Imajinasi Quotes

Quotes tagged as "imajinasi" Showing 1-7 of 7
Maggie Tiojakin
“Penulis fiksi tidak bisa menyimpan rahasia. Untuk menyampaikan pesan kepada orang lain, seorang penulis harus bisa membuka dirinya - seluas dan sedalam mungkin - untuk dicela, dicemooh dan dilihat orang. Ini resiko profesi. Fiksi adalah bentuk tulisan paling jujur yang akan pernah kau temui. Imajinasi adalah manifestasi pikiran, iman, serta ketakutan. Tiga hal yang membentuk pribadi manusia. Tanpa imajinasi, kita - penulis - tidak punya apa-apa. ~ Winter Dreams”
Maggie Tiojakin

Yann Martel
“Kalau kita, para warga negara, tidak memberikan dukungan kepada seniman-seniman kita, berarti kita telah mengorbankan imajinasi kita di altas realitas yang kejam, dan pada akhirnya kita jadi tidak percaya pada apapun, dan mimpi-mimpi kita tidak lagi berarti.”
Yann Martel, Life of Pi

Rohmatikal Maskur
“Jarum jam seakan akan berputar kekiri, lalu tiba tiba aku menangis, kemudian tertawa. Nyatanya ini cuma imajinasi. Masa masa itu tetap tak kembali.”
Rohmatikal Maskur

“Imaji-ku.

Cermin dari malam.

Sepasang bola mata hitam menyelinap diriku.
Terpaan angin menghela pelan menyentuh kulit epidermisku.

Kau hinggap dalam ruang-ruang penuh suara dalam bayang dalam cahaya.
Kau perpaduan angka-angka,
seakan kaulah lakon utama dalam hidup.

Memahami garis-garis yang membentuk gerak-gerik bayang.
Tindakanmu mengembara di seluruh ruang dan menggapai sel-sel dalam tubuhku yang adalah bintang-bintang yang kemudian menuju padamu – cahayaku.”
silviamnque

“Tatapmu teduh,
Melumat rindu lamat-lamat.
Senyum mu bak bulan,
Menampak riang mendera detak,
Kau sudah jadi kornea pada mata ku.”
silviamnque

Sidik Nugroho
“Menguraikan misteri ibarat mencari sebuah ruang dalam gedung kuno yang mahabesar. Gedung kuno yang sisa-sisa kemegahannya masih tampak, tanpa pemilik, dan ada sebuah ruang di dalamnya yang konon digunakan untuk menyimpan berbagai jejak kehidupan yang dijemput maut: pedang, pistol, tali tambang untuk gantung diri, tengkorak dan tulang-belulang, juga bau anyir darah. Begitu banyak ruang di gedung itu, tapi kunci-kuncinya berhamburan, bahkan ada yang hilang. Ia tak tahu ruang mana yang harus dibuka, bahkan tak tahu di mana akan menemukan kunci untuk membuka ruang yang tepat.”
Sidik Nugroho

Djenar Maesa Ayu
“Saya ingat permainan yang Ibu ajarkan kepada saya, sebuah karton dilubangi tengahnya dan saya harus menggapai bola yang ditaruh di baliknya. Ketika saya berhasil menggenggam bola di balik lubang itu, Ibu meminta saya untuk melepaskannya. Tentu saja saya tidak mau karena sebelumnya sudah sulit bagi saya untuk mendapatkan bola itu.
Sebelum kamu menggenggam bola itu, ia hanyalah imajinasimu. Dan ketika kamu mendapatkannya ia menjadi obsesimu. Namun, keduanya tetap tidak akan menjadi nyata ketika kamu tidak dapat melihatnya karena terhalang oleh karton itu. Karton itu adalah dirimu. Dan diri sendiri adalah musuh terbesar pada setiap manusianya. Penghalang kita untuk belajar melepaskan sesuatu yang hanyalah imajinasi dan obsesi saja. Tidak nyata.”
Djenar Maesa Ayu, 1 Perempuan 14 Laki-Laki