Fana Abadi Quotes

Quotes tagged as "fana-abadi" Showing 1-1 of 1
Titon Rahmawan
“RETASAN DUA BUNGA DI PUSAT KETIADAAN

(Percakapan Sakura–Kamboja dalam Konflik Kefanaan & Keabadian)

I. SAKURA — Cahaya yang Tidak Selesai Menjadi Cahaya

Sakura gugur
bukan sebagai kelopak,
melainkan sebagai serpih cahaya yang gagal menutup luka waktu.

Ia melayang rendah—
dingin, retak, mineral—
seperti sisa bintang yang ditolak langitnya sendiri.

Cahayanya tidak menghangat,
tidak menuntun,
hanya menunjuk ke celah tipis
tempat dunia pertama kali terbelah.

Ia berbicara dalam napas patah:
bahwa kefanaan adalah jam rusak
yang tetap berdetak meski jarumnya telah berhenti.

II. KAMBOJA — Gelap yang Mengetahui Nama Kematian

Kamboja mekar
di tanah lembab yang mengingat
setiap tubuh
yang pernah menyerah kepada diam.

Kelopaknya tebal
seperti daging realitas
yang sudah ditinggalkan kesadaran.

Aromanya tidak semerbak:
ia adalah katalog kematian,
desis lembut yang mengafirmasi
bahwa segala yang hidup
hanya mampir di permukaan gelap
yang menunggu dengan kesabaran purba.

Ia tidak bergerak.
Ia tidak meminta.
Ia hanya menunggu kepulangan
segala hal yang lupa
bahwa ia berasal dari sunyi.

III. DIALOG ASIMETRIS — Cahaya yang Terlambat vs Gelap yang Terlalu Awal

Sakura berbicara lebih dulu,
seperti cahaya yang memaksakan arti:

Sakura:
Aku adalah cahaya yang tersesat dari pusat kejadian.

Kamboja:
Aku adalah gelap yang telah tiba sebelum apa pun diberi bentuk.

Sakura:
Aku gugur karena waktu tidak sanggup memikulku.

Kamboja:
Aku mekar karena kematian menerima semua yang tidak selesai.

Sakura:
Ada seseorang yang menahan namaku di ujung lidahnya.

Kamboja:
Ada seseorang yang menghilang dalam diamku tanpa meminta izin.

Sakura:
Aku rapuh karena aku masih percaya ada yang bisa diselamatkan.

Kamboja:
Aku tegas karena aku tahu tidak ada yang perlu diselamatkan.

IV. RETAK PRIMORDIAL — Tubuh Manusia sebagai Celah Semesta

Di tengah mereka,
ada aku—
bukan sebagai saksi,
bukan sebagai pecinta,
tetapi sebagai retak primordial
tempat cahaya dan gelap
bertarung tanpa alasan
dan tanpa akhir.

Tubuhku bukan tubuh:
ia adalah lorong,
goa tanpa gema,
batu basah yang mencatat
dua bunga yang mencoba menulis ulang suratan takdir.

Sakura memanggil
dengan cahaya yang retak,
ingin mengangkatku ke kefanaan
yang pura-pura lembut.

Kamboja menunggu
dengan gelap yang samar
menawarkan keabadian
yang tidak menjanjikan apa pun.

Dan aku—
yang lahir dari kesalahan waktu—
mendengar perjanjian yang tak pernah terucap:

Bahwa cinta terlarang
bukan pertemuan dua tubuh,
melainkan benturan dua kosmos
yang berebut celah
di dalam retakan jiwa.

Di sanalah,
Sakura kehilangan maknanya.
Di sanalah,
Kamboja menemukan dirinya.

Dan aku—
yang tidak bisa memilih cahaya,
juga tidak bisa pulang ke gelap—
menjadi tiada
yang mempersatukan keduanya.

Desember 2025”
Titon Rahmawan