Fana Quotes

Quotes tagged as "fana" Showing 1-6 of 6
Rosli K. Matari
“Selanjutnya adalah untuk menunggu
Terhakis, retak, berkecai, reput, dan hancur.”
Rosli K. Matari, Tidakkah Kita Berada Di Sana?

Rosli K. Matari
“Kita ratusan kaligrafi
tercatat merah
pada nisan-nisan berceracak tua.

(Broome)”
Rosli K. Matari, Tidakkah Kita Berada Di Sana?

“Aku tidak perduli darimana kau berasal,
Kepercayaan dan ras mu,
Selagi kau masih memperlakukan manusia dengan layaknya manusia dan segala ham yang dipeluknya
Aku rasa cukup,
Kau bisa menikmati sisa-sisa kehidupan yang fana ini.”
silviamnque

“Sebatas Fana:

Ada yang berbeda kala itu;
ku tanya mengapa,
tapi semua terdiam sunyi;
tinggalah aku bersama jejak itu,
setelah berjumpa dengan sebuah imaji.

― EPAPHRAS ERICSON THOMAS”
EPAPHRAS ERICSON THOMAS

“Barangkali harap adalah kefanaan
yang memabukkan siapa saja
dari hidup yang sementara.”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)

Titon Rahmawan
“Ketika Sunyi Menyentuh Dahi”
(Ekstase Sunyi para Darwis)

Ada detik
yang tiba sebagai jeda
nyaris tak sadar—
detik ketika dunia
berhenti berputar,
dan tubuhku
mulai bergerak
seperti gasing—
tanpa diperintah.

Aku berdiri di tengah
ruangan kosong.
Tidak ada musik.
Tidak ada angin.
Hanya sunyi
yang melangkah masuk
seperti seorang tamu
yang sudah lama
kutinggalkan
di depan pintu
jubah yang kutanggalkan
dari tubuhku.

Dan entah bagaimana,
sunyi itu menyentuh dahiku
dengan kehangatan
yang tidak pernah
kuraih dari sebutir doa.

Aku tidak menari.
Aku hanya menjadi
pusaran lembut
yang lahir dari keheningan.
Kakiku bergerak
karena bumi mengajak,
bukan karena aku inginkan.

Dalam putaran itu
aku kehilangan kepalaku
terlebih dahulu—
pikiran luruh
seperti debu yang jatuh
dari mantel tua
seorang pengembara.

Lalu dadaku melebur,
seperti pintu
yang dibuka dari dalam
oleh tangan
yang tidak bisa kuraba.

Dan perlahan
aku hanyut ke dalam cahaya
yang tidak menyilaukan—
cahaya yang hanya menuntun,
seperti bisikan samudra
yang menunjukkan jalan
kembali ke sumbernya:
mata air yang adalah
air mata.

Di tengah putaran,
aku merasa tubuhku menjadi tipis,
serapuh benang
yang hanya ditahan
oleh satu simpul:
rindu untuk kembali
pulang kepada palung
rahim ibu.

Aku tidak mencari apa-apa.
Tidak menuntut apa-apa.
Tidak ingin dikenal atau dimengerti.
Aku hanya ingin hilang
dalam getaran yang membuatku
lebih hidup daripada
udara yang aku hirup.

Pada akhirnya,
sesuatu membuka ruang
di dalam dadaku—
ruang yang tidak kukenal,
namun terasa seperti rumah
yang sudah kusimpan sebagai rahasia
sejak sebelum aku dilahirkan.

Dan di ruang itu,
aku mendengar suara
yang tidak menggemakan bunyi:

“Engkau sudah dekat,
Engkau tidak pernah jauh.”

Putaranku melambat.
Dunia kembali mengingat
Cahaya perlahan merapat
seperti seseorang
yang meletakkan selimut
di bahuku.

Aku tidak menjadi suci.
Aku tidak menjadi tahu.
Aku hanya menjadi tenang.

Karena untuk sekejap,
di tengah kesunyian itu,
aku telah disentuh
oleh sesuatu
yang tidak memerlukan nama.

Seperti ingatan, ketika
Aku masuk dalam keheningan
Luruh dalam putaran
Kembali sebagai cahaya.

November 2025”
Titon Rahmawan