Lenang Manggala
Goodreads Author
Born
in Ponorogo, Indonesia
Website
Genre
Member Since
June 2015
|
Perempuan Dalam Hujan
—
published
2015
|
|
|
Kisaeng
by
—
published
2014
|
|
|
Kasih Tak Sampai
—
published
2015
|
|
|
Negara 100 Kata
—
published
2016
|
|
|
PER[T]EMPU[R]AN
—
published
2016
|
|
|
Patung yang Berdoa
by |
|
|
Negeri Tanpa Nama
by
—
published
2013
|
|
|
Payung Hitam: Antologi Puisigrafi
by |
|
|
Random: Payudara Sebelum Lusa
—
published
2012
|
|
“Aku menulis puisi: karena kesedihan tidak bisa menuliskan dirinya sendiri; karena petaka tidak bisa mengabarkan gaduhnya sendiri.”
―
―
“Hanya ada dua pilihan untuk memenangkan kehidupan: keberanian, atau keihlasan. Jika tidak berani, ikhlaslah menerimanya. Jika tidak ikhlas, beranilah mengubahnya.”
―
―
“Demi matahari senja yang menggantung manis manja di cakrawala, demi kebaikan dan ketulusan yang telaten diberikan semestas, dan demi ragam nama-nama Tuhan baik yang akrab maupun asing di telinga kita. Berkatilah kami semua, sebagaimana Kau memberkati Musa dengan tongkat kayu yang mampu membelah samudra. Kuatkanlah kami semua, sebagaimana Kau menguatkan Ayyub dengan kekudis yang bertahun dideritanya. Dan selamatkanlah kami semua, sebagaimana Kau menyelamatkan Nuh dengan bahtera yang dibangunnya.”
― Perempuan Dalam Hujan
― Perempuan Dalam Hujan
“Sesuatu yang telah terjadi, hanya akan tetap menjadi "sesuatu yang telah terjadi". Tetapi, tentang bagaimana caramu menyikapi, adalah sesuatu yang menentukan perihal siapa dan bagaimana kualiatas dirimu sebagai seorang pribadi.”
― Perempuan Dalam Hujan
― Perempuan Dalam Hujan
“Seharusnya, pendidikan bukan semata upaya menransfer materi pelajaran. Lebih dari itu, pendidikan adalah sebuah proses menyalakan pikiran, mematangkan kepribadian.
Kalau pendidikan justru memampatkan kreativitas, mengerdilkan keberanian berekspresi, memustahilkan impian, serta membuat anak-anak menjadi asing pada dirinya sendiri dan lingkungannya, maka, sebaiknya, pendidikan tidak perlu ada.”
― Perempuan Dalam Hujan
Kalau pendidikan justru memampatkan kreativitas, mengerdilkan keberanian berekspresi, memustahilkan impian, serta membuat anak-anak menjadi asing pada dirinya sendiri dan lingkungannya, maka, sebaiknya, pendidikan tidak perlu ada.”
― Perempuan Dalam Hujan
“Surga, adalah masa kanak-kanak. Sisanya, adalah janji Tuhan yang bebas untuk kau percayai ataupun tidak.”
― Perempuan Dalam Hujan
― Perempuan Dalam Hujan
“Aku mencintaimu dengan segala keperempuannanmu. Aku mencintaimu, dari kilat tatapmu, deru nafasmu, sampai mambu silitmu.”
― Perempuan Dalam Hujan
― Perempuan Dalam Hujan

























