333 books
—
131 voters
Discover new books on Goodreads
Meet your next favorite book
Puisi Books
Showing 1-50 of 1,161
Tidak Ada New York Hari Ini (Paperback)
by (shelved 52 times as puisi)
avg rating 4.13 — 3,402 ratings — published 2016
Hujan Bulan Juni (Paperback)
by (shelved 52 times as puisi)
avg rating 4.24 — 4,441 ratings — published 1994
Melihat Api Bekerja: Kumpulan Puisi (Paperback)
by (shelved 51 times as puisi)
avg rating 4.10 — 2,160 ratings — published 2015
Aku Ini Binatang Jalang (Paperback)
by (shelved 47 times as puisi)
avg rating 4.18 — 3,730 ratings — published 1986
Perjamuan Khong Guan (Paperback)
by (shelved 29 times as puisi)
avg rating 3.95 — 1,411 ratings — published 2020
Buku Latihan Tidur: Kumpulan Puisi (Paperback)
by (shelved 21 times as puisi)
avg rating 4.07 — 870 ratings — published 2017
Selamat Menunaikan Ibadah Puisi: Sehimpun Puisi Pilihan (Paperback)
by (shelved 21 times as puisi)
avg rating 4.08 — 780 ratings — published 2016
Love & Misadventure (Paperback)
by (shelved 21 times as puisi)
avg rating 3.93 — 59,454 ratings — published 2013
Cinta yang Marah (Paperback)
by (shelved 20 times as puisi)
avg rating 3.75 — 530 ratings — published 2009
Tempat Paling Liar Di Muka Bumi (Paperback)
by (shelved 19 times as puisi)
avg rating 3.92 — 914 ratings — published 2016
Surat Kopi (Paperback)
by (shelved 19 times as puisi)
avg rating 3.93 — 552 ratings — published 2014
Baju Bulan: Seuntai Puisi Pilihan (Paperback)
by (shelved 19 times as puisi)
avg rating 4.00 — 520 ratings — published 2013
Mengapa Luka Tidak Memaafkan Pisau (Paperback)
by (shelved 18 times as puisi)
avg rating 4.05 — 845 ratings — published 2020
Nyanyian Akar Rumput: Kumpulan Lengkap Puisi (Paperback)
by (shelved 18 times as puisi)
avg rating 4.22 — 735 ratings — published 2003
Ayat-Ayat Api: Kumpulan Sajak
by (shelved 18 times as puisi)
avg rating 3.91 — 545 ratings — published 2000
Puisi Tepi Jalan (Paperback)
by (shelved 15 times as puisi)
avg rating 4.05 — 616 ratings — published 2012
The Book of Forbidden Feelings (Hardcover)
by (shelved 14 times as puisi)
avg rating 3.70 — 2,364 ratings — published 2016
Buku Tentang Ruang: Kumpulan Puisi (Paperback)
by (shelved 14 times as puisi)
avg rating 3.84 — 516 ratings — published 2016
Aku: Berdasarkan Perjalanan Hidup Dan Karya Penyair Chairil Anwar (Paperback)
by (shelved 14 times as puisi)
avg rating 4.17 — 3,388 ratings — published 1987
Masih Ingatkah Kau Jalan Pulang (Hardcover)
by (shelved 13 times as puisi)
avg rating 3.52 — 645 ratings — published 2020
Puisi-Puisi Cinta (Paperback)
by (shelved 13 times as puisi)
avg rating 3.77 — 433 ratings — published 2015
Langit Vanilla (Paperback)
by (shelved 13 times as puisi)
avg rating 4.19 — 542 ratings — published 2011
Aku Ingin Jadi Peluru (Kumpulan Puisi)
by (shelved 13 times as puisi)
avg rating 4.23 — 735 ratings — published 2000
Perihal Gendis (Paperback)
by (shelved 12 times as puisi)
avg rating 3.79 — 345 ratings — published 2018
Kolam: Buku Puisi (Paperback)
by (shelved 12 times as puisi)
avg rating 4.04 — 422 ratings — published 2009
Dikatakan atau Tidak Dikatakan, Itu Tetap Cinta (Paperback)
by (shelved 12 times as puisi)
avg rating 3.80 — 1,978 ratings — published 2014
Perahu Kertas (Paperback)
by (shelved 12 times as puisi)
avg rating 4.14 — 667 ratings — published 1983
Kepada Cium (Paperback)
by (shelved 12 times as puisi)
avg rating 3.71 — 265 ratings — published 2007
Percakapan Paling Panjang Perihal Pulang Pergi (Paperback)
by (shelved 11 times as puisi)
avg rating 3.87 — 591 ratings — published 2021
Malam Ini Aku Akan Tidur Di Matamu: Sehimpun Puisi Pilihan (Paperback)
by (shelved 11 times as puisi)
avg rating 3.86 — 429 ratings — published 2016
Sergius Mencari Bacchus: 33 Puisi (Paperback)
by (shelved 11 times as puisi)
avg rating 3.89 — 740 ratings — published 2016
Museum Masa Kecil (Paperback)
by (shelved 10 times as puisi)
avg rating 3.59 — 324 ratings — published 2018
Telepon Genggam (Paperback)
by (shelved 10 times as puisi)
avg rating 3.82 — 234 ratings — published 2003
Babad Batu: Kumpulan Sajak (Paperback)
by (shelved 10 times as puisi)
avg rating 3.48 — 160 ratings — published 2016
Ibu Mendulang Anak Berlari (Paperback)
by (shelved 10 times as puisi)
avg rating 3.91 — 200 ratings — published 2016
Melipat Jarak: Sepilihan Sajak (Paperback)
by (shelved 10 times as puisi)
avg rating 4.10 — 563 ratings — published 2015
Deru Campur Debu (Paperback)
by (shelved 10 times as puisi)
avg rating 4.10 — 475 ratings — published 1949
Ada Berita Apa Hari Ini, Den Sastro? (Paperback)
by (shelved 10 times as puisi)
avg rating 3.87 — 321 ratings — published 2002
Duka-Mu Abadi (Paperback)
by (shelved 10 times as puisi)
avg rating 4.04 — 472 ratings — published 1968
Celana Pacarkecilku di Bawah Kibaran Sarung (Paperback)
by (shelved 10 times as puisi)
avg rating 3.94 — 229 ratings — published 2007
Pendidikan Jasmani dan Kesunyian (Paperback)
by (shelved 9 times as puisi)
avg rating 3.73 — 167 ratings — published 2016
Kawitan: Kumpulan Puisi (Paperback)
by (shelved 9 times as puisi)
avg rating 3.57 — 128 ratings — published 2016
Di Hadapan Rahasia (Paperback)
by (shelved 9 times as puisi)
avg rating 3.79 — 354 ratings — published 2016
Sekumpulan Epitaf & Surat-surat Yang Lewat (Paperback)
by (shelved 9 times as puisi)
avg rating 4.13 — 164 ratings — published 2014
Seksi Ovari (Paperback)
by (shelved 9 times as puisi)
avg rating 3.86 — 464 ratings — published 2012
Perempuan Yang Dihapus Namanya (Paperback)
by (shelved 9 times as puisi)
avg rating 3.87 — 373 ratings — published 2010
Sadjak-Sadjak Sepatu Tua (Paperback)
by (shelved 9 times as puisi)
avg rating 3.92 — 265 ratings — published 1972
Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus (Paperback)
by (shelved 9 times as puisi)
avg rating 4.12 — 360 ratings — published 1949
“MALIN
(Melayu - Arkais)
V. Kedatangan dan Pengingkaran
Kini di tepian pantai ini,
betapa perih runtih bola mata sang bunda.
Terpatah janji si anak mufrad, dilerai tanti perawan putri bangsawan.
Betapa dalam retak karat di likat palat,
simpul keramat wajah anak rembulan yang cuma berdiri angkuh di atas gelamat?
Ia yang enggan menyebut laif pasir pantai dan bahkan menolak menyapa nama bundanya.
Selalu ada setampuk luka di tajuk baka mata kita.
Seperti kelopak tunjung yang basah diorak ingkar ludah kata-kata dan tanah basah yang kelesah disesah korenah.
Perangai laut yang mengambang risau dihantam kayau akar bakau.
Betapa galau hati sesungguhnya,
ia ingin pulang kembali kepada pohon yang dulu pernah ia jadikan rumah,
atau bumi tempat bermuara air mata.
Air matamulah itu ibu!
Ia anak gadang semata wayang, yang entah mengapa tak juga Iekas beranjak dewasa,
menggali leka buaian duka pada renta raga sang bunda.
VI. Kutuk Pastu Ibu dan Cinta yang Hilang
Seludang hatimu berasa ingin turun melaut,
mencari serpih cangkang tutut di akar rumput
dan sejumput temali butut tempat bertaut pilu hati di jantung maut. Bukankah ia telah mencabarkan hatimu wahai ibu?
Maut turut bersama angin dan hujan badai,
atau apapun yang datang dan pergi bersama dirinya.
Senja yang hadir meIarap waktu, cuaca tak tentu,
detak ragu di jantung batu.
Di situ, pada rahimmu, bertelut jasad sang maut. Maut anakmu.
Matanya yang gentar lagi gelisah, tangisnya yang basah,
mendekap erat pada resam tubuh yang sebentar lagi mendingin. Sedingin batu.
VII. Sesal yang Datang Terlambat
Saat peniti menolak semat kismat jantung hikmat. Langit datang bertandang untuk merengkuh keruh geruh jiwanya. Hingga untuk penghabisan kali,
ia menghamburkan rupa-rupa kata sesal dan mohon ampun dari kelu bibirnya.
Kau yang menciptakan kasidah cinta dari rahimmu yang paling ibu. Ketika kau menolak menjadi tuhan bagi anakmu sendiri.
Untuk telur badi buaya yang susah payah engkau tetaskan,
namun kau sayangi melebihi dirimu sendiri.
Seumpama bayang-bayang mara yang paling lintuh atau malah mungkin yang paling jatuh.
Tuhfah yang dulu pernah kau anggap berharga, ternyata cuma kelompang telur tembelang.
Serupa batu rapuh tempat kini ia bernaung.
VIII. Epilog Ibu
Hingga habis air matamu menjemput lembayung langit lazuardi,
sayap-sayap awan pengarak hujan dan paras rupawan sang insan kamil.
Berkeras hati mencari lindungan pada selimut mutaki itu,
yang membalut tubuhmu dengan cinta yang teramat maha.
Yang tak mungkin kau kata dengan sembarang laknat atau kutuk pastu. Sementara risau hati dipaksa mafhum,
betapa cinta tak mungkin hanya sebatas cerita
atau tautan kisah yang sunyi:
Duh Malin, betapa sungguh kejam rajam hatimu atas debu di kepala ibu.
Januari 2014
(Rekonstruksi)”
―
(Melayu - Arkais)
V. Kedatangan dan Pengingkaran
Kini di tepian pantai ini,
betapa perih runtih bola mata sang bunda.
Terpatah janji si anak mufrad, dilerai tanti perawan putri bangsawan.
Betapa dalam retak karat di likat palat,
simpul keramat wajah anak rembulan yang cuma berdiri angkuh di atas gelamat?
Ia yang enggan menyebut laif pasir pantai dan bahkan menolak menyapa nama bundanya.
Selalu ada setampuk luka di tajuk baka mata kita.
Seperti kelopak tunjung yang basah diorak ingkar ludah kata-kata dan tanah basah yang kelesah disesah korenah.
Perangai laut yang mengambang risau dihantam kayau akar bakau.
Betapa galau hati sesungguhnya,
ia ingin pulang kembali kepada pohon yang dulu pernah ia jadikan rumah,
atau bumi tempat bermuara air mata.
Air matamulah itu ibu!
Ia anak gadang semata wayang, yang entah mengapa tak juga Iekas beranjak dewasa,
menggali leka buaian duka pada renta raga sang bunda.
VI. Kutuk Pastu Ibu dan Cinta yang Hilang
Seludang hatimu berasa ingin turun melaut,
mencari serpih cangkang tutut di akar rumput
dan sejumput temali butut tempat bertaut pilu hati di jantung maut. Bukankah ia telah mencabarkan hatimu wahai ibu?
Maut turut bersama angin dan hujan badai,
atau apapun yang datang dan pergi bersama dirinya.
Senja yang hadir meIarap waktu, cuaca tak tentu,
detak ragu di jantung batu.
Di situ, pada rahimmu, bertelut jasad sang maut. Maut anakmu.
Matanya yang gentar lagi gelisah, tangisnya yang basah,
mendekap erat pada resam tubuh yang sebentar lagi mendingin. Sedingin batu.
VII. Sesal yang Datang Terlambat
Saat peniti menolak semat kismat jantung hikmat. Langit datang bertandang untuk merengkuh keruh geruh jiwanya. Hingga untuk penghabisan kali,
ia menghamburkan rupa-rupa kata sesal dan mohon ampun dari kelu bibirnya.
Kau yang menciptakan kasidah cinta dari rahimmu yang paling ibu. Ketika kau menolak menjadi tuhan bagi anakmu sendiri.
Untuk telur badi buaya yang susah payah engkau tetaskan,
namun kau sayangi melebihi dirimu sendiri.
Seumpama bayang-bayang mara yang paling lintuh atau malah mungkin yang paling jatuh.
Tuhfah yang dulu pernah kau anggap berharga, ternyata cuma kelompang telur tembelang.
Serupa batu rapuh tempat kini ia bernaung.
VIII. Epilog Ibu
Hingga habis air matamu menjemput lembayung langit lazuardi,
sayap-sayap awan pengarak hujan dan paras rupawan sang insan kamil.
Berkeras hati mencari lindungan pada selimut mutaki itu,
yang membalut tubuhmu dengan cinta yang teramat maha.
Yang tak mungkin kau kata dengan sembarang laknat atau kutuk pastu. Sementara risau hati dipaksa mafhum,
betapa cinta tak mungkin hanya sebatas cerita
atau tautan kisah yang sunyi:
Duh Malin, betapa sungguh kejam rajam hatimu atas debu di kepala ibu.
Januari 2014
(Rekonstruksi)”
―
“Senja melarutkanku di batas waktu
Ketika ada dan tiada sejenak menyatu
Ada yang beringsut menjauh
Ada yang perlahan merengkuh
Bayanganku mengais sisa terang
Sebelum terkubur malam panjang”
― Nocturnal Journal
Ketika ada dan tiada sejenak menyatu
Ada yang beringsut menjauh
Ada yang perlahan merengkuh
Bayanganku mengais sisa terang
Sebelum terkubur malam panjang”
― Nocturnal Journal













