Goodreads helps you follow your favorite authors. Be the first to learn about new releases!
Start by following Mochtar Lubis.
Showing 1-27 of 27
“Banyak orang yang takut hidup menghadapi kebenaran, dan hanya sedikit orang yang merasa tak dapat hidup tanpa kebenaran dalam hidupnya.”
― Harimau! Harimau!
― Harimau! Harimau!
“Saya sudah tahu -- semenjak semula -- bahwa jalan yang kutempuh ini adalah tidak ada ujung. Dia tidak akan habis-habisnya kita tempuh. Mulai dari sini, terus, terus, terus, tidak ada ujungnya. Perjuangan ini, meskipun kita sudah merdeka, belum juga sampai ke ujungnya. Dimana ujung jalan perjuangan dan perburuan manusia mencari bahagia? Dalam hidup manusia selalu setiap waktu ada musuh dan rintangan-rintangan yang harus dilawan dan dikalahkan. Habis satu muncul yang lain, demikian seterusnya. Sekali kita memilih jalan perjuangan, maka itu jalan tak ada ujungnya. Dan kita, engkau, aku, semuanya telah memilih jalan perjuangan.”
― Jalan Tak Ada Ujung
― Jalan Tak Ada Ujung
“Bunuhlah dahulu harimau dalam dirimu”
― Harimau! Harimau!
― Harimau! Harimau!
“Mata mereka silau melihat kejahatan dan dosa-dosa mereka sendiri. Mereka lebih suka menyembunyikannya dan tak melihatnya. Tak mengingatnya dan tak membukanya. Jangankan membukanya kepada orang lain, kepada diri sendiri pun, masing-masing enggan dan tak hendak mengakuinya.”
― Harimau! Harimau!
― Harimau! Harimau!
“Jika engkau besar, jangan sekali-kali kau jadi pegawai negeri. Jadi pamong praja! Mengerti?
Sebab sebagai pegawai negeri orang harus banyak menjalankan pekerjaan yang sama sekali tak disetujuinya. Bahkan yang bertentangan dengan jiwanya. Untuk kepentingan orang yang berkuasa, maka sering pula yang haram menjadi halal, dan sebaliknya.”
― Kuli Kontrak
Sebab sebagai pegawai negeri orang harus banyak menjalankan pekerjaan yang sama sekali tak disetujuinya. Bahkan yang bertentangan dengan jiwanya. Untuk kepentingan orang yang berkuasa, maka sering pula yang haram menjadi halal, dan sebaliknya.”
― Kuli Kontrak
“Tuhan ada, anak-anak, percayalah. Tapi jangan paksakan Tuhanmu pada orang lain; seperti juga jangan paksakan kemanusiaanmu pada orang lain. Manusia perlu manusia lain ... manusia harus belajar hidup dengan kesalahan dan kekurangan manusia lain.”
― Harimau! Harimau!
― Harimau! Harimau!
“Yang terinjak telah melawan, dan yang melawan telah terinjak.”
― Senja di Jakarta
― Senja di Jakarta
“Jalan dalam malam hujan gerimis gelap, jalan berliku tidak habis-habisnya. Jalan tak ada ujung.”
―
―
“Orang Amerika itu penuh curiga pada bom atom atau bom hidrogen mereka sendiri, tidak percaya pada diri mereka sendiri, dan orang Rusia juga sama-sama saling tidak percaya antara mereka, orang Asia tidak percaya pada orang Barat, dan Barat takut dan tidak percaya pada Asia. Rasialisme di Afrika Selatan, politik kulit putih Australia, curiga bangsa asing di Indonesia dan negara-negara Asia lain, diskriminasi Negro di Amerika, ini semuanya berdasar pada tidak percaya. Karena manusia tidak percaya pada manusia, tidak percaya bahwa manusia sama manusia bisa dan harus sama-sama hidup. Si komunis begitu, si demokrat begitu, si imperialis begitu, si merdeka begitu. Semuanya sama saja.”
― Senja di Jakarta
― Senja di Jakarta
“Saimun pondered. How come that when something is difficult to get or you don’t have it, and you just get a chance to taste it for a moment, a small matter can become so big, doubling, trebling, growing ever larger? This morning one kretek cigarette dominated his whole soul. As if his life depended on one cigarette and if he could get that cigarette his life would be prolonged, as it were, for ever. One cigarette could fulfill his existence.”
― Senja di Jakarta
― Senja di Jakarta
“Akan tetapi mengapa demikian susahnya membela yang benar dan yang menjadi korban kezaliman? Bagaimana mungkin begitu sukar menjelaskan kebenaran? Dan mengapa harus diperlukan keberanian luar biasa untuk melakukan sesuatu kejujuran biasa?”
― Harimau! Harimau!
― Harimau! Harimau!
“Hidup penuh kemanisan, sedang janji-janji surga bagi orang yang beramal saleh belum ada seorang manusia pun yang dapat membuktikannya baik bagi dirinya sendiri, apalagi untuk orang lain.”
― Harimau! Harimau!
― Harimau! Harimau!
“Saya ngeri, umpamanya, membaca betapa Sarwito dan Sujono, yang keduanya telah mendapat pendidikan modern, telah mengenal rasionalita, akan tetap imasih pergi mencari wahyu-wahyu dari gunung ke gunung, ke dalam hutan dan gua, dan berdasarkan alamat-alamat yang mereka terima dari kayangan (di mana pula itu kayangan?) lalu mendapat keyakinan dan petunjuk untuk mengambil berbagai putusan dan tindakan.
Coba bayangkan, apabila segala rupa kebijaksanaan negara, umpamanya, didasarkan pada wahyu dan petunjuk-petunjuk yang sepenuhnya irasional seperti ini, alangkah berbahayanya bagi penghidupan bangsa kita. Siapa tahu dahulu saya ditahan begitu lama di zaman pemerintah Soekarno, karena Soekarno atau dukunnya pada suatu malam mendapat mimpi, dia mendaki gunung yang amat tinggi, sampai tergelincir jatuh. Lalu esok paginya melapor pada Soekarno, awas hati-hati terhadap seorang jangkung!”
― Manusia Indonesia
Coba bayangkan, apabila segala rupa kebijaksanaan negara, umpamanya, didasarkan pada wahyu dan petunjuk-petunjuk yang sepenuhnya irasional seperti ini, alangkah berbahayanya bagi penghidupan bangsa kita. Siapa tahu dahulu saya ditahan begitu lama di zaman pemerintah Soekarno, karena Soekarno atau dukunnya pada suatu malam mendapat mimpi, dia mendaki gunung yang amat tinggi, sampai tergelincir jatuh. Lalu esok paginya melapor pada Soekarno, awas hati-hati terhadap seorang jangkung!”
― Manusia Indonesia
“Sastra yang baik selalu merupakan cermin sebuah masyarakat.”
― Woman at Point Zero
― Woman at Point Zero
“Soalnya kini ialah menunggu. Menunggu dengan sabar. Yang mereka perlukan ialah waktu. Dengan penuh khawatir mereka melihat pada terang matahari di luar atap daun-daun kayu di atas kepala.”
― Harimau! Harimau!
― Harimau! Harimau!
“Wak Katok pun tahu, bahwa tak ada yang lebih hina dan celaka dari seorang pemimpin yang gagal, dari seorang raja yang gagal, yang kelemahan-kelemahannya telah terbongkar dan tak berhasil pula membuktikan kekeramatan dirinya sendiri, yang selama ini dipuja-puja orang.”
― Harimau! Harimau!
― Harimau! Harimau!
“Tiap orang punya ketakutan sendiri, dan mesti belajar hidup dan mengalahkan ketakutannya. Sedang mereka, serdadu-serdadu keras yang menyiksa itu juga penuh ketakutan. Bertambah besar takut mereka, bertambah mereka jadi kejam.”
― Jalan Tak Ada Ujung
― Jalan Tak Ada Ujung
“Manusia akan memilih maut yang lebih jauh dari maut yang lebih dekat.”
― Harimau! Harimau!
― Harimau! Harimau!
“Atau memang setiap orang itu semua sama seperti Salim kecil—harus belajar hidup bersama-sama dengan ketakutannya?”
― Jalan Tak Ada Ujung
― Jalan Tak Ada Ujung
“Atau memang setiao orang itu semua sama seperti Salim kecil—harus belajar hidup bersama-sama dengan ketakutannya?”
―
―
“Orang yang membiarkan orang lain melakukan kejahatan dan dosa, sedang dia mampu menghalanginya, sama besar dosanya dengan orang yang melakukan dosa itu. Apalagi jika dia tahu, bahwa karena perbuatan dosa itu, dia sendiri mendapat keuntungan.”
― Harimau! Harimau!
― Harimau! Harimau!
“Manusia mesti belajar menguasai ketakutannya. Merasa takut adalah satu perasaan yang sehat, dan kerja kita ialah melawan rasa takut.”
― Jalan Tak Ada Ujung
― Jalan Tak Ada Ujung
“...betapa jika sesuatu amat sukar didapat atau tidak dipunyai, dan orang mendapat kesempatan untuk menikmatinya sebentar, maka soal-soal kecil menjadi besar artinya, berlipat-lipat ganda”
― Senja di Jakarta
― Senja di Jakarta
“Dia telah biasa menerima sanjungan dan dimuliakan orang banyak, hingga semakin lama semakin panjang waktu agar lupa pada ketakutannya dan kelemahan-kelemahan dirinya, dan percaya sungguh, bahwa dia adalah apa yang dibayangkan orang, dan apa yang disangka orang banyak. Jarang-jaranglah dia selama ini menyadari kelemahan-kelemahannya.”
― Harimau! Harimau!
― Harimau! Harimau!
“Orang yang berkuasa, jika dihinggapi ketakutan, selalu berbuat zalim.”
― Harimau! Harimau!
― Harimau! Harimau!
“Sekarang kita membikin takhyul dari berbagai wujud dunia modern. Modernisasi adalah salah satu takhyul baru, demikian pula perkembangan ekonomi. Model dari negeri-negeri industri maju jadi takhyul dan lambang baru, dengan segala jimat atau manteranya yang dirumuskan dengan kenaikan GNP atau GDP. Dan kita gagal melihat kerusakan pada nilai-nilai, kebahagiaan manusia, kerusakan dan peracunan lingkungan dan sumber alam oleh kemajuan ekonomi dan teknologi yang terjadi pada masyarakat-masyarakat berindustri maju itu.”
― Manusia Indonesia
― Manusia Indonesia
“Dan bagaimana dengan datuk-datuk yang kawin di mana-mana, tiap tahun menceraikan istrinya, dan kawin lagi, dan dengan cermat menjaga supaya jumlah istrinya tidak melebihi empat orang, batas seperti ditetapkan di dalam Qur'an.”
― Harimau! Harimau!
― Harimau! Harimau!




