Dia pintar, tapi sombong…

Dia pintar, tapi sombong.
Dia berprinsip, tapi jika bertemu seseorang yang beda prinsip, dia anggap lawan.
Dia suka bicara soal moral, tapi paling sering menghakimi dan mengkritisi.
Dan, kamu melihat segala kejanggalan ini, dan kamu sungguh muak.
So, here’s the thing…
Kadang, sup yang baru matang, itu terlalu panas untuk diseduh.
Cat yang baru dipoles ke dinding, aromanya sangat tajam.
Balita yang baru bisa bicara, itulah yang paling cerewet.
Rumah yang sedang proses renovasi, itu rumah yang paling berisik.
Sebagaimana orang yang baru menemukan suatu fakta, itu yang paling semangat dan lantang dan merasa benar sendiri.
Bukan karena dia jahat atau sombong.
Tapi, karena kebaruan memicu keangkuhan.
Jadi, kecerdasan juga butuh waktu untuk bisa lebih dewasa.
Dan, di dunia yang kejam ini, berpengetahuan saja tidak cukup.
Berpengetahuan juga butuh ditambah dengan banyak mendengar perbedaan supaya tidak terjebak dalam bubble sendiri.
Tapi, juga butuh ditambah lagi sama tegas dan cerdik, supaya bisa lebih strategis, tak mudah dimanilupasi dan terbawa arus.
Tapi, juga butuh ditambah emotional intelligence, supaya memiliki kebijaksanaan dan empati dalam bertindak
Tapi, juga butuh ditambah keberanian agar bisa ambil aksi yang tepat.
Tapi, juga butuh ditambah takut agar tidak sembrono dalam bertindak.
Dan, butuh ditambah dan dikurangi hal-hal lain yang tak tertulis di sini.
Jadi, dunia tidak sehitam putih itu. Dunia ini punya banyak paradoks, seperti pelangi yang punya banyak warna, ternyata terdiri dari satu warna; orang yang paling banyak tahu, kadang merasa paling tidak tahu banyak. Dan, orang yang paling banyak tahu, kadang lebih berani berkata, ‘saya tidak tahu’.
Kadang, kalimat paling cerdas bukanlah, ‘aku pasti tahu jawabannya,’ tapi ketika seseorang berani berkata, ‘koreksi aku jika salah,’ karena itu menunjukkan sejauh mana ia tahu kapabilitas dirinya, dan itu langka.
[image error]


