,

Dialektik Filosofis Quotes

Quotes tagged as "dialektik-filosofis" Showing 1-1 of 1
Titon Rahmawan
“Mendedah Realitas // Versi Ironis–Tragis–Nihilistik

Tidak ada yang benar-benar melarang kita mendedah realitas.
Yang melarang hanyalah rasa takut yang tak nyata
yang kita bungkus rapi
seolah kesunyian punya moralitasnya sendiri.

Ketika kita membukanya,
kita menemukan sesuatu yang lebih menyakitkan
dari rahasia apa pun—
bukan makna, tapi ketiadaan makna
yang berbaring seperti jasad yang sudah dingin,
menunggu siapa yang berani menyentuhnya.

Nietzsche berbisik dari suatu tempat yang tak bertuhan:
“Realitas bukan sesuatu yang kau temukan,
tapi sesuatu yang kau paksa untuk bernapas.”
Namun ia sendiri pun terperosok
ke dalam jurang kata-kata
yang ia ciptakan untuk membebaskan diri.

Agustinus menjawab dengan getir,
seperti seseorang yang terlalu lama menyesali masa mudanya:
“Yang nyata hanyalah yang ditopang iman keyakinan.”
Tapi ia pun gemetar
ketika malam terlalu sunyi
dan doanya memantul kembali
tanpa jawaban.

Zen Buddhis tertawa pelan,
bukan karena ia menemukan pencerahan,
tapi karena ia tahu
bahwa pertanyaan semacam itu
selalu kalah oleh kekosongan.
“Realitas hanyalah bayangan pikiran.”
Namun pikiran—
adalah tempat pertama
di mana semua luka tumbuh.

Dan kita?
Kita hanya duduk di antara mereka
seperti anak terlambat belajar
yang tak tahu harus mempercayai siapa:
dia yang membunuh Tuhan,
dia yang memeluk Tuhan,
atau dia yang mengatakan tak ada apa-apa sejak awal mula.

Semakin dalam kita membuka realitas,
semakin terasa bahwa yang tersingkap
bukan cahaya,
bukan kebenaran,
tetapi lapisan-lapisan ironi tragis
yang menertawakan keinginan kita sendiri
untuk mengerti sesuatu
yang bahkan tidak memiliki pusat gravitasi.

Barangkali realitas
adalah semacam pembusukan yang berlangsung teramat lambat—
kita mengendus aromanya,
berpura-pura itu adalah parfum filsafat.

Atau mungkin ia hanya cermin
yang memantulkan wajah kita
yang lelah,
yang pucat oleh harapan,
yang terjerat antara ingin percaya
dan ingin berhenti peduli sama sekali.

Zen berkata: lepaskan.
Nietzsche berkata: tumbuhkan kehendak.
Agustinus berkata: bertobatlah.
Skeptisisme modern berkata:
klik refresh dan lanjutkan hidup.

Namun malam tetap datang
dengan kesenyapan yang tak bisa kita tawar.
Ia membongkar pikiran kita tanpa belas kasihan,
meninggalkan sisa diri yang tak lagi padat,
tak lagi utuh,
sekadar debu yang tahu
bahwa keberadaannya pun
hanya sementara.

Pada akhirnya,
mendedah realitas
bukan tentang menemukan apa atau siapa.
Ini adalah latihan kehilangan:
kehilangan jawaban,
kehilangan harapan,
kehilangan tumpuan
yang selama ini kita yakini sebagai fondasi.

Dan dari kehilangan itu
muncul sejenis ketenangan muram—
seperti lampu jalan
yang terus menyala di jalan terpencil,
meski tak ada seorang pun
yang benar-benar membutuhkannya.

November 2025”
Titon Rahmawan