Puisi Religi Quotes

Quotes tagged as "puisi-religi" Showing 1-5 of 5
“Betapa pukimak hidup itu! Tuhan-tuhan
timbul-tenggelam mirip popok bayi di sampah,
dan cinta, bila terlalu hanyut kau, maka bisa
membunuh!”
Bagus Dwi Hananto, Dinosaurus Malam Hari

“Duhai Pemilik waktu
dari arusMu usiaku terlahir dan mengalir
pada muara mautMu aku berakhir dan menyerah''


Engkaulah dermaga
tempat ikrar perjalananku melunasi batas
rantau pulang kala jiwa tersesat di pintu dunia
Engkaulah samudera
tempat senjaku membenamkan usia
melarungkan maut yang membadai di pantai jiwa


Tuhan....


jagalah hati dan jiwa ini
seperti telah Engkau jaga planet-planet yang beredar pada tiap galaksi
menurut keteraturannya
biar tiada berbenturan akhiratku dengan dunia
sebelum akhir masa nyaris menyelesaikan lahat
sebelum aku dan waktu menyeduh pamit dari secangkir hayat


di perahu sepi

kuamini gelombang maghfirahMu



Di kedalaman sujudku
kuselami putihnya do'a
menghanyutkan dosa yang mnghitami muara ruhku

di rimba raka'atku, ada rindu yang merimbun sebagai Kamu


Engkau geriap hujan di kemarau tubuhku
akulah kegersangan angin yang memanjati tebing-tebing grimisMu


Tuhan...


di hujan ampunan tak henti kuburu gemuruhMu
kupaku telinga di pintuMu
moga kudengar Kau mengetuk
bertamu ke bilik sepi sunyiku”
firman nofeki

“Menuju Kamu

Saat nama indah mu disebut-sebut
mentari pun meredup
rembulan pun menunduk

alunan nama mu umpama ritma
dengan bait-bait keindahan
seakan ada tangan-tangan yang menjemput siapa pun yang mendengarkan
terkumat-kamit menyanyi-nyanyi
meliuk-lentok menari-nari
bertemasya aku dengan nama mu

biar kamu tak aku temukan namun kamu yang aku rasakan
biar kamu tak mereka pedulikan namun kamu yang aku bicarakan
kerana ini barangkali bukti mengerti
kerana ini barangkali erti memahami

masih berbicara tentang mu
semilir angin menyinggahi waktu menyapa bahuku
dingin dan nyaman ini umpama ilusi sayangku
umpama titis embun yang terlihatkan di padang pasir yang bosan dan menghampakan
umpama bintang timur yang bergemerlapan di langit hitam yang hujan dan mengecewakan
apa ilusi-ilusi ini hadiah aku kerana bekerja keras menuju kamu?

dan semestinya ilusi yang paling menenangkan
adalah menemui kamu lantas terus jatuh cinta yang paling dalam
hingga kedalaman muka bumi aku ragukan
jatuh cinta yang paling besar
hingga besarnya alam ini aku bimbangkan

Aku yakini
yang mencari
lantas menemui
hingga akhir nanti
tetap sahaja dengan nama mu
menyanyi aku
menari aku

deria-deria lantas bertumbuh melawan aras mencari cinta yang paling deras; Kamu
pancaindera pantas bercambah lebih tegal menuju rindu yang paling tebal; Tetap Kamu, Penciptaku

Rumah Gapena,
4 April 2015”
Nuratiqah Jani

“Navigasi

Pada ketika punya kaki
Tapi tetap gagal berdiri

Pada ketika bersepatu
Tapi jalan tak menentu

Pada ketika jejak dipandu
Tapi halatuju tetap melulu

Pada ketika depan terarah
Tapi masih memilih untuk menyerah

Pada saat dan ketika itu
Mana letak maruah dan malu

Pada ketika punya banyak jalan menuju cahaya
Akan tetapi masih memilih gelap dan gelita
Mungkin itu petanda
Perlu sejenak berhenti
Dan semak navigasi

Jalan menuju cahaya?
Jejaki 6 percaya.

KLIA2
6 Nov 2014”
Nuratiqah Jani

“Sebagaimana perigi dan kuburan tua, manusia bukanlah tempat untuk mengharapkan karamah.”
Robi Aulia Abdi (@aksarataksa)