Perenungan Quotes

Quotes tagged as "perenungan" Showing 1-3 of 3
Soe Hok Gie
“Hanya ada 2 pilihan, menjadi apatis atau mengikuti arus. Tetapi aku memilih untuk jadi manusia merdeka”
Soe Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran

Ayu Utami
“Aku selalu merasa bahwa perempuan sering jauh lebih tangguh daripada laki-laki. Dan mereka memikirkan kehidupan, bukan kegagahan. Kami, para lelaki, sering melakukan sesuatu demi kegagahan. Tapi perempuan berbuat demi kehidupan. Lelaki sering berbuat untuk egonya sendiri, sedang perempuan berbuat untuk orang lain.”
Ayu Utami, Cerita Cinta Enrico

Titon Rahmawan
“NISAN KEEMPAT

tanah pesarean
hening.
angin wetan
membawa bau akar basah
dan jejak rotasi
yang belum hilang.

aku berdiri
di samping istrimu—
tubuhnya goyah
seperti daun sawo yang dipagut gerimis.
anak-anakmu diam,
mata mereka retak
seperti kendi tua
yang pernah jatuh
di pawon rumah.

dari kejauhan
puisi tercenung
ia tak menunduk.
tak ikut berduka.
ia hanya mencatat luka
yang merembes
pelan
ke tanah liat.

kafan menutupi wajahmu.
pundakmu dipeluk tanah.
suara cangkul
terdengar seperti ratap
yang tak ingin pergi.

seekor prenjak
meloncat di ranting randu.
sekali.
dua kali.
hening.
lalu terbang ke arah barat—
seakan memberi kabar
kepada leluhur
bahwa satu jiwa
telah kembali.

asap dupa
naik pelan
seperti nyala
yang kehilangan tuhan.
di ujungnya
warna abu
bergetar
mencari arah pulang.

“Ruh…”
hanya itu yang sempat keluar.
sisanya
adalah gumam
yang tak sempat
menjadi doa.

dulu
aku kehilangan kangmas Danu
tanpa tahu apa artinya mati.
lalu aku terlambat kepulangan Bapak.
terlambat kepergian Ibuk.
kini
ketelambatan itu kembali
duduk di belakangku
seperti bayang waktu
yang enggan beranjak.

nisanmu ditegakkan.
dingin.
sederhana.
tanpa nama.
sepotong batu
yang menimbang
keberadaan
dengan cara
yang terlalu sunyi.

dari sela tanah
angin kecil muncul—
membawa bau jamur,
rumput liar,
dan sesuatu
yang tak dapat kusebut.
mungkin itu suwung,
mungkin langgatan,
mungkin waskita
getar kecil
yang tersisa
dari tubuhmu.

anakmu memanggil pelan.
istrimu menggigit bibir.
aku menahan napas
sebab tak ada kata
yang benar-benar bisa
mengantar jiwa.

geguritan di kejauhan
hanya penanda
mengambil satu langkah mundur
melipat waktu yang berjalan lambat
cahaya sore
mengiris tubuhnya
tipis seperti garis
di punggung keris tua.

di langit
awan bergerak ke selatan.
pelan.
seperti tangan
yang ditangkupkan
atau melambai
bahwa sesuatu
sedang ditutup.

dan aku tahu—
di bawah nisanmu
satu pintu telah terbuka
di dalam Syamaloka:

pintu gelap
yang menghubungkan
Danu,
Bapak,
Ibuk,
kau,
dan batu nisan berikutnya
yang mungkin
adalah nisan
dari batin
kami sendiri.

Desember 2025”
Titon Rahmawan