Abstraksi Quotes

Quotes tagged as "abstraksi" Showing 1-4 of 4
Titon Rahmawan
“Adakah Kau Temukan Separuh Ilusi dalam 7 Bait Sajakku Ini?
(Transcendence–Existentialist–Mystical–Bartesian)

/1/
Di ambang cahaya
yang gagal menemukan dirinya,
aku melihat riak kuning
yang tampak seperti sisa doa
yang kehilangan tuannya.
Seekor angsa liar melintas
tanpa tahu apakah ia burung
atau hanya gema dari sesuatu
yang tak pernah selesai
menjadi makna.

/2/
Jangan percayai hening
yang menggantung
di dahan dadap itu.
Ia bukan sunyi,
melainkan mata ketiga dari kesadaran
yang menatap balik pada penafsirnya.
Seekor burung hantu buta
menjadi penanda yang terlantar—
simbol yang dibuang dari
mulut bahasa.

/3/
Aku bersaksi tentang rusa totol indigo
yang lahir dari tawa kanak-kanak,
bukan sebagai hewan,
tetapi sebagai fragmen kosmik
yang melampaui tubuh, sejarah,
dan dilatasi waktu.
Rumput kelabu bening di kakinya
mengajarkan bahwa setiap permainan
adalah ritual kecil dari keberadaan
yang mencari arti sendiri
tanpa pernah menemukan.

/4/
Karena sajakmulah,
aku melihat hujan yang sempat ragu turun ke dalam cangkir para sufi—
bukan sebagai air,
melainkan sebagai niat kata
yang gagal menjelma doa.
Di antara lipatan sorban putih itu
ada jeda panjang
tempat Tuhan pernah sembunyi
untuk melupakan nama-Nya sendiri.

/5/
Di pelupuk matamu
kutemukan bilah luka yang tak tunduk
pada bahasa mana pun.
Heran luruh menjadi serpihan kaca,
mengiris senyum para penjaja cinta.
Barangkali itu bukan kesedihan,
melainkan alfabet purba
yang kehilangan suaranya
sebelum sempat menjadi kata.

/6/
Ada selaput tipis takjub
yang tak pernah disentuh
oleh jari Nizhami
atau siapa pun yang mencoba menafsirkan asmara.
Ia bukan cinta,
melainkan bayangan semu—
penanda yang tersesat
di lorong gelap kesadaran
yang menolak direstorasi.

/7/
Langit keruh kelabu
tampak jenuh oleh seluruh tangisanku,
tangis yang bernaung
di ceruk terdalam jantung kita
seperti embun yang takut menjadi air.
Barangkali memang begitu cara ilusi bekerja:
menyamar sebagai kesunyian
saat dahaga merayap jauh
ke gurun paling sunyi
di dalam diri.

November 2025”
Titon Rahmawan

Titon Rahmawan
“REKONSTRUKSI ATHALIA DARI 6 ABSTRAKSI

1. RITUS BENING YANG RETAK (Abstraksi Kesadaran)

Aku menemukan pecahan itu
di dalam ruangan tanpa pintu:
bersih, presisi,
seperti bukti awal sebuah kesalahan
yang tidak memerlukan saksi.

Bening itu—yang pernah kusangka hidup—
kini hanya memantulkan jarak
antara tangan yang gemetar
dan kehendak yang keliru menghitung gravitasi.

Athalia,
namamu masih menempel pada permukaan kaca,
seperti sebutir nadi
yang menolak menjadi tubuh.

Tidak ada tragedi di sini.
Hanya perhitungan yang meleset
dari sesuatu yang sedari awal
terlalu rapuh
untuk kuasaku yang terbiasa
mengukur dunia dengan ketidakpastian.

Darah di jari-jari—
itu pun bukan pengakuan,
melainkan residu
dari percobaan yang belum selesai.
Tubuhku sekadar catatan kaki
bagi retakan yang bekerja
lebih cermat daripada perasaan.

Aku mencatat:
bahwa bening tidak dapat dipanggul
seperti gagasan.
Bahwa harapan tidak memiliki sendi
untuk menahan tekanan.
Bahwa cinta, pada saat tertentu,
adalah objek yang menolak takdirnya sendiri.

Kau jatuh, Athalia,
bukan sebagai kekasih,
tetapi sebagai fenomena:
gerakan singkat cahaya
yang gagal mempertahankan bentuknya.

Dan aku—
aku hanya pewaris sunyi
yang diam-diam menimbang
apakah retakan ini
adalah bukti rusaknya dirimu,
atau rusaknya aku
yang percaya sesuatu
dapat disembuhkan
hanya dengan sekadar memegangnya.

2. DI RUANG YANG TAK PERNAH SEMPAT MENUTUP PINTU (Abstraksi Kesunyian)

Ada jejak cahaya di lantai
yang mengingat langkahmu
lebih baik daripada diriku.

Pagi tadi,
aku menemukan secuil bening
yang pernah memantulkan wajahmu.
Ia diam saja,
seperti hendak mengatakan
bahwa pecah tak selalu harus bersuara.

Athalia,
aku memanggilmu dalam hati
—dan seperti biasa—
angin yang datang menjawab.
Ia membawa sedikit debu,
yang menempel pada namamu
di kaca yang perlahan mengabut.

Aku tidak menyalahkan
siapa pun.
Kadang benda yang rapuh
memilih retak
sebelum kita sempat menjaganya.

Kadang hati
lebih dahulu mengerti
apa yang tidak ingin ia akui.

Sejak itu,
aku belajar duduk lebih pelan
di ruangan yang kau tinggalkan terbuka.
Tidak ada yang berubah di sini,
kecuali cahaya
yang semakin tipis
lurus menyusuri tembok,
mencari sesuatu yang tak bisa kembali.

Aku masih menyimpan suaramu
di sela napas yang lewat begitu saja.
Dan jika aku meletakkan telapak tanganku
di atas serpihan itu,
aku tahu
yang terasa bukan sakit—
melainkan ingatan
yang belum selesai pergi.

Begitulah cinta bekerja, bukan?
Ia tinggal lebih lama
daripada mereka yang pernah merawatnya.

Dan pada akhirnya,
kita adalah dua nama
yang saling kehilangan
secara perlahan,
tanpa pernah benar-benar
mengucapkannya.”
Titon Rahmawan

Titon Rahmawan
“REKONSTRUKSI ATHALIA DARI 6 ABSTRAKSI

3. RU ANG PE CAH A THA LIA
(Abstraksi Reruntuhan)

Lorong itu masih berdebu.
Seperti paru-paru gedung tua
yang tersedak nama kita.

Sebuah pintu terbuka.
Engselnya berdecit,
menyebutmu dalam bahasa besi yang menumpuk dirinya sendiri dalam reruntuhan.

Di lantai:
serpihan gelas,
kilat kecil memantul
lampu neon yang mendengung.
Doa yang dipotong
oleh sengatan listrik.

Athalia,
kau berjalan melewati hidupku
seperti bayangan di CCTV—
tampak,
hilang,
tampak lagi,
gemetar
tanpa suara.

Aku mencoba menyentuhmu
melalui pantulan kaca,
tapi kaca itu pecah
menjadi kota yang lain:
gedung-gedung runtuh,
jam retak,
tangga darurat,
kabel listrik menjuntai
seperti urat-urat hujan
yang kelelahan.

Aku memungut serpihan
dengan tangan telanjang.
Jariku berdarah,
mengalir perlahan
ke arah retakan di lantai,
menyusuri jalur seperti
peta yang dibuat oleh tubuh
yang lupa program aplikasinya.

Di atas meja,
ada catatan tanpa huruf.
Seperti kalimat
yang menolak menjadi suara.

Di udara,
bau logam,
bau kehilangan yang tak punya suhu
tak punya
kenangan.

Kau pernah bening,
tapi aku terlalu percaya
pada transparansi benda-benda.
Kau menjadi pecahan pertama
yang sungguh mengerti
bagaimana luka tinggal
tanpa perlu menetap.

Aku ingin marah,
tapi amarah itu
hanya berdiri sebagai
kursi kosong
menghadap jendela
yang tak bisa dibuka.

Malam menempel di kulit,
seperti plastik hitam
yang membungkus ingatan.
Aku menggeser bayangmu dari cermin ke cermin—
namun cermin itu
malah memantulkan
diriku yang sudah retak
lebih dulu.

Kita berdua,
dua mesin kecil
yang kehilangan suara dinamo.
Tak bisa pergi,
tak bisa tinggal.
Hanya berdengung
di dalam ruangan
yang menua bersama debu.

Athalia,
jika ada yang masih hidup dari kita,
mungkin itu hanya denting terakhir
serpihan gelas
yang tak sempat memilih
ke mana ia ingin jatuh.

4. DARAH YANG TAK MAU JADI KENANGAN
(Abstraksi Eksistensial)

ada getir yang tak mau tua
mengendap di rongga dada
seperti luka yang menolak mati.

kau—
gelas bening yang lama kusembunyikan
di balik kelopak
mata.

ketika pecah,
suara retaknya menyambar malam:
mengiris lebih dulu sebelum sempat kutangisi.

aku tak meminta ampun.
tak juga mencari siapa salah.
yang kutahu:
tanganku sendiri gemetar
menjatuhkan harapan
yang kutimang seperti bayi yang kehausan.

dan darah itu—
ah, darah yang terus memanggil namamu
dari lorong gelap yang tak selesai kubakar.

aku marah.
aku diam.
dua hewan liar
saling menggigit.

jika kau datang lagi,
kupikir aku tetap akan meraihmu
meski tahu kau dapat mematahkanku
sekali lagi.

aku sudah lama belajar:
beberapa luka yang
tak bisa dikubur.
mereka hidup seperti bara— kecil, malu-malu,
tapi cukup untuk menghanguskan
satu kehidupan.

aku berdiri di sini
dengan dada yang robek
tanpa janji, tanpa doa—
hanya sedikit keberanian
untuk menyebut luka ini
dengan namanya sendiri.

dan itu cukup.
untuk malam ini.”
Titon Rahmawan

Titon Rahmawan
“REKONSTRUKSI ATHALIA DARI 6 ABSTRAKSI

5. NYANYIAN GELAS YANG PECAH (Abstraksi Teatrikal)

Malam ini angin membawa kabar pahit.
Seperti suara kampung yang kehilangan lampu,
sepotong gelas kristal pecah
di tengah rumah hatiku.

Ah, Athalia…
namamu seperti burung kecil
yang dulu hinggap di jemariku
dengan percaya.
Kini bulunya rontok satu per satu
dan aku hanya bisa menatap,
tak mampu menangkapnya kembali.

Aku pernah menjaga harapanmu
seperti petani memeluk benih
di dada tanah yang tandus.
Tetapi hujan tak datang.
Dan tanganku sendiri
tanpa sengaja
menggugurkan musim itu.

Darah menetes pelan—
bukan dari luka yang kau buat,
tetapi dari marah yang lama kubiarkan
mengeras seperti batu sungai.

Aku merasa sangkakala kesunyian
menderu di ruang dada.
Ada pertarungan antara percaya dan putus asa:
dua kuda liar saling berkejaran
meninggalkan jejak debu di tenggorokan.

Namun, wahai diri…
siapa yang dapat melawan nasib
ketika ia mengetuk pintu
seperti tamu tak diundang?

Maka kuterima kepedihan
dengan langkah pelan
seperti aktor tua
yang masih menghafal naskah yang tak selesai.

Gelas itu pecah.
Harapan itu retak.
Tapi dari serpih kepingannya
aku melihat langit kecil
yang masih mau memantulkan cahaya.

Dan itulah sebabnya
meski dada ini bergetar
seperti genderang perang,
aku tetap menulis,
menamai luka,
melagukan sepi.

Karena hanya dengan begitu
aku tahu aku masih hidup.

6. RUMAH KECIL TEMPAT KENANGAN BERISTIRAHAT
(Abstraksi Keintiman Psikologis)

Athalia,
aku menulis namamu pelan-pelan
seperti seseorang yang menyalakan lilin
di ruangan yang ingin ia lupakan
tapi tak pernah benar-benar
ia tinggalkan.

Ada saat-saat tertentu
di mana kenangan berjalan kembali
seperti tamu yang tahu letak gelas
dan di mana aku menyembunyikan kerapuhan.
Mereka mengetuk pintu,
masuk tanpa kuundang,
duduk di kursi yang pernah kau pilih
sambil menanyaiku hal-hal
yang tak sanggup kujawab.

Aku ingin berkata
semua baik-baik saja.
Tapi aku tahu kata-kata itu
adalah jembatan rapuh
yang dibangun dari cuaca yang serba tak menentu.

Ketika gelas kristal itu pecah,
tak ada doa yang sanggup memperbaikinya.
Tetapi serpihannya
masih menyimpan pantulan wajahmu—
pelan, nyaris kabur,
tapi tetap membuatku berhenti bernapas.

Aku marah pada diriku sendiri
karena tidak cukup baik
menjadi seseorang yang bisa kau percayai.
Marah pada waktu
karena selalu melangkah lebih cepat
dari yang bisa kuikuti.
Marah pada nasib
karena sering memotong jalan
tanpa memperingatkan.

Namun paling sering,
aku hanya diam.
Diam yang panjang.
Diam yang mengendap,
berat seperti hujan
yang enggan jatuh ke tanah.

Aku belajar memahami
bahwa beberapa luka
tidak ingin sembuh.

Mereka hanya ingin ditemani.

Dan jika ada satu hal
yang tak sanggup kuhapus,
itu adalah cara kau menatap dunia
yang membuatku ingin menjadi versi terbaik
dari seseorang yang bahkan belum kukenal dalam diriku.

Athalia,
ruangan itu masih terbuka.
Tidak untukmu kembali,
tidak pula untukku berharap.
Hanya untuk membiarkan cahaya
masuk sedikit lebih jauh
agar aku bisa melihat jelas
bahwa mencintaimu
adalah cara paling lembut
untuk belajar tentang luka.

Desember 2025”
Titon Rahmawan