Sarkasme Kosmik Quotes

Quotes tagged as "sarkasme-kosmik" Showing 1-1 of 1
Titon Rahmawan
“PUCUNG — EPITAF SINGULARITAS
(Debu yang Bernafsu Menggenggam Bintang)

Tudung batu. Tudung ilusi.
Manusia tegak, tiang ambisi—
leher terulur, menjerat horizon yang fana,
meyakini langit adalah milik kepala.
Cahaya lahir dari kebutaan purba,
fatamorgana lelahnya indera.

Mengukur semesta dengan benang rapuh,
seolah rembulan bisa dibelah
hanya dengan memperpanjang tulang.
Lupa: ia hanya nyala sekejap,
napas pendek,
waktu gagal mencari saksi.

Renung batu. Renung jurang.
Manusia menggali diri, sumur keras kepala,
tak sadar kedalaman yang ia takuti
hanya pantulan sunyi
dirinya sendiri.
Ia mencari "akhir,"
menemukan riak gelap yang tak bernama,
menelan semua tanya,
tanpa menyisakan gema.

Ia mengejar "pengetahuan":
tetapi bintang tak tahu
mengapa ia harus terbakar menjadi abu.

Tenung batu. Tenung kekosongan.
Manusia membuka sayap akal,
mengira bintang kejora sedekat
pendek lengan sendiri.

Sepenuhnya lupa:
galaksi tidak membungkuk pada akal siapa pun.
Pengetahuan
hanya serpihan api
di pinggir gelap tak bertepi.

Saat ia menatap titik paling jauh,
ia hanya menemukan void—
lubang hitam
menelan semua pahlawan tanpa menoleh.

Pucung tertulis sebagai epitaf:
bukan kabar duka,
bukan pujian,
hanya goresan kecil
bagi spesies yang terlalu percaya diri,
mengira dirinya pusat segalanya,
namun tak pernah menyentuh apa pun
selain bayangan sendiri.

Semesta menutup buku
tanpa perasaan,
tanpa penyesalan.

Satu penggal kalimat
di cahaya dingin
pusat singularitas:

“Angkuh tetaplah debu.
Pencarian hanya perjalanan pulang.
Yang merasa tahu, tak pernah melihat apa pun.”

Desember 2025”
Titon Rahmawan