Status Updates From Suaramu Jalan Pulang yang K...
Suaramu Jalan Pulang yang Kukenali by
Status Updates Showing 1-24 of 24
Novella Dwisri
is on page 102 of 112
Maling perenungan di puisi "Peronda" sungguh singkat tapi ngena jadi renungan(?)
Puisi "Orang-orang Buangan", "Buntu", "Subuh", & "Seorang Buta" tiap lirik dalam lariknya membuat saya terlena untuk ikut merenunginya menjadi sebuah pertimbangan belajar bijak dalam berpijak..
Puisi2 penutup buku ini agak berat untuk saya cerna maknanya jadi butuh waktu lama tuk menuntaskan bacaan ini.. Baguslah kenalan ini..
— Aug 26, 2023 11:59PM
Add a comment
Puisi "Orang-orang Buangan", "Buntu", "Subuh", & "Seorang Buta" tiap lirik dalam lariknya membuat saya terlena untuk ikut merenunginya menjadi sebuah pertimbangan belajar bijak dalam berpijak..
Puisi2 penutup buku ini agak berat untuk saya cerna maknanya jadi butuh waktu lama tuk menuntaskan bacaan ini.. Baguslah kenalan ini..
Novella Dwisri
is on page 36 of 112
Cara sembunyi, cara menghargai, cara menghambat, cara menahan, cara menghemat.. ini sungguh cara2 yg kreatif ya jadi terinspirasi gara2 puisi "Kau Tak Sadar" ini deh daku!
Pas ada "Kau Tak Sadar, 2" yg lebih singkat & padat itu bener2 penegasan buat berkarya aja dulu selancar mungkin buat "mengekalkan kamu" ini penutupan yg romantis hehe..
Selanjutnya cukup suka "Membangun Puisi", "Waktu Bahasa", dan "Dalam Demam".
— Aug 19, 2023 12:53AM
Add a comment
Pas ada "Kau Tak Sadar, 2" yg lebih singkat & padat itu bener2 penegasan buat berkarya aja dulu selancar mungkin buat "mengekalkan kamu" ini penutupan yg romantis hehe..
Selanjutnya cukup suka "Membangun Puisi", "Waktu Bahasa", dan "Dalam Demam".
Novella Dwisri
is on page 23 of 112
Puisi2 setelahnya yg saya sukai ada "Setidaknya dalam Cinta", "Cinta Tak Pernah Jauh Darimu", & "Jika Kita Lahir dan Tumbuh Sebagai Kata-kata". Saya paling suka puisi ketiga.. Romantis bgt puisinya sampe berharap diri ini jadi kata yg mencari rekanan kata lainnya buat bikin keluarga kata. Apa sih?! Knp bukan puisi itu yg jadi judul buat buku ini ya? Yah, penulis punya pertimbangannya sendiri pas nerbitin buku ini..
— Aug 19, 2023 12:44AM
Add a comment
Novella Dwisri
is on page 9 of 112
Puisi selanjutnya "Aroma" juga entah kenapa saya suka & merenunginya lama terutama bagian "Kenangan seperti anjing pelacak mengendus jalan-jalan setapak ke sana kemari, melacak jejak dari ingatan-ingatan yang boyak."
"Rute" terasa agak manis walau singkat & padat puisinya. Setelahnya puisi yg diambil jadi judul buku ini "Suaramu Jalan Pulang yang Kukenali" rasanya perlu agak lama buat saya memahami maknanya..
— Aug 19, 2023 12:28AM
Add a comment
"Rute" terasa agak manis walau singkat & padat puisinya. Setelahnya puisi yg diambil jadi judul buku ini "Suaramu Jalan Pulang yang Kukenali" rasanya perlu agak lama buat saya memahami maknanya..
Novella Dwisri
is on page 8 of 112
Sejak "Nubuat Pagi" saya udah suka sama diksi yg penulis pilih. Katanya "nasib itu pokok-pokok doa yang dipanjatkan.." lalu "mengharap limun dalam segelas lamun.." atau "Selama pagi masih tersusun dari mendung, cinta akan selalu seputar rindu dan murung." Lalu puisi "Melacak Tubuhmu" dgn kata2 "keyakinanku... karena sadar belum mampu menjangkaumu." itu kek gimana rasanya nyes dalem aja di sini..
— Aug 19, 2023 12:02AM
Add a comment
Aya Canina
is on page 62 of 112
Puisi-puisi dalam buku ini seringan konfeti meski tidak ada pesta yang sedang berlangsung.
— Sep 29, 2020 07:27PM
Add a comment
Aya Canina
is on page 56 of 112
Bahwa kesendirian hanya bisa dikawal,
hanya bisa disuluhi, seperti dua arus yang berlari,
membawa dingin dan hangat pada suhu tubuhmu,
tanpa pernah bisa membuat tubuh itu meriang
dengan riang, karena dipusingkan pertanyaan:
mana yang lebur dalam bayang-bayang,
mana yang luber dalam sembahyang
(Yang Menerpa Wajah Kita, Hal. 50-51)
— Sep 23, 2020 11:38PM
Add a comment
hanya bisa disuluhi, seperti dua arus yang berlari,
membawa dingin dan hangat pada suhu tubuhmu,
tanpa pernah bisa membuat tubuh itu meriang
dengan riang, karena dipusingkan pertanyaan:
mana yang lebur dalam bayang-bayang,
mana yang luber dalam sembahyang
(Yang Menerpa Wajah Kita, Hal. 50-51)










