Fragmentaris Quotes

Quotes tagged as "fragmentaris" Showing 1-3 of 3
Titon Rahmawan
“ZOMBIE.exe —
[SYSTEM OVERLOAD]

[BOOTING...]
Memory check: corrupted.
Signal: unstable.
Language: infected.

— “Selamat malam pemirsa—” suara terdistorsi —
“—Kami tidak bertanggung jawab
atas isi siaran ini—”

Glitch. Noise. Histeria pixel.
Layar menyala, lalu melahap wajah penonton.

— (BREAKING NEWS) —
Layar mengklaim netralitas.
Netralitas mengangguk,
lalu mencabut pisau.

NOTIF: 47 pesan belum dibaca.
Setiap nada: pentungan besi.
Setiap kata: selipan baja.

“Kebenaran” (dicetak tebal, lalu dipotong).
“Maaf” (dikirim sekali, dibalas dengan screenshot).

[potongan siaran]
Pewara muncul—
tapi kini matanya layar,
suaranya iklan deterjen.

Ia membaca berita:
“Seorang anak bunuh diri setelah dibully
di kolom komentar.”

Semua tepuk tangan.
Emoji hati berhamburan.

—“Terima kasih sudah menonton tragedi ini dalam kualitas HD.”—

[INTERFERENCE]
Gambar macet.
Cahaya menyala, berubah jadi serpihan suara.

“Lihat! Mereka menari di atas algoritma!”

Darah... darah... darah...
Menggenang di mana-mana.

Hatimu: pop-up iklan.
Pikiranmu: buffering.

“Maaf”—tidak terkirim.
“Doa”—ditandai sebagai spam.

GIF: wajah tertawa tanpa suara.
MEME: potongan doa jadi lelucon.

“Kebenaran”—file corrupt.
“Empati”—file missing.

Zzzttt... connection lost.

[REBOOT SYSTEM]

Pewara berita: “...dan kita semua tahu—”
suara dipotong, dijahit kembali menjadi cercaan.

Di sebelahnya, seorang badut menempelkan stiker “BERITA”.
Ia tertawa—ketika mulutnya terbuka,
keluar emoji palu gada.

Setiap emoji = jeritan.
Setiap trending topic = kuburan massal.

(CUT TO COMMERCIAL BREAK)

Kopi sachet rasa opini publik.
Dijual dengan tagline:
“Bangkitkan Pagi Tanpa Nurani!”

JUNGKAT-JUNGKIT: naik turun, lumba-lumba melompat dari layar.
Yang naik memegang mikrofon,
yang turun memegang batu.
Keduanya tersenyum saat pengarah acara berseru: "Camera action!"

BISIK: tempat adab dulu disimpan.
BISIK hilang.
Kini ada retweet yang mengikat leher dengan dasi warna-warni.

Headline: “Skandal! — Klik di sini untuk nyatakan kemarahan”
Isi: amunisi.
Komentar: senapan.
Share: bom...

Kamu bicara.
Kamu menendang.
Kamu memposting.
Kamu menghakimi.
Semua terjadi dalam satu detik —
dunia disulap jadi arena melempar pisau.

Ada yang meludah kata-kata,
kata-kata itu membeku dan menjadi es.
Ada yang tersenyum,
seringainya adalah cermin berlumut
yang menitikkan darah.

[intermezzo — iklan kopi]
Minum saja. Lupakan.
Efeknya: kenyamanan.
Side effect: kehilangan empati.

DI SINI, sekali lagi bahasa kehilangan adab:
kata-kata tak lagi dipakai untuk berjabat tangan,
melainkan untuk menonjok wajah.

Aku muak.
Aku menahan letupan di dada:
bukan karena takut,
tapi khawatir bila amarah itu salah sasaran
karena di antara begitu banyak suara, hampir semuanya adalah gema
bunyi gergaji.

Tapi dengar:
ketika notifikasi menjadi peluru,
ketika like mengukur derajat kriminalitas: penghakiman, pembunuhan—
seseorang menjerit,
yang lain berlarian.

Dari layar simulakra bermunculan:
zombie-zombie bergentayangan
Dengan mulut menganga buas
siap menggigit siapa saja.

— (END OF TRANSMISSION) —
Layar pecah. Pisau jatuh.
Darah muncrat!

2025”
Titon Rahmawan

Titon Rahmawan
“HELIANTHUS: MINIATUR 7 METAMORFOSIS

I. Bunga yang Melihat Api

Helai-helai matahari berputar
di dalam tengkoraknya.
Seekor singa tidur dalam dadanya,
menggeram pada warna yang menolak lahir dari tangannya.

Malam tertawa biru—
sebuah parodi langit yang meminum kenangan.
Ia mendengar bintang jatuh
seperti gigi-gigi patah dari langit yang demam.

Telinganya pecah.
Darah menyala seperti obor kecil
di pintu sebuah rumah kuning
yang tak pernah selesai dibangun.

II. Litani Rumah Kuning

I
Di lorong-lorong sunyi Arles
sebuah kuas jatuh—
dan dunia berubah menjadi almanak yang hilang.

II
Bayang telinga,
sehelai saputangan,
nama yang tak kembali dari jendela.

III
Dalam malam penuh bintang
hanya debu yang mengingatkan kita
bahwa ia pernah memilih cahaya.

IV
Di Saint-Remy,
ruang-ruang putih menghafal langkahnya
lebih baik dari siapa pun.

III. Telinga, Matahari, Abu

Telinga jatuh.
Sebuah malam mengatup.

Batu meminum darahnya.
Kelopak—
abu kuning
di antara dua nadi.

Cahaya patah,
menggigil.

Ia berjalan
tanpa tubuh,
meninggalkan namanya
pada angin yang beku.

IV. Matahari yang Memeluk Luka

Ada matahari yang tumbuh
dari dadanya—
lambat, panas,
seperti buah yang ingin pecah.

Kelopak-kelopak cahaya
mengusap wajahnya
dengan kelembutan yang putus asa.

Dalam darahnya
berdenyut ladang-ladang kuning,
dan malam menunduk
untuk mencium keringatnya.

Ia mencintai cahaya
seperti orang lapar mencintai roti.

V. Cermin Matahari yang Terbelah

Ia berdiri di depan kanvas—
kini, dulu, nanti—
waktu melingkar pada ujung kuasnya.

Setiap warna yang gagal
adalah pintu menuju dirinya sendiri.

Telinganya—
sebuah jam rusak
yang terus memanggil cahaya.

Ia mati dan tidak mati
di saat yang sama,
karena setiap garis adalah
bekas langkah dari masa lalu
dan masa depan.

VI. Ruang Tempat Telinga Itu Jatuh

Kamar itu terlalu sunyi
untuk menampung napasnya.

Ia menekan kornea matanya
pada kanvas yang dingin,
mencari sedikit alasan
untuk tetap tinggal.

Darah dari telinganya
mengalir ke lantai—
membentuk peta kecil
tentang semua yang ia takuti.

Ia memberi hadiah paling lembut:
potongan dirinya
yang tak lagi sanggup ia simpan.

VII. Senja di Rumah Kuning

Senja yang berat
berdiri di atas rumah kuning.

Sepatu bot tua,
angin lembab,
bau anggur membusuk
di meja kayu retak.

Di luar jendela,
bunga matahari
menggelap perlahan—
seperti seseorang yang mengantuk
dalam penderitaannya sendiri.

Ia berjalan ke hutan,
dan daun-daun kering
jatuh satu per satu
seperti pikiran yang terluka.

Desember 2025”
Titon Rahmawan

Titon Rahmawan
“HELIANTHUS:
DARK MANUSCRIPT
(7 Luka Vincent, yang Tak Pernah Selesai Dibaca Cahaya)

I. Asal Cahaya

Kuning adalah luka paling tua
yang menetes dari tubuh matahari
ke nadi seorang lelaki
yang tak pernah sanggup
menanggung pagi.

Setiap tetesnya
menggores helai urat syaraf
retak dan denyut seperti
lonceng gereja yang kehilangan doa.

Arles memanggilnya
dengan suara serak
dari tembok lembab
sebuah rumah kuning
yang lebih mirip mulut cacing
yang menelan sepi.

II. Anatomi Sebuah Telinga

Di tubuhnya tumbuh seekor singa
yang menggigiti dagingnya
dari dalam ke luar.
Orang-orang menyebutnya “gila”
karena mereka takut pada binatang yang selalu lapar.

Namun ia tahu:
yang mengaum itu adalah cahaya
yang tak sanggup ia jinakkan.
Cahaya yang mengelupas kulit
seperti kuku Gauguin
yang meninggalkan jejak garam
di punggung.

Maka ia memotong telinganya
sebagai tumbal—
segumpal daging kecil
yang ia bungkus rapi
dalam sapu tangan putih
dan ia persembahkan
kepada suara yang ia kejar
sejak kanak-kanak.

III. Perjamuan Orang-Orang
yang Tak Selesai

Theo hanya memandangnya
seperti memandang sumur retak
tak berair.

Gachet mengukur nadinya
seperti menakar jarak
antara iman dan putus asa.

Gauguin menutup pintu
dan membiarkan lorong panjang itu
menjerit sendiri.

Di sudut café,
sebotol anggur pecah
seperti pecahnya bintang
di langit malam yang murung.

Nama-nama kalender
tergantung di dinding
seperti kepala-kepala
yang terpenggal.

Tak satu pun
cukup tajam
untuk menebas sunyi
yang bergema di benaknya.

IV. Kanvas yang Tak Menghendaki
Jiwa Pemiliknya

Ia menatap bunga-bunga matahari itu
yang rontok satu per satu
seperti gigi para martir.

Kuning di situ bukan warna.
Kuning adalah jeritan.
Kuning adalah mimpi buruk
yang merayap ke pori-pori
dan memakan tidur malamnya
hingga tak bersisa.

Setiap helai kelopak
adalah surat yang tak pernah ia kirim
kepada Tuhan
yang ia yakini sedang bersembunyi
di balik sepotong cermin retak.

V. Ladang Gandum dengan Langit
yang Tak Mengampuni

Pistol di tangannya
lebih dingin dari Saint-Remy.

Ia menembak bukan untuk mati.
Ia menembak untuk menutup suara
yang terus berbisik
dari sisi lain cahaya.

Asap kecil itu
terhenti di udara
seperti doa
yang ragu-ragu.

Namun maut menolak.
Bahkan kematian pun
tak ingin menginap
di tubuh seorang lelaki
yang terluka oleh cahaya.

Ia berjalan pulang
sambil menyeret bayangannya
yang terbelah dua.

VI. Epilog di Bawah Cahaya
yang Makin Pucat

Pada akhirnya,
lelaki itu hanya ingin
membiarkan cahaya
menembus tubuhnya
tanpa menyisakan nama.

Kanvas yang koyak
mengapung di udara
seperti burung-burung gagak
yang terlambat pulang.

Dunia tak akan pernah mengerti
mengapa seseorang
mencintai cahaya
lebih dari jiwanya sendiri.

Di liang lembab itu,
kelopak-kelopak bunga matahari
yang ia bawa sepanjang hidup
luruh satu demi satu
seperti mantra
yang kehilangan tuhan.

Desember 2025”
Titon Rahmawan