Sosial Media Quotes
Quotes tagged as "sosial-media"
Showing 1-2 of 2
“Mereka mengetik doa panjang dengan kata-kata indah, berharap mendapat simpati dari orang-orang yang bahkan tidak peduli. Mereka mengunggah permohonan kepada Tuhan, tapi siapa sebenarnya yang mereka tuju? Tuhan, atau algoritma? Mereka ingin malaikat mencatat doa mereka, tapi siapa yang mereka harapkan membaca? Langit, atau followers mereka?
Dengar baik-baik: malaikat tidak akan repot screenshot doamu. Tuhan tidak butuh tagar agar mendengar permintaanmu. Jika kau benar-benar ingin berdoa, lakukan dalam hening, dalam keikhlasan, bukan sebagai tontonan. Karena jika doamu hanya untuk dilihat manusia, maka selamat—kau sudah mendapatkan yang kau cari: perhatian mereka. Tapi jangan berharap ada balasan dari langit untuk sesuatu yang niatnya saja sudah bengkok sejak awal.”
―
Dengar baik-baik: malaikat tidak akan repot screenshot doamu. Tuhan tidak butuh tagar agar mendengar permintaanmu. Jika kau benar-benar ingin berdoa, lakukan dalam hening, dalam keikhlasan, bukan sebagai tontonan. Karena jika doamu hanya untuk dilihat manusia, maka selamat—kau sudah mendapatkan yang kau cari: perhatian mereka. Tapi jangan berharap ada balasan dari langit untuk sesuatu yang niatnya saja sudah bengkok sejak awal.”
―
“ZOMBIE.exe —
[SYSTEM OVERLOAD]
[BOOTING...]
Memory check: corrupted.
Signal: unstable.
Language: infected.
— “Selamat malam pemirsa—” suara terdistorsi —
“—Kami tidak bertanggung jawab
atas isi siaran ini—”
Glitch. Noise. Histeria pixel.
Layar menyala, lalu melahap wajah penonton.
— (BREAKING NEWS) —
Layar mengklaim netralitas.
Netralitas mengangguk,
lalu mencabut pisau.
NOTIF: 47 pesan belum dibaca.
Setiap nada: pentungan besi.
Setiap kata: selipan baja.
“Kebenaran” (dicetak tebal, lalu dipotong).
“Maaf” (dikirim sekali, dibalas dengan screenshot).
[potongan siaran]
Pewara muncul—
tapi kini matanya layar,
suaranya iklan deterjen.
Ia membaca berita:
“Seorang anak bunuh diri setelah dibully
di kolom komentar.”
Semua tepuk tangan.
Emoji hati berhamburan.
—“Terima kasih sudah menonton tragedi ini dalam kualitas HD.”—
[INTERFERENCE]
Gambar macet.
Cahaya menyala, berubah jadi serpihan suara.
“Lihat! Mereka menari di atas algoritma!”
Darah... darah... darah...
Menggenang di mana-mana.
Hatimu: pop-up iklan.
Pikiranmu: buffering.
“Maaf”—tidak terkirim.
“Doa”—ditandai sebagai spam.
GIF: wajah tertawa tanpa suara.
MEME: potongan doa jadi lelucon.
“Kebenaran”—file corrupt.
“Empati”—file missing.
Zzzttt... connection lost.
[REBOOT SYSTEM]
Pewara berita: “...dan kita semua tahu—”
suara dipotong, dijahit kembali menjadi cercaan.
Di sebelahnya, seorang badut menempelkan stiker “BERITA”.
Ia tertawa—ketika mulutnya terbuka,
keluar emoji palu gada.
Setiap emoji = jeritan.
Setiap trending topic = kuburan massal.
(CUT TO COMMERCIAL BREAK)
Kopi sachet rasa opini publik.
Dijual dengan tagline:
“Bangkitkan Pagi Tanpa Nurani!”
JUNGKAT-JUNGKIT: naik turun, lumba-lumba melompat dari layar.
Yang naik memegang mikrofon,
yang turun memegang batu.
Keduanya tersenyum saat pengarah acara berseru: "Camera action!"
BISIK: tempat adab dulu disimpan.
BISIK hilang.
Kini ada retweet yang mengikat leher dengan dasi warna-warni.
Headline: “Skandal! — Klik di sini untuk nyatakan kemarahan”
Isi: amunisi.
Komentar: senapan.
Share: bom...
Kamu bicara.
Kamu menendang.
Kamu memposting.
Kamu menghakimi.
Semua terjadi dalam satu detik —
dunia disulap jadi arena melempar pisau.
Ada yang meludah kata-kata,
kata-kata itu membeku dan menjadi es.
Ada yang tersenyum,
seringainya adalah cermin berlumut
yang menitikkan darah.
[intermezzo — iklan kopi]
Minum saja. Lupakan.
Efeknya: kenyamanan.
Side effect: kehilangan empati.
DI SINI, sekali lagi bahasa kehilangan adab:
kata-kata tak lagi dipakai untuk berjabat tangan,
melainkan untuk menonjok wajah.
Aku muak.
Aku menahan letupan di dada:
bukan karena takut,
tapi khawatir bila amarah itu salah sasaran
karena di antara begitu banyak suara, hampir semuanya adalah gema
bunyi gergaji.
Tapi dengar:
ketika notifikasi menjadi peluru,
ketika like mengukur derajat kriminalitas: penghakiman, pembunuhan—
seseorang menjerit,
yang lain berlarian.
Dari layar simulakra bermunculan:
zombie-zombie bergentayangan
Dengan mulut menganga buas
siap menggigit siapa saja.
— (END OF TRANSMISSION) —
Layar pecah. Pisau jatuh.
Darah muncrat!
2025”
―
[SYSTEM OVERLOAD]
[BOOTING...]
Memory check: corrupted.
Signal: unstable.
Language: infected.
— “Selamat malam pemirsa—” suara terdistorsi —
“—Kami tidak bertanggung jawab
atas isi siaran ini—”
Glitch. Noise. Histeria pixel.
Layar menyala, lalu melahap wajah penonton.
— (BREAKING NEWS) —
Layar mengklaim netralitas.
Netralitas mengangguk,
lalu mencabut pisau.
NOTIF: 47 pesan belum dibaca.
Setiap nada: pentungan besi.
Setiap kata: selipan baja.
“Kebenaran” (dicetak tebal, lalu dipotong).
“Maaf” (dikirim sekali, dibalas dengan screenshot).
[potongan siaran]
Pewara muncul—
tapi kini matanya layar,
suaranya iklan deterjen.
Ia membaca berita:
“Seorang anak bunuh diri setelah dibully
di kolom komentar.”
Semua tepuk tangan.
Emoji hati berhamburan.
—“Terima kasih sudah menonton tragedi ini dalam kualitas HD.”—
[INTERFERENCE]
Gambar macet.
Cahaya menyala, berubah jadi serpihan suara.
“Lihat! Mereka menari di atas algoritma!”
Darah... darah... darah...
Menggenang di mana-mana.
Hatimu: pop-up iklan.
Pikiranmu: buffering.
“Maaf”—tidak terkirim.
“Doa”—ditandai sebagai spam.
GIF: wajah tertawa tanpa suara.
MEME: potongan doa jadi lelucon.
“Kebenaran”—file corrupt.
“Empati”—file missing.
Zzzttt... connection lost.
[REBOOT SYSTEM]
Pewara berita: “...dan kita semua tahu—”
suara dipotong, dijahit kembali menjadi cercaan.
Di sebelahnya, seorang badut menempelkan stiker “BERITA”.
Ia tertawa—ketika mulutnya terbuka,
keluar emoji palu gada.
Setiap emoji = jeritan.
Setiap trending topic = kuburan massal.
(CUT TO COMMERCIAL BREAK)
Kopi sachet rasa opini publik.
Dijual dengan tagline:
“Bangkitkan Pagi Tanpa Nurani!”
JUNGKAT-JUNGKIT: naik turun, lumba-lumba melompat dari layar.
Yang naik memegang mikrofon,
yang turun memegang batu.
Keduanya tersenyum saat pengarah acara berseru: "Camera action!"
BISIK: tempat adab dulu disimpan.
BISIK hilang.
Kini ada retweet yang mengikat leher dengan dasi warna-warni.
Headline: “Skandal! — Klik di sini untuk nyatakan kemarahan”
Isi: amunisi.
Komentar: senapan.
Share: bom...
Kamu bicara.
Kamu menendang.
Kamu memposting.
Kamu menghakimi.
Semua terjadi dalam satu detik —
dunia disulap jadi arena melempar pisau.
Ada yang meludah kata-kata,
kata-kata itu membeku dan menjadi es.
Ada yang tersenyum,
seringainya adalah cermin berlumut
yang menitikkan darah.
[intermezzo — iklan kopi]
Minum saja. Lupakan.
Efeknya: kenyamanan.
Side effect: kehilangan empati.
DI SINI, sekali lagi bahasa kehilangan adab:
kata-kata tak lagi dipakai untuk berjabat tangan,
melainkan untuk menonjok wajah.
Aku muak.
Aku menahan letupan di dada:
bukan karena takut,
tapi khawatir bila amarah itu salah sasaran
karena di antara begitu banyak suara, hampir semuanya adalah gema
bunyi gergaji.
Tapi dengar:
ketika notifikasi menjadi peluru,
ketika like mengukur derajat kriminalitas: penghakiman, pembunuhan—
seseorang menjerit,
yang lain berlarian.
Dari layar simulakra bermunculan:
zombie-zombie bergentayangan
Dengan mulut menganga buas
siap menggigit siapa saja.
— (END OF TRANSMISSION) —
Layar pecah. Pisau jatuh.
Darah muncrat!
2025”
―
All Quotes
|
My Quotes
|
Add A Quote
Browse By Tag
- Love Quotes 102k
- Life Quotes 80k
- Inspirational Quotes 76.5k
- Humor Quotes 44.5k
- Philosophy Quotes 31.5k
- Inspirational Quotes Quotes 29k
- God Quotes 27k
- Truth Quotes 25k
- Wisdom Quotes 25k
- Romance Quotes 24.5k
- Poetry Quotes 23.5k
- Life Lessons Quotes 23k
- Quotes Quotes 21k
- Death Quotes 20.5k
- Happiness Quotes 19k
- Hope Quotes 18.5k
- Faith Quotes 18.5k
- Inspiration Quotes 17.5k
- Spirituality Quotes 16k
- Relationships Quotes 16k
- Motivational Quotes 15.5k
- Religion Quotes 15.5k
- Life Quotes Quotes 15.5k
- Love Quotes Quotes 15k
- Writing Quotes 15k
- Success Quotes 14k
- Motivation Quotes 13.5k
- Time Quotes 13k
- Travel Quotes 12.5k
- Motivational Quotes Quotes 12k
