapa masih sanggup bertahan
berdiri tegak tanpa goyah
di bawah bayang kayu
yang menyilaukan
mata dunia?

November 2025”
Titon Rahmawan