Goodreads helps you follow your favorite authors. Be the first to learn about new releases!
Start by following Azhar Nurun Ala.
Showing 1-15 of 15
“Tuhan pasti bertanggung jawab: menciptakan perpisahan, berarti siap menanggung resiko menerima rentetan doa-doa tentang pertemuan yang antri untuk dikabulkan”
―
―
“Cinta, tidaklah perlu kita maknai dengan kalimat-kalimat hiperbola. Ia sederhana. Awalnya ia ada sebagai rasa, lalu, bila kita berani, ia akan berkembang menjadi kata. Dan bagi mereka yang matang, ia akan terurai menjadi laku.”
― Ja(t)uh
― Ja(t)uh
“Aku menunggu. Kamu menunggu. Meski terkadang menunggu tak seinci pun menyeret kita untuk bertemu di titik rindu. Tapi, ah, adakah yang lebih indah dan syahdu dari dua jiwa yang saling menunggu? Yang tak saling menyapa, tapi diam-diam mengucap nama dalam doa?”
― Ja(t)uh
― Ja(t)uh
“Barangkali karena sebagian kebahagiaan tak bisa diulang, kita menjadi pecinta rekaman, pengagum kenangan. Barangkali karena kita tak punya kuasa memaku waktu, kita mengenang keindahan yang kita jumpai dalam gambar-gambar, dalam kata-kata - rentetan aksara yang bisa kapan saja kita baca. Maka jangan salahkan siapa-siapa bila diam-diam aku menyimpan gambarmu. Jangan salahkan siapa-siapa bila terlalu banyak sirat namamu dalam puisi-puisiku.”
― Tuhan Maha Romantis
― Tuhan Maha Romantis
“Entah mengapa aku selalu suka teduh. Bukan hujan apalagi terik. Aku suka keterjagaan yang -meski kadang hampa tapi selalu- menentramkan. Seperti saat minum kopi. Seperti saat insomnia di malam hari.
Atau, seperti saat menatap bola matamu.”
― Ja(t)uh
Atau, seperti saat menatap bola matamu.”
― Ja(t)uh
“Setelah jatuh, aku memilih jauh. Tapi jarak, sepertinya memang dicipta untuk dibuat luruh.”
― Ja(t)uh
― Ja(t)uh
“Ketika ekspresi rindu adalah doa, tak ada cinta yang tak mulia”
― Tuhan Maha Romantis
― Tuhan Maha Romantis
“Menjauh untuk menjaga."
Sampai pada baris tulisanku yang kesekian ini, aku masih belum bisa menerima konsep itu. Seperti konsep ‘rela menunggu untuk kebahagiaan’. Lagi-lagi, entahlah. Barangkali karena aku terlalu merindukanmu, hingga bahkan aku tak rela menunggu, terlebih lagi membuatmu menunggu.”
― Ja(t)uh
Sampai pada baris tulisanku yang kesekian ini, aku masih belum bisa menerima konsep itu. Seperti konsep ‘rela menunggu untuk kebahagiaan’. Lagi-lagi, entahlah. Barangkali karena aku terlalu merindukanmu, hingga bahkan aku tak rela menunggu, terlebih lagi membuatmu menunggu.”
― Ja(t)uh
“Jadi izinkan aku mengenalmu, untuk kesekian kalinya. Aku ingin merasakan kembali bagaimana rasanya ketika pertaa kali jatuh cinta kepadamu. Aj\ku ingin mengenang dan mengingat-ingat momen itu, sampai aku lupa bahwa pada kenyataannya, kita tengah menjalani sebuah cerita tentang dua manusia lugu yang saling menunggu.”
― Ja(t)uh
― Ja(t)uh
“Memandangimu dari sini, dari ruang maya yang tak mungkin kuraba. Menatap wajahmu dalam piksel yang terbatas: kau tampak ceria dan masih seekspresif dulu. Tiba-tiba aku bersyukur Jack Dorsey menemukan Twitter. Hingga aku yakin: di sana kau baik-baik saja. Setidaknya, masih bisa tersenyum.
Dan membuatku tersenyum.”
― Ja(t)uh
Dan membuatku tersenyum.”
― Ja(t)uh
“Kita menyatu. Meski hati kita tersimpan dalam rongga yang terpisah, kelak kita akan saling memapah menuju pagi yang selalu cerah.”
― Ja(t)uh
― Ja(t)uh
“Katanya air sumber kehidupan. Dan hujan adalah lambang keberkahan. Semoga begitu: apa-apa yang kini hidup adalah apa-apa yang diberkah.”
―
―
“Kita sering kali lupa bahwa seseorang terlihat hebat bukan karena ia benar-benar hebat, melainkan karena Allah masih menutupi aib-aibnya. Orang-orang yang memuji kita, membicarakan kebaikan-kebaikan kita, seandainya mereka mengetahui seluruh atau secuil saja aib kita, tentu akan punya pandangan dan penilaian lain.”
― Seribu Wajah Ayah
― Seribu Wajah Ayah




