Shelly Fw's Blog

April 24, 2020

Antara Kebahagiaan dan Pencapaian

[image error]Sumber: Pixabay

Semua orang pastinya ingin merasa bahagia, terutama bahagia lahir dan batin. Setiap individu juga memiliki pengertian yang berbeda-beda untuk mendefinisikan kebahagiaan. Nah, bagaimana dengan dirimu? Apa kebahagiaan menurut versimu sendiri? Ketenangan? Kebebasan? Kesehatan? Memiliki pasangan? Kekayaan? Keluarga?


Satu hal yang pasti, kita semua bebas mengartikan kebahagiaan itu sendiri. Tidak ada pakem atau aturan seseorang merasa bahagia. Bahagia bagimu belum tentu bahagia buatku, begitu pula sebaliknya.


Sekarang, ayo pikirkan hal-hal yang bisa membuat kita bahagia. Pasti banyak sekali, kan? Entah itu makan enak, tertawa bareng sahabat, melakukan hobi, bekerja di perusahaan ternama, dan masih banyak lagi.


Hmmm. Kalau dipikir-pikir, banyak juga ya hal yang bisa membuat kita bahagia? Ratusan hal? Ribuan? Atau malah tidak terhitung?


Bersama artikel ini, aku akan mengajak kalian untuk sama-sama merenung sekaligus menemukan kebahagiaan dalam diri kita sendiri.


Loh, memangnya bisa?


Begini, kawan-kawan. Awalnya, aku juga berpikir bahwa kebahagiaan itu selalu identik dengan apa yang kita dapatkan. Dapat A, dapat B, dapat C, dan seterusnya. Memang, manusia itu makhluk emosional yang bisa merasakan bahagia, cemas, sedih, khawatir, dan lain-lain. Roda kehidupan pun selalu berputar—kita tidak mungkin selalu merasakan bahagia. Seiring manusia tumbuh dewasa, tentunya harus semakin mandiri bukan? Termasuk mandiri secara pikiran dan batin. Tidak mudah terpengaruh oleh hal-hal di sekitar kita.


Seiring terdapat faktor eksternal, terdapat juga faktor internal dalam kebahagiaan. Di titik inilah aku tersadar bahwa kebahagiaan tidak selalu identik dengan hal-hal yang kita dapatkan. Pemikiranku yang dulu sungguh keliru. Kita punya otak. Kita adalah makhluk berakal. Siapa yang menguasai pikiran kalau bukan kita sendiri?


Yuk simak kutipan dari seorang filsuf berikut ini


 


Very little is needed to make a happy life; it is all within yourself, in your way of thinking.   – Marcus Aurelius Antoninus


Ungkapan di atas miliki arti bahwa ‘sangat sedikit yang dibutuhkan untuk menciptakan hidup yang bahagia; itu semua terdapat di dalam dirimu, dalam caramu berpikir.’


Tenang. Kita tidak perlu menjadi filsuf agar bisa memahami pernyataan Marcus Aurelius Antoninus. Yang perlu kita lakukan hanyalah menjernihkan pikiran kita, lupakan segala beban dan masalah hidup barang sejenak, lalu renungkan kata demi kata dalam kutipan di atas.


Kalau aku terjemahkan secara bebas, maknanya seperti ini:


sebanyak apa pun hal yang membuat kita bahagia, itu semua tidak ada artinya bila kita tidak bisa menemukan kebahagiaan dalam kita sendiri.


Lalu, bagaimana caranya?



Atur napas

Kalau kalian pernah mendengar tentang meditasi, mungkin kalian juga pernah mendengar mengenai belly breathing atau pernapasan perut. Kalian hanya perlu menarik napas (melalui hidung) dalam-dalam. Rasakan hingga perut kalian mengembang, lalu tahan (dua/tiga detik). Buang napas melalui mulut perlahan sambil berhitung sampai lima. Mudah, bukan?


Kegiatan ini baiknya menjadi kebiasaan kita. Aku sudah berbulan-bulan menerapkannya (lebih suka melakukannya pada malam hari sebelum tidur agar keesokan hari aku bangun dalam keadaan segar dan bugar). Alhasil, aku tidak terlalu mudah merasa cemas, khawatir, atau overthinking. Kalau kita senantiasa melatih diri untuk berpikir jernih, bukan hal mustahil kita akan menjadi problem solver. Setiap masalah akan kita hadapi dengan pikiran dingin dan kita akan memandang segala sesuatu dengan pemikiran objektif.



Observe/mengamati

 


[image error]


Familier dengan kutipan ‘you see but you don’t observe’ dalam karya tersohor Sir Arthur Conan Doyle berjudul Sherlock Holmes? Ya. Hal itu juga kujadikan pedoman. Dengan sering mengamati, kita takkan terburu-buru mengambil keputusan. Apakah ini baik/buruk? Apakah ini benar/salah? Apakah aku akan bahagia mengambil keputusan ini?


Semua keputusan pasti memiliki konsekuensi. Kebaikan, keburukan, atau nilai apa pun akan kita pahami berdasarkan konteks, bukan berdasarkan apa yang kita lihat sekilas/ sebatas mendengar kabar burung. Hal ini juga terkait berpikir objektif. Menempatkan diri seolah-olah kita adalah robot. Perhatikan secara mendetail. Mengamati secara murni tanpa men-judge apa pun. Apa hubungannya dengan kebahagiaan? Dengan menjadi objektif, kita akan semakin dipercaya orang lain. Bukankah mendapatkan kepercayaan orang lain juga termasuk kebahagiaan?



Perbanyak bersyukur

Tidak perlu muluk-muluk. Tidak perlu melihat ke kehidupan yang jauh dari jangkauan kita. Bandingkan saja diri kita yang dulu dengan saat ini. Barangkali diri kita yang dulu jauh lebih emosional dan berpikir cukup kaku (sebatas benar-salah, hitam-putih).


Bersyukur sebaiknya tidak terpatok pada satu hal. Terkadang aku bersyukur karena masih bisa membantu orang lain (bisa dalam artian materiil/imateriil). Besok aku bersyukur karena datang ke kantor tepat waktu. Besoknya lagi, bersyukur karena aku tidur tepat waktu. Semakin banyak yang kita syukuri, semakin baik tentunya.



Filosofi santuy

Kalau yang satu ini sudah pasti aku pelajari dari Satu Persen. Tak usah mencemaskan hal-hal yang tidak perlu. Di sisi lain, kita perlu berusaha semampu kita dan semaksimal mungkin. Hasilnya? Santuy aja. Kalau memang di luar ekspektasi kita? Siapa tahu itu malah menjadi pelajaran berharga untuk kita.  Santuy aja!


 


Buatku sendiri, menerapkan ketiga hal di atas amat sangat membantu. Ya, memang terkesan mudah, tapi tidak sulit kalau kita sudah membiasakan diri.


Lalu bagaimana dengan pencapaian hidup? Aku sudah melakukan keempat hal di atas, tapi hidupku masih begini-begini saja. Stagnan. Rekan-rekanku yang lain sudah memiliki usaha sendiri, sudah berkeluarga, bahkan sudah bekerja di luar negeri. Aku harus bagaimana?


Percaya deh, aku mengalami sekaligus memahami masalah itu. Masalah pencapaian juga seringkali membuat kita insecure dan cemas, tak peduli betapa kita sudah berusaha untuk tak terlalu peduli.


Awalnya pun aku minder. Aduh, pencapaian hidupku nggak seperti orang lain. Aduh. Aduh. Aduh.


Mengaduh takkan menyelesaikan masalah, jadi aku membuat standar pencapaianku sendiri. Apa saja itu?



Mengontrol emosi

Aku tidak akan bosan mengingatkan orang lain sekaligus diriku sendiri bahwa emotional quotient (EQ) jauh lebih penting daripada intelligence quotient (IQ). Kenapa? Karena bagiku, dengan mengasah kecerdasan emosional berarti kita menghargai diri sendiri. Kita mensyukuri karunia Tuhan YME atas kapasitas kita sebagai manusia.


Sampai detik ini, aku masih belajar untuk memiliki kecerdasan emosional yang tinggi. Setidaknya, dibandingkan dengan diriku di masa lalu, kemampuanku mengendalikan emosi sudah jauh lebih baik. Perasaan sedih, cemas, atau khawatir memang tidak terhindarkan, tapi setidaknya bila kita terbiasa mengelola emosi kita takkan mudah larut dalam perasaan-perasaan semacam itu.



Membahagiakan orangtua

Ini juga tidak terpatok pada satu hal. Aku sangat bersyukur memiliki kedua orangtua yang tidak menuntutku untuk menjadi ini, atau memiliki itu.


Lulus sekolah dan lulus kuliah juga merupakan cara membahagiakan orangtua, begitu pula mendapatkan pekerjaan. Tidak ada standar yang terlalu tinggi. Aku tentu akan berusaha terus untuk membahagiakan orangtuaku dengan cara-cara yang lainnya.



Mencapai serangkaian tujuan hidup 

Ini bisa dari hal kecil, bisa juga hal yang besar. Aku terbiasa menghargai hal-hal kecil, menulis catatan dalam buku to-do-list, dan sebagainya.



Delayed gratification, self-reward, dan kesuksesan

Sebelum membahas self-reward, mari kita bahas dulu delayed gratification. Sederhananya, delayed gratification adalah kemampuan menahan diri untuk mendapatkan kepuasan. Kalau kalian pernah mendengar/menonton video the marshmallow test, setidaknya kalian memahami konsep delayed gratification. Meskipun tes tersebut ditujukan pada anak-anak, konsep tersebut berlaku pula dalam kehidupan orang dewasa. Contoh sederhana delayed gratification misalnya menahan lapar ketika puasa, tetap di rumah selama pandemi covid-19, fokus bekerja untuk kemudian bisa mengoperasikan ponsel di waktu yang lebih senggang, dan lain-lain. Semakin banyak delayed gratification yang kita tempuh, semakin kita memiliki peluang untuk menjadi manusia sukses.    


Self reward? Ya. Kita berhak memberikan ‘hadiah’ untuk diri kita sendiri, entah itu atas prestasi kita yang kecil atau besar. Cukup dengan hal sederhana seperti membeli makanan kesukaan untuk diri sendiri, membaca buku yang disenangi, atau menyanyikan lagu favorit. Reward tersebut bisa bermacam-macam, selama tidak boros dan mengganggu kesenangan orang lain juga tentunya.


Nah. Itulah bahagia dengan caraku sendiri versiku. Apa pun makna kebahagiaan untuk kita, yakinilah bahwa bahagia itu sederhana. Semoga artikel ini bermanfaat.


Mohon maaf bila ada kata-kata yang kurang berkenan. Selamat berpuasa bagi yang menjalankan.


 


 


Bandung, 24 April 2020


R. Shelly Ferawati, SH., Mkn


 


 


 


 

 •  0 comments  •  flag
Share on Twitter
Published on April 24, 2020 07:37

February 14, 2019

Valentine’s Day?

[image error]

 •  0 comments  •  flag
Share on Twitter
Published on February 14, 2019 07:16

December 23, 2018

Start from The Full Moon

[image error]


[image error]

 •  0 comments  •  flag
Share on Twitter
Published on December 23, 2018 05:32

November 15, 2018

Mengapon

[image error]


[image error]

 •  0 comments  •  flag
Share on Twitter
Published on November 15, 2018 23:51

September 11, 2018

Cerita Pendek: Pertunjukan Bustam – Shell Fiand

[image error]


 


Anak itu berlari. Setiap pijakan dan hentakan membuatnya semakin menjauhi desa, mendekati hutan lebat di sebelah barat. Dari jarak puluhan meter, terlihat asap keabuan menodai lembayung senja. Mengotori semburat jingga nan jelita.


Jantung anak itu takkan berdetak tak beraturan seandainya ada orang lain yang memadamkan api ganas itu. Tubuhnya takkan berkeringat dingin seandainya ia tak berlari sendirian di antara pohon-pohon jati yang menjulang.


“Kebakaran! Kebakaran!”


“Bagaimana ini? Ketika aku mendekati hutan luar tubuhku bahkan terpental. Kami semua terpental.”


“Tidak ada yang bisa memadamkan kebakaran itu.”


“Bustam pasti bisa!”


“Ya, anak itu pasti bisa.”


“Tolong kami, Bustam. Desa ini membutuhkanmu untuk memadamkan api itu.”


“Hutan luar membutuhkanmu, Bustam.”


Segala yang berada di hutan luar mengingatkan anak itu pada mendiang sang ibu. Dari tanah, dedaunan, bunga, bahkan sampai aliran sungai. Warga desa menyebut wilayah tersebut sebagai hutan luar karena tidak ada satu pun di antara mereka yang bisa memasuki wilayah itu. Setidaknya hanya ada dua orang yang bisa memasuki, memanfaatkan tanaman, dan mengenal wilayah itu dengan baik; Bustam dan mendiang ibunya, Sadirah.


Masuk ke hutan luar sebenarnya mudah. Susuri jalan ke arah barat dan kau akan menemukan tanah yang landai. Turun saja terus hingga kau menemukan tanah yang lebih subur, maka kau telah sampai di hutan luar.


Satu hal yang istimewa dari wilayah itu adalah dedaunan dan bunga-bunga yang jarang didapati di wilayah lain. Daun Engkek untuk bahan utama ramuan obat penyakit luar, akar Bunga Siloam untuk obat penyakit dalam, Bunga Liasan untuk menjaga kelembapan kulit, dan masih banyak lagi. Dulu, Sadirah sering pergi ke sana untuk menolong warga desa. Ia bahkan bersedia membuatkan ramuan-ramuan dengan sukarela, tapi warga desa selalu tak pernah merasa cukup hanya dengan mengucapkan terima kasih. Mereka memberi Sadirah pakaian, menu hidangan yang enak, meminjamkan kuda, dan lain sebagainya. Sejak wanita itu meninggal, rutinitas Sadirah diteruskan oleh Bustam, tapi seiring waktu, warga desa menemukan berbagai tanaman lain yang memiliki khasiat kurang lebih sama seperti tanaman-tanaman di hutan luar. Mereka bilang, mereka tidak ingin merepotkan Bustam. Tidak seharusnya anak berusia sebelas tahun memiliki rutinitas seperti itu. Kata mereka, ia lebih baik mempelajari hal lain saja.


Kendati begitu, Bustam selalu memastikan hutan luar selalu terawat. Menjelajahi wilayah itu saja sudah cukup. Tidak pernah ada rumput liar atau hama. Di sana, dedaunan kering akan terurai menjadi mikroorganisme lain. Cuaca buruk pun tak pernah memengaruhi pertumbuhan tanaman-tanaman di sana. Tidak sekalipun. Kata Sadirah, wilayah itu hanya membutuhkan sosok penjaga.


Tapi, bagaimana Bustam menjaga hutan yang sudah telanjur dirusak oleh api? Tidak. Sebagian hutan luar masih baik-baik saja. Satu-satunya yang terganggu hanya sebatang pohon jati—terbakar dan menguarkan panas. Satu pohon saja. Meski begitu, bagaimanapun Bustam harus mencari cara agar bisa menyelamatkan pohon tersebut.


“Ibuuu,” lirih anak itu. “Bagaimana aku bisa memadamkannya? Bahkan dedaunannya sudah termakan api.” Ia mulai terisak. Bisakah ia meminta agar diturunkan hujan saja? Atau ia harus menggunakan air sungai untuk ….


Air sungai! Anak laki-laki itu segera menghambur ke sungai dengan semangat yang membara, mengalahkan bara api di pohon tadi.


Ada dua ember di dekat sungai, jadi Bustam bisa membawa dua ember itu sekaligus. Tubuh anak itu memang kurus, tapi otot-otot di balik kulitnya sudah terlatih dan kuat. Merasa sedikit lelah setelah menempuh setengah perjalanan, ia mengangkat satu ember di atas kepala, sedangkan ember lainnya dibawa oleh tangannya yang bebas.


Bustam baru saja menaruh kedua ember di tanah ketika suara mendesis terdengar. Kedua tangannya baru mengangkat salah satu ember ketika ia kembali menatap pohon dan mendapati bara api telah berkurang hingga padam dengan sendirinya.


 



Lho?


Bagaimana bisa?


Kedua tangan anak itu belum sempat menaruh kembali ember di tangannya kala sebuah sulur bergerak semakin dekat dan mengelilingi kedua pergelangan kaki Bustam.


”Aaargh!”


Tubuh Bustam terangkat dari tanah. Sapuan angin serta dedaunan dan ranting menerpa wajah dan tubuhnya. Sulur itu semakin banyak, semakin membatasi ruang gerak.


Bruk! Anak itu mendapati tubuhnya mendarat tepat di depan pohon yang begitu lebar, lebat, dan hitam.


Jangan pernah mendekati pohon tua itu.


Bustam teringat nasihat sang ibu. Ia terisak lagi.


Pohon itu satu-satunya yang paling magis dari hutan luar. Kalau kau terpaksa berada di dekat pohon itu …


Bustam menyiapkan diri untuk berlari ke arah sungai.


… lari.


Belum lewat lima kedipan mata ia terbebas dari sulur pohon tua, sulur-sulur yang lebih kuat dan besar membelenggu anak itu. Tak hanya terjerat, ia juga terlempar, terbentur, dan terombang-ambing hingga ia mual hebat. Langit mulai gelap dan Bustam malah terperangkap pohon tua. Mimpi buruk yang sempurna.


“Maafkan kelalaianku. Tolong lepaskan aku! Tolong!” teriak Bustam. Baik akar maupun ranting pohon tua seolah mengamuk dan entah kapan melepaskan si bocah malang.


“Ibu! Maafkan akuuu! Kumohooon.” Bustam memohon sejadi-jadinya. Pada siapa saja. Pada apa saja. Asalkan dia bisa bebas. Asalkan ia bisa tenang.


Membentur lagi. Terlempar lagi. Membentur sulur lain lagi. Terlempar lagi.


Bustam benar-benar merasa linglung—tak kuasa bangkit berdiri hingga sulur akar pohon tua kembali menyerangnya, kali ini mengangkat sekaligus melempar bocah itu, membuatnya terlempar rendah namun cukup jauh.


“Aaargh!” Ia merasakan panas dan perih di tulang pipi kanan akibat benturan pada bebatuan. Sebagian tubuhnya merasakan kesejukan air sungai. Ia mencoba bangkit, tapi yang bisa ia lakukan hanya berguling sedikit. Sebelum anak itu sempat berpikir lebih banyak, kesadarannya semakin menipis. Bustam merasakan dirinya bergerak hanyut terbawa derasnya air, lalu tak sadarkan diri.


>>><<<


Lidah hewan itu menjulur keluar. Getaran suara menarik perhatiannya. Suara yang berasal dari bibir pemuda berkulit sawo matang di hadapannya begitu lembut dan nyaring.


Ular itu mendekati si pemuda. Gerakannya seanggun ilalang tertiup angin. Tanpa suara.


Sebuah tangan mengangkat tubuh ular itu, disusul tangan lain.


“Kita akan pergi jauh, Kora,” ucap si pemuda.


Ular bernama Kora itu ditempatkan di sebuah keranjang. Ia tampak tidak keberatan dengan keputusan si empu. Keranjang itu lalu dimasukkan ke dalam kantong yang terbuka, bersama perlengkapan lain.


“Nah. Kau sudah siap?”


Kora menatap si pemuda sekilas. Ia mendesis lalu menenggelamkan diri dalam keranjang.


“Ular pintar.” Si pemuda lalu berjalan meninggalkan rumah panggung.


Ini akan menjadi hari yang besar dan berarti baginya. Ia ingin sampai di tempat tujuan sebelum malam, jadi ia harus berangkat di waktu fajar.


“Di sana memang tidak seindah di sini, tapi kuyakin kau akan suka.”


Kedua kaki pemuda itu berjalan menyusuri rerumputan. Udara di sekeliling amat sejuk dan segar, membuatnya tenang dan juga bersemangat.


“Seingatku, kau baru makan kemarin. Iya kan, Kora? Selanjutnya apa? Kau mau ayam? Kadal? Tikus? Atau ….”


Seekor burung berkicau nyaring, mendarat tepat di atas ranting pohon. Ia berkicau lagi, kali ini lebih panjang.


Langkah pemuda itu terhenti. Ia menoleh ke arah burung kenari dan mendapati burung kenari lain bertengger di ranting pohon yang sama. Mereka berkicau dengan kompak.


Pemuda itu tersenyum. “Aku akan pergi sebentar saja Teo, Wali. Terima kasih sudah mengucapkan salam perpisahan denganku.” Ia kemudian berjalan lagi. Belum sampai sepuluh meter, seekor tupai menghalangi jalan.


Ia mengembuskan napas panjang. “Leta, aku hanya ingin pergi sebentar. Aku berjanji akan kembali lagi.” Ia melangkah sedikit ke kanan dan meninggalkan si tupai. Ia kira takkan ada lagi yang mengucapkan salam perpisahan untuknya, tapi kemudian seekor hewan berlari ke arah manusia yang mengenakan caping itu.


“U, aak. U, aak.”


“Hahaha. Astaga, Cipa! Rupanya kau juga tak ingin melewatkan kepergianku, hem?”


“U, aaaaak,” seru monyet itu.


“Aku akan kembali. Terima kasih.” Ia mengangguk dalam.


Kedua kaki telanjangnya mulai menapaki tanah tanpa rerumputan. Dingin semakin terasa ketika ia berjalan mendekati sebuah perahu di pesisir sungai.


Kejutan rupanya belum berakhir. Suara ringkik kuda menghentikan langkah pemuda itu.


“Sega?”


Ia tertegun mendapati kuda putihnya membuntuti sampai sejauh ini. Kemarin mereka sudah mengucapkan salam perpisahan, tapi rupanya Sega masih ingin bertemu.


Bukan hanya Sega yang membuatnya tertegun. Teo, Wali (keduanya bertengger di atas punggung Sega), Leta, dan Cipa juga tampak tidak menyerah untuk melepaskan kepergian dirinya.


“U, aaaak.” Cipa memelas tepat di dekat kaki anak laki-laki itu.


Sambil berlutut, pemilik hidung mancung itu mengelus Cipa. Ia menatap kawan-kawan yang sejak tadi mengikuti.


Pada kawan-kawan yang nyatanya tak ingin melepas ia pergi, melainkan ingin ikut pergi bersama.


“Baiklah. Sepertinya aku akan lewat jalan darat saja. Sega, mohon bantuanmu.” Pemuda itu memastikan perahunya sudah tertambat dengan kencang, kemudian bersiap untuk mengendarai si kuda putih.


>>><<<


Seluruh rakyat desa merayakan pesta panen dengan penuh sukacita. Sebagian dari mereka menari, bernyanyi, dan meminum teh melati. Pesta yang berlangsung sejak pagi itu seolah takkan berakhir.


Bahkan sang kepala desa—Wirma—mengizinkan kedua anak gadisnya berdansa dengan pujaan hati mereka. Di kejauhan, ia menikmati keceriaan di sekitar sembari mengisap kretek. Diiringi gendang hingga suling, nyaris seluruh penduduk desa hanyut dalam alunan musik tersebut.


Tepuk tangan mewarnai usainya pertunjukan. Pesta sudah usai, tapi kebanyakan dari mereka menyayangkan. Mereka capek, tapi juga masih enggan pulang.


Di tengah keramaian kecil itu, suara suling kembali terdengar.


Semua orang menatap Tarno, laki-laki bermata bulat yang sebelumnya memainkan suling. Tarno mengernyitkan dahi—kali ini bukan dia yang memainkan. Ia mengangkat bahu.


Wirma segera beranjak menuju asal suara. Terletak sekitar enam meter dari kerumunan.


Di atas bebatuan, seorang pemuda tengah memainkan suling bambu. Wirma tidak mengenal pemuda itu meski ia sudah mendekati si pendatang. Pria berkumis tebal itu hendak mengusir, tapi alunan suara alat musik itu terlampau lembut untuk dilewatkan.


Warga desa lain mengikuti Wirma, seakan terhipnotis. Semakin lama mereka mendengar, semakin mereka mengagumi permainan si pendatang. Semakin penasaran juga, karena mata dan sebagian hidung si pendatang tertutup oleh caping anyaman, sedangkan mulutnya tertutup kain tipis yang diikat di belakang kepala.


Di tengah bisik-bisik warga, pemuda itu tiba-tiba menghentikan permainan. Laki-laki bertopi itu membuka keranjang di hadapannya sebelum memainkan alat musik tiupnya kembali.


Kali ini, ujung suling itu mengarah ke keranjang. Seiring gerakan mengayun ke atas, muncul kepala dan leher seekor ular kobra.


“Astaga!”


“Kepala desa, apakah ular itu berbahaya?”


“Ibu, aku jadi takut.”


“Mundur. Berdirilah di belakangku!” Wirma memperingatkan.


Seluruh warga desa mundur, membiarkan pria itu tetap dekat dengan si pendatang.


“Hati-hati, Ayah,” ucap salah satu buah hatinya.


Permainan masih berlanjut. Kepala ular itu kini meliuk ke kanan dan ke kiri, mengiringi gerakan ujung suling.


“U, aaak.” Seekor monyet muncul dari balik si pemuda, disusul seekor tupai.


Tempo musik yang amat lambat mulai meningkat. Semua pasang mata tak memercayai pemandangan di hadapan mereka ketika si monyet menari dengan tupai di atas batu. Si monyet melompat-lompat, sedangkan si tupai menaik-turunkan kepala.


Sahut-sahutan dimulai. Antara suara suling, monyet, dan si tupai saling mengisi satu sama lain.


“Lucu sekali!”


“Lihat! Monyet dan tupai menari!”


“Hei, ada burung kenari juga!”


Indah sekali, pikir Wirma. Mungkin ia memang ingin menghibur kami. Paling tidak, mungkin mengamen dan meminta jatah makan. Ah, aku tidak keberatan. Pria itu tersenyum. Tanpa perintah, warga desa kembali mendekati si pemuda dan mengira-ngira seperti apa wajah di balik caping itu.


“Mungkin ia seumuranku,” bisik anak sulung si kepala desa. “Kira-kira ia tertarik berkenalan denganku tidak, ya?”


“Kau ini, bagaimana dengan Kang Raka?”


“Ssst! Kau juga mengagumi pemuda bercaping itu, kan?” tanyanya pada si bungsu. Si bungsu terkikik pelan.


Kepala dan bahu mereka mulai bergoyang mengikuti irama. Warga desa terhibur dengan para hewan sekaligus terpukau dengan permainan musik yang menyejukkan.


Tarno sendiri merasa pemuda tersebut amat hebat. Tebersit keinginan untuk belajar dari laki-laki itu.


Raka pun tersenyum sepanjang pertunjukan.


Musik penutup dilantunkan. Tempo musik melambat dan sahutan terakhir yang terdengar adalah ringkikan sang kuda.


Riuh tepuk tangan membahana. Si pendatang mengangguk ke kiri, depan, dan kanan seolah dari balik caping ia bisa melihat kerumunan di hadapannya.


Ia lalu menutup keranjang. Tupai, monyet, dan dua burung kenari kembali mendekati tas kantong di belakang si pemuda.


Wirma mengambil dua langkah ke depan. “Tuan, kebetulan kami baru saja merayakan pesta panen dan kedatangan Anda sangat menghibur kami semua. Bolehkah kami tahu dari mana asal Anda dan apa keperluan Anda kemari?”


Warga lain turut mendengarkan dengan saksama.


Pemuda bercaping tersenyum—suaranya sedikit teredam kain di wajahnya. “Tidak penting aku siapa, tapi yang terpenting adalah alasanku datang jauh-jauh ke desa ini. Aku sengaja membuat pertunjukan di sini untuk kalian semua.”


Anak-anak tersenyum riang.


Para gadis merasa tersipu.


Para ibu dan bapak begitu tersanjung.


Si pendatang berdiri di atas batu, masih setengah menundukkan kepala. “Kalian sudah memberikan sesuatu yang sangat berarti bagiku, karena itulah aku sengaja mempersembahkan pertunjukan terbaik.” Ia merentangkan kedua tangan. “Sejujurnya, itu adalah semacam ucapan terima kasihku untuk kalian semua. Berkat kalian, kini aku bisa menjalani hidupku di tempat yang jauh lebih baik.”


“Sesuatu yang berarti? Apa itu?” tanya seorang wanita di ujung kerumunan.


Senyuman lagi. Seandainya laki-laki berkulit sawo matang itu melihat ke arah wajah-wajah di hadapannya, ia akan mendapati beberapa gadis menjulur-julurkan kepala, mengintip ke arah wajah di balik topi.


Tetap saja, masih terlalu misterius untuk ditebak.


Suara pemuda itu tidak berat; tapi terdengar amat merdu bagi para gadis. Namun, ketika suaranya terdengar lagi, reaksi yang muncul amat berbeda.


“Sebuah kebohongan,” katanya.


Warga saling tatap. Wirma sendiri tertegun mendengarnya.


“Maaf, Tuan. Kebohongan mana yang Anda maksud?”


Lawan bicara Wirma turun dari bebatuan dan menapaki tanah rerumputan.


“Kurasa itu tidak terlalu penting, karena kejadiannya sudah cukup lama—tujuh tahun lalu.” Ia memberi jeda. “Ah, ya. Apakah kalian mengenal anak laki-laki bernama Bustam? Kalau tidak salah asalnya dari desa ini.”


Wirma mendengus pelan. “Bustam? Anak penyihir itu? Dia memang berasal dari sini, tapi kami sudah mengusirnya.”


Yang lain mengangguk membenarkan.


“Bustam, si anak tak berguna. Kenapa dia menanyakannya?”


“Bocah aneh. Untung sudah diusir dari sini.”


“Hahaha. Pasti bocah itu mengadu.”


Senyum di wajah si pendatang lenyap. Jadi selama ini Bustam dianggap anak penyihir ….


“Pengusiran itu demi kebaikan warga desa ini, Tuan. Ah, Tuan tidak seharusnya menanggapi bocah itu terlalu serius. Hutan luar bahkan mengusirnya, jadi kami yakin itu adalah keputusan yang tepat. Tuan tidak perlu khawatir,” ujar si kepala desa.


“Tentu tidak, Kepala Desa.” Didekatinya pria berkumis tebal di depannya. “Tidak ada yang mengadukan perbuatan kalian.”


Topi anyam dan kain itu akhirnya dilepas, menunjukkan wajah di baliknya.


Wirma sempat berhenti bernapas.


“Akulah anak itu.” Ia lalu berpaling ke arah kerumunan. Kebanyakan warga menutup mulut karena kelewat terkejut. Anak-anak dan pemuda-pemudi saling menatap, bingung.


Beberapa pasang kaki di barisan depan mulai bergerak mundur.


Pemuda berkulit sawo matang itu memiliki codet panjang di pipi kanan, nyaris menyentuh mulut. Bustam memiliki alis yang cukup tebal, jadi ia takkan sulit dikenali. Matanya juga cokelat seperti ibunya. Mata itu kini menyorot tajam.


Ia sama sekali bukanlah pendatang. Ia adalah Bustam.


Suaranya meninggi. “Hutan luar mengusirku, itu memang benar. Tapi seandainya kebakaran itu tidak terjadi, aku takkan pernah terusir.”


Wirma menundukkan kepala, malu. Perasaan itu perlahan menjalar di antara dirinya dan juga semua warga lainnya.


“Aku tahu apa yang kalian lakukan saat itu. Salah satu dari kalian sengaja melesatkan anak panah berapi pada salah satu pohon agar terbakar.” Bustam teringat ketika ia menemukan sebuah busur panah di dekat hutan luar.


“Kalian memohon padaku agar bisa menyelamatkan kalian. Nyatanya, kalian berniat mengusirku. Pakaianku kalian buat agar menguarkan aroma asap tembakau yang sama seperti panah apinya. Dengan cara itu, pohon tua yang sensitif terhadap bau akan berpikir akulah penyebab kebakaran itu.”


Semakin banyak warga yang merasa malu. Mereka tutup mulut meski anak-anak bertanya pada mereka.


“Benarkah itu, Ayah?” tanya anak bungsu Wirma. Sang ayah bergeming.


Bustam melangkah maju. Sebenarnya ia tidak berniat mengatakan ini semua, tapi ia tidak terima ibunya dikatakan penyihir.


Mungkin, warga desa mengusirku karena aku tidak bisa melakukan tugas sebaik ibu. Tidak bisa bersikap ramah pada setiap orang. Tidak bisa berbaur dan menjalin hubungan akrab dengan mereka.


Selama tujuh tahun terakhir, pemikiran itulah yang bersemayam dalam benak Bustam. Tak pernah sedikit pun ia mengira warga desa membencinya karena menganggap Sadirah sebagai penyihir.


Tidak pernah.


“Ibuku bukanlah penyihir!” teriak pemuda itu. “Kalian tahu kenapa hutan luar tidak menerima kehadiran kalian? Karena hutan luar sangat keramat. Sangat suci. Hanya yang tulus yang bisa memanfaatkan segala tanaman yang ada di sana. Ibuku sempat memohon dan berdoa agar hutan luar dapat kembali seperti sediakala—menerima kehadiran siapa saja—tapi sayangnya tak pernah berhasil. Sekarang aku mengerti kenapa usaha itu selalu tak pernah berhasil.”


Ia pun melanjutkan. “Kalian bahkan menakut-nakuti anak kalian agar tidak mendekati hutan luar. Menunjukkan rasa iba kalian padaku karena tidak seharusnya anak berusia sebelas tahun keluar-masuk hutan, padahal sebenarnya kalian takut anak-anak kalian mengikutiku ke sana.”


Tidak ada penyangkalan. Tidak ada pembelaan. Wajah-wajah di hadapan Bustam seredup langit yang dihiasi sisa sinar mentari.


“Benar kan, Tuan Wirma?”


Wajah sang kepala desa sulit terbaca meski pandangannya tertuju pada pemuda di hadapannya. Bibirnya diam seribu bahasa, tapi sepertinya ia masih dapat mengumpulkan wibawa. Kebungkaman itu membuat Bustam makin naik darah.


“Kalau menurut kalian ibuku penyihir, maka aku juga sama! Akui perbuatan kalian atau aku akan mengutuk lumbung padi di desa ini!” ancam pemuda itu; jelas-jelas menuding Wirma dan segenap penduduk desa.


Raut sang kepala desa mendadak pucat. Lenyap sudah wibawa yang tadi.


“To-tolong jangan lakukan itu, Bustam. Kami melakukannya karena tak ingin anak-anak kami terluka atau hilang di hutan. Kami tak punya pilihan lain selain mengusirmu. Kalau tidak, kedamaian desa ini akan terganggu. Itu hanya sebuah kekeliruan.”


Anak- anak Wirma dan juga warga desa lain yang masih berusia belia menatap pemimpin desa mereka, antara bingung dan kecewa. Beberapa pria dewasa bergerak ke sisi sang tetua, mendukungnya.


“Kekeliruan, katamu?” Bustam berteriak makin keras. “Kebohongan bukan sekadar keliru. Itu sangat salah! Dan ingat! Itu lebih dari satu kebohongan!” Pemuda itu mengepalkan tangan, geram.


“Hei!” bentak seorang lelaki tua yang berdiri tepat di samping Wirma. Sorot matanya tajam dan tanpa ragu ia maju satu langkah, menantang. “Kau pikir kami bisa terpikat oleh sihirmu dan binatang-binatang tengikmu itu? Tempatmu bukan lagi di sini. Pergi!” Ia menggerakkan tangannya sebagai penegasan guna mengusir Bustam. Pemuda bercodet itu menunduk, tapi matanya masih menatap semua orang di situ.


“Kepala desa kalian dan juga para pria ini adalah penipu. Mereka tega mempertaruhkan nyawa seorang anak dengan mengatasnamakan kepentingan desa.” Rahang pemuda itu mengeras. “Sungguh kepentingan yang keliru. Kalian semua,” pandangannya membalas tatapan semua anak muda di sana, “sudah dibohongi. Camkan itu.”


Si lelaki tua beranjak maju, tapi sang kepala desa menahannya.


Bustam mengalihkan pandangannya pada Wirma. “Aku memang tak punya tempat di sini, tapi semua pemuda-pemudi di desa ini harus tahu kebenarannya.”


Tak ada waktu untuk menyanggah. Bustam bergegas membalikkan badan untuk membawa tas kantong dan langsung menunggangi kuda putih miliknya. Kuda itu seketika berderap dan kerumunan orang terburu-buru menyingkir untuk memberi jalan. Meninggalkan para pemuda, tetua, dan wanita dengan pikiran mereka masing-masing.


Bustam terus memacu Sega keluar dari desa dan menyusuri jalan yang sejak dulu sudah sangat ia kenali. Hari mulai beranjak malam. Pikirannya berpacu seiring angin yang menerpa wajah. Bustam teringat bagaimana ia hanyut terbawa aliran sungai sangat jauh dengan tubuh penuh luka, hingga dirinya sampai di muara di kaki bukit. Ia ditemukan penduduk kampung dekat sana. Orang-orang di sana begitu baik; merawat dan memberinya pakaian, suling, serta caping hasil kerajinan sendiri secara cuma-cuma. Setelah Bustam bisa hidup mandiri, ia selalu dihantui masa lalu dan menunggu waktu yang tepat agar bisa kembali ke desa. Kini, ia sudah melakukannya. Semakin jauh dari desa itu, seiring rumput dan pepohonan yang semakin rimbun dan beraneka warna, Bustam merasakan kemarahan di dadanya perlahan surut.


Saat hari benar-benar telah gelap, ia tiba di perbatasan di mana warna lumut tepian sungai mulai berubah bercahaya, tepi hutan luar. Bustam turun dari punggung Sega, menambatkan kuda kesayangannya ke sebuah batang pohon, lalu membiarkan Sega merumput. Ia membuka tas kantong, dan kawan-kawan kecilnya pun berkumpul di dekat Bustam. Teo dan Wali hinggap di bahunya. Dibelainya kepala Cipa dan Leta.


“Kalian tunggulah di sini. Aku janji tidak akan lama dan tidak akan meninggalkan kalian.” Kawan-kawannya mulai protes, tapi Bustam berhasil menenangkan mereka semua. Betapa ia berharap para kawannya tidak menyadari keraguan yang tersirat dalam janjinya. Pemuda itu mengambil sebuah lentera minyak yang tergantung di pelana Sega, menyalakannya dengan korek api, lalu mulai melangkah memasuki area hutan luar. Sendirian.


Bustam berjalan dengan tenang dan perlahan. Sinar redup lentera menyinari jalan di depannya. Gemericik air sungai membuatnya kembali teringat peristiwa ketika ia masih kecil dulu. Pemuda itu bergidik ketika mengingat perasaan takut saat ia terombang-ambing di antara sulur. Ia mengerahkan segenap keberanian. Setelah lahan landai berumput yang terbuka dengan pepohonan rapat di kedua sisi, di ujung sana ada pohon keramat. Ia kemudian menyempatkan diri untuk menggantungkan lenteranya pada salah satu cabang pohon terdekat dengan hati-hati sebelum kembali berjalan. Setiap langkah Bustam tempuh dengan khidmat, hingga jarak yang ia rasa cukup aman.


“Pohon tua,” ucap Bustam mantap pada pohon di hadapannya. “Ini aku Bustam, anak dari Sadirah.”


Mata pemuda itu menunduk sekaligus mengawasi akar pohon tua yang berada dalam jarak pandangnya dan terkena cahaya lentera. Aman. Tidak ada sulur yang bergerak. Seperti biasa akar, ranting, batang, dan dedaunan pohon tua tampak tenang dan kuat.


Angin tiba-tiba berembus pelan, membawa aroma rumput basah dan dedaunan kering. Bustam tidak dapat menebak asalnya angin itu, yang nyatanya berasal dari pohon. Hanya beberapa detik. Angin lalu berhenti, menyisakan hening.


Bustam putra Sadirah ….


Mendadak Bustam merasakan sebuah kesadaran yang begitu agung memasuki benak, seiring suara itu terdengar di kepala. Pemuda itu merasa bulu kuduknya meremang, ketika ia sadar bahwa untuk pertama kali, Sang Pohon Tua tengah berbicara padanya. Pemuda itu berlutut lalu beringsut mendekati pohon di hadapannya. Kedua telapak tangannya bersatu di hadapan kepala.


Benak sang pohon terasa ganjil, tapi Bustam bisa merasakan suatu kegembiraan. Suara itu juga amat jauh dari kesan mengancam. Seperti seseorang yang bahagia bertemu kembali dengan teman lama. Tanpa berkata-kata, Bustam berusaha menyampaikan maksud kedatangannya pada Sang Pohon Tua. Ia merasakan kilas balik adegan kebakaran itu berputar kembali di benaknya; sang pohon telah melihat semua. Suara gaib itu bergaung lagi dalam kepala Bustam.


Kesalahpahaman telah diluruskan dan akhirnya kau kembali. Sudah cukup kau berurusan dengan para manusia yang membohongimu. Andai saja bau tembakau tidak menyulut kemarahanku saat itu, kesalahpahaman tak perlu terjadi.


Setetes air mata penuh kelegaan mengalir di pipi Bustam yang masih memejamkan mata. Beban yang amat berat telah terangkat. Hatinya tak pernah terasa seringan sekarang.


Hutan ini milikmu, Bustam putra Sadirah. Kemarilah dan manfaatkan segala yang ada di sini, titah Sang Pohon Tua.


Tenggelam dalam haru, pemuda itu berdiri mendekat, membelai batang kasar sang pohon sebelum merentangkan tangan untuk memeluk entitas agung itu. Tubuh pohon tua jauh lebih besar dari pelukan lengannya. Ia menempelkan pipinya yang berbekas luka ke sana, merasa bahagia luar biasa. Sebuah kekuatan mahabesar terasa menyelubungi dirinya—sang pohon menyalurkan energi padanya sebagai ritual penanda Bustam menjadi penjaga hutan—Jagawana bagi hutan luar. Ia merasakan pipi dan sekujur tubuhnya semakin hangat oleh energi hutan.


Ketika aliran energi itu berhenti, Bustam membuka mata dan mengusap air mata di wajah. Ia terkejut mendapati bekas luka panjang di pipinya telah sembuh, hilang sama sekali. Semua sudah selesai. Akhirnya.


Setelah menyelesaikan urusannya dengan pohon tua, Bustam mengajak Sega, Teo, Wali, Kora, Cipa dan Leta untuk tinggal bersama di dalam hutan luar. Sesekali ia pergi ke kampung di kaki bukit untuk menjual ramuan obat atau membantu penduduk mengobati mereka yang sakit sebagai bentuk balas budi.


Bustam tak pernah lagi menginjakkan kaki di desa yang penuh kebohongan itu. Ia telah berhasil meletakkan masa lalunya di belakang, memaafkan, serta merelakan. Sejak saat itu hutan luar tampak lebih asri dan aman, karena kembalinya sang penjaga hutan. Hewan-hewan kesayangannya pun mendapatkan teman. Kebohongan telah berubah menjadi kebahagiaan.


TAMAT


 


 


Catatan: Cerita ini telah dipublikasi pula di sini

 •  0 comments  •  flag
Share on Twitter
Published on September 11, 2018 03:55

August 31, 2018

Ulasan Novel Insiden Anjing Di Tengah Malam Yang Bikin Penasaran – Mark Haddon

Insiden Anjing Di Tengah Malam Yang Bikin Penasaran || Mark Haddon || Penerbit KPG || terjemahan || 2004 || 312 hlm || misteri-crime-bildungsroman 


 


Satu lagi novel yang direkomendasikan oleh banyak orang. Berbeda dengan novel misteri-pembunuhan lainnya, cerita ini menggunakan sudut pandang dari seorang anak berusia lima belas tahun pengidap sindrom Asperger (salah satu dari sindrom Autisme). Ciri utama pengidap sindrom ini adalah kemampuan berkomunikasi yang sangat terbatas, ditambah pola pikir yang cenderung kaku. Di novel ini, anak tersebut bernama Christopher Boone.

ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ

Tetap saja, anak semacam itu tidak bisa dianggap sepele.


 


[image error]


 


Bahkan sejak Christopher mendapati Wellington—anjing milik tetangganya—sekarat karena ditusuk garpu kebun dan kemudian mati, Chris bertekad untuk menelusuri kasus itu.

ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ

Semakin Chris banyak mencari tahu, ternyata ia juga dihadapkan pada misteri lain terkait dirinya.




ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ

Melalui novel ini, Mark Haddon tidak hanya membuat pembaca memahami sifat Christopher, tapi juga cara berpikir anak itu. Setiap bab memiliki angka—bukan angka bulat positif, melainkan angka prima (ilmu Christopher benar² berfaedah buat saya). ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ

ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ


Kupikir, bilangan prima seperti kehidupan. Bilangan prima serba logis tapi kau takkan bisa mencari aturan mainnya, sekalipun kau menghabiskan seluruh waktumu untuk memikirkan bilangan itu.

-hlm. 17-


ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ

ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ

Chris cerdas bukan main. Ketika ia tidak bisa tenang dan pikirannya begitu kalut, ia bahkan berhitung. Berhitung, saudara-saudara! Ia sampai menalar perkalian 2 sampai pangkat ke-25.

ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ


ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ “Aku orang pertama yang mengikuti Ujian tingkat A di sekolahku karena sekolahku sekolah khusus.”

Dan dia berkata, “Hmm, aku sangat terkesan. Dan kuharap kau akan mendapat nilai A.”

Dan aku berkata, “Pasti.”

-hlm. 83

ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ


ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ

Tidak. Chris tidak sombong. Sebagai pembaca, kita akan mengerti bahwa anak semacam Chris juga tidak pernah berbohong (sulit berbohong, tepatnya) jadi ucapan itu sangat polos dan apa adanya, atau berdasarkan apa yang mereka alami.


Ada banyak kejutan dalam novel ini. Menjelang bagian akhir, unsur bildungsroman di sini semakin kental. Bagaimana Chris melawan ketakutan terbesarnya (cara Mark Haddon mengangkat konflik man vs self pada Christopher saya acungi jempol), juga bagaimana anak itu melakukan perjalanan yang tak pernah ia duga, sangat menggugah hati. Terlebih, latar yang diambil adalah Negara Inggris. Saya semakin jatuh cinta pada karya ini.

ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ

Terakhir, saya memberi apresiasi yang besar untuk sang penerjemah, Pak Hendarto Setiadi. Pasti tidak mudah melakukan pekerjaan itu, karena banyak juga pembahasan bersifat ilmiah (bahkan ada pembahasan jawaban matematika di bagian lampiran, belum lagi catatan kaki sesuai pemikiran Christopher). ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ


5 dari 5 poin untuk novel ini~

Sekali lagi, saya akui Mark Haddon benar-benar penulis cerdas!


 

 •  0 comments  •  flag
Share on Twitter
Published on August 31, 2018 03:40

July 31, 2018

TOWARD EARTH || Prose || esfladys

Alas! Is it a guest or a threat? Delivered as a quest or a mess? Coming from south, or west? This one’s heading from outer space. Something passed within dozens of lunar distance.


Surrounded by orbital objects, ain’t we all? Sun, moon, planets, comets, meteoroids, asteroids…. We’ll never be alone. We do always have company. Either moving around us, or hurtling toward us.


They call me an ‘Earth’. Unlike another planets, I have occupants; plants, animals, humans. Humans are the most adaptive species. Thankfully therefore I got government space agencies: NASA[1], ESA[2], CNSA[3], ISRO[4], JAXA[5], RFSA [6], along with many others. Not just monitoring, they’re also wandering and saving their own planet. Saving me.


Early 100 million years from today, a deadly asteroid collided with me. It was a huge nightmare. A devastating impact was inevitable. Dinosaur extinction, as you’ve all heard. The bigger the asteroid, the more destructive that could be. Falling, striking, crashing. What’s worse than it all?


Raise the alarm! Warn everyone! Even it’s 2030 in Gregorian Calendar and survey telescope could spotted near-Earth asteroid, I still feel worried. Will my occupants be safe?


Once asteroids discovered by a telescope, humans began to accumulate the data, including the category and also the damage, if they potentially hit me. The more they will pass very close to me, they will be the top priority. Sometimes, even they don’t make it to my surface can cause a damage. It happened in 2013 in Russia and 1.500 people were injured from the resulting shockwave.


I don’t want it happen again. There is a nuclear spacecraft named HAMMER[7], made on purpose to handle a dangerous asteroid. HAMMER’s target is Bennu, an asteroid that discovered in 1999, determined hitting me on September 2135. Don’t ask how dangerous is Bennu. It could cause a global catastrophe if Bennu smashed into me—just like what happened in Tunguska in 1908, even much bigger. Enough said.


Deflection. That’s the humans’ mission for Bennu. It’s not just about a rescue. Not just a sampling mission. It’s a versatile one. For only-one-big-hope. My hope. My occupants’ hope. Oh, how grateful I am to have them. I’m glad; I never be alone.


~


Decades passed, centuries slipped away. I am still not alone—still have my occupants. Despite humans never stop trying to find their ’new home’, I’m still glad that there is no extinction after September 2135.


About Bennu? Well, it’s 2136 in Gregorian Calendar; a year after the HAMMER project mission is complete. Bennu’s path shifted by nuclear warhead. No collision. No threatening impact. All I can say, NASA really did their best. As a representative of all human beings, they do deserve my appreciation. My thanks. But … how can I say that to them?


You know what I admire about humans? Like I said, humans are the most adaptive species. Once they have the same mission, same enemy (Bennu, for example) they unite. They stick together. What occurs to me is … do they always need an enemy so they all could protect each other? Could they just keep their peace one another? I hope so. It’s 30th June in 2136. Happy Asteroid Day!


~~~


Explanation:

[1] NASA = National Aeronautics and Space Administration

[2] ESA = European Space Agency

[3] CNSA = China National Space Administration

[4] ISRO = Indian Space Research Organisation

[5] JAXA = Japan Aerospace Exploration Agency

[6] RFSA = Russian Federal Space Agency

[7] HAMMER = Hyper-velocity Asteroid Mitigation Mission for Emergency Response

 •  0 comments  •  flag
Share on Twitter
Published on July 31, 2018 04:26

July 30, 2018

Ulasan Novel The Chemist – Stephenie Meyer

The Chemist || Stephenie Meyer || Gramedia Pustaka Utama || Terbit tahun 2018 || Terjemahan || 560 halaman || action-thriller-survival


[image error]


Singkatnya, ini tentang si ahli kimia bernama Alex, yang dulunya adalah seorang interogator untuk kasus-kasus terorisme. Iya. Dulu. Sejak tiga tahun lalu, Alex dinyatakan sudah meninggal secara resmi. Jadilah selama tiga tahun ia berpindah² tempat tinggal, berganti identitas dan plat mobil dua minggu sekali, dan lain sebagainya.

ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ

Alex ini nama aslinya Juliana Fortis. Berhubung ia ahli kimia, ia tahu persis cara mempersenjatai diri. Bahkan dengan memakai anting, gelang, cincin, dan sepatu sekalipun, bisa dikatakan ia sudah bersenjata lengkap. Tabung kecil berisi bius dan racun ada di cincinnya, mata pisau tersembunyi di bagian sepatunya. Itu hanya sedikit contoh; Alex ini wanita mematikan.

ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ

Carston adalah salah satu orang yang tahu bahwa Alex masih hidup. Ia memohon pada Alex untuk kembali menyelesaikan kasus terorisme—kali ini melibatkan senjata biologis guna menyebarkan penyakit pada ribuan orang. Alex akhirnya menerima, dan keseruan pun dimulai. Ia bahkan terlambat menyadari beberapa kejanggalan dalam kasus ini.

ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ

Jeng jeng jreeeeng. Saya sangat bersyukur bisa membeli novel ini sejak Januari lalu. :3 Sama sekali nggak menyesal. Sebelum membaca The Chemist, karya mbak Steph yang paling menginspirasi saya adalah The Host. Ternyata The Chemist juga menginspirasi saya, dengan rasa yang sedikit berbeda. Pola romance di cerita ini mirip dengan yang ada di cerita The Host. Tak terduga. Juga, lebih banyak pergolakan batin (man vs self). Selain itu, unsur survival juga sangat kental.




ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ

Karakter Alex memegang peranan penting. Dia tangguh, cerdas, dan berbahaya. Jauuuh dari karakter Mary Sue! (syukurlah❤). Tentu, Alex ini juga punya kelemahan, tapi itulah yang justru membuatnya sangat nyata. Saya sangat mengapresiasi usaha mbak Steph untuk keluar dari zona nyamannya dan membuat karya yang menantang seperti ini.


Baiklah. Masih ada tokoh² lain favorit saya (saya ❤ semua main-chara di buku ini). Einstein dan kawan-kawan! Waw! Mereka anjing yang keren dan cerdas. Kebetulan, adegan favorit saya itu waktu Alex dan Daniel diselamatkan mereka. Gila!

ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ

Ah, ya. Kutipan Favorit:

ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ


ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ Selalu ada cara baru untuk merasakan kesakitan – hlm. 101

ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ “Kita bisa menertawakan atau menangisi keadaan, hanya itu pilihannya. Aku lebih suka menertawakannya selagi bisa.” – Alex, hlm. 378

ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ “Hidup sudah banyak masalah, tidak usah ditambah lagi.” – Alex, hlm. 439

ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ


Alex is the best! Oya, kan katanya ini novel mau dijadiin tv seri, ya. Jujur, saya belum terbayang siapa yang cocok memerankan Alex, Daniel, Kevin, dsb. Saya gak nyangka ini akan diadaptasi dalam bentuk tv seri malah. Ah, semoga saja tetap keren #hanyabisaberharap

ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ

Akhir kata, 4,5 dari 5 poin untuk The Chemist! Yay!

 •  0 comments  •  flag
Share on Twitter
Published on July 30, 2018 03:34

June 30, 2018

Ulasan Novel Dharitri – Nellaneva

Dharitri || Nellaneva || ICC Publisher || Terbit tahun 2017 || 376 halaman || science fiction-fantasy


Banyak yang mengira novel ini sarat akan distopia, termasuk saya. Nyatanya tidak seperti itu.

ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ

Jangan khawatir soal genre. Baik science fiction maupun fantasi terbangun dan berpadu dengan cukup baik dalam buku ini. Berlatar di tahun 2279 masehi, dikisahkan bahwa Dharitri adalah sebuah pulau yang dulunya bernama Borneo. Ya, bisa dikatakan novel ini menggunakan latar Indonesia di masa depan.


 


[image error]


 


Sebuah insiden membuat Ranala Kalindra bertolak dari Unit 41 ke sebuah pulau bernama Dharitri. Dharitri tidak seperti Unit 41. Tidak modern, tidak ada polusi, tidak ada robot. Ranala sendiri tidak tahu bagaimana ia bisa berakhir di pulau itu. Ia hanya tahu, ia jatuh ke sungai yang terletak di Unit 41, lalu ketika siuman ia sudah berada di Dharitri.

ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ

Begitulah cerita ini bermula. Bagian awal cerita ini memang dipenuhi narasi, tapi jangan khawatir. Cerita ini dibawakan dengan sangat mengalir dan sederhana.

ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ

Satu hal yang saya salut dari cerita ini, sudah pasti tentang pengambilan latar Indonesia (jarang lho, novel scifi-fantasi lokal semacam ini). Juga, penamaan tokoh². Sang naga hitam milik Ranala bernama Lal—nama yang cukup adorabledan sangat cocok utk naga tersebut. Nama ‘Dharitri’ dari Bahasa Sansekerta pun memiliki wibawa tersendiri (beneran, nih). Hehe.Walaupun konflik utama baru mencuat di akhir, tapi subkonflik-subkonflik mewarnai tiap pergerakan cerita. Cukup mulus, menurut saya. Sesuai dengan kebutuhan cerita itu sendiri.




ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ

Mengenai karakter tokoh, banyak yang saya suka. Ranala cukup sinis dan cuek. Lal yang sangat adorable. Keluarga Sambas yang hangat. Noui, sosok tegas namun bermurah hati. Shreyas, misterius. Dylan, lucu. Mereka favorit saya.❤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤ



Adegan favorit saya, ketika para Adhyasta Hibrida bertemu dengan Noui dan naga-naga es lainnya.

ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ

Jujur saja, bagi saya, Dharitri menunjukkan perkembangan penulisan cukup signifikan​. Saya membahas perkembangan penulisan karena saya pernah membaca karya Nellaneva sebelumnya—Tujuh Kelana. Dharitri sangat layak pula memenangkan Wattys 2016. Semoga penulis bisa semakin berkembang.

ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ

Satu hal lagi, mengenai unsur romance. Tidak terlalu manis, tidak terlalu pahit. Cukup, pas porsinya! Sangat pas, jadi saya sangat suka~

ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ

Kutipan-kutipan favorit saya:

ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ

Persetan dengan cinta, itu omong kosong! Hanya akal-akalan dan buai bualan untuk manusia lemah! – Ranala, hlm. 255


ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ


“Jadilah sepertiku, menyukai buku-buku. Mereka tidak akan menyakiti.” – Dylan, hlm 370


ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ

Terakhir, saya mengucapkan terima kasih pada Nellaneva yang telah menulis cerita ini. Sukses terus, yaaa~


Terima kasih juga sudah menyertakan nama saya di Ucapan Terima Kasih!❤ ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ


Terakhir, maju terus fiksi science fiction dan fiksi fantasi Indonesia! Horyeaaaah!






Poin saya untuk Dharitri: 4/5
 •  0 comments  •  flag
Share on Twitter
Published on June 30, 2018 03:28

June 14, 2018

Minal aidin wal faidzin~ Happy Eid Mubarak 1439 H

[image error]

 •  0 comments  •  flag
Share on Twitter
Published on June 14, 2018 22:33