Aldythtryingtoread

Add friend
Sign in to Goodreads to learn more about Aldythtryingtoread.

https://www.goodreads.com/aldythairlangga

Loading...
Pramoedya Ananta Toer
“Dulu suatu bangsa bisa hidup aman di tengah-tengah padang pasir atau hutan. Sekarang tidak. Ilmu pengetahuan modern mengusik siapa saja dari keamanan dan kedamaiannya. Juga manusia sebagai makhluk sosial dan sebagai individu tidak lagi bisa merasa aman. Dia dikejar-kejar selalu, karena ilmu pengetahuan modern memberikan inspirasi dan nafsu untuk menguasai: alam dan manusia sekaligus. Tak ada kekuatan lain yang bisa menghentikan nafsu berkuasa ini kecuali lmu pengetahuan itu sendiri yang lebih unggul, di tangan manusia yang lebih berbudi...”
Pramoedya Ananta Toer, Child of All Nations

Pramoedya Ananta Toer
“Berapa kati kiranya yang dipikul lelaki bercelana tanggung hitam di depan sana itu? Aku tak tahu. Ia memikul keranjang tinggi kacangtanah. Akan dijual pada siapa? Di mana? Kacang cuma sepikul itu? Aku tak tahu. Berapa harganya? Aku tak tahu. Apa cukup untuk makan barang seminggu? Aku tak tahu. Tak tahu! Tak tahu! Apa badannya cukup sehat untuk memikul? Juga tidak tahu. Apa ia terpaksa memikulnya? Makin tidak tahu. Berapa panennya dalam setiap seratus meter persegi? Gila! Pertanyaan ini mulai menganiaya pikiran. Ya, itu baru tentang seorang pemikul kacang, kau, goblok yang tinggi hati! Kalau kau tidak tahu tentang pokok sekecil itu, kau hanya melihat tubuhnya dan geraknya. Sungguh memalukan kalau kau menulis tentangnya, hei, kau pengarang kepala besar!”
Pramoedya Ananta Toer, Child of All Nations

Pramoedya Ananta Toer
“Kau Pribumi terpelajar! Kalau mereka itu, Pribumi itu, tidak terpelajar, kau harus bikin mereka jadi terpelajar. Kau harus, harus, harus, harus bicara pada mereka, dengan bahasa yang mereka tahu.”
Pramoedya Ananta Toer, Child of All Nations

R.F. Kuang
“Free trade. This was always the British line of argument – free trade, free competition, an equal playing field for all. Only it never ended up that way, did it? What ‘free trade’ really meant was British imperial dominance, for what was free about a trade that relied on a massive build-up of naval power to secure maritime access? When mere trading companies could wage war, assess taxes, and administer civil and criminal justice?”
R.F. Kuang, Babel

Pramoedya Ananta Toer
“Tidak, Nak, ini perbuatan manusia. Direncanakan oleh otak manusia, oleh hati manusia yang degil. Pada manusia kita harus hadapkan kata-kata kita. Tuhan tidak pernah berpihak pada yang kalah.

Bukan pada siapa pun. Hanya pada manusia.”
Pramoedya Ananta Toer, Child of All Nations

year in books
Widhya
176 books | 167 friends

Ardhias...
3 books | 26 friends

Rea
Rea
428 books | 48 friends

dhania
338 books | 22 friends

Anas Ah
166 books | 3 friends

n
n
122 books | 7 friends

rizka
192 books | 8 friends

daffaak...
203 books | 66 friends

More friends…
Bumi Manusia by Pramoedya Ananta ToerRaden Mandasia si Pencuri Daging Sapi by Yusi Avianto PareanomArus Balik by Pramoedya Ananta Toer
Best Books Ever
78,682 books — 293,218 voters


Favorite Genres



Polls voted on by Aldythtryingtoread

Lists liked by Aldythtryingtoread