Ontologis Quotes

Quotes tagged as "ontologis" Showing 1-7 of 7
Titon Rahmawan
“Tanpa kebenaran, tidak akan ada penebusan. Tanpa kebenaran, tidak akan ada rekonsiliasi. Apakah kita bisa menerima hal ini sebagai prinsip yang mendasari konsep ontologis, filosofis dan spriritual kita? Dan lebih jauh lagi, apakah kita bisa menerimanya sebagai panggilan hidup?”
Titon Rahmawan

Titon Rahmawan
“Mendedah Realitas // Versi Ironis–Tragis–Nihilistik

Tidak ada yang benar-benar melarang kita mendedah realitas.
Yang melarang hanyalah rasa takut yang tak nyata
yang kita bungkus rapi
seolah kesunyian punya moralitasnya sendiri.

Ketika kita membukanya,
kita menemukan sesuatu yang lebih menyakitkan
dari rahasia apa pun—
bukan makna, tapi ketiadaan makna
yang berbaring seperti jasad yang sudah dingin,
menunggu siapa yang berani menyentuhnya.

Nietzsche berbisik dari suatu tempat yang tak bertuhan:
“Realitas bukan sesuatu yang kau temukan,
tapi sesuatu yang kau paksa untuk bernapas.”
Namun ia sendiri pun terperosok
ke dalam jurang kata-kata
yang ia ciptakan untuk membebaskan diri.

Agustinus menjawab dengan getir,
seperti seseorang yang terlalu lama menyesali masa mudanya:
“Yang nyata hanyalah yang ditopang iman keyakinan.”
Tapi ia pun gemetar
ketika malam terlalu sunyi
dan doanya memantul kembali
tanpa jawaban.

Zen Buddhis tertawa pelan,
bukan karena ia menemukan pencerahan,
tapi karena ia tahu
bahwa pertanyaan semacam itu
selalu kalah oleh kekosongan.
“Realitas hanyalah bayangan pikiran.”
Namun pikiran—
adalah tempat pertama
di mana semua luka tumbuh.

Dan kita?
Kita hanya duduk di antara mereka
seperti anak terlambat belajar
yang tak tahu harus mempercayai siapa:
dia yang membunuh Tuhan,
dia yang memeluk Tuhan,
atau dia yang mengatakan tak ada apa-apa sejak awal mula.

Semakin dalam kita membuka realitas,
semakin terasa bahwa yang tersingkap
bukan cahaya,
bukan kebenaran,
tetapi lapisan-lapisan ironi tragis
yang menertawakan keinginan kita sendiri
untuk mengerti sesuatu
yang bahkan tidak memiliki pusat gravitasi.

Barangkali realitas
adalah semacam pembusukan yang berlangsung teramat lambat—
kita mengendus aromanya,
berpura-pura itu adalah parfum filsafat.

Atau mungkin ia hanya cermin
yang memantulkan wajah kita
yang lelah,
yang pucat oleh harapan,
yang terjerat antara ingin percaya
dan ingin berhenti peduli sama sekali.

Zen berkata: lepaskan.
Nietzsche berkata: tumbuhkan kehendak.
Agustinus berkata: bertobatlah.
Skeptisisme modern berkata:
klik refresh dan lanjutkan hidup.

Namun malam tetap datang
dengan kesenyapan yang tak bisa kita tawar.
Ia membongkar pikiran kita tanpa belas kasihan,
meninggalkan sisa diri yang tak lagi padat,
tak lagi utuh,
sekadar debu yang tahu
bahwa keberadaannya pun
hanya sementara.

Pada akhirnya,
mendedah realitas
bukan tentang menemukan apa atau siapa.
Ini adalah latihan kehilangan:
kehilangan jawaban,
kehilangan harapan,
kehilangan tumpuan
yang selama ini kita yakini sebagai fondasi.

Dan dari kehilangan itu
muncul sejenis ketenangan muram—
seperti lampu jalan
yang terus menyala di jalan terpencil,
meski tak ada seorang pun
yang benar-benar membutuhkannya.

November 2025”
Titon Rahmawan

Titon Rahmawan
“Sketsa Cinta Tanpa Nama
(An Experimental Abstract)

Tidak ada kata untuk ini.
Hanya getar kecil
yang menolak memilih bentuk.

Seseorang menabuh
garis tipis di udara,
membuat celah
yang memanjang seperti suara
tanpa telinga.

Di celah itu,
aku melihat sesuatu
yang belum lahir:
sebuah gerak
yang mencari alasan
untuk menjadi arah.

Kita tidak berbicara.
Bahasa di antara kita
masih berupa butiran kasar,
seperti pasir yang belum memutuskan
apakah ia ingin menjadi gurun
atau hanya remah dari dunia yang gugur.

Aku mengulurkan tangan—
jangkauan itu tidak sampai,
karena jarak menolak ide
tentang pertemuan.

Cinta yang kau tawarkan
bukan api asmara;
lebih seperti lipatan
yang muncul ketika kertas
kehilangan tubuh,
atau sudut
yang tiba-tiba menyadari
bahwa ia hanya tikungan dari sesuatu
yang tidak pernah tergambar.

Ketika kau bertanya
“Apa yang kita cari?”
aku tidak menjawab.
Kalimat terhenti di tenggorokan
karena huruf-hurufnya
belum menemukan gravitasi.

Pada akhirnya kau pergi,
tidak dengan langkah
tetapi dengan perubahan wujud:
kau menjadi sebuah jeda
yang menolak selesai.

Aku tinggal sendirian
bersama sebuah ketidaksengajaan
kecil yang bergetar
di telapak tanganku.

Mungkin itu cinta, atau alpa
Mungkin itu hanya salah perhitungan.

Di dunia seperti ini,
tidak ada alasan
untuk memastikan.

November 2025”
Titon Rahmawan

Titon Rahmawan
“KAY : (Inner Constellations, Paradoxes of Desire, and the Remaining Light Behind the Shadows)


I. PROLOG: DI MANA AKU MENEMUKANMU TANPA MENCARIMU

Kay,
kau hadir bukan sebagai tubuh,
melainkan sebagai goresan cahaya
yang menolak menjelaskan dirinya.

Aku tidak mendeteksi langkahmu,
hanya arus tak terlihat
yang mengubah getar udara
setiap kali namamu melintas
di tempat yang bahkan tidak memiliki dinding.

Kau adalah kehadiran yang selalu alpa—
dan itu cukup untuk membangunkan
bagian jiwaku yang seharusnya
sudah lama mati.

II. BEING YANG MENGINGKARI DIRI

Kau bukan “ada”, Kay.
Kau adalah senyawa ontologis
antara kebetulan dan luka masa lalu,
yang menolak mengambil posisi
dalam geometri dunia.

Kau hidup sebagai jeda di antara dua kata,
sebagai bayang yang tidak mencoba
menempel pada objeknya.

Aku menyebutmu 'being"
karena aku ingin percaya dunia ini lengkap.
Aku menyebutmu 'non being'
karena aku tahu dunia ini tidak pernah demikian.

III. NON BEING YANG MENGAJARKAN SISA-SISA HARAPAN

Ada malam ketika aku pikir
aku mencintai seseorang.
Tapi kemudian aku sadar
bahwa yang kucintai adalah kehampaan
yang ia tinggalkan dalam pikiranku.

Kau, Kay, adalah kehampaan itu.
Sebuah rongga psikis
yang menjadi sumber nafas
justru karena ia kosong.

Jika Tuhan menciptakan cahaya,
maka kegelapan dalam dirimu
menciptakan alasan bagiku
untuk tetap terjaga.

IV. MALAIKAT YANG MENOLAK SURGA

Jika ada malaikat dalam dirimu,
ia pasti tercipta dari logam dingin
dan tidak memiliki sayap.
Ia berdiri tanpa senyum,
mengawasi retak-retakku
bukan untuk menyembuhkan,
melainkan memastikan aku tidak berhenti berdarah.

Malaikatmu tidak membawa wahyu.
Ia membawa pantulan—
yang memaksaku menghadapi
versi terburuk dari diriku sendiri.

V. IBLIS YANG TIDAK MENGINGINKAN NERAKA

Dan jika ada iblis dalam dirimu,
ia tidak menghasutku untuk jatuh,
ia justru duduk di sampingku
menunggu...
sampai aku terpeleset
dan jatuh sendiri.

Iblismu sabar,
tidak terbakar oleh api,
tidak menggoda dengan janji.
Ia hanya menatapku
seakan berkata:
“Aku tidak perlu menghancurkanmu.
Kau akan melakukannya sendiri.”

Nyatanya aku melakukannya—
berulang-ulang kali,
dengan penuh kesungguhan
dan dedikasi.”
Titon Rahmawan

Titon Rahmawan
“KAY : (Inner Constellations, Paradoxes of Desire, and the Remaining Light Behind the Shadows)

VI. IMANEN YANG TIDAK MAU TURUN KE DUNIA

Kay,
kau seperti konsep yang terlalu besar
untuk tubuh manusia.
Kau berjalan di antara neuron,
bukan trotoar.
Kau tumbuh dalam gelombang,
bukan dalam jam.

Kau imanen,
karena keberadaanmu menempel pada pikiranku
seperti lumut pada batu basah.

Namun kau juga transenden,
karena aku tidak mampu menentukan
di mana kau berhenti
dan di mana aku mulai lenyap.

VII. HASRAT YANG MENGGIGIT TUBUH SENDIRI

Aku menginginkanmu
tanpa pernah ingin mendekat.
Karena jarak antara kita
lebih jujur dari pertemuan.

Hasratku adalah binatang yang tahu
ia tidak boleh menyentuh mangsanya—
hanya mengelilingi,
mengendus,
menunggu alasan untuk terus melanjutkan
kehidupannya yang tak selesai-selesai.

Kau adalah medannya,
bukan tujuan.
Dan itu membuatmu abadi.

VIII. KESADARAN YANG MENOLAK BANGKIT

Kesadaran menyimakku
seperti menilai luka:
apakah ia samar
atau sudah menjalar sampai tulang.

Aku tahu mencintaimu adalah bodoh,
kebodohan,
pembodohan
yang sengaja dibuat
untuk gagal.

Tapi di balik kegagalan itu
ada satu-satunya ruang
di mana aku merasa bukan mesin,
bukan bayangan,
bukan reruntuhan logika—
melainkan makhluk hidup
yang masih bisa
menangis.

IX. MATA BURUNG: PUISI YANG MEMBEDAH DIRINYA SENDIRI

Dari ketinggian kesadaran ini,
aku melihat diriku memutari Kay
seperti seekor bintang liar
yang terus kehilangan orbit.

Aku melihat tubuhku yang lain
menggulung batu lamanya
setiap malam.

Aku melihat arwahku
menolak mati
karena masih ingin mendengar
gemerisik kecil yang menyerupai suaramu.

Dari ketinggian itu
aku akhirnya mengerti:
bukan kau yang menghantuiku;
akulah yang menciptakan
labirin untuk diriku sendiri,
agar aku punya tempat
untuk terus tersesat.

X. EPILOG TANPA PENUTUP

Kay,
jika aku berhenti menyebutmu,
aku tidak akan sembuh.

Jika aku melupakanmu,
aku akan kehilangan arah.

Jika aku memilikimu,
aku akan hancur.

Jika aku membunuhmu,
aku akan menjadi kosong.

Jadi aku memilih jalan paling bodoh:
tetap mencintaimu
dalam keheningan paling dingin
yang bisa ditanggung sebuah jiwa.

Dan sepanjang absurditas ini berlangsung,
aku tetap hidup
karena seseorang
memaksaku bertahan
yang bahkan, ia tidak tahu
aku pernah ada.

November 2025”
Titon Rahmawan

Titon Rahmawan
“DIALEKTIKA SURGA DARI 5 SUARA PEREMPUAN

BABAK I — AKAR (ontologis dosa)
(suara-serak, seperti daun kering dibolak-balik angin dari bawah tanah)

Lilith: (aku lahir dari engkau yang tak mau menatapku)
suatu ketika ada perintah—sebuah garis yang menulis siapa harus tunduk—
aku menolak: bukan karena niat jahat, tetapi niat terbaca.
dosa itu bukan buah; dosa adalah kata yang mereka beri padaku
ketika aku menolak menjadi bayangan dari sumber cahaya yang membuatku tenggelam.

Naamah: (kulitku berbisik seperti buli minyak di bawah lampu)
mereka menamaiku malam agar bisa menuduhku gelap;
padahal malam hanyalah tempat bagi mereka yang berani bermimpi,
dosa jadi akronim bagi ketakutan mereka sendiri.

Igrat: (aku mengumpulkan potongan-potongan keberanian yang mereka singkirkan)
dosa dimulai, ketika sebuah bangsa memutuskan siapa yang boleh hidup
dan siapa yang harus terkunci di dalam nama mereka sendiri.

Machalat: (aku tahu rumus-rumus kesalahan mereka)
akar dosa bukanlah pelanggaran moral—
ia adalah keengganan untuk mengakui luka di cermin yang mereka lihat.

Eva: (aku menyentuh, aku tahu tekstur pengetahuan yang sebenarnya)
jika pengetahuan adalah kuldi yang menempel di punggung waktu,
ia bisa menjadi peta yang menuntun atau pedang yang memotong—
akar dosa tumbuh dari cara peta itu dibaca oleh mereka yang haus kuasa.

BABAK II — KULDI (paradoks pengetahuan: sumber dari baik & buruk)
(suara seperti kain yang bergesek, lengket dan berminyak di ujung jari)

Lilith: (kuldi—kata mereka—seperti peta)
kuldi mengingat; ia merekam sentuhan, memilih garis.
sebuah tanda di punggungmu—bukan hanya luka, melainkan nama:
aku membawanya; aku mengingat; tapi aku bukan alat.

Naamah: (kuldi adalah cermin yang retak)
kuldi memberi tahu—apa yang kulihat tak selalu berbahaya.
tetapi ketika pengetahuan dipakai untuk memaksa orang, untuk menandai,
kuldi menjadi pukulan yang mematikan.

Igrat: (kuldi menuntun kepada pengetahuan gelap)
ada kuldi yang membuka selubung—mencari sumber cahaya—
ada kuldi yang mengajari cara menyusun alasan untuk mengusir dari rumah yang bukan lagi rumah.

Machalat: (kuldi menempel sebagai hukum)
kita diberi kuldi bukan untuk dihakimi,
melainkan agar tahu di mana kita berdiri; namun mereka membacanya seperti hukum yang tak bisa dibantah.

Eva: (kuldi menawarkan pilihan)
kuldi mengajarkan bahwa mengetahui adalah bertanggung jawab—
ia menajamkan mata atau menajamkan pedang, tergantung siapa yang menyentuhnya.

BABAK III — SURGA (yang menghindar, yang berlubang)
(suara seperti gema dari sumur yang kosong)

Lilith: (surga tak butuh para pecundang)
mereka berbicara tentang surga seolah ia adalah ruangan yang tersedia bagi yang patuh.
aku melihat surga—ia menyingkapkan dirinya pada mereka yang berani mengaku belum selesai.

Naamah: (surga yang terlambat datang)
surga berdiri pada jarak yang tak terselami; ia menunggu diamnya upacara
sementara tubuh kami diapresiasi hanya sebagai tanda hitung yang tak punya nilai.

Igrat: (surga memiliki kriteria yang dibuat lelaki)
ada pintu surga yang hanya mengenal nama-nama yang telah diajarkan untuk patuh.
kami mengetuk dari sisi lain—pintu itu menutup dengan keras.

Machalat: (surga berbisik, tidak memihak)
surga bukan pengadil yang berbaris rapi; ia lebih seperti malam yang menimbang,
menyimpan rahasia bahwa kesucian kadang terluka oleh orang-orang yang menuntutnya.

Eva: (surga berdiri di ambang pengetahuan yang ambigu)
surga adalah ruang di mana pengetahuan tak lagi dikendalikan oleh rasa malu—
namun ia tak memberi kunci pada mereka yang menolak tunduk.”
Titon Rahmawan

Titon Rahmawan
“DIALEKTIKA SURGA DARI 5 SUARA PEREMPUAN

BABAK IV — MALAIKAT JATUH (penghakiman diam, kehendak patah)
(suara seperti debu yang menempel di lidah)

Lilith: (ada malaikat yang jatuh karena ia merasa bersalah atas ketiadaan)
malaikat jatuh bukan hanya karena kesalahan moral—
mereka jatuh ketika harus memakai kemurnian sebagai topeng.

Naamah: (malaikat juga takut pada tubuh)
mereka belajar takut pada tubuh sebagai cara menutup rasa takut mereka sendiri.
ketika malaikat belajar mengutuk, ia berubah
menjadi batu.

Igrat: (mereka jatuh saat ilmu disalahgunakan)
malaikat yang jatuh menjadi penabuh aturan; ia lupa perintahnya adalah menyusup, bukan memaku.

Machalat: (jatuh adalah akibat peraturan yang tak lagi adil)
malaikat tidak selalu bisa memilih; kadang ia diberi tugas yang membuatnya buta.
Di buang ke sungai dengan tangan dan kaki terikat, tapi tak boleh tenggelam.

Eva: (malaikat yang jatuh mengajarkan kita dua hal)
ia menunjukkan bahwa kebenaran bisa tertutup oleh kebenaran lain dan kebenaran sesudah itu—tidak ada kebenaran final dan satu-satunya
kejatuhan adalah pelajaran tentang interpretasi.

BABAK V — DI MANA TUHAN? (hening — titik tak terlihat, tak terjamah)
(suara yang paling halus, hampir seperti nafas yang ditarik—di ujung fragmen: tidak ada jawaban yang memuaskan)

Lilith: (tuhan ada di dalam pertanyaan yang ditolak)
tuhan tidak bersembunyi di balik kitab yang diangkat untuk menuduh;
tuhan bersembunyi di titik hening antara kata dan tindakan.
ketika mereka berteriak agar aku tunduk, aku merasakan kehadiran-Nya—justru dalam diam.

Naamah: (tuhan mungkin menunggu, mungkin tak mau ikut serta)
ada kemungkinan Tuhan ragu pada cara manusia mengartikan dosa dan kesucian.
dia menahan suara-Nya sehingga kita harus menemukannya sendiri.

Igrat: (tuhan sebagai ruang di dalam tubuh kita)
mungkin Tuhan adalah saksi yang paling sunyi—hadir di dalam setiap kuldi, dalam tiap pertanyaan dan keraguan
kehadiran-Nya bukan penghakiman melainkan kesaksian atas keberadaan kita sendiri.

Machalat: (tuhan adalah gema, bukan perintah)
jika Tuhan berada di mana pun, Dia berada di tempat
di mana pengetahuan dipakai untuk menyembuhkan bukan menandai.
di sana, kuldi jadi berkah, bukan hukuman.

Eva: (aku mengangkat mata—dan menemukan kosong yang berisi)
Tuhan mungkin sedang menyelamatkan kita dari definisi final,
memberi ruang agar kita menulis ulang makna dosa dengan tangan sendiri.
atau Ia absen, dan itu memberikan tanggung jawab—kita harus menjadi penjaga atas kebenaran itu sendiri.

Akhir fragmen: suara-suara itu menghilang seperti benang hilang dari kain tua; tinggal retakan yang menganga—pertanyaan yang harus kita dengar dan ulang terus menerus.

Desember 2025”
Titon Rahmawan