,
Marga T.

Marga T.’s Followers (80)

member photo
member photo
member photo
member photo
member photo
member photo
member photo
member photo
member photo
member photo
member photo
member photo
member photo
member photo
member photo
member photo
member photo
member photo
member photo
member photo
member photo
member photo
member photo
member photo
member photo
member photo
member photo
member photo
member photo
member photo

Marga T.


Born
in Jakarta, Indonesia
January 27, 1943

Died
August 17, 2023

Genre


Marga Tjoa (born 27 January 1943) is an Indonesian popular romance and children's literature writer better known by the pen name Marga T. One of Indonesia's most prolific writers, she first became well-known in 1971 for her serial Karmila that was published as a book in 1973 and later made into a film. ...more

Average rating: 3.47 · 5,822 ratings · 377 reviews · 71 distinct worksSimilar authors
Karmila

3.71 avg rating — 874 ratings — published 1973 — 3 editions
Rate this book
Clear rating
Badai Pasti Berlalu

3.69 avg rating — 831 ratings — published 1974 — 4 editions
Rate this book
Clear rating
Tesa

3.79 avg rating — 309 ratings — published 1986
Rate this book
Clear rating
Bukan impian semusim

3.67 avg rating — 310 ratings — published 1991 — 3 editions
Rate this book
Clear rating
Seribu Tahun Kumenanti

3.58 avg rating — 264 ratings — published 2005
Rate this book
Clear rating
Kishi (Saskia-Kishi-Oteba T...

3.43 avg rating — 230 ratings — published 2004
Rate this book
Clear rating
Saskia (Saskia-Kishi-Oteba ...

3.32 avg rating — 222 ratings — published 2004
Rate this book
Clear rating
Gema Sebuah Hati (Monik,#1)

3.67 avg rating — 197 ratings — published 1976 — 3 editions
Rate this book
Clear rating
Namamu Terukir di Hatiku

3.65 avg rating — 187 ratings — published 1991
Rate this book
Clear rating
Oteba (Saskia-Kishi-Oteba T...

3.48 avg rating — 189 ratings — published 1987
Rate this book
Clear rating
More books by Marga T.…
Saskia Kishi Oteba Oteba - Buku 1 Oteba - Buku 2
(5 books)
by
3.43 avg rating — 665 ratings

Gema Sebuah Hati Setangkai Edelweiss
(2 books)
by
3.63 avg rating — 368 ratings

Sekuntum Nozomi Sekuntum Nozomi Sekuntum Nozomi Sekuntum Nozomi Sekuntum Nozomi
(5 books)
by
3.27 avg rating — 319 ratings

Di Hatimu Aku Berlabuh Di Hatimu Aku Berlabuh #2 Di Hatimu Aku Berlabuh #3 Di Hatimu Aku Berlabuh #4
(4 books)
by
3.22 avg rating — 238 ratings

Dicabik Benci dan Cinta 1 Dicabik Benci dan Cinta 2
(2 books)
by
3.23 avg rating — 87 ratings

More series by Marga T.…
Quotes by Marga T.  (?)
Quotes are added by the Goodreads community and are not verified by Goodreads. (Learn more)

“Penjual nasi tim sudah mulai membuka pintunya. Dari dalam, keluar buar harum yang sedap. Orang-orang yang pulang dari Missa pertama seringkali singgah ke situ. Mengherankan, tidak ada seorangpun yang teringat untuk berkhotbah terhadap laki-laki setengah tua itu beserta isteri dan anak menantunya. Siapa tahu mereka akan tertarik dan ikut masuk gereja. Namun orang-orang mungkin akan cemas juga: kalau mereka berbondong-bondong menghadiri Missa boleh jadi tidak akan ada nasi tim kalau mereka pulang. Atau: nasi tim itu terlalu enak, membuat orang lupa melakukan sesuatu yang ingin dilakukannya.

Bagaimanapun, itulah mereka. Dari hari ke hari, sejak puluhan tahun, dengan setia membuka satu per satu papan-papan di muka rumah pada jam enam pagi. Sebuah meja dan sebuah tungku dikeluarkan. Di atasnya terdapat sebuah panci kaleng, setinggi setengah meter, tempat memasak nasi tim itu. Kemudian mangkuk-mangkuk dikeluarkan dan diletakkan di atas meja. Menantu perempuan memasang taplak-taplak meja seperti yang telah dilakukan sejak ia menikah. Anak laki-laki memeriksa apakah tungku itu cukup arangnya. Sedangkan laki-laki setengah tua itu mulai memotong-motongayam rebus dibantu isterinya yang turut memeriksa kalau-kalau ada bumbu-bumbu yang kurang.

Setiap pagi, dari bulan ke bulan, dari tahun ke tahun, itulah kerja mereka. Anak laki-laki setelah tamat sekolah, tidak mempunyai tujuan lain kecuali belajar mewarisi keahlian masak ayahnya untuk kemudian menggantikannya setelah dia mati. Orang-orang yang sederhana, yang tidak perlu jauh-jauh dalam mencari bahagia. Mereka sudah lama menemukannya: dalam hati mereka sendiri.

Monik melirik ke arah warung itu, Dilihatnya laki-laki setengah tua itu. Dilihatnya isterinya. Mereka betul. Mereka tidak perlu ke gereja. Tuhan sudah ada dalam hati mereka.”
Marga T.