Yahya Imansyah > Yahya Imansyah's Quotes

Showing 1-30 of 110
« previous 1 3 4
sort by

  • #1
    Soe Hok Gie
    “Kita tak pernah menanamkan apa-apa, kita tak'kan pernah kehilangan apa-apa”
    Soe Hok Gie, Soe Hok-Gie...Sekali Lagi: Buku Pesta dan Cinta di Alam Bangsanya

  • #2
    Soe Hok Gie
    “Karena aku cinta pada keberanian hidup”
    Soe Hok Gie

  • #3
    Soe Hok Gie
    “Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan”
    Soe Hok Gie

  • #4
    Pramoedya Ananta Toer
    “Masa terbaik dalam hidup seseorang adalah masa ia dapat menggunakan kebebasan yang telah direbutnya sendiri”
    Pramoedya Ananta Toer

  • #5
    Pramoedya Ananta Toer
    “Semakin tinggi sekolah bukan berarti semakin menghabiskan makanan orang lain. Harus semakin mengenal batas

    (Bumi Manusia, h. 138)”
    Pramoedya Ananta Toer

  • #6
    Pramoedya Ananta Toer
    “Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun ?
    Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin,
    akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.”
    Pramoedya Ananta Toer

  • #7
    Pramoedya Ananta Toer
    “Setiap tulisan merupakan dunia tersendiri, yang terapung-apung antara dunia kenyataan dan dunia impian.”
    Pramoedya Ananta Toer, House of Glass

  • #8
    Pramoedya Ananta Toer
    “Tak ada satu hal pun tanpa bayang-bayang, kecuali terang itu sendiri.”
    Pramoedya Ananta Toer, Child of All Nations

  • #9
    Pramoedya Ananta Toer
    “Kalau tidak ada orang-orang rendahan, tentu tidak ada orang atasan.”
    Pramoedya Ananta Toer, Gadis Pantai

  • #10
    Pramoedya Ananta Toer
    “Kudekati ranjang ayahku, kuraba kakinya yang kering. Hatiku tersayat. Bukankah kaki itu dulu seperti kakiku juga dan pernah mengembara ke mana-mana? Dan kini kaki itu terkapar di atas kasur ranjang rumahsakit. Bukan kemauannya. Ya, bukan kemauannya. Rupa-rupanya manusia ini tak selamanya bebas mempergunakan tubuh dan hidupnya. Dan kelak begitu juga halnya dengan kakiku.”
    Pramoedya Ananta Toer, Bukan Pasar Malam

  • #11
    Raditya Dika
    “Sesungguhnya, terlalu perhatiannya orangtua kita adalah gangguan terindah yang pernah bisa kita terima”
    Raditya Dika, The Journeys

  • #12
    Raditya Dika
    “Bagi gue, rumah adalah dia. Karena dia adalah tempat gue pulang. Karena, orang terbaik buat kita itu seperti rumah yang sempurna. Sesuatu yang bisa melindungi kita dari gelap, hujan, dan menawarkan kenyamanan.”
    Raditya Dika, Manusia Setengah Salmon

  • #13
    Sujiwo Tejo
    “Tuhan kan nggak mungkin langsung sedekah ke orang-orang, ya kalianlah sedekah duit kalau punya duit, sedekah ilmu, sedekah senyum.
    Masa sih kalau sudah gitu Tuhan gak bales cintamu? Tapi gak mungkin dia belai-belai langsung rambutmu, sentuh bibirmu.
    Maka Tuhan ciptakan “wakil”nya, yaitu pacarmu. Maka doalah, “Tuhan, semoga pacarku ini betul-betul orang yang kau pilihkan untukku.”
    Sujiwo Tejo

  • #14
    Sujiwo Tejo
    “hidup itu seperti pergelarn wayang, dimana kamu menjadi dalang atas naskah semesta yang dituliskan oleh tuhan mu.
    #sujiwo tejo”
    sujiwo tejo

  • #15
    Sujiwo Tejo
    “Jangan pergi agar dicari, jangan sengaja lari agar dikejar. Berjuang tak sebercanda itu.”
    Sujiwo Tejo

  • #16
    Sujiwo Tejo
    “Cinta itu takdir. Menikahi itu nasib. Kita bisa melawan nasib, tapi tidak takdir ... Hmmm ... Di dalam cinta, tidak ada yang salah. Ratu Kencono Wungu tak bisa disalahkan. Cinta itu ajaib. Datang dan perginya tak dapat kita rencanakan. Ratu tak salah jika selama masa penantian cintanya di luar rencana ternyata tumbuh ke Damarwulan.”
    Sujiwo Tejo, Ngawur Karena Benar

  • #17
    W.S. Rendra
    “mencintaimu adalah bahagia & sedih;
    bahagia karna memilikimu dalam kalbu;
    sedih karena kita sering berpisah”
    W.S. Rendra

  • #18
    Dee Lestari
    “Seindah apa pun huruf terukir, dapatkah ia bermakna apabila tak ada jeda? Dapatkan ia dimengerti jika tak ada spasi? Bukankah kita baru bisa bergerak jika ada jarak? Dan saling menyayang bila ada ruang?”
    dee, Filosofi Kopi: Kumpulan Cerita dan Prosa Satu Dekade

  • #19
    Dee Lestari
    “Pegang tanganku, tapi jangan terlalu erat, karena aku ingin seiring dan bukan digiring.(Spasi)”
    Dee, Filosofi Kopi: Kumpulan Cerita dan Prosa Satu Dekade

  • #20
    Dee Lestari
    “Karena hati tak perlu memilih, ia selalu tahu kemana harus berlabuh”
    Dee, Perahu Kertas

  • #21
    Dee Lestari
    “Kadang - kadang pilihan yang terbaik adalah menerima...”
    Dee, Rectoverso

  • #22
    Dee Lestari
    “Carilah orang yang nggak perlu meminta apa-apa, tapi kamu mau memberikan segala-segalanya.”
    Dee, Perahu Kertas

  • #23
    Dee Lestari
    “Semua pertanyaan selalu berpasangan dengan jawaban.
    Untuk keduanya bertemu, yang dibutuhkan cuma waktu”
    Dee, Partikel

  • #24
    Dee Lestari
    “Kadang-kadang langit bisa kelihatan seperti lembar kosong. Padahal sebenarnya tidak. Bintang kamu tetap di sana. Bumi hanya sedang berputar.”
    Dee, Perahu Kertas

  • #25
    Dee Lestari
    “Bila engkau ingin satu, maka jangan ambil dua. Karena satu menggenapkan, tapi dua melenyapkan. Mencari Herman
    Dee, Filosofi Kopi: Kumpulan Cerita dan Prosa Satu Dekade

  • #26
    Sapardi Djoko Damono
    “aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
    dengan kata yang tak sempat diucapkan
    kayu kepada api yang menjadikannya abu

    aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
    dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada”
    Sapardi Djoko Damono

  • #27
    Sapardi Djoko Damono
    “Aku mencintaimu.
    Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan
    keselamatanmu”
    Sapardi Djoko Damono, Hujan Bulan Juni

  • #28
    Sapardi Djoko Damono
    “dalam diriku mengalir sungai panjang,
    darah namanya;
    dalam diriku menggenang telaga darah,
    sukma namanya;
    dalam diriku meriak gelombang sukma,
    hidup namanya;
    dan karena hidup itu indah,
    aku menangis sepuas-puasnya”
    Sapardi Djoko Damono, Hujan Bulan Juni

  • #29
    Sapardi Djoko Damono
    “Maka pada suatu pagi hari ia ingin sekali menangis sambil berjalan tunduk sepanjang lorong itu. Ia ingin pagi itu hujan turun rintik-rintik dan lorong sepi agar ia bisa berjalan sendiri saja sambil menangis dan tak ada orang bertanya kenapa.

    Ia tidak ingin menjerit-jerit berteriak-teriak mengamuk memecahkan cermin membakar tempat tidur. Ia hanya ingin menangis lirih saja sambil berjalan sendiri dalam hujan rintik-rintik di lorong sepi pada suatu pagi.”
    sapardi djoko damono

  • #30
    Sapardi Djoko Damono
    “Kita berdua saja duduk,
    Aku memesan ilalang panjang dan bunga rumput,
    Kau entah memesan apa,
    Aku memesan batu ditengah sungai terjal yang deras,
    Kau entah memesan apa,
    Tapi kita berdua saja duduk,”
    Sapardi Djoko Damono, Hujan Bulan Juni



Rss
« previous 1 3 4