Irpan > Irpan's Quotes

Showing 1-24 of 24
sort by

  • #1
    Eka Kurniawan
    “Kyai Jahro mengucapkan doa-doa yang tak dimengerti Margio, sebab pelajaran mengajinya tak tuntas betul, pernah khataman namun tak pernah memahami makna, membuatnya sekedar mengangkat tangan dengan telapak tangan terbuka sementara keranjang berisi kelopak bunga tersisa dijejakkan di gundukan tanah, ia amin berkali-kali mengikuti orang lain.”
    Eka Kurniawan, Lelaki Harimau

  • #2
    Eka Kurniawan
    “Jangan pernah berniat mati untuk dilupakan.”
    Eka Kurniawan

  • #3
    Eka Kurniawan
    “Kemaluan bisa menggerakkan orang dengan biadab. Kemaluan merupakan otak kedua manusia, seringkali lebih banyak mengatur kita daripada yang bisa dilakukan kepala.”
    Eka Kurniawan, Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas

  • #4
    Eka Kurniawan
    “Semua perempuan itu pelacur, sebab seorang istri baik-baik pun menjual kemaluannya demi mas kawin dan uang belanja, atau cinta jika itu ada.”
    Eka Kurniawan, Beauty Is a Wound

  • #5
    Eka Kurniawan
    “Communism was born from a beautiful dream, the likes of which there will never be again on the face of this earth: that there would no longer be lazy men who eat their fill while others work hard and starve.”
    Eka Kurniawan, Beauty Is a Wound

  • #6
    Eka Kurniawan
    “Ia sebenarnya waras bukan main, yang gila adalah dunia yang dihadapinya”
    Eka Kurniawan

  • #7
    Eka Kurniawan
    “Aku tidak memilih waktu tertentu untuk membaca. Setiap aku punya waktu luang, aku membaca. Kapan saja, di mana saja. Pulang ke rumah, sebelum tidur, aku membaca. Bangun pagi, aku membaca dulu. Pokoknya, ketika tidak melakukan apa-apa, aku membaca buku. Atau, ketika aku sedang tidak ingin bermalas-malasan, aku membaca. Aku kadang-kadang memang hanya ingin bermalas-malasan. Di luar itu, setiap punya kesempatan, aku membaca. Lima atau enam halaman.

    Justru aku biasanya tidak membaca buku ketika sedang dengan sengaja ingin jalan-jalan. Aku ingin jalan-jalan saja. Karena, aku merasa buku justru jadi gangguan. Membaca membuatku tidak bisa melihat apa-apa yang lain.”
    Eka Kurniawan

  • #7
    Eka Kurniawan
    “If I might share my opinion, this world is hell, and our task is to create our own heaven.”
    Eka Kurniawan, Beauty Is a Wound

  • #8
    Eka Kurniawan
    “For that smile, I'll forgive you for sleeping with any bastard." He almost went mad thinking about the chaos in his family, until in a moment of strange epiphany he took his mother's side. He couldn't deny her a little happiness.”
    Eka Kurniawan, Man Tiger

  • #9
    Eka Kurniawan
    “Ia semakin larut ditemani sebatang rokok kretek, bertanya-tanya apakah revolusi sungguh-sungguh bisa terjadi, apakah ada kemungkinan bahwa tak ada manusia yang menindas manusia lain.”
    Eka Kurniawan

  • #10
    Eka Kurniawan
    “Si Tokek berpikir, kita tak bisa menghentikan seseorang jatuh cinta. Bahkan orang yang jatuh cinta itu sendiri. Jatuh cinta seperti penyakit. Ia bisa datang kapan saja seperti kilat dan geledek, dan bisa tanpa sebab apa pun. Bahkan ketika ada alasan untuk tidak jatuh cinta, seperti yang dialami Ajo Kawir, cinta merupakan sesuatu yang tak terelakkan.”
    Eka Kurniawan, Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas
    tags: cinta

  • #11
    Eka Kurniawan
    “If a man couldn’t control his beast, it could turn so violent that nothing could restrain it once enraged.”
    Eka Kurniawan, Man Tiger

  • #12
    Eka Kurniawan
    “Apakah ia memiliki cinta? Tidak. Ia tak pernah mencintai siapa pun. Tak ada burung pelatuk lain yang menarik perhatiannya. Ia burung tanpa cinta. Jika ada cinta, itu hanya cinta kepada pekerjaannya mematuki batang pohon. Tak lebih. Bagi makhluk lain, apa yang dilakukannya terlihat menyedihkan. Tapi siapa kita sehingga berhak menghakimi perasaan makhluk lain?”
    Eka Kurniawan, O

  • #13
    Eka Kurniawan
    “You don't need to belong to one another in order to love one another.”
    Eka Kurniawan, Beauty Is a Wound

  • #14
    Eka Kurniawan
    “Ini pohon ketapang menyedihkan itu, tempat kita berjanji akan bertemu kembali, kupersembahkan untuk kayu bakar pesta perkawinanmu.”
    Eka Kurniawan, Beauty Is a Wound

  • #15
    Eka Kurniawan
    “Če lahko povem svoje mnenje, svet je pekel in naša naloga je, da si ustvarimo svoja nebesa...”
    Eka Kurniawan

  • #16
    Eka Kurniawan
    “Why,” Comrade Yono couldn’t stop himself from asking, “do you care so much about those newspapers?” “Because the Russian Revolution would never have succeeded if the Bolsheviks hadn’t had their newspaper.”
    Eka Kurniawan, Beauty is a Wound

  • #17
    Eka Kurniawan
    “For hundreds of years, more than half of the face of this earth has been controlled by European countries and turned in to colonies, and the Europeans have sucked up whatever they could find, brought it all home, and made themselves rich. But not Germany and Japan; they didn’t get anything. But now they have just as much power as any other developed country, and so they are demanding their share. That is the origin of this war, a war between greedy nations.”
    Eka Kurniawan

  • #18
    Eka Kurniawan
    “It's not man's job to think about whether God exists or not, especially when you know that right in front of your eyes one person is stepping on another's neck.”
    Eka Kurniawan, Beauty Is a Wound

  • #19
    Eka Kurniawan
    “Mengetahui lebih banyak, hanya akan memberimu masalah lebih banyak, kata di Tokek sekali waktu.”
    Eka Kurniawan, Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas

  • #20
    Eka Kurniawan
    “Penyelamatan tahanan terus berlangsung: tim palang merah internasional kemudian datang dan semua tahanan segera akan diterbangkan ke Eropa. Negiri ini bagaimanapun tak cukup aman bagi orang-orang sipil, apalagi setelah selama tiga tahun di dalam tahanan. Orang-orang pribumi telah memerdekakan diri, dan milisi-milisi bersenjata berdiri di mana-mana.....Perang belum berakhir, bahkan baru dimulai, dan dinamakan oleh orang pribumi sebagai perang revolusi.”
    Eka Kurniawan, Beauty Is a Wound

  • #21
    Eka Kurniawan
    “Orang-orang tertindas hanya memiliki satu alat untuk melawan: amuk, dan jika aku harus memberitahumu, revolusi tak lebih amuk bersama-sama. di organisir oleh sebuah partai.
    Opressed people only have one tool of resistance: run amok. And if I have to tell you, revolution is nothing more than a collective running amok, organized by one particular party.”
    Eka Kurniawan

  • #22
    Eka Kurniawan
    “Kecemasan datang dari ketidaktahuan.”
    Eka Kurniawan, Beauty Is a Wound

  • #23
    Eka Kurniawan
    “Apakah aku perlu memberi rekomendasi ke rumah sakit jiwa?
    Tak perlu, ia sebenarnya waras bukan main, yang gila adalah dunia yang dihadapinya.”
    Eka Kurniawan, Beauty Is a Wound



Rss