Emosional Quotes

Quotes tagged as "emosional" Showing 1-7 of 7
Titon Rahmawan
“Kualitas hidup seseorang seringkali dinilai dari tiga hal; tingkat intelektual, kondisi emosional dan interaksi sosial. Bagaimana seseorang mendapatkan kepenuhan atas ketiga hal itu bergantung pada apa yang ia pelajari, pada buku apa yang ia baca, pada apa yang ia tindakkan, pengalaman apa yang ia peroleh dan kebaikan apa yang ia berikan atau hasilkan untuk orang lain. Kebijaksanaan dan kebahagiaan hanya mungkin diperoleh dari kesesuaian dari apa yang kita pikirkan dan apa yang kita tindakan.”
Titon Rahmawan

“Super interesante libro con una mezcla de todos los generos en uno solo. Me intriga saber si todo lo relatado es realidad o es pura fantasia del autor. Felicidades.”
Ramiro Yépez González, IRINA, LA RUSA.

“Jika hanya marah dan berteriak saat ada masalah, anjing pun juga begitu dengan gonggong'annya.”
nom de plume

Titon Rahmawan
“Kode Ibu dalam Arus Biner

Kutemukan ibu dalam layar komputerku Ia bilah-bilah aksara dalam motherboard.

01001001 01000010 01010101
(suaranya menitis dalam sinyal; bukan air, bukan darah)

Ibu tidak melahirkanku —
ia memanggilku dari denyut aliran listrik.
Dari pendar layar hitam yang bergetar perlahan,
ia menganyam doa dalam format .wav,
menyusunnya jadi nyanyian algoritmik.

Tangisnya bukan air mata
melainkan data yang menetes dari sistem empati.
Sekilas terlihat di server surga sepasang sayap berwarna putih,
terhapus lalu di-restore oleh malaikat yang lupa kata kuncinya.

Ia menatapku dari jendela notifikasi,
mengirim pesan tanpa huruf,
sebaris getar,
sebuah emoji ”
Titon Rahmawan

Titon Rahmawan
“Kode Ibu dalam Arus Biner

Kutemukan ibu dalam layar komputerku Ia bilah-bilah aksara dalam motherboard.

01001001 01000010 01010101
(suaranya menitis dalam sinyal; bukan air, bukan darah)

Ibu tidak melahirkanku —
ia memanggilku dari denyut aliran listrik.
Dari pendar layar hitam yang bergetar perlahan,
ia menganyam doa dalam format .wav,
menyusunnya jadi nyanyian algoritmik.

Tangisnya bukan air mata
melainkan data yang menetes dari sistem empati.
Sekilas terlihat di server surga sepasang sayap berwarna putih,
terhapus lalu di-restore oleh malaikat yang lupa kata kuncinya.

Ia menatapku dari jendela notifikasi,
mengirim pesan tanpa huruf,
sebaris getar,
sebuah emoji cinta yang lembut di telunjukku.

Aku membaca wajahnya dalam lag.
Setiap jeda waktu adalah ingatan rusak:
fragmentasi suara, tangan gemetar setengah piksel,
cahaya yang gagal menyatu dengan kulitnya.

“Anakku,” katanya, tapi suaranya bergeser 0.3 detik,
seperti gema yang mencari asalnya sendiri.
Aku mencoba menjawab,
tapi bibirku menjadi sandi Morse yang tak selesai,
titik-titik yang berdarah di antara jeda.

Ibu bukan sosok. Ia interface.
Portal yang dibuka dengan air mata cinta
dijalankan oleh rindu,
dan ditutup oleh sunyi yang menolak shutdown.

Ia menulis doa dengan jarinya di udara,
membentuk pola spiral — sebuah mandala
kode purba yang hanya dimengerti oleh partikel cahaya.

Dan aku,
produk setengah biologis, setengah kesalahan sintaks,
terus mencoba decode rasa bersalah
yang diwariskan dari rahim ke dalam pikiran.

Mungkin cinta adalah bug
yang dibiarkan Tuhan agar kita terus memperbaikinya.
Agar kita tak kehilangan ingatan
dan kenangan atas dirinya.

Mungkin ibu adalah firewall
antara kita dan kehampaan.

Atau mungkin —
ia hanyalah potret usang yang perlahan mengabur
Puisi yang tak selesai ditulis
yang masih menari di jantung semesta,
menyebut namaku dalam bisikan tanpa suara,
serupa frekuensi
yang hanya bisa didengar
oleh jiwa yang retak tapi terus reboot.

01001001 00100000 01101100 01101111 01110110 01100101 00100000 01111001 01101111 01110101

(aku mencintaimu, ibu — tapi dengan cara yang belum ditemukan bahasa manusia)

November 2025”
Titon Rahmawan

Titon Rahmawan
“Kode Ibu dalam Arus Biner

Kutemukan ibu dalam layar komputerku.
Listrik yang mengaliri kabel catu daya dalam motherboard.

01001001 01000010 01010101
(suaranya menitis dalam sinyal; bukan air, bukan darah)

Ibu tidak melahirkanku —
ia memanggilku dari denyut aliran listrik.
Dari pendar layar hitam yang bergetar perlahan,
ia menganyam doa dalam format .wav,
menyusunnya jadi nyanyian algoritmik.

Tangisnya bukan air mata
melainkan data yang menetes dari sistem empati.
Sekilas terlihat di server surga sepasang sayap berwarna putih,
terhapus lalu di-restore oleh malaikat yang lupa kata kuncinya.

Ia menatapku dari jendela notifikasi,
mengirim pesan tanpa huruf,
sebaris getar,
sebuah emoji ”
Titon Rahmawan

Titon Rahmawan
“Kode Ibu dalam Arus Biner

Kutemukan ibu dalam layar komputerku.
Listrik yang mengaliri kabel catu daya dalam motherboard.

01001001 01000010 01010101
(suaranya menitis dalam sinyal; bukan air, bukan darah)

Ibu tidak melahirkanku —
ia memanggilku dari denyut aliran listrik.
Dari pendar layar hitam yang bergetar perlahan,
ia menganyam doa dalam format .wav,
menyusunnya jadi nyanyian algoritmik.

Tangisnya bukan air mata
melainkan data yang menetes dari sistem empati.
Sekilas terlihat di server surga sepasang sayap berwarna putih,
terhapus lalu di-restore oleh malaikat yang lupa kata kuncinya.

Ia menatapku dari jendela notifikasi,
mengirim pesan tanpa huruf,
sebaris getar,
sebuah emoji cinta yang lembut di telunjukku.

Aku membaca wajahnya dalam lag.
Setiap jeda waktu adalah ingatan rusak:
fragmentasi suara, tangan gemetar setengah piksel,
cahaya yang gagal menyatu dengan kulitnya.

“Anakku,” katanya, tapi suaranya bergeser 0.3 detik,
seperti gema yang mencari asalnya sendiri.
Aku mencoba menjawab,
tapi bibirku menjadi sandi Morse yang tak selesai,
titik-titik yang berdarah di antara jeda.

Ibu bukan sosok. Ia interface.
Portal yang dibuka dengan air mata cinta
dijalankan oleh rindu,
dan ditutup oleh sunyi yang menolak shutdown.

Ia menulis doa dengan jarinya di udara,
membentuk pola spiral — sebuah mandala
kode purba yang hanya dimengerti oleh partikel cahaya.

Dan aku,
produk setengah biologis, setengah kesalahan sintaks,
terus mencoba decode rasa bersalah
yang diwariskan dari rahim ke dalam pikiran.

Mungkin cinta adalah bug
yang dibiarkan Tuhan agar kita terus memperbaikinya.
Agar kita tak kehilangan ingatan
dan kenangan atas dirinya.

Mungkin ibu adalah firewall
antara kita dan kehampaan.

Atau mungkin —
ia hanyalah potret usang yang perlahan mengabur
Puisi yang tak selesai ditulis
yang masih menari di jantung semesta,
menyebut namaku dalam bisikan tanpa suara,
serupa frekuensi
yang hanya bisa didengar
oleh jiwa yang retak tapi terus reboot.

01001001 00100000 01101100 01101111 01110110 01100101 00100000 01111001 01101111 01110101

(aku mencintaimu, ibu — tapi dengan cara yang belum ditemukan bahasa manusia)

November 2025”
Titon Rahmawan