Elegi Peradaban Quotes
Quotes tagged as "elegi-peradaban"
Showing 1-1 of 1
“Realitas
Meminjam lidah dari percakapan orang-orang di jalan;
Betapa kulihat subur uban tumbuh di kepala nenekku.
Kalong dan kampret beterbangan mencuri buah dari atas meja
Di televisi bertebaran berita; orang di gelandang ke dalam bui karena korupsi.
Ada yang sedang berubah dari dunia ini;
Tak ada lagi kulihat orang mandi di kali
Sudah lama kita kehilangan musala tempat mengaji.
Orang-orang tenggelam di sawah
Terpacak ke dalam lumpur kering
Tegalan menjelma jadi hamparan batu.
Kerbau dan kambing kehilangan kandang.
Hutan dan padang rumput
di babat habis.
Aku duduk mencangkung di serambi dengan adikku, menunggu Bapak pulang membawa kenduri dari hajatan penganten tetangga kampung sebelah.
Ia datang bersama heran.
Sedang di jalan bersliweran kuda-kuda pacu yang tak satu pun peduli.
Truk-truk mengangkut gunung dan perbukitan mengepulkan asap.
Saat emas dan perak pelan-pelan menghilang,
maka kerikil dan bebatuan jadi barang berharga.
Aku sempat bertanya kepada Ibu, "Benarkah kita telah kehilangan suara adzan?"
Bukan yang bertelur dari nyaring corong pengeras suara,
Melainkan yang menetas langsung dari dalam hati para ibu.
Dulu waktu kecil, aku senang sekali menyimak lagu tentang 'sajadah panjang'
yang konon tercipta dari sebuah puisi.
Tapi mengapa kini,
tak ada lagi orang berdiskusi di atas gelaran tikar?
Tak ada kulihat tenda terpasang yang sengaja didirikan untuk memberi makan pengemis yang kelaparan.
Tak ada anak-anak berlarian di lapangan.
Betapa banyak permainan seperti gasing dan gundu yang raib bersama berlalunya waktu?
Lebih aneh lagi, mengapa lapak-lapak di pasar jadi sepi kehilangan pembeli?
Mal-mal tumbuh seperti jamur di musim penghujan
Tapi kemudian mendadak senyap seperti kota mati.
Murid-murid di sekolah tumbuh menjadi dewasa tanpa pernah mengerti bagaimana sesungguhnya uang bekerja.
Padahal seribu tahun mereka tenggelam dalam layar yang penuh informasi itu.
Lahir 'ceprot' dengan hape dalam genggaman.
Surga bukan lagi tempat di mana kita membayangkan bidadari.
Orang banyak berdebat tentang agama
Tanpa tahu di mana sesungguhnya Tuhan berada.
Langit semburat jingga, mengapa kini terlihat biasa-biasa saja?
Dan seterusnya
Dan seterusnya...
Sampai kutemukan ternyata ke mana perginya orang-orang itu
Konon katanya mereka terbang di bawa UFO
ke sebuah planet yang berwarna biru.
Dan demikianlah,
kebohongan hadir sebagai realitas sehari-hari.
Bukan untuk dipertanyakan
Bukan untuk dibantah.
November 2025”
―
Meminjam lidah dari percakapan orang-orang di jalan;
Betapa kulihat subur uban tumbuh di kepala nenekku.
Kalong dan kampret beterbangan mencuri buah dari atas meja
Di televisi bertebaran berita; orang di gelandang ke dalam bui karena korupsi.
Ada yang sedang berubah dari dunia ini;
Tak ada lagi kulihat orang mandi di kali
Sudah lama kita kehilangan musala tempat mengaji.
Orang-orang tenggelam di sawah
Terpacak ke dalam lumpur kering
Tegalan menjelma jadi hamparan batu.
Kerbau dan kambing kehilangan kandang.
Hutan dan padang rumput
di babat habis.
Aku duduk mencangkung di serambi dengan adikku, menunggu Bapak pulang membawa kenduri dari hajatan penganten tetangga kampung sebelah.
Ia datang bersama heran.
Sedang di jalan bersliweran kuda-kuda pacu yang tak satu pun peduli.
Truk-truk mengangkut gunung dan perbukitan mengepulkan asap.
Saat emas dan perak pelan-pelan menghilang,
maka kerikil dan bebatuan jadi barang berharga.
Aku sempat bertanya kepada Ibu, "Benarkah kita telah kehilangan suara adzan?"
Bukan yang bertelur dari nyaring corong pengeras suara,
Melainkan yang menetas langsung dari dalam hati para ibu.
Dulu waktu kecil, aku senang sekali menyimak lagu tentang 'sajadah panjang'
yang konon tercipta dari sebuah puisi.
Tapi mengapa kini,
tak ada lagi orang berdiskusi di atas gelaran tikar?
Tak ada kulihat tenda terpasang yang sengaja didirikan untuk memberi makan pengemis yang kelaparan.
Tak ada anak-anak berlarian di lapangan.
Betapa banyak permainan seperti gasing dan gundu yang raib bersama berlalunya waktu?
Lebih aneh lagi, mengapa lapak-lapak di pasar jadi sepi kehilangan pembeli?
Mal-mal tumbuh seperti jamur di musim penghujan
Tapi kemudian mendadak senyap seperti kota mati.
Murid-murid di sekolah tumbuh menjadi dewasa tanpa pernah mengerti bagaimana sesungguhnya uang bekerja.
Padahal seribu tahun mereka tenggelam dalam layar yang penuh informasi itu.
Lahir 'ceprot' dengan hape dalam genggaman.
Surga bukan lagi tempat di mana kita membayangkan bidadari.
Orang banyak berdebat tentang agama
Tanpa tahu di mana sesungguhnya Tuhan berada.
Langit semburat jingga, mengapa kini terlihat biasa-biasa saja?
Dan seterusnya
Dan seterusnya...
Sampai kutemukan ternyata ke mana perginya orang-orang itu
Konon katanya mereka terbang di bawa UFO
ke sebuah planet yang berwarna biru.
Dan demikianlah,
kebohongan hadir sebagai realitas sehari-hari.
Bukan untuk dipertanyakan
Bukan untuk dibantah.
November 2025”
―
All Quotes
|
My Quotes
|
Add A Quote
Browse By Tag
- Love Quotes 102k
- Life Quotes 80k
- Inspirational Quotes 76.5k
- Humor Quotes 44.5k
- Philosophy Quotes 31.5k
- Inspirational Quotes Quotes 29k
- God Quotes 27k
- Truth Quotes 25k
- Wisdom Quotes 25k
- Romance Quotes 24.5k
- Poetry Quotes 23.5k
- Life Lessons Quotes 23k
- Quotes Quotes 21k
- Death Quotes 20.5k
- Happiness Quotes 19k
- Hope Quotes 18.5k
- Faith Quotes 18.5k
- Inspiration Quotes 17.5k
- Spirituality Quotes 16k
- Relationships Quotes 16k
- Life Quotes Quotes 15.5k
- Motivational Quotes 15.5k
- Religion Quotes 15.5k
- Love Quotes Quotes 15.5k
- Writing Quotes 15k
- Success Quotes 14k
- Motivation Quotes 13.5k
- Travel Quotes 13k
- Time Quotes 13k
- Motivational Quotes Quotes 12.5k
