,
Goodreads helps you follow your favorite authors. Be the first to learn about new releases!
Start by following Ahmad Tohari.

Ahmad Tohari Ahmad Tohari > Quotes

 

 (?)
Quotes are added by the Goodreads community and are not verified by Goodreads. (Learn more)
Showing 1-30 of 72
“Mereka mengira dengan melampiaskan dendam maka urusannya selesai. Nah, mereka keliru. Dengan cara itu bahkan mereka memulai urusan baru yang panjang dan lebih genting. Di dunia ini, Nak, tak ada sesuatu yang berdiri sendiri. Maksudku, tak suatu upaya apa pun yang bisa bebas dari akibat. Upaya baik berakibat baik, upaya buruk berakibat buruk.”
― Ahmad Tohari, Ronggeng Dukuh Paruk
“Karena saat ini banyak perwira yang ora merwirani lagi. Yang saya maksud dengan perwira adalah parawira, yaitu orang-orang yang tidak merasa kehilangan apapun ketika bersikap hormat dan peduli kepada orang lain. Orang-orang yang tidak merasa rendah ketika meninggikan harkat dan martabat orang lain. Mereka adalah orang-orang yang malu ketika merasa dirinya lebih penting daripada orang lain siapapun orang lain itu.”
― Ahmad Tohari, Orang-orang Proyek
“Pengalaman-pengalaman yang lembut dan santai mungkin tidak tercatat dalam garis-garis kehidupan secara nyata. Namun pengalaman-pengalaman yang keras dan getir tentu akan tergores dalam-dalam pada jiwa, pada sikap dan perlakuan, dan tak mustahil akan mengubah sama sekali keperibadian seseorang.”
― Ahmad Tohari, Ronggeng Dukuh Paruk
“Yang penting, kita telah bersahabat. Persahabatan tidaklah sesempit teka teki silang, bukan?”
― Ahmad Tohari
“Inilah yang dulu kukatakan, dalam hidup segala hal mestilah dilakukan pada batas kewajaran. Karena keselamatan berada di tengah antara dua hal yang saling berlawanan. Jadi keselamatan adalah jalan tengah, atau kewajaran atau keberimbangan. Yang kita saksikan akhir-akhir ini adalah kehidupan yang serba tidak wajar, melampaui batas. Dan kehidupan takkan kembali berimbang sebelum dia mengalami akibat ketidakwajaran itu. E, anakku, cucuku, kita sendiri telah ikut-ikutan lupa.”
― Ahmad Tohari, Ronggeng Dukuh Paruk
“Bahwa rasa dendam mampu membinasakan martabat kemanusiaan. Juga di antara dua orang dusun yang masih terikat pada keserbaluguannya.”
― Ahmad Tohari, Ronggeng Dukuh Paruk
“Perempuan adalah bubu yang bila sudah dipasang hanya bisa menunggu ikan masuk. Selamanya bubu tak akan mengejar ikan atau memaksanya masuk ke dalam.”
― Ahmad Tohari, Ronggeng Dukuh Paruk
“Hidup ini seperti anggapan kita. Bila kita anggap sulit, sulitlah hidup ini. Bila kita anggap menyenangkan, senanglah hidup ini. (hal. 190)”
― Ahmad Tohari
“Ingat, hanya Arjuna kecil yang dapat mengalahkan Nirwatakawaca yang raksasa, hanya di Daud kecil yang bisa mengalahkan Goliath. Toh Don Quichote tidak berhasil menumbangkan sebuah kincir angin meskipun memakai baju besi dan pedang jenawi. Lalu, camkanlah I have not begun to fight yet.”
― Ahmad Tohari
“Lalu, apabila kematian adalah keperkasaan kodrati maka kehadirannya, bahkan baru gejalanya, sudah mampu membungkam segala gejolak rasa.”
― Ahmad Tohari, Ronggeng Dukuh Paruk
“Kekalahan di bidang politik adalah kesalahan hidup secara habis-habisan dan akibatnya bahkan tertanggung juga oleh sanak-famili.”
― Ahmad Tohari, Ronggeng Dukuh Paruk
“Sebentuk roh telah berangkat, kembali ke tempat asal-muasalnya. Hidup telah berjabat tangan dengan mati, lenyaplah sudah diri dan kelakuan karena semua telah larut dalam keberatan semesta.”
― Ahmad Tohari, Ronggeng Dukuh Paruk
“Ayahku memang tidak suka listrik. beliau punya keyakinan hidup dengan listrik akan mengundang keborosan cahaya. Apabila cahaya dihabiskan semasa hidup maka ayahku amat khawatir tidak ada lagi cahaya bagi beliau di alam kubur.”
― Ahmad Tohari
“Seorang anak Dukuh Paruk mempertanyakan mengapa orang-orang komunis demi anu enak saja menghapuskan hak hidup banyak manusia biasa dengan cara yang paling gewang. Dan mengapa orang-orang biasa melenyapkan orang-orang komunis, juga demi anu, dengan cara yang sama. Jadi mengapa manusia bisa tetap eksis ketika kemanusiaan mati.”
― Ahmad Tohari, Ronggeng Dukuh Paruk
“Adalah semua orang Dukuh Paruk–termasuk Srintil–mereka tidak tahu apa-apa tentang sistem atau jalinan birokrasi kekuasaan. Dalam wawasan mereka semua priayi adalah sama, yakni tangan kekuasaan. Setiap priayi boleh datang atas nama kekuasaan, tak peduli mereka adalah hansip, mantri pasar, opas kacamatan, atau seorang pejabat dinas perkebunan negara esperti Marsusi. Dan ketika kekuasaan, menjadi aspek yang paling dominan dalam kehidupan masyarakat, orang Dukuh Paruk seperti Srintil tidak mungkin mengerti perbedaan antara polisi, tentara, dan pejabat perkebunan. Semuanya adalah tangan kekuasaan dan Srintil tidak mungkin bersikap lain kecuali tunduk dan pasrah.”
― Ahmad Tohari, Ronggeng Dukuh Paruk
“Merugilah orang yang mengabaikan tiga perkara teras kehidupan. Yakni terampil, keutamaan, dan kepandaian. Bila triperkara ini ditinggalkan, punahlah citra keutamaan manusia. Dia tidak lebih utama daripada daun jati kering; melarat, mengemis, dan menggelandang”
― Ahmad Tohari, Ronggeng Dukuh Paruk
“Kebanyakan buku tentang penderitaan keluarga orang yang dianggap terlibat G-30-S tahun 1965 ditulis dengan kemarahan. Buku ini malah mengalir dengan nuansa ketabahan dan keuletan menempuh ujian sejarah. Dan muaranya adalah pencerahan hidup dan kesyukuran”
― Ahmad Tohari, Berpijak di Dunia Retak: Catatan Keluarga Penyintas Tragedi 1965
“Priyayi zaman dulu kan bekerja dan mengabdi kepada kaum penjajah, bukan bekerja dan mengabdi kepada kaum kawula seperti kita ini. Mereka bersikap ningrat, maunya dilayani. Mereka menjunjung atasan dan tak mau mengerti tangise wong cilik. Mereka maunya membentuk tata nilai sendiri dan malu bergaul dengan rakyat biasa. Dan mereka angkuh tentu saja. Mereka jarang menyadari bahwa gaji yang mereka terima berasal dari wong cilik, setidaknya berasal dari harta milik bersama seluruh rakyat. Pokoknya priyayi zaman dulu itu menurut pohon jengkol demikian tak berharga karena miskin akan nilai kemanusiaan yang sejati.”
― Ahmad Tohari
“Ki Hajar Dewantara bilang begini, pilih mana dari dua kondisi ini: Numpak montor sinambi sawan tangis atau mikul dhawet sinambi rengeng-rengeng. Secara samar KHD menganjurkan orang memilih kondisi kedua. Yakni, hidup sederhana sambil mengembangkan rasa, dan dengan cara ini orang bisa ayem. Daripada yang pertama? Yakni, hidup banyak harta namun terus gelisah karena selalu diburu oleh keserakahan sendiri.”
― Ahmad Tohari, Orang-orang Proyek
tags: hidup
“Atau siapa tahu sesungguhnya tak ada manusia alim, tak ada masyarakat yang alim. Pabila suatu waktu terlihat gejala kealiman, maka sebenarnya yang terjadi adalah lenyapnya kesempatan-kesempatan bagi perilaku kebinatangan. Ketika tatanan pada suatu saat berantakan, maka akan terjadi banyak celah dari mana tenaga-tenaga potensial menerobos keluar. Tenaga potensial itu adalah naluri hewani, siapa tahu. Hanya yang merasa tatanan pada dirinya tetap saja yang bisa terus bertahan pada citra kemanusiaannya.”
― Ahmad Tohari, Ronggeng Dukuh Paruk
“Tak ada manusia yang lebih puas daripada dia yang baru saja berhasil menerangkan arti keberadaannya.”
― Ahmad Tohari, Senyum Karyamin
“Betapa kecil manusia di tengah keperkasaan alam. Di bawah lengkung langit yang megah Nyai Sakarya beserta cucunya merasa menjadi semut kecil yang merayap-rayap di permukaan bumi, tanpa kuasa dan tanpa arti sedikit pun.”
― Ahmad Tohari, Ronggeng Dukuh Paruk
“Dulu Ki Ronngowarsito menciptakan tembang tentang zaman edan itu sebagai peringatan agar orang tetap memilih jalan keselamatan, bukan jalan gila. Namun sekarang tembang itu malah dihayati terbalik, sehingga seolah-olah menjadi pembenar atas perilaku edan.”
― Ahmad Tohari, Orang-orang Proyek
“Ada kalanya lelaki terkesan oleh perempuan lantaran dia sedang berada di luar lingkungan sehariannya, seperti yang terjadi pada para pekerja pengukur tanah itu. Ada kalanya lelaki tunduk kepada naluri pemberian alam; kecenderungan berpetualang. Ada kalanya pula seorang perempuan memang dibekali kelebihan-kelebihan tertentu sehingga kehidupan memberinya tempat pada wilayah perhatian lawan jenis.”
― Ahmad Tohari, Ronggeng Dukuh Paruk
“Tak ada sesuatu yang berdiri sendiri. Maksudku, tak suatu upaya apa pun yang bisa bebas dari akibat. Upaya baik berakibat baik, upaya buruk berakibat buruk.”
― Ahmad Tohari, Ronggeng Dukuh Paruk
“... Di mata saya, seorang lelaki yang di ujung hidupnya sempat bercita-cita menjadi wong bener adalah orang baik. Entahlah bagi orang lain, entah pula bagi Tuhan.”
― Ahmad Tohari, Mata yang Enak Dipandang
tags: social
“Ya, kepercayaan bahwa ada kekuatan besar yang berkuasa atas dirimu. Kekuatan itu mengatasi apa saja yang ada padamu. Pokoknya kau hanya memiliki kekuasaan yang kecil atas dirimu sendiri. Memang, kau dapat menerangkan dengan kekuatan akalmu misalnya, mengapa bisa sampai menghuni tempat ini. Tetapi pada batasnya, kau akan jatuh tak berdaya. Terbukti, beberapa hari yang lalu kau berniat menghancurkan dirimu sendiri karena kau tidak bisa memahami sesuatu yang sedang terjadi pada dirimu. Itulah bukti yang nyata atas ketidakberdayaanmu.

Kapten Somad”
― Ahmad Tohari, Kubah
“Ya. Sembahyang adalah kewajiban yang datang dari Tuhan untuk setiap pribadi yang percaya. Ya. Kewajiban sembahyang tidak datang dari seseorang untuk orang lainnya. Maka secara pribadi aku tak berani mewajibkan apa-apa kepada orang lain karena aku juga tak mungkin memberinya pahala, tak pula berhak menghukumnya. Lalu bagaimana dengan si Suyud yang seakan-akan mau mewajibkan suatu yang jadi hak Allah, yaitu sembahyang, kepada orang lain?

Kiai Ngumar.”
― Ahmad Tohari, Lingkar Tanah Lingkar Air
“Menundukkan sapi jantan yang binal harus dengan cambuk dan tali yang kuat,' kata Ibu. 'Tetapi bila sapi jantan itu adalah suami, kau takkan dapat menundukkan kecuali dengan cara istimewa. Tetaplah dalam kelemahlembutan istri sejati, itulah caranya. Apabila dengan cara itu kau masih dihinakan, tiba saat bagimu untuk berbuat membela martabatmu sendiri sebagai manusia. Tetapi sepanjang pengalamanku, Yuning, bagaimanapun gagah seorang laki-laki dia akan merunduk di hadapan citra seorang perempuan sejati. Boleh jadi kata-kataku berlebihan, namun cobalah uji kebenarannya.”
― Ahmad Tohari, Mata yang Enak Dipandang
“… kehidupan tidak maju ke depan dalam lintasan lurus, melainkan maju sambil mengayun ke kiri dan ke kanan dengan jarak yang sama jauhnya. Padahal nurani kehidupan tak pernah sekali pun bergeser dari kedudukannya di tengah. Apabila ayunan ke kanan bercorak hitam misalnya maka ayunan ke kiri dalam banyak hal adalah kebalikannya, putih.”
― Ahmad Tohari, Ronggeng Dukuh Paruk

« previous 1 3
All Quotes | Add A Quote
Ronggeng Dukuh Paruk Ronggeng Dukuh Paruk
9,303 ratings
Orang-orang Proyek Orang-orang Proyek
2,831 ratings
Mata yang Enak Dipandang Mata yang Enak Dipandang
1,512 ratings
Senyum Karyamin Senyum Karyamin
1,364 ratings